SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 51


__ADS_3

Pradita tidak melanjutkan, ia menyiapkan amunisi penawaran lanjutan saat 100 unit apartemen Liudou terjual. Para pengunjung berbondong-bondong masuk, sambil menikmati duet lagu Rungkad antara Devi dan Nabila. 


Pengunjung juga disediakan makanan, dan cemilan untuk menikmati konser musik bertajuk Liudou adalah rumah kami. Para pengunjung melihat isi di dalam salah satu unit yang memang diperuntukan sebagai contoh unit.


Melihat antusias pengunjung yang begitu membludak, Pradita tersenyum puas dan sesuai ekspektasinya.


“Gila, 100 unit pertama sudah terjual,” gumamnya dengan melebarkan mata melihat ponsel UR Predacon yang terhubung dengan sistem A.I. Red Queen.


Oleh karena BSD Group 50% sahamnya milik Pradita, maka ia menanamkan sistem A.I. Red queen pada sistem operasionalnya. Namun, tidak diketahui oleh Aslan, supaya Pradita bisa mudah mengawasi mereka secara sembunyi-sembunyi.


Wilma mendekati Pradita, dan membawakan gelas goblet atau gelas wine berisi cairan coklat hangat. Kemudian memberikannya dengan senyuman hangat pada pria berambut hitam tersebut.


“Ini untukmu, Mas! Aku tak menyangka kamu benar-benar orang yang punya integritas tinggi, dan tidak takut rugi. Aku yakin Mas adalah seorang pengusaha yang jenius, termasuk kepemilikan 100% saham Aeon Group.”


“Uhuk-uhuk ….” Pradita tersedak mendengar hal tersebut, dia tak menyangka Wilma juga mengetahuinya.


Padahal informasi itu sangat rahasia, dan sudah disembunyikan Pradita serahasia mungkin, “Uhuk-uhuk …. Bagaimana Nona Polisi bisa tahu?”


“Tidak ada yang tak bisa aku ketahui,” jawab Wilma dengan senyuman hangat, dan melanjutkan, “Termasuk minuman coklat hangat yang sangat disukai oleh Mas Pradita Mahendra.”


Wilma Wismatama adalah salah satu dari Jendral bintang satu di TNI, dan merupakan anggota generasi ketiga belas dari Program Charlie, yakni program untuk TNI yang bersifat sangat rahasia. 


Maka dari itu saat Pradita membongkar senapan magnumnya dengan cepat, ia mulai merasa aneh dengan Pradita, dan menganggap jika dia adalah musuh dalam selimut yang telah masuk ke dalam TNI.


Oleh karena itu Wilma menangkap Pradita, walau dirinya tidak bersalah. Untuk menguji, mengidentifikasi, mengamati gerak-gerik Pradita di dalam penjara. Nyatanya Pradita bukan siapa-siapa, dan tidak punya rekam jejak sebagai prajurit bayaran dimanapun.


Pradita terkejut, tapi ia tutup-tutupi dari Wisma, "Terima kasih banyak," ucapnya dingin.


Kemudian Pradita berbicara Red Queen melalui ponsel UR Predacon yang sedang dipegang tangannya, dan sedikit mengusik perhatian Wisma.


"Sambungkan fungsi voice note ke sound system di seluruh ruangan ini!" titahnya dengan nada pelan.

__ADS_1


...[Perintah, tuan dimengerti. Sudah menyambungkan ponsel tuan ke sound system di seluruh ruangan ini]...


Pradita pun mulai berbicara lagi untuk mengeluarkan amunisi selanjutnya, “100 unit apartemen Liudou telah terjual. Aku umumkan untuk pembelian 500 unit sisanya akan mendapatkan hadiah voucher belanja sebanyak 50 juta di Aeon Mall, dan voucher belanja mobil di Fetucini Motors sebanyak 90%!”


Para pengusaha yang memang ingin tinggal di kawasan segitiga emas tangerang Selatan mulai berbondong-bondong membeli unit apartemen bertipe loft seharga 4 milyar tersebut.


Agen-agen marketing properti yang ditugaskan untuk melayani pelanggan pun dibuat kebingungan. Karena para pelanggan berebut satu sama lain untuk membeli unit apartemen loft tersebut. Bahkan yang sebelumnya membeli unit presidential pun ikut membeli lagi.


Mereka membeli bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi juga sebagai investasi di masa depan yang diperkirakan oleh para pakar ahli ekonomi harga jual unit apartemen Liudou akan semakin meningkat di tahun depan.


CEO Aslan, Wisnu, Nathalia, dan Nathania pun dibuat melongo melihat para pengunjung yang sudah kesetanan ingin membeli unit apartemen yang menurut mereka harganya tidak masuk akal. Pradita mendekati mereka bertempat untuk acara yang sudah tahu hasilnya pasti dimenangkan olehnya.


"Aku serahkan pada kalian. Aku izin kembali lagi ke Cirebon," katanya santai dengan senyuman ramah.


Pria bermanik mata hitam tersebut berjalan santai keluar. Mereka bertempat mau menyusul Pradita untuk memberinya tumpangan helikopter, tapi terhalang harus melayani pelanggan yang mulai bertmabah riuh.


Alhasil ketujuh bidadari, Wisnu, dan Aslan tak dapat mengejar mereka. Pradita keluar dari wilayah apartemen Liudou yang dipenuhi banyak mobil-mobil mewah, dan lautan manusia kelas menengah ke atas.


Kemudian dia duduk di halte sambil menelepon sarkowi yang sudah puas berbelanja. Ada anak kecil berbaju putih lusuh dalam keadaan sangat kumal, "Om, sepatutnya boleh aku semir?" pintunya dengan wajah sendu.


Kebetulan tukang kopi dan coklat keliling Boboba yang dikelola oleh Engkong Sabeni, salah satu gerobaknya lewat.


"Bang, dua cangkir Boboba hangat ya! Sama Chocolatenese cake-nya juga dua!" pinta Pradita sambil melambaikan tangan dan melempar senyum khasnya.


Ramidi salah satu yang driver Boboba pun mendekati halte, ia tak menyangka adaa orang yang tahu tentang dua menu utama Boboba yang baru hari ini keliling di seluruh Tangerang Selatan, dan baru ada 100 unit driver Boboba.


“Siap, Bos! Segera akan dihidangkan. Kepuasan Bos adalah cuan bagi kami,” kata Ramidi dan mengingatkan jargon atau kata-kata yang selalu digaungkan oleh Engkong Sabeni ketika melayani pelanggan nasi uduknya.


Sepatu Pradita mulai disemir oleh Amir dengan sangat hati-hati, ia tak mau mengecewakan pelanggan pertamanya. Karena sudah dari pagi ia menunggu di depan halte, tapi tidak ada satupun yang mau sepatunya disemir.


Hal itu pun terjadi pada Ramidi yang sudah berkeliling di sekitaran wilayah Apartemen Liudou. namun belum satupun mendapatkan pelanggan dari pagi.

__ADS_1


Ramidi menghidangkan dua gelas coklat hangat dan dua kue coklat lumer. Lalu  ditaruh disamping Pradita.


 “Terima kasih Bang. Berapa semuanya? Abang sudah menikah? Kalau sudah, punya anak belum?” tanyanya dengan senyuman ramah.


"Sudah Bang. Baru dua sih, cuman biaya hidup makin tinggi. Ini saja untung ada Engkong Sabeni yang memberi pekerjaan menjadi Driver Boboba." 


"Tapi masa aku tidak ada kontribusinya, padahal kata Engkong, satu driver sudah digaji 10 juta per bulan, dan itu benar. Aku doakan yang punya usaha ini berkah hidupnya, soalnya baik banget," terang Ramidi.


"Bang, Abang mau jualannya ramai. Ayo foto sama aku, tak jamin laris. Panjang ya foto aku sama Abang yang gede di belakang gerobaknya," balas Pradita dengan senyuman ramah, tapi tetap serius.


Pradita menghentikan anak kecil tersebut untuk menyemir sepatutnya, walaupun sebelah kiri saja.


"Dek, makan dan minuman ini. Pasti kamu lapar, dan esok hari tidak usah nyemir lagi," lanjutnya.


Amir menangis tersedu-sedu. Ia mengira Pradita tak membolehkannya lagi untuk menyemir sepatu disisir, "Ke-kenapa om? Apakah profesi aku sa-salah, hiks-hiks …."


"Tidak, besok kamu sekolah dan tinggal di salah satu unit apartemen disisir," sergah Pradita, dan tiba-tiba ketujuh bidadari menghampirinya dengan nafas terengah-engah.


Rupanya mereka melewati kerumunan pengunjung dibantu para bodyguard milik Nira yang bekerja di perusahaan PT.Astral Guardian.


"Mas, kamu kemana? Kok sudah mau pulang saja?" tanya ketujuh bidadari serentak.


Ramidi dan Amir hanya menjatuhkan rahangnya melihat ketujuh gadis cantik di hadapan mereka menemui Pradita.


"Aku mau —"


"Jangan pulang dulu lah mas! Aku sudah menyewa jet pribadi untuk kita jalan-jalan ke Bali," potong nabila manja dan bergelayut manja di lengan kanan Pradita.


"Nabila jangan seperti ini! Banyak orang, aku takut malah merusak reputasi kamu sebagai artis terkenal," tolak Pradita lembut.


Nabila malah semakin erat memeluk lengan Pradita, "Tidak masalah Mas. Yang penting aku bisa hidup sama kamu, aku sangat bersyukur sekali."

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Tapi aku minta satu, urusin adek ini untuk mendapatkan kehidupan yang layak." Pradita menyerah dengan tingkah manja Nabila, dan melanjutkan, "Nathalia, Nathania, berikan satu unit untuk arek ini, dan tempatkan di sekolah paling mahal dan paling favorit di Tangerang Selatan."


"Si-siap Mas. Eh, siap Tuan Muda," balas Nathania, dan Nathalia dengan menunduk hormat ke arah Pradita.


__ADS_2