
...7 hari kemudian....
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan uang Rp,200.000 dari mengupil sebanyak 10 kali]x8...
Pradita yang sedang membuat adonan bakso begitu lesu melihat panel hologram di depannya.
“Hah … sudah uang dari mengupil sedikit yang didapatkan, karena aku jarang mengupil. Ini juga omset jualan bakso kenapa di awalnya saja banyak. Apa yang sebenarnya terjadi?” gerutu Pradita dengan menghela nafas panjang.
Semenjak tidak ada Red Queen, kehidupan Pradita serba manual yang biasanya otomatis karena ada laporan dari Red Queen. Sehingga ia bisa mengantisipasi hal-hal yang bisa membuat kerugian untuk dirinya, dan keluarganya di masa depan.
“Kenapa, Bang?” tanya Akmar yang sedari mengamati Pradita yang termenung dengan wajah murung.
“Tidak, apa-apa, Mar. Ya biasalah, namanya orang jualan naik turun,” jawab Pradita dengan senyuman kecut.
Pria berwajah korea tersebut tidak ingin menceritakan gundah gulana di dalam hatinya pada Akmar. Sebab Pradita tidak mau merepotkan Akmar yang selalu membantunya setiap hari di kedai dengan wajah yang selalu ceria.
“Bang, apa Abang tidak berpikiran aneh dengan jualan bakso ini? Di awal kan Abang jualan begitu ramai, dan juga banyak memberikan penilaian bagus. Apa Abang tidak curiga dengan semua kejadian ini?” celetuk Akmar.
Pradita bergumam sambil manggut-manggut, “Hmmm …. Iya juga ya. Kamu anak jenius, Akmar.”
“Tidak juga sih, Bang. Tapi mungkin juga sih, apalagi kalau Akmar sekolah, hehehe …,” kelakar Akmar dengan terkekeh pelan.
Pradita menyelesaikan semua adonan baksonya. Lalu memberikan pesan pada Akmar untuk tidak keluar dari dalam kedai sebelum ia kembali.
Pria berambut merah tersebut menaiki motor miliknya, sambil matanya menengok ke kiri, dan ke kanan. Dengan bantuan topeng cyborg enerzone, Pradita mampu menangkap suara-suara kecil dalam radius 500 meter.
__ADS_1
Tiba-tiba ia menghentikan motornya setelah mendengar banyak suara yang sedang menggosipkan kedai bakso Mardono dengan berita-berita miring. Seperti berita pesugihan, dagingnya pakai daging tikus, kuahnya dicampur ******, dan berita-berita negatif lainnya.
“Sialan, siapa yang sudah menciptakan kabar buruk seperti ini? Kalau aku tahu siapa biang keroknya, aku akan patahkan lehernya,” geram Pradita sambil memukul pelan stang motornya dengan penuh kekesalan.
Pradita berhenti di salah satu warung kopi yang cukup ramai, dan ada arena biliar juga di dalamnya. Topeng enerzone ia nonaktifkan, lalu melangkah masuk ke dalam arena biliar dengan langkah yang mantap.
Ia terus berjalan ke meja biliar yang berada di sudut ruangan. Seorang pria cukup tampan sedang ditemani oleh wanita yang memakai pakaian kurang bahan. Pria, dan wanita itu sedang saling menggoda sambil bermain biliar.
Pradita bertepuk tangan dengan tersenyum sinis, dan berkata pada pria tersebut, “Bagus sekali permainanmu, sampai-sampai kedai baksoku sepi pelanggan.”
Pria itu berpura-pura tidak mendengar perkataan Pradita, dan tetap asyik bermain biliar bersama wanita yang memakai rok mini putih tersebut.
Oleh karena Pradita sudah kesal, stik biliar tersebut ditarik paksa, lalu dipatahkan oleh Pradita. Pria itu menoleh ke arah Pradita dengan tatapan nyalang, “Cari mati ya kamu? Apa kau tidak tahu aku ini siapa, hah?”
“Tidak tahu siapa kamu?” Pradita mengelus dagunya sambil memicingkan mata, dan melanjutkan sambil menarik wanita itu ke arah pelukannya, “Tentu tahu. Aku akan beritahu satu rahasia pada wanitamu ini, bahwa kau seorang laki-laki yang suka bermain pedang, hahaha ….”
Namun ia tetap masih mengelak sambil menarik lengan wanita itu ke dalam pelukannya, “Omong kosong. Aku ini laki-laki tulen. Jangan percaya pada pemuda gila ini sayang!”
“Baiklah, aku punya bukti. Aku sudah rekam satu persatu dari kalian saat masuk ke dalam gedung bekas ruko di dekat kedai bakso Mardono, hahaha ….”
Pradita tertawa terbahak-bahak sambil mengeluarkan ponsel miliknya, dan memperlihatkan ponsel tersebut ke wanita itu, “Kamu salah pilih. Kok, kamu suka laki-laki seperti ini.”
Pradita memutar rekaman saat Gian, dan kelima puluh anak buahnya berbuat yang tak senonoh di dalam gedung bekas ruko. Mata wanita membulat, dan langsung menampar pipi laki-laki itu, “Baj_ngan! Aku tak menyangka kalau kamu seperti ini!”
Kemudian wanita itu pergi meninggalkan laki-laki yang menjadi pacarnya. Pria itu langsung terduduk lemas dengan menggertakan gigi. Namun apa daya ia sama sekali tidak bisa melawan karena Pradita punya kartu as yang bisa menjatuhkan harga dirinya di muka umum.
“Kutu kurap, apa maumu, hah?” bentak laki-laki jangkung tersebut dengan menggertakan gigi.
__ADS_1
“Mudah saja, beritahukan siapa dalang yang menyebarkan gosip jelek tentang kedai bakso Mardono milikku, dan kalian harus klarifikasi. Kalau tidak aku akan mengirimkan video ini ke polisi,” ancam Pradita dengan tersenyum licik.
"Bos Gian, tapi bos Gian juga disuruh seseorang laki-laki yang sama sekali aku tidak kenal," jawab laki-laki jangkung tersebut dengan mulut bergetar.
Karena setiap kali ia mengingat wajah yang menyuruh Gian untuk menghancurkan bisnis Pradita, lali-laki itu merasakan ketakutan. Baginya, sosok yang menyuruh Gian seperti malaikat kematian, siapapun yang berada di sekitarnya pasti merasakan hawa membunuh yang sangat kuat.
"Semuanya sudah aku rekam, dan sekarang katakan, dimana markas Gian?" tanya Pradita dengan nada yang sangat tinggi, membuat semua pelanggan warung kopi terdiam seribu bahasa.
Laki-laki yang sudah tak berdaya tersebut membisikan sesuatu ke telinga Pradita. Ia sudah tak peduli, walau nanti dirinya dipukuli atau dibunuh oleh Gian, karena memberikan keberadaan markas Gian ke Pradita.
Pradita melangkahkan kakinya dengan cepat untuk keluar dari wilayah warung kopi menuju parkiran. Namun di tempat parkiran, Pradita dihampiri oleh Komandan Arshavin, dan mengejeknya.
"Kau itu tanpa Red Queen hanya manusia berotak udang. Kini aku tahu kesuksesan usahamu, dan hartamu itu semuanya hasil kerja keras Red Queen, bukan atas otakmu, menyedihkan."
"Terus masalah?" tantang Pradita yang tidak jadi menaiki motornya malah membusungkan dada di depan Arshavin.
Kemudian ia melanjutkan dengan tatapan mengancam, "Jangan berani macam-macam denganku! Kau akan terima akibatnya seperti Eugene, Selena, Aramain."
"Hahaha …. Kau pikir aku bodoh seperti mereka, hahaha …."
Komandan Arshavin tertawa jahat sambil bertepuk tangan, dan membuat semua orang di warung kopi tersebut mengarahkan pandangannya ke arah mereka berdua.
"Nikmati saja permainan ini yang akan menggiringmu ke arah kehancuran. Kamu sebentar lagi akan hidup sendiri, dan semua istrimu atau akan …."
Komandan Arshavin menggoreskan pelipis luar tangan ke lehernya sendiri, memberikan isyarat bahwa keempat sitri Pradita akan dihabisi olehnya cepat atau lambat.
Pradita mendengar ancaman tersebut agak panik. Lalu ia bergegas pulang ke mansion Union untuk melihat keadaan keempat istri mereka, apakah baik-baik saja atau malah sudah dihabisi oleh anak buah Arshavin yang terkenal brutal, dan bengis.
__ADS_1