SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 56


__ADS_3

Pradita sendiri menuju Desa Kaplongan Kidul naik ojek pengkolan yang cukup jauh dari perbatasan. Ia lakukan agar supaya lebih cepat, dan efisien.


Sesampainya di salah satu rumah yang agak usang, dan tepat di pinggir jalan. Pradita mengetuk pintu dan mengucapkan kode yang diajarkan oleh Wima kalau bertemu dengan para bawahannya yang sedang mengawasi Brock.


“Mbok Darmi i miss you but i hate you. Dimanapun kamu berada hati ini ingat kamu,” tuturnya.


Di dalam ruang tamu, sosok perempuan yang memiliki kedua tato tidak permanen yang sedang merebahkan tubuhnya di kursi, tiba-tiba bangun. Karena mendengar kata sandi dari operasi Makjleb yang sedang dijalankan di bawah kepemimpinan Wilma.


Wajahnya yang lembut dan kalem, tiba-tiba berbuah menyeringai tajam. Kemudian berjalan tegap, sambil mengambil belati yang selalu ia taruh di paha bagian dalam dan tertutupi rok pendeknya untuk berjaga-jaga.


Sosok perempuan bernama asli Rena tersebut langsung berjalan cepat ke arah pintu, dan langsung membuka pintu dengan cepat.


Salah satu tangan Pradita langsung ditarik untuk mengangkat tubuhnya dengan teknik judo, dan membantingnya ke dalam rumah.


“Miaaw!” pekik Pradita yang sudah terkapar di permukaan lantai, dan lehernya sudah diancam dengan hunusan ujung bilah belati.


Ujung bilah belati tersebut didekatkan hingga menusuk tidak dalam ke leher Pradita. Sebab Rena yang sedang menyamar menjadi wanita tuna susila bernama Ike tersebut tetap harus waspada, walau Pradita menyebutkan kata sandi yang benar ketika bertemu dengan Rena.


Pradita mengangkat kedua tangannya, dan mengatakan, "Tunggu, tutup dulu pintunya! Aku bukan musuh, aku dikirim oleh Wilma untuk membantumu Nona Ike.”


Mendengar nama Wilma, Rena menyarungkan kembali belatinya ke dalam sarung yang berada di bagian dalam paha kanannya.


“Dari divisi mana kamu?” tanya Rena tegas sambil menutup pintu.


“Aku hanyalah sipil dan bukan dari divisi manapun. Tapi aku bisa beladiri dan menggunakan senjata,” jawab Pradita dan mendemonstrasikan kehebatannya di depan Rena dengan menotok beberapa bagian tubuhnya, “Teknik Naga Taksaka!”


Kedua tangan Rena, dan kedua kakinya tidak dapat bergerak setelah ditotok oleh kedua jari kanan pradita dengan gerakan secepat kilat.


“Lepaskan aku bodoh!” hardik Rena dengan menggoyangkan tubuhnya, tetapi tetap tidak bisa menggerakan kedua tangan, dan kedua kakinya.

__ADS_1


“Tenang, Nona Ike. Jangan teriak-teriak and jangan galak-galak. Aku hanya ingin informasi mengenai mereka, karena narkoba masih mengancam orang-orangku di Tangerang Selatan,” mohon Pradita dengan logat Belanda.


Otak Rena tiba-tiba ingat sesuatu, dan itu adalah pesan Wilma beberapa hari yang lalu, bahwa nanti akan ada seorang pria yang akan membantunya, dan pria tersebut bukan dari kepolisian, juga bukan dari militer.


“Baik, tapi lepaskan aku!” seru Rena dengan nada agak melunak.


Pradita kembali melepaskan totokan teknik Naga Taksaka pada kedua persendian lengan atas dan kedua lutut Rena dengan gerakan secepat kilat, hingga gerakannya tidak dapat ditangkap oleh mata Rena.


Rela menyuruh Pradita duduk, dan gadis yang memiliki lekukan tubuh seperti huruf S tersebut masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil laptop berisikan informasi ketujuh komandan Organisasi Sevenfall yang menggawai beberapa geng mafia di seluruh dunia.


Rena keluar dari kamarnya, dan menaruh laptop yang sudah menyala, lalu menaruhnya di hadapan Pradita.


Ia menjelaskan secara rinci tentang ketujuh komandan Sevenfall yang menguasai dunia, dan salah satunya adalah Eugene.


“Eugene Mindell?” Pradita melebarkan mata melihat foto pria botak, berotot, dan berbadan besar ada di salah satu daftar 7 komandan Sevenfall, “Jadi dia ada disini?”


“Ya, Eugene ada disini, dan sudah tahu akan dirimu yang sudah menguasai wilayah Tangerang selatan, yakni wilayah yang sangat strategis untuk bisnis narkoba, dan telah mencetak uang yang sangat banyak untuk Sevenfall, serta kamu telah menghancurkannya,” jawab Rena.


......................


Malam harinya, gedung Club Nineties, Krangkeng, Indramayu.


Pradita keluar dari angkat berwarna kuning sambil mengupil. Disusul Rela di belakangnya. Mereka berdua ingin mencoba masuk lebih dalam mencari informasi keberadaan Brock, dan juga Eugene.


Target utama Pradita adalah mengetahui gudang penyimpanan narkoba yang disembunyikan oleh Brock di suatu tempat yang hanya Brock yang tahu. Bahkan Eugene selaku atasannya tidak tahu, kalau Brock menyimpan ribuan ton narkoba di tempat tersebut.


Rena masuk terlebih dahulu ke dalam, karena memang sudah menjadi pekerjaannya untuk melayani pria hidung belang. Namun tak pernah sampai dia bercocok tanam dengan pria hidung belang yang dilayaninya.


“Sistem, apakah ada teknologi yang bisa merubah wajah? Tolong belikan aku juga senapan magnum seperti biasa, pistol kejut, dan dua senapan Uzi, serta biasa pelurunya karet!” titah Pradita dalam hatinya.

__ADS_1


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Ada, host. Namanya Thousand Face Mask, harganya Rp,10.000.000.000 sudah termasuk diskon. Efek mampu meniru siapapun, termasuk bentuk tubuh, wajah, suara, dan gestur tubuh]...


...[Apakah host ingin melanjutkan membeli?]...


...[Ya/Tidak]...


Pradita menekan tombol ya, dan sistem pun memproses pembelian barang yang sudah ia pesan.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Memotong uang Rp,10.010.000.000 dari saldo sistem untuk pembelian 1 unit Thousand Face Mask, 1 unit senapan Magnum Sauer P226 full perlengkapan, 1 unit Enforce Phazzer full perlengkapan, dan 2 unit SMG Uzi full perlengkapan. Pembelian dimulai dalam 3 … 2 … 1 …]...


...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...


...[Pembelian berhasil. 1 unit Thousand Face Mask, 1 unit senapan Magnum Sauer P226 full perlengkapan, 1 unit Enforce Phazzer full perlengkapan, dan 2 unit SMG Uzi full perlengkapan sudah ditransfer ke inventaris sistem]...


Pradita menengok ke kiri, dan ke kanan mencari tempat yang aman mencari tempat yang aman untuk merubah bentuk tubuhnya, supaya tidak dikenali oleh para anggota geng Cross yang berada di dalam club.


Ia menemukan sebuah pohon besar yang berada di luar gedung, dan berlari cepat berpura-pura ingin buang air kecil.


Setelah sampai di pohon besar tersebut, Pradita langsung mengeluarkan topeng seribu wajah yang hanya berbentuk topeng biasa pada umumnya berwarna putih.


“Cih, topeng seperti ini seharga 10 miliar. Aku rasa sistem ini salah buat harga,” gumamnya kecewa.


Namun setelah ia memakai topeng tersebut dan membayangkan bentuk tubuhnya menjadi seperti pria rusia tampan bermanik mata biru, berhidung mancung, dan rambutnya berwarna pirang disisir ke belakang begitu rapi dengan tubuh yang tinggi nan kekar. Pradita bungkam seribu bahasa, bahkan setelah mencoba berbicara bahasa Rusia pun ia bisa.


“Luar binasa, eh luar biasa,” gumam Pradita dengan mata membola dan perasaannya begitu takjub dengan topeng yang terlihat biasa, tetapi punya kegunaan yang luar biasa.

__ADS_1


Pradita merapikan setelan jas hitamnya dengan dalaman kemeja berwarna hitam, tapi justru dengan warna gelap tersebut membuat tubuh, dan wajahnya bersinar di dalam kegelapan malam.


Pria rusia yang gagah dan tampan tersebut berjalan dengan raut wajah dingin menuju gedung Club Nineties. Pradita sudah seperti seorang mafia kelas kakap, dan membuat semua anggota geng Cross segan terhadapnya, ketika ia berpapasan dengan mereka di pintu depan.


__ADS_2