
“Katakan, mobil apa yang kamu inginkan?” teriak Pradita dengan sombong.
“5 unit Chevrolet Corvette Stingray. Kalau kau bisa mendatangkannya ke showroom milikku maksimal dalam satu minggu. Aku akan membagi 85% saham Fetucini Motors padamu,” tantang Fetucini menyeringai.
Sejujurnya dia masih meremehkan Pradita, meski sudah menandatangani kontrak kerjasama. Pradita terdiam, tetapi dia membatin, “Sistem aku tidak tahu bentuk atau gambar Chevrolet Corvette Stingray. Kalau sistem bisa membantu, tolong belikan 10 unit sebagai rasa terima kasihku!”
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Sistem akan melakukan pemindaian ke seluruh wilayah Indonesia mencari keberadaan mobil Chevrolet Corvette Stingray sebagai contoh]...
...[0% … 50% … 75% … 100%]...
...[Pemindaian berhasil menemukan mobil Chevrolet Corvette Stingray ada 500 unit di Indonesia]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Memotong uang Rp,200.000.000 untuk melakukan transaksi pembelian 10 unit mobil Chevrolet Corvette Stingray dengan total harga Rp,20.000.000.000 dan dipotong diskon 98% menjadi Rp,200.000.000]...
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Pembelian berhasil. 10 unit mobil akan dikirim menggunakan Aevum Drone dalam 5 menit dan sudah terkoneksi dengan fitur penyimpanan inventaris sistem]...
Pradita langsung tersenyum lebar melihat solusi yang diberikan sistem. Jadi mereka tidak akan curiga, tapi akan menyanjungnya. Karena memiliki perusahaan yang bergerak di bidang logistik yang menggunakan Aevum Drone.
Aevum Drone sebuah pesawat seperti drone pada umumnya tapi ukurannya sepanjang 5 meter, dan mampu mengangkat beban 100 ton.
Setelah menunggu selama 5 menit, terdengar suara desingan Aevum Drone yang begitu halus.
Akan tetapi suaranya masih bisa dijangkau dalam radius 100 meter. Putaran turbinnya juga sangat senyap, dan tidak menciptakan angin yang berhembus di sekitarnya.
“Tuan Fetucini, mobil yang Anda pesan sudah datang. Ayo kita keluar!” ajak Pradita tersenyum lebar.
Alderts, Silvein, dan Fetucini beserta Yong Yu keluar dari Hexagonal, menuruti ajakan Pradita.
__ADS_1
Mata mereka berempat langsung melebar saat melihat 10 unit Aevum Drone yang mengangkat sebuah kotak kontainer sepanjang 3 meter.
Kemudian 10 unit Aevum Drone tersebut mendarat dengan sangat pelan, agar kotak-kotak kontainer yang berisikan mobil Chevrolet tersebut mendarat dengan aman.
Fetucini sangat takjub dengan Aevum Drone tersebut yang mampu mendarat dengan baik. Setelah menaruh 10 kotak kontainer tersebut ke permukaan tanah, 10 Aevum Drone terbang kembali ke langit.
“Cih, kalau di dalam kotak ini isinya mobil. Aku yakin mobilnya pasti lecet,” ejek Silvein dan di anggukan oleh Yong Yu, wakil ketua Geng Helucin.
“Ya, benar,” timpal Yong Yu dengan tatapan sinis.
Pradita tetap tenang, dan menjentikan jari. Secara otomatis pintu kotak kontainer tersebut terbuka, dan mengeluarkan 10 unit Chevrolet Corvette Spider berwarna hitam, dan kelengkapan surat-suratnya sudah berada di dalam mobil.
Yong Yu, Fetucini, dan Silvein memutari mobil tersebut untuk melihat apakah ada yang lecet atau tidak. Namun, setelah lama mengamati setiap inchi mobil tersebut, ternyata sangat mulus.
“Apa! Tidak mungkin! Ini sangat mulus! Ba-bagaimana bisa!” Yong Yu, Fetucini, dan Silvein matana melebar dengan rahang terjatuh.
“Aku sudah menyiapkan apa yang Anda inginkan tuan Fetucini dan harganya ….” Pradita mendekati telinga kanan Fetucini dan berbisik, “Murah, satu unit mobil 100 juta.”
“Itu terlalu murah, pasar gelap saja masih di harga 250 juta sampai 400 juta.”
“Urusan kita selesai, dan Anda bisa memesan mobil apapun padaku. Tepati janjimu Tuan Fetucini!” Pradita langsung menunjuk ke arah Silvein, “Apa yang Tuan Silvein inginkan dariku?”
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil menaikan respek geng Helucin menjadi 60%]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil mendapatkan respek 20% dari geng Lambretta]...
“Tentu saja menantangmu dalam pertarungan. Fetucini, dan Willy ini aku rasa otak mereka kemasukan lalat mempercayakan sebuah geng dengan bisnis legal pada kau, tolol!” jawab Silvein dengan raut muka merah padam, dan urat otot menonjol besar di dahinya.
“Baiklah, aku akan melayani anda. Tidak, bila perlu semua anggota geng Lambretta melawanku. Aku siap menghadapi mereka —-”
__ADS_1
“Omong kosong!” Alderts yang amarahnya sudah memuncak melayangkan tendangan ke arah kepala Pradita.
Namun, ditahan oleh Fetucini, “Sabar, Men! Kita sudah berjanji untuk tidak berkelahi di depan gedungku. Bukankah kesepakatannya akan bertarung di arena bawah tanah gedungku?”
“Kampret kau botak! Selalu saja menggangguku! Ya, sudah, ayo!”
Mereka berlima pun kembali masuk ke dalam gedung, dan langsng masuk ke dalam lift.
Di dalam lift Fetucini mengeluarkan sebuah kartu hitam, dan menekan angka 797 di nomor lantai lift. Panel nomor lantai lift mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalamnya, dan Fetucini menaruh kartu hitam tersebut di kotak kecil tersebut.
...{Selamat datang di arena bawah tanah. Lift ini akan membawa anda semua ke arena bawah tanah!}...
Lift tersebut turun dengan cukup cepat, dan hanya dalam waktu tiga detik sudah berhenti. Kemudian pintu lift terbuka, dan menampakan sebuah pintu yang dijaga oleh kedua pria yang memakai setelan jas berwarna kuning.
Kedua penjaga tersebut menaruh tangan kanannya menyilang ke dada kiri, lalu membungkuk hormat ke arah Fetucini. Pintu besi itu terbuka secara otomatis, dan menampilkan sebuah gelanggang arena bawah tanah yang sudah sesak dipenuhi para penonton dari berbagai usia.
Pradita malah tersenyum lebar melihat semua penonton yang tiba-tiba matanya menuju ke arahnya.
“Dalam sebuah pertarungan tentu ada pertaruhan. Aku bukan orang yang munafik, kau dan geng Lambretta harus tunduk padaku jika kalah tanpa syarat,” tegas Pradita sambil menunjuk ke arah Silvein, dan Alderts.
“Mimpi! Itu hanya mimpimu di siang bolong, cuih!” umpat Silvein, dan Alderts sambil meludah ke depan Pradita.
"Ladies and gentlemen, si gadis suka makan permen. Pada hari ini kita akan menyaksikan pertarungan antar ketua geng Zero Crime sang geng rendahan, melawan geng Lambretta geng tingkat dua di Tangerang Selatan. Ayo dipasang taruhannya!” teriak promotor arena bawah tanah melalui microphone.
Semua penonton tentu saja menjagokan, dan memasang taruhan pada Silvein yang terkenal memiliki bela diri yang cukup disegani di seluruh anggota geng di Tangerang Selatan.
“Apakah tidak ada yang memasang taruhan pada Pradita Mahendra, si cupu dari sungai cacing!” teriak promotor arena bawah tanah, setelah semua penonton tidak ada yang memasang taruhan pada pria berambut harajuku tersebut.
Pradita berjalan cepat ke arah promotor yang berada di tengah-tengah arena, dan berkata, “Aku sendiri yang memasang taruhan untuk diri sendiri. Aku akan menaruh taruhan dua kali dari taruhan yang mereka pasang.”
“Baiklah, pertarungan antara si cupu dari sungai cacing melawan Serigala Putih dari gunung Himalaya akan dimulai. Harap duduk ke tempat masing-masing, dan saksikan pertandingan bersejarah ini!” teriak promotor.
Kemudian dia melanjutkan, “Dalam pertarungan ini tidak ada peraturan, dan boleh menggunakan senjata apapun yang telah tersedia di permukaan arena. Pertandingan di mulai!"
__ADS_1