SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 55


__ADS_3

Eugene adalah salah satu dari tujuh Komandan Organisasi Sevenfall yang bergerak di bidang senjata, obat-obatan, otomotif, perdagangan manusia, dan juga jasa pembunuh bayaran. Eugene lebih suka berkumpul dengan para preman kelas bawah, dan mengatur mereka untuk melakukan hal yang dia senangi.


Salah satunya adalah memalak, menindas, dan mengintimidasi orang yang dianggapnya lemah. Baginya adalah suatu kenikmatan ketika melihat orang berwajah ketakutan di hadapannya.


Pradita menggerakan jari telunjuknya sebagai isyarat perintah pada pedang ninjato untuk mundur. Sebab ia tidak mampu membuat pria bertubuh besar, berotot, dan botak tersebut meringis kesakitan.


“Aku tidak ada urusan dengan kau! Tapi jika anggota kalian berani menawarkan narkoba pada satu angotaku, maka aku tak akan segan untuk bertindak!” teriak Pradita dengan nada yang mengancam dan mengeluarkan aura membunuh yang cukup pekat.


“Kamu itu siapa berani mengancam kami? Kau itu hanyalah amoeba di hadapan kami. Sekali injak, maka kau hanya hilang dari muka bumi ini, hahahaha …,” ejek Eugene sambil menepuk dadanya, dan tertawa jahat.


“Percuma saja, Tangerang Selatan hanyalah bagian kecil dari kami. Kau ambil pun takan menghancurkan pondasi kami.”


Darah Pradita sudah mendidih direndahkan oleh Eugene. Dengan menjentikan jari ketiga pedang tersebut berkedip hilang dari pandangannya.


Kemudian dia melesat dari tempatnya berdiri, dan sudah hilang dari pandangan Eugene. Mata pria botak tersebut berkeliling mencari keberadaan Pradita. Akan tetapi, matanya tidak dapat menangkap gerakan tubuh Pradita yang sangat cepat, karena menggunakan teknik Naga Dhanindra.


“Sa-sangat cepat!” Eugene tiba-tiba menyilangkan tangan, karena Pradita tiba-tiba muncul di depannya dan melepaskan tusukan menggunakan kedua jari kanannya.


Tubuh Eugene terpundur beberapa langkah. Ia pun meraung keras sambil mendorong kedua telapak tangannya, hingga membuat Pradita terpental ke udara dalam keadaan posisi badan terbalik, yakni kepala di bawah, dan kaki di atas.


Pradita melakukan salto ke belakang beberapa kali dengan memijak angin, karena tubuhnya sangat ringan, melebihi ringannya kapas. Lalu tubuhnya mendarat dengan sempurna di permukaan aspal dengan dada kembang-kempis.


“Sial, padahal poin staminaku sudah banyak, tetapi aku masih juga kelelahan menggunakan teknik Naga Taksaka,” gumamnya kesal.


Eugene bernafas dengan tersengal-sengal, sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya yang mulai mati rasa, setelah ditusuk menggunakan teknik Naga Taksasa yang cukup mematikan.


“Kabur!” teriaknya dengan raut muka dipenuhi urat otot.


Ia begitu kesal dan geram, karena Pradita berhasil membuat kedua tangannya lumpuh. Padahal tubuhnya dilindungi oleh nano mecha organoid.

__ADS_1


Eugene dan sembilan puluh anggota Geng Cross kabur dari tempat kejadian tempat perkara. Sepuluh anggota sisanya masih meringis kesakitan, dan meronta-ronta di permukaan aspal.


“Aku akan menyembuhkan kalian, tetapi jangan berbuat seperti ini lagi, dan bertaubat. Aku akan memberikan kalian pekerjaan.”


Pradita berpura-pura bersila dan membaca mantra aneh, “Bel-gobal-gabel. Pleketek-plekitik, blaem-blaem, mong sega mong sambel pengen bokong sing mregel, fuah!”


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Memotong uang Rp,200.000.000 untuk menyembuhkan semua luka yang berada di tubuh 10 anggota Geng Cross]...


Kesepuluh anggota geng Cross yang banjir darah tersebut tubuhnya bercahaya hijau. Hanya dalam sekejap mata, luka bekas tebasan, dan bacokan di tubuh mereka tertutup sempurna, hingga tiada bekas.


Mereka bersepuluh langsung berlutut, dan bersujud ke arah Pradita, “Ampuni kami Tuan Muda. Kami akan setia pada Tuan Muda, tapi kami mohon kehidupan kami yang susah dan marjinal ini juga ditanggung. Soalnya skin care isteri, biaya pendidikan anak tidak ditanggung BPJS,” celetuk salah satu preman bernama Gondes.


Pradita terpingkal-pingkal mendengar hal tersebut, karena apa yang dikatakan oleh Gondes masuk akal, tapi konyol juga.


“Sudah, kalian berdiri. Bersujud itu bukan pada makhluk, tapi pada sang pencipta!” titah Pradita, dan mereka semua bangkit berdiri.


Bagai Kerbau dicocok hidungnya, mereka bersepuluh menuruti saja perintah Pradita untuk memejamkan mata.


“Tolong belikan dua unit mobil Toyota Alphard, dan sepuluh setelan jas merah!” titah Pradita dalam hatinya.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Memotong uang Rp,700.000.000 untuk membeli 2 unit mobil Toyota Alphard, dan sepuluh setelan jas merah yang mempunyai efek anti peluru, serta bajunya akan otomatis menyesuaikan ukuran dengan penggunanya]...


...[Proses pembelian dimulai dalam 3 … 2 … 1 ….]...


...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...

__ADS_1


...[Pembelian berhasil, dua unit mobil akan tiba dalam satu menit dikirimkan oleh Aevum Drone, dan 10 setelan jas merah sudah ditransfer ke inventaris sistem] ...


Beberapa saat kemudian dua Aevum Drone membawa dua kotak kontainer mendarat pelan. Hal itu membuat kesepuluh anggota Geng Cross membuka mata, karena penasaran dengan suara bising yang tertangkap oleh telinga mereka berdua.


Pradita yang sudah mengeluarkan sepuluh kotak berisikan setelan jas merah berupa kemeja putih, jas merah, dasi merah, celana merah, dan sepatu merah. Memberikan sepuluh kotak itu pada mereka satu persatu, “Terimalah!”


Mata mereka berkaca-kaca dan perasaan hati mereka bercampur haru-senang secara bersamaan.


“Te-terima kasih Tuan Muda. Ka-kami sangat senang, huaa ….”


Mereka menangis keras, dan diperhatikan oleh para pemobil dan pemotor yang mendekat. Setelah gapura perbatasan antara Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Cirebon tersebut tidak ada yang menjaga lagi.


Pradita melambai-lambaikan tangan untuk memberi isyarat pada para pemotor dan pemobil untuk jalan terus, tanpa memperdulikan kesepuluh orang yang bajunya berlumuran darah.


Setelah mendaratkan kotak kontainer, dan pintu kotak kontainer itu terbuka otomatis dan mengeluarkan dua unit mobil Toyota Alphard berwarna perak. Kedua Evum drone kembali terbang ke langit yang tinggi sambil membawa kedua kontainer yang sudah kosong.


“Ini mobil untuk kalian. Ini mobil juga dilengkapi teknologi anti peluru, dan juga auto kemudi kalau kalian belum ada satupun yang bisa menyetir. Sekarang berbaris!”


Kesepuluh preman itu berbaris ke belakang sesuai perintah Pradita sambil membawa kotak kardus yang cukup besar. Mereka maju satu persatu dan diberikan uang 10 juta oleh Pradita.


“Itu gaji pertama kalian sebagai penjaga keamanan proyek milikku di Desa Jagapura Lor. Aku akan memberikan kalian bonus lagi jika kerja kalian bagus dan sesuai standar yang telah aku tetapkan!” sambungnya tegas.


“Siap, Tuan Muda!” sahut serentak kesepuluh preman.


“Mulai sekarang kalian adalah pasukan tim di bawah naunganku, dan akan aku beri nama Redcard. Ganti pakaian kalian! Lalu pergi ke Jagapura dan cari orang yang bernama Choki, Rivan atau Nathalia, dan Nathania!" titah Pradiat dengan nada yang sangat tegas.


“Siap, Tuan Muda!”


Mereka segera bergerak ke berbagai penjuru mencari semak-semak atau pepohonan yang besar. Bahkan gubuk di tengah sawah untuk mereka berganti baju dengan baju setelan jas merah yang telah diberikan oleh Pradita.

__ADS_1


"Kata Bung Karno berikan aku 10 orang pemuda, maka akan aku guncangkan dunia. Kalau kata aku, berikan aku 10 preman cupu, maka aku akan guncangkan janda berambut pirang, hehehe …,” batin Pradita sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2