
“Tidak!” jawab singkat Mardono dengan menggeleng pelan, dan mengemukakan alasannya, “Teknik membuat bakso ini sangat rahasia, dan tidak bisa diturunkan jika bukan seorang bela diri sejati.”
Pradita tanpa basa-basi melayangkan beberapa tendangan dengan kedua kakinya secara bergantian ke arah perut, dada, dan kepala Mardono.
Ia tahu pria tua itu hanya menyembunyikan seni bela dirinya, dan tidak mau melawan Gian. Karena Pradita telah menganalisa tubuh Mardono dengan baik, bisa dikatakan kalau satu jarinya saja bergerak minimal-maksimal orang tersebut masuk rumah sakit oleh serangan Mardono.
Tepat sesuai dugaan Pradita, setiap tendangan yang dilayangkan olehnya tidak mampu mengenai tubuh Mardono.Padahal pria berkumis putih melintang tersebut dengan tubuh sangat kurus hanya berdiri, dan tidak bergeser satu jengkal pun.
“Apakah ini belum cukup pak?” tantang Pradita dengan senyuman simpul.
Mardono merasa tertantang, ia hanya menunjuk ke arah Pradita yang sudah mundur setelah semua tendangannya tidak mengenai tubuh Mardono.
Tidak ada angin, dan tidak ada hujan tubuh Pradita seperti di dorong medan magnet yang sangat kuat, hingga membuat tubuhnya terpundur lusinan meter.
“Aaargh!” raung Pradita dengan menyilangkan kedua tanganya di depan dada, lalu mengerang denga urat-urat otot di seluruh tubuhnya yang menonjol besar, “Teknik naga Anubra! Haaa!”
Tubuh Mardono terpundur satu meter, setelah terhantam gelombang kejut dari tubuh Pradita. Bahkan gerobak bakso milik Mardono kacanya pecah berkeping-keping. Pecahan-pecahan kaca tersebut hampir saja mengenai Nabila.
Mardono marah, dan terpancing, lalu melesat dengan dengan teknik Kirin barat miliknya. Tiba-tiba ia muncul di depan Pradita, dan menghantamkan beberapa totokan cukup dengan ujung jari kanannya.
Suara rentetan hantaman terdengar sangat keras disertai siluet ratusan jari yang terselimuti petir kuning mengarah ke tubuh Pradita.
Saking cepatnya serangan totokan dari Mardono, tangan kanannya itu seperti ada ratusan di persepsi pandangan mata Pradita.
“Hentikan, Pak!” teriak Nabila histeris, karena melihat tubuh Pradita lunglai setelah dihantam teknik seribu jari Kirin.
“Guhak-guhak!” Pradita berlutut lemas, dan memuntahkan seteguk darah.
Pemotor, dan pemobil yang lalu lalang pun berhenti melihat pertarungan antara Pradita, dan Mardono. Bahkan pihak berwenang setempat tidak ada yang berani melerainya, karena pertarungan tersebut bukan pertarungan manusia biasa pada umumnya yang hanya mengandalkan otot.
Dengan terpaksa Mardono melesatkan tototak terakhirnya ke salah satu pohon palem, supaya tidak membunuh Pradita dengan jurus seribu jari Kirin miliknya.
Suara dentuman seperti dentuman meriam terdengar sangat keras. Bersamaan itu pula pohon palem setinggi 4 meter terbelah menjadi dua.
“Bapak, memang hebat, hehehe …,” puji Pradita dengan tersenyum lebar sambil menyeka cairan merah kental yang membasahi bibirnya.
“Fyuh … hampir saja aku kelepasan membunuhmu, Mas,” balas Mardono dengan menghela nafas panjang, dan penuh penyesalan.
Mardono sudah tidak mau lagi menggunakan seni bela diri dari salah satu kitab empat gerbang dunia, yakni teknik Kirin emas. Ia sudah bertaubat untuk tidak menggunakan seni bela diri lagi, karena di masa lalu sudah banyak nyawa yang ia ambil dengan teknik Kirin emas tersebut.
__ADS_1
“Teknik naga Kurusetra!”
Pradita bangkit berdiri dengan cepat, dan saat itu pula tubuhnya diregenerasi oleh energi di dalam tubuhnya. Luka dalamnya yang cukup fatal sembuh seketika.
“Kita bicara di dalam!” ajak mardono sambil melambaikan tangan, dan tatapannya sangat serius. Sebab ia sangat mengenal teknik seni bela diri yang Pradita gunakan.
Mereka berdua mulai berbicara serius di dalam, dan Mardono menutup kedai baksonya itu, walaupun dalam keadaan luluh lantak.
"Mas, kamu mendapatkan salah satu teknik Naga terbang darimana?" tanya Mardono, dan memuat Pradita melebarkan matanya.
Pradita tidak menjawabnya, karena mana mungkin ia jawab, kalau teknik naga terbang tersebut dari sistem.
“Tidak perlu dibahas, Pak. Kalau Bapak membahas teknik naga terbang ini sama saja mengungkit masa lalu kematian kedua orang tuaku,” jawab Pradita berpura-pura memberikan alasan untuk menutupi hal yang sebenarnya.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Namun aku hanya ingin mengingatkan, jangan sering-sering menggunakan teknik naga terbang dari salah satu teknik kitab seni bela diri empat gerbang dunia. Kalau Mas tidak ingin kehilangan sisi kemanusiaan, Mas,” jelas Mardono memperingatkan.
Penjelasan tersbeut membuat Pradita penasaran, dan bertanya menelisik, “Memangnya apa itu kitab seni bela diri gerbang dunia?”
“Kitab empat gerbang dunia adalah kitab seni bela diri yang tidak tahu darimana datangnya.”
“Namun ada seorang biksu di tibet yang sedang mendaki puncak gunung Himalaya menemukan sebuah kotak kayu di puncak gunung tersebut.”
“Kitab tersebut terdiri dari empat teknik, yakni teknik naga terbang, teknik harimau putih, teknik kirin emas, dan yang paling berbahaya teknik api suci feniks,” jawab Mardono.
“Jadi pria itu juga salah satu seni bela diri yang menggunakan teknik harimau putih,” batin Pradita membayangkan wajah Aditia yang pernah ia lawan beberapa waktu yang lalu.
Mardono menceritakan secara terperinci, bahwa dahulu ia tak sengaja berguru ke biksu tersebut bersama tiga rekannya yang telah lama meninggal.
Setelah mewarisi setiap teknik dari sang biksu, mereka berempat masuk ke dalam dunia bawah tanah yang penuh intrik, dan hanya dalam waktu satu tahun mereka berhasil menguasai dunia para globalis atau dunia dibalik bayangan.
Akan tetapi, penguasaan teknik tersebut ada harga yang harus dibayar, yaitu harus diturunkan ke anak mereka. Kalau tidak, rasa haus darah itu akan terus muncul. Maka dari itu Mardono yang tidak punya keturunan harus menahan derita haus darah tersebut puluhan tahun. Setelah pensiun dari menjadi salah satu raja bawah tanah yang dikenal sebagai Kirin emas.
"Aku paham, Pak. Kalau Bapak ingin mewariskan teknik Kirin emas itu padaku, aku tak masalah. Aku juga butuh kekuatan untuk melindungi keluargaku," tegas Pradita dengan sorot mata yang tajam.
"Baiklah, esok hari temui aku di kaki gunung Ciremai!" seru Mardono.
Setelah itu Pradita, dan Nabila keluar dari kedai bakso milik Mardono. Tidak lupa ia memberikan pria tua itu uang 10 juta sebagai ganti rugi atas dirinya memecahkan gerobak kedai tersebut.
Dalam perjalanan pulang menuju Mansion Union,perasaan Nabila diselimuti rasa kekhawatiran akan Pradita yang mau mewarisi salah satu teknik empat gerbang dunia.
__ADS_1
"Mas, apakah itu tidak berbahaya? Bagaimana dengan anak-anak, dan cucu kita nanti?" tanya Nabila dengan raut muka khawatir.
“Sayang, aku lahir dari keluarga yang biasa saja, bahkan sering direndahkan oleh tetangga. Aku lakukan ini semua demi masa depan kalian di masa depan yang lebih baik. Kekayaan, dan kekuatan adalah pilar untuk keluarga kita supaya terus berjaya sampai anak cucu kita,’ jawab Pradita dengan nada yang tegas.
Mau tidak mau Nabila menghela nafas yang panjang, karena sudah tidak bisa lagi menghalangi Pradita untuk mewarisi teknik kirin emas yang dimiliki oleh Mardono. Padahal ia sangat khawatir akan resikonya pada Pradita.
“Aku tahu Mas, kita sudah tidak bisa hidup normal semenjak aku memutuskan menjadi artis, dan Mas menjadi orang kaya. aku hanya bisa berdoa, semoga kita bisa hidup bahagia, walaupun banyak rintangan, dan halangan di masa depan,” batin Nabila sambil memeluk erat Pradita dari belakang.
Pradita melajukan pelan motornya sambil memandang ke sebelah kanan, dan kiri jalan. Tampak sawah miliknya yang sedang dilakukan penanaman bibit semai ke lahan sawah menggunakan Combhand Drone secara otomatis.
Semua warga yang bahu-membahu yang ikut menanam juga begitu sumringah. Karena usaha mereka dalam menanam bibit padi sparta ternyata tidak sia-sia.
Apa yang diinformasikan oleh Master Chow memang benar. Bibit padi Sparta memnag sudah tumbuh cepat, dan siap ditanam hanya dalam waktu 24 jam setelah bibit pai tersebut di tebar di lahan sawah yang sudah disemprot pupuk cair penyubur tanah.
Aevum-aevum drone yang digerakan secara manual mengawasi, dan merekam para warga, juga Combhan Drone yang sedang menanam padi. Drone-droone tersebut akan terus diterbangkan selama 20 hari kedepan untuk melihat perkembangan proyek sparta yang sedang dikerjakan oleh Pradita.,
"Sayang, kalau ini berhasil. Maka kita akan menguasai bahan pangan di seluruh Nusantara, dan status kita akan langsung naik menduduki setara globalis, hahaha …," kata Pradita sambil tertawa jahat, dan tawa jahat itu membuat Nabila agak ketakutan.
"Mas, apapun kehidupan kita. Aku berjanji akan tetap bersamamu dalam suka maupun duka," balas Nabila dengan air mata yang menggenang, karena ia merasakan ada perubahan besar di sikap Pradita yang sekarang lebih ambisius untuk menguasai dunia.
Tiba-tiba seorang yang memakai jaket hitam, dan mengendarai motor Kawasaki H2 berwarna hijau gelap berhenti di depan motor Pradita.
Dengan terpaksa motor Pradita di rem mendadak. Untung saja Pradita melajukan motornya itu pelan, dan tak berimbas fatal.
Pradita turun memarkirkan motornya dengan rahang mengeras, lalu membentak pria yang memakai jaket hitam ketat tersebut, “Kalau naik motor itu pakai mata?”
Nabila pun turun, lalu menahan pradita yang mau memukul pria tersebut, “Sudah Mas, sudah!”
Pria berjaket hitam tersebut membuka jaketnya dengan tersenyum licik, “Aku tak menyangka seorang Pradita Mahendra yang terkenal bengis bisa lunak di depan wanita? Apakah Pradita Mahendra itu laki-laki yang takut pada istrinya?” ejek pria berwajah Rusia itu.
“Oh, Komandan Arshavin? Apa kabar Sevenfall, masih baik-baik sajakah? Atau kau datang kemari hanya untuk mengemis uang dariku, karena Sevenfall mengalami kebangkrutan di 3 benua, cih!” cibir Pradita dengan senyuman sinis.
Komandan Arshavin menggertakan giginya karena dihina seperti itu. Ingin rasanya saat ini juga memenggal leher Pradita yang telah membunuh banyak anggota Sevenfall. Apalagi semua anak buah Aramain, dan Eugene kini berada di pihak Pradita. Alhasil kedudukan Sevenfall di dunia sudah hampir jatuh.
"Aku datang kesini hanya untuk membuat semua bisnismu disini hancur, sekaligus membalaskan dendam untuk kekasihku Zevalia yang telah kau bunuh. Namun …."
Komandan Arshavin melirik tajam k arah Nabila dengan lidah yang menjulur sambil menyapu semua sudut bibirnya.
"Silahkan saja kalau kau berani macam-macam dengan keluargaku. Aku pastikan kau akan mengalami hal yang sama seperti Zevalia, istri pengkhianat itu!" ancam Pradita dengan sorot mata yag tajam seperti manik mata Elang.
__ADS_1