
Dengan terpaksa Pradita mengeluarkan dua pedang, yakni pedang wakizashi, dan pedang kodachi untuk bersiap menangkis pedang besar yang berada di punggung tangan Komandan Aramain.
Keempat pedang beradu, dan suaranya cukup terdengar sangat keras di telinga semua orang. Percikan api juga berhamburan di sekitar tubuh mereka berdua, saat mereka jual-beli ayunan pedang.
Akan tetapi Pradita tak mampu mengimbnag gerakan ayunan tebasan pedang dari Komandan Aramain disebabkan luka-luka di dadanya.
Kedua lengan Pradita terkena tebasan, hingga memuncratkan cairan kental merah disertai pekikan kesakitan.
“Aaakh!” Pradita berguling-guling di permukaan lantai, dan ditertawakan oleh semua anak buah Komandan Aramain.
Di luar Istana bawah laut Aramain, Zevalia yang memang terus mengawasi Pradita, karena takut pria yang dicintainya dalam diam tersebut masuk dalam bahaya langsung bergegas berenang untuk menyusulnya.
Ia sudah mengikuti Pradita sedari tadi, tetapi Zevalia bertindak ketika mendapatkan pesan dari Red Queen.
Gadis berwajah rusia tersebut berhasil membuka pintu gerbang masuk dengan meretasnya. Ketika sudah berada di dalam, dan dikepung oleh anak buah Aramain, Zevalia mengeluarkan pedang saber.
Setiap kepala yang dilewatinya ditebas dengan cepat, hingga setiap kepala menyemburkan cairan merah, dan membuat wilayah dok kapal selam tersebut banjir cairan merah.
Suara rentetan letupan peluru terdengar di lorong yang menuju aula singgasana Komandan Aramain. Rupanya Zevalia sedang menuju ke arah aula, dan dihadang oleh beberapa anak buah Aramain dengan senapan Blaster Rifle yang terus membombardirnya tanpa henti.
Berkat kelihaian reflek tubuh Zevalia, setiap peluru yang datang ke arahnya ditebas menjadi dua, dan ada beberapa peluru yang dikembalikan lagi ke pemiliknya.
“Aaakh!”
Suara pekikan kesakitan menggema di dalam lorong yang menuju aula singgasana Aramain, dan itu terdengar oleh komandan Aramain.
“Hei, rupanya tikus-tikus Arshavin sekarang berani masuk ke kandang Singa? Benar-benar otak udang, hahaha ….”
Komandan Aramain melesat ke arah Zevalia dengan sepatu roda yang berputar sangat kencang, hingga roda-rodanya mengeluarkan percikan api. Kedua pedangnya siap diayunkan ke arah gadis berwajah Rusia tersebut.
__ADS_1
Setelah dekat, keduanya beradu jual-beli tebasan, hingga ribuan gerakan jurus diperagakan. Mereka berdua bertarung sangat cepat, dan tak bisa ditangkap oleh mata biasa.
“Lebih baik kau menyerah! Sebelum Komandan Arshavin mengambil keputusan menghancurkan tempat ini!” ancam Zevali, dan tak digubris oleh Komandan Aramain.
“Apa? Aku tak dengar? Sepertinya Komandanmu itu gegar otak, hahaha …. Lebih baik periksakan otaknya ke dokter hewan, hahaha …,” ejek Komandan Aramain, karena merasa dirinya paling kuat, dan paling pintar diantara ketujuh Komandan Sevenfall.
Itu terbukti dirinya bisa menguasai benua eropa, dan seperempat benua afrika hanya dalam waktu kurun satu tahun. Setelah dirinya diangkat menjadi salah satu Komandan tertinggi Sevenfall.
Keduanya saling mengayunkan pedang dengan sekuat tenaga untuk menebas tubuh satu sama lain, sampai-sampai keduanya terpundur lusinan meter.
Akan tetapi Komandan Aramain sudah menyiapkan siasat licik dengan melemparkan bom mikro chip di sekitar tubuh Zevalia.
Suara rentetan ledakan disertai kepulan asap muncul di sekitar tubuh Zevalia. Membuat cyborg armor yang dipakai gadis berwajah Rusia tersebut hancur luluh lantak. Untungnya ia masih sempat mengaktifkan bola energi untuk melindungi tubuhnya, dan Zevalia hanya mendapatkan luka-luka ringan.
Pradita yang sudah memulihkan luka-lukanya menggunakan teknik naga kurusetra bangkit dengan tatapan sendu. Karena kedua pedangnya patah, dan ia mengeluarkan dua pedang lain, yakni pedang shirasaya, dan pedang ninjato.
Pradita melesat dengan kecepatan secepat kilat ke arah Komandan Aramain yang bersiap melemparkan nano bom yang berdaya ledak tinggi ke arah Zevalia.
Sebelum nano bom itu mengenai Zevalia, tubuh gadis berwajah Rusia yang sedang berlutut satu kaki dengan dada kembang- kempis itu langsung diserobot oleh Pradita.
Bom-bom itu kembali meledak, dan ledakannya menggetarkan aula singgasana Aramain.
“Hahaha …. Aku akan membuat kalian terkubur di dalam istanaku ini, matilah! Hahaha ….”
Komandan Aramain sambil tertawa menyeringai seperti seorang psikopet eh psikopat mengejar Pradita yang sedang berlari menggendong Zevalia. Ia melemparkan beberapa kartu yang bisa meledak ke arah mereka berdua.
Pradita menambah kecepatan larinya, dan sudah tak peduli dengan kedua pedangnya yang ia tinggalkan di dalam aula singgasana.
Ia harus kabur dari kejaran Komandan Aramain yang sudah melebihi batas kewarasannya alias sudah gila.
__ADS_1
Markas bawah laut itu terus bergetar setelah kartu-kartu yang dilemparkan oleh Komandan Aramain tak mampu mengenai Pradita ataupun Zevalia. Malah justru mengenai lantai, dinding, dan juga atap markas bawah laut, bahkan mengenai anak buahnya sendiri.
Kobaran api dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah markas bawah laut, dan hampir semua anak buah Aramain terbakar, juga tewas oleh ledakan yang dibuat oleh tuan mereka sendiri.
Pradita mengaktifkan bola energi pelindung, supaya bisa berenang aman di dalam air laut yang sudah masuk ke dalam markas bawah laut.
Melihat Pradita sudah gak jauh meninggalkan markas bawah laut, roda di kedua kaki Komandan Aramain diganti dengan dua bulatan baling-baling kipas, supaya bisa mengejar Pradita.
Komandan Aramain yang berada di belakang, dan tidak jauh dari bola pelindung energi yang membawa Pradita, dan Zevalia menembakan bom rudal dari kedua pedang besarnya yang memang memiliki moncong pelontar tersembunyi.
"Mas, kita harus cepat sampai ke permukaan. Kalau tidak, ledakan markas bawah laut itu bisa menciptakan gelombang kejut yang sangat besar, dan bisa membuat bola pelindung ini terombang-ambing di tengah lautan!" seru Zevalia panik melihat markas bawah laut sudah memunculkan kepulan cahaya bertubi-tubi.
"Bagaimana bisa menghindar dengan cepat? Lihatlah si iblis tampan itu! Dia terus mengejar kita, dan membombardir kita dengan rudal," balas Pradita ikut panik juga.
Rudal-rudal yang ditembakan oleh Komandan Aramain berkali-kali mengenai bola pelindung energi, dan hampir sedikit lagi lapisan luarnya hancur. Tinggal menunggu waktu saja keretakan di lapisan luar bola pelindung energi tersebut akan meluas ke seluruh bagian bola pelindung.
Akan tetapi dibalik bencana masih ada hikmahnya. Bola pelindung yang dibombardir rudal-rudal tersebut malah terdorong ke atas permukaan laut.
Melihat cahaya matahari yang menyorot ke permukaan laut sudah dekat, Zevalia, dan Pradita segera mengaktifkan topeng cyborg miliknya. Supaya bisa berjalan di atas permukaan air.
Mereka berdua berhasil menggapai permukaan air laut, sedangkan Komandan Aramain masih berusaha berenang dengan kedua baling-baling kipas di kakinya mengejar Pradita, juga Zevalia.
Terjadi ledakan yang sangat besar, hingga air laut memunculkan tsunami setinggi 5 meter. Ledakan tersebut dari markas bawah laut yang generator nuklirnya meledak, dan menghancurkan semua wilayah markas bawah laut.
Komandan Aramain belum sempat menjangkau permukaan sudah ditimpa gelombang bawah laut, dan membuat kedua baling-baling kipas di kedua kakinya rusak.
Alhasil tubuhnya meledak oleh nano bom, kartu bom, dan mikro chip bom yang masih Komandan Aramain simpan di dalam tubuhnya. Ledakan bom di tubuhnya tersebut dipicu oleh gelombang kejut dari gelombang ledakan generator nuklir di markas bawah laut.
Ternyata Malika tidak meninggalkan Pradita. Ia terus diberi oleh Red Queen mengenai informasi lokasi keberadaan Pradita, dan saat ini ia sedang mengudara mengendarai helikopter dari Yordania untuk menjemputnya.
__ADS_1