
Pradita sangat santai menerima tekanan dari keempat tentara bayaran. Permainan kecepatan tangannya tidak diprediksi oleh keempat tentara bayaran yang terlalu fokus melihat Aevum Drone yang sudah selesai menggasak 100.000 ton narkotika berbagai jenis di 50 gedung gudang penyimpanan.
Dua senapan kejut enforce phazzer sudah berada di pegangan tangan Pradita, dan langsung ditembakan dengan gerakan yang tak tertangkap oleh semua pasang mata di sekitarnya.
Keempat tentara bayaran, dan Brock menggelepar-gelepar seperti ayam yang baru saja disembelih di permukaan lantai halaman istana mansion milik sang Singa Hitam.
“Teknik Naga Anubra!”
Pradita menyelimuti seluruh kulitnya dengan partikel setara dengan partikel berlian dan menggandakan kekuatannya menjadi 10 kali lipat. Hal itu terlihat dari tubuhnya yang dipenuhi urat otot yang menonjol besar.
Melihat Brock diseret oleh Pradita menuju tepi pantai, tentara bayaran yang berjumlah cukup banyak menembaki Pradita. Namun hasilnya semua peluru-peluru tersebut terpental ke berbagai arah, karena memantul saat menyentuh kulit Pradita yang sekeras berlian.
Beberapa peluru malah mengenai betis, dan paha Brock, “Aaakh! Berhenti! Jangan tembak lagi, aaaakh!” pekiknya.
Oleh karena terlalu berisik, Pradita melemparkan Brock sekuat tenaga, sampai menyentuh bibir pantai.
Setelah Aevum Drone tidak ada lagi di wilayah pulau Komodo, Red Queen mengirim pesan ke Wilma, dan Rena untuk segera mengirimkan Byaktar Drone guna menghancurkan fasilitas laboratorium yang digunakan untuk meneliti narkoba jenis baru.
Para wanita yang dipekerjakan sebagai wanita tuna susila di istana Brock berhamburan menuju bibir pantai. Personil TNI yang menggunakan kapal selam, kapal boat, juga kapal vortex dikerahkan untuk berperang melawan pasukan tentara bayaran yang dimiliki Komandan Aramain.
Bom-bom napalm, misil, dan berbagai jenis bom dijatuhkan ke fasilitas-fasilitas penting di wilayah pulau Komodo oleh 50 Byaktar drone.
Suara rentetan ledakan disertai kepulan cahaya, debu, dan asap memenuhi pulau. Banyak tentara Sevenfall yang tewas dalam penyerangan tersebut. Perkebunan tanaman herbal seluas 15 hektar tersebut juga ikut terbakar hebat.
Brock terduduk lemas dan menangis keras melihat semua jerih payahnya beberapa puluh tahun hancur hanya dalam beberapa menit.
__ADS_1
Wilma dan Rena datang dengan helikopter yang mendarat dekat Pradita. Hal lain yang Pradita sembunyikan adalah tentang 100.000 ton yang memang ia sembunyikan dari siapapun. Soalnya kalau diketahui oleh pihak berwenang ia bisa rugi 1 triliun. Padahal semua barang haram itu akan disulap menjadi pupuk yang diluar segitiga.
Brock langsung dibawa oleh Rena, dan Wilma ke helikopter dalam keadaan lemas, karena tersengat tegangan listrik dari pistol kejut milik Pradita.
Dasar memang otaknya encer kaya tahi ayam, Pradita sudah merencanakan kerjasama dengan Kepolisian. Ia ingin melakukan kerjasama dengan memasok pistol kejut ke pihak kepolisian. Tentu saja menambah pundi-pundi kekayaannya biar semakin bengkak.
Wilma meminta Rena untuk mengantarkan Pradita pulang, dan tidak usah menginterogasinya. Karena ia sudah banyak menemukan bukti untuk membuat Brock dihukum mati. Bukti itu diberikan oleh Red Queen, dan sistem A.I. super komputer tersebut memang sangat berguna.
****
Keesokan paginya, apartemen Peninsula.
Pradita bangun kesiangan, karena sangat lelah. Apalagi kemarin semua staminanya banyak terkuras setelah menggunakan banyak teknik Naga terbang.
Saat mendengar suara mekanis sistem tersebut Pradita baru bangun dari tidurnya. Hari ini Pradita tidak ada kegiatan, dan ingin bersantai.
Namun ada hal yang sangat menarik, setelah Eugene tewas, dan Brock tertangkap, perusahaan logistik Panji yang tak mampu melawan keganasan PT.MMK yang terus laba setiap hari, dan hampir 200% dengan amunisi segudang promo. Pada akhirnya uang yang disuntikan oleh Brock ludes tak tersisa, membuat perusahaan tersebut di ujung tanduk.
“Setelah aku membagi-bagikan sembako untuk warga disini. Mungkin aku akan mengakuisisi salah satu bank Jabar, dan melakukan taktik licik dengan menggelontorkan dana pada mereka, dan dana yang tak bisa dikembalikan, hahahaha ….”
Pradita tertawa jahat membayangkan Nesa, Riko, dan Panji menderita, karena semua asetnya akan disita oleh bank yang akan diakuisisi olehnya.
Ia segera melakukan aktivitas setelah bangun tidur, yakni latihan fisik yang sudah ditingkatkan jumlahnya hingga sepuluh kali lipat. Pradita melakukannya demi meningkatkan poin massa otot yang memiliki poin sangat jauh dari status poin yang lain.
[Tongteng … Tongteng! Selamat, host mendapatkan 10 poin massa otot dan sudah ditambahkan ke status sistem]
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri, Pradita memakai kaos putih dan celana jeans biru. Ia akan menuju salah satu minimarket yang berada di lantai dasar apartemen Peninsula untuk memborong semua makanan disana.
Ia menuruni anak tangga agar lebih cepat, dan juga sebagai latihan fisik bagi dirinya sendiri. Saat menuruni anak tangga terakhir di lantai dasar, ia melihat Nira yang jauh-juah datang dari tangerang Selatan guna ingin membicarakan bisnis, padahal gadis itu rindu ingin melihat wajah Pradita.
“No … Nira. Bukankah aku sudah menyerahkan kerjasamanya sama Nathalia dan Nathania? Ada apa nih jauh-jauh datang dari Tangerang Selatan kemari?” ledek Pradita sambil mencolek dagu gadis berambut coklat tersebut.
Nira pun tersipu malu, “Ada beberapa-beberapa hal yang ingin aku bicarakan padamu, Mas.”
“Ya, sudah kita bicarakan sambil jalan. AKu ingin bagi-bagi sembako dan makanan ke warga sekitar sini. Aku lihat disini memang pusat kota yang gemerlap, tapi masih banyak warga miskin yang tak tersentuh. Aku sebagai pemuda yang banyak uangnya tak habis-habis sampai kiamat merasa kasihan saja pada mereka,” canda Pradita.
Mereka berdua pun langsung masuk ke Alfamart yang berdampingan langsung dengan Indomaret.
Pradita tanpa basa-basi langsung mengutarakan maksudnya, “Mbak, dan Masnya! Aku mau borong semua makanan ya disini! Makanan, dan minuman saja termasuk bahan makanan. yang digudang juga aku borong semua …. Gini aja deh semuanya aja keluarin. Nanti bisa kirimin ke balai desa seberang itu!”
Pradita menaruh kartu ATM Black SVIP ke kasir yang masih gadis, dan matanya tidak berkedip sudah beberapa menit melihat ketampanan Pradita.
“Rika, woy Rika!” teriak rekan laki-lakinya dan membuat si kasir wanita tersebut tersadar.
“Ma-maaf, Mas. Ba-bagaimana tadi?” tanyanya gelagapan.
Pradita menghela nafas kasar, “Aku mau beli semua yang ada disini. Pokoknya aku terima bersih, mau berapapun aku borong termasuk biaya ongkirnya. Sudah dimengerti Mbak? Apa perlu aku cium baru Mbak mengerti?”
“Boleh mas,” celetuk Rika keceplosan dan langsung dicium pipinya oleh Pradita, hingga membuat mukanya yang putih mulus itu langsung memerah semerah kepiting rebus.
“Ehem …. Bau kepiting gosong ni, ehem!” sindir Nira yang hatinya terbakar cemburu.
__ADS_1