SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 116


__ADS_3

Dua polisi wanita, dan seorang polisi laki-laki keluar dari dalam mobil dengan rahang terjatuh. Mereka semua syok setelah melihat mayat tanpa kepala bergelimpangan di tengah jalan.


Polisi laki–laki segera menghubungi ambulans untuk mengangkut mayat-mayat tersebut.


Salah satu polisi wanita matanya tertuju pada Pradita yang sedang duduk bersandar di pohon besar. Ia mendekatinya dengan langkah perlahan, dan tatapan waspada.


Polisi wanita yang masih berumur 23 tahun tersebut mengambil senapan revolver, dan mengarahkannya pada Pradita dengan sorot mata yang tajam.


“Jangan bergerak! Jawab pertanyaan saya!” teriak polisi wanita bernama Mariana tersebut.


Pradita tetap menundukan wajahnya, lalu menekan tombol headset humagear di telinga kirinya untuk menutupi wajahnya dengan topeng cyborg enerzone.


“Aku yang membunuh mereka, Bu. Sekarang sudah puas?” jawab Pradita dengan tersenyum licik di balik topeng cybrog.


Kemudian ia membatin dengan perasaan was-was, karena takut ditangkap, “Enerzone, cepatlah mengisi energi. Aku harus kabur secepatnya dari sini.”


Mariana semakin mendekat dengan tatapan waspada, dan senapan revolver terus mengarah ke arah kepala Pradita, “Diam di tempat!” teriaknya.


Tiba-tiba terdengar suara mekanis sistem dari Enerzone, dan Pradita secepat mungkin melayangkan tendangan ke tangan Mariana yang sedang memegang senjata revolver.


Pistol itu terjatuh ke permukaan tanah, satu polisi wanita lain melihatnya, dan langsung mengambil senjata di pinggangnya. Lalu ia menarik pelatuk dengan cepat, dan senjata revolver tersebut memuntahkan beberapa poryektil peluru yang melesat ke arah Pradita.


Suara dentangan terdengar cukup keras saat peluru-peluru itu menyentuh dada Pradita yang sudah terselimuti teknik naga Anubra.


“Selamat tinggal!”


Setelah mengatakan hal tersebut Pradita melesat secepat kilat, dan hilang dari pandangan mereka bertiga menggunakan teknik naga Dhanindra menuju rumah sakit Budi Asih Technology yang berada di Indramayu kota.


Pradita sampai di depan rumah sakit berlantai 20 tersebut hanya dalam 30 hembusan nafas.


Ia langsung berlari cepat ke dalam rumah sakit sambil menonaktifkan enerzone, dan bertanya pada salah satu suster di meja resepsionis dengan nada panik, “Sus, apakah pasien atas nama Choki, Rivan, Nira, Nathalia, Nathania, dan Nabila sudah masuk?”

__ADS_1


“Sudah, Tuan. 5 menit yang lalu baru saja masuk, semuanya sedang berada di dalam ruang ICU, dan diperiksa oleh dokter,” jawab Suster dengan senyuman ramah, dan membuat Pradita menghela nafas lega.


Akan tetapi setelah mengingat Nabila sedang mengandung, Pradita kembali panik, dan berjalan cepat ke ruang ICU.


“Oh, bagaimana dengan anakku? Semoga baik-baik saja,” gumamnya sambil mondar-mandir seperti setrika di depan pintu ruang ICU.


Saking depresi, dan bingung apa yang harus dilakukan Pradita, ia mengacak-acak rambutnya menjadi seperti habis terkena setruman listrik.


Nabila keluar dari pintu ruangan ICU, dan bertanya pada Pradita dengan tatapan heran, “Mas, kamu kenapa?”


“Oh, sayangku! My love-love honey bunny sweetyku, mmuuach!” jawab Pradita sambil berlutut, dan mencium perut Nabila.


Nathalia, dan Nathania yang baru keluar dari ruangan ICU pun jadi cemburu melihat Pradita mencium perut Nabila yang memang sudah diketahui oleh mereka berdua bahwa sedang mengandung.


“Mas, hmm … aku juga mau dicium!” pinta Nathalia, dan Nathania dengan berkedip cepat, serta nada yang sangat manja.


“Oh, oke-oke. Tapi apakah kalian berdua juga sudah hamil?” tanya Pradita polos.


“Ssst! Jangan disini, malu, pffft!” balas Pradita sambil menutup mulutnya yang sedang tertawa renyah.


Kemudian ia melanjutkan setelah menghentikan tawanya, “Bagaimana dengan kondisi Nira, Choki, dan Rivan?”


Mereka terdiam seribu bahasa dengan menggeleng pelan. Karena memang tidak tahu kondisi mereka bertiga saat ini.


Salah satu suster keluar dari ruangan ICU, dan langsung ditanya oleh Pradita, “Sus, bagaimana kondisi istriku, dan kedua saudaraku?”


“Mohon maaf, Tuan. Untuk kedua saudara laki-laki Tuan sedang ditangani oleh Dokter Spesialis kami,” jawab Suster dengan senyuman ramah, “Namun untuk Nyonya Nira baik-baik saja, dan akan kami pindahkan ke kamar rawat. Apakah Tuan sudah membereskan biaya administrasinya?”


“Tenang, Sus. Uangku banyak, sudah beres. Berapapun biayanya pasti aku bayar, yang penting istriku, dan kedua saudara selamat,” kata Pradita dengan nada sombong, dan kepalanya langsung dipukul oleh Nabila.


“Mas, jangan seperti itu,” celoteh Nabila dengan raut muka ditekuk.

__ADS_1


“Canda sayang, hehehe ….”


Mereka berempat menuju kamar Nira, karena istri kedua Pradita itu telah dipindahkan ke kamar rawat SVIP 01. Semua hasil pemeriksaan Nabila, Nathania, dan Nathalia baik-baik saja, terutama bayi Nabila juga baik-baik saja.


Di dalam kamar, tampak wajah Nira yang begitu pucat pasi, karena kehilangan banyak darah. Tentu saja membuat Pradita sedih bukan main melihat sang istri tampak begitu lemah.


"Semoga cepat sembuh ya sayang." Pradita duduk di samping Nira, dan mencium kening wanita bermanik mata coklat tersebut yang sudah duduk saat Pradita masuk ke kamar rawatnya. "Mas janji. Setelah masalah ini selesai, kita akan jalan-jalan ke Bali."


"I-iya mas," lirih Nira sambil bersandar di dada kiri Pradita.


Ketiga istrinya harus gigit jari melihat Pradita lebih perhatian pada Nira. Namun mereka bertiga paham, Nira juga memang pantas mendapatkan perhatian lebih dari Pradita.


Mereka berempat tidur satu ranjang yang berada di samping tempat tidur Nira. Ruang rawat SVIP 01 ini adalah ruang rawat dengan fasilitas presidensial. Intinya, apapun yang diinginkan pelanggan ada.


Tepat jam 00.00, Pradita terbangun, dan mendapati keempat istrinya sudah tertidur pulas. Ia keluar dari dalam kamar, dan langsung duduk di kursi depan kamar SVIP 01.


“Kondisi seperti ini aku tidak bisa meninggalkan mereka. Anggota Black Shadow hanya tersisa 50% di mansion.”


“Mungkin aku harus memanggil beberapa preman jalanan untuk menjaga rumah yang akan aku beli nanti.”


“Aku akan renovasi mansion, dan menjualnya saja. Ini demi keselamatan keempat istriku,” gumam Pradita sambil menatap langit-langit rumah sakit.


Seorang pria berwajah arab, beserta keempat rekannya mendekati Pradita. Lalu pria berwajah arab tersebut duduk di sampingnya, dan bertanya, “Apakah Tuan Muda seorang mafia? Karena tubuh kedua saudara Tan Muda banyak luka tembak yang tidak umum.”


"Mafia atau bukan, itu bukan urusan anda, Dok. Memangnya anda bisa membantuku apa?" ketus Pradita dengan raut muka jutek.


"Mudah diatur, ada uang ada barang," balas Yosep dengan tersenyum ramah, dan melanjutkan, "Keempat saudaraku ini ahli dalam bunuh-membunuh. Aku memang dokter, tapi keempat saudaraku ini punya bidang khusus, hehehe …."


"Berapa biayanya?" tanya Pradita langsung ke intinya.


"Murah saja, 1 triliun per tahun. Aku jamin Tuan Muda tidak akan kecewa dengan keempat saudaraku ini. Kami juga punya teknologi militer yang tidak ada duanya dibumi ini. Contohnya topeng cyborg yang tuan pakai itu adalah salah satu prototipe yang pernah dicuri seseorang," jawab Yosep dengan tersenyum licik, dan Pradita sudah dikepung oleh Kaizo, Raiden, Kokoci, juga Tarung.

__ADS_1


__ADS_2