
Mobil yang dikemudikan Nathania sampai di sebuah jalan kecil yang menuju pantai Ketapang. Jalan tersebut hanya mampu dilewati kendaraan beroda dua, tetapi tidak bisa dilewati oleh kendaraan beroda empat.
Mau tidak mau Pradita turun dari mobil dan berjalan agak cepat. Dikarenakan lokasi pantai Ketapang masih berjarak 1 km lagi, sedangkan waktu penjemputannya tersisa 30 menit lagi.
Sambil berlari ia mengeluarkan topeng putih dari inventaris sistem. Beruntung sudah bisa dipakai lagi untuk merubah tubuh Pradita menjadi Arov kembali.
Tubuh Pradita kembali berubah, dan sambil berlari ke arah Pantai Ketapang, ia melakukan berbagai macam persiapan. Seperti menyelipkan dua senapan SMG di belakang pinggangnya, dan juga dua pistol kejut.
Pradita merasakan penyesalan yang amat dalam saat dirinya membunuh 150 anak buah Eugene. Termasuk ketika ia membunuu Eugene sendiri dengan sadis.
Namun, ia menyanggah dengan bergumam, “Orang seperti mereka pantas mati! Gara-gara dia kedua orang tuaku tewas, dan dibunuh dengan sangat keji.”
Bulir-bulir keringat bercucuran saat Pradita sampai di Pantai Ketapang. Tidak ada satupun orang yang berada di sana. Rupanya sudah disterilkan oleh anak buah Brock, karena akan menjadi tempat penjemputan Arov oleh anak buah Brock.
Pria bermata satu tersebut ingin bekerja sama dengan Arov secara jangka panjang. Apalagi semua stok narkoboy yang berada di gudangnya telah habis diborong semua oleh Arov alias Pradita.
Melihat helikopter datang dan sedang mengudara ke arahnya, Pradita mengirimkan pesan rahasia ke Rena, dan Wilma untuk merubah rencana mereka. Mereka tidak mungkin menyergap Brock di markas utamanya yang berada di Pulau Komodo yang berada jauh dari Pantai Ketapang.
“Edan! Padahal kalau ada Nathania, dan Nathalia, kita bisa menyergap Brock di markasnya dengan menggunakan Comanche Drone,” gumam Pradita menepuk jidatnya sendiri berkali-kali.
Helikopter pun tiba diatas Pradita dan menjulurkan tangga berupa tali yang cukup panjang, supaya Pradita bisa naik ke atasnya.
Saat Pradita menaiki tangga berbentuk tali tersebut, ponsel UR Predacon miliknya berbunyi, dan langsung disambungkan ke dalam pikiran Pradita oleh Red Queen.
__ADS_1
Pesan dari Wilma yang sudah bersama Rena datang. Pesan tersebut berisikan bahwa mereka akan mengirimkan drone Byaktar tanpa awak yang tidak bisa dideteksi oleh radar ketika mengikuti Helikopter yang dinaiki oleh Pradita.
Ia pun sampai di pegangan helikopter, dan ditarik tangannya oleh salah satu penjaga yang ditugaskan oleh Brock untuk mengawal Pradita sampai ke Pulau Komodo. Sebuah tempat dimana markas utamanya berada. Markas utama yang berisikan semua stok narkotika berbagai jenis, dan laboratorium yang sedang meneliti narkotika terbaru.
“Mohon maaf, Tuan Arov!”
Penjaga yang mengawal Pradita itu menutupi kepalanya dengan kantong kain hitam. Tentu saja supaya pria berambut hitam tersebut tidak tahu letak pasti keberadaan lokasi markas utama Brock.
Pradita tetap diam dan dingin menanggapi tindakan sang penjaga tersebut. Kemudian Helikopter tersebut dilajukan sangat kencang oleh sang pilot menuju markas utama Brock yang berada sekitar 15 km dari bibir Pantai Ketapang.
Sebanyak lima puluh drone Byaktar tanpa awak mengudara di ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Saat ini semuanya sudah menandai helikopter yang ditumpangi Pradita.
Drone-drone tersebut terus mengikuti helikopter tersebut. Dikendalikan oleh para kru awak drone dari Kepolisian Republik Indonesia yang memang ditugaskan untuk satuan penanggulangan ******* jarak jauh.
Pradita yang sudah dilepas kantong kain yang menutupi kepalanya dibuat kagum oleh markas utama milik Brock. Dari pengamatannya banyak tanaman obat yang ditanam di sekitar pulau Komodo tersebut. Walaupun di sana tempat pembuat narkotika.
Ada banyak tentara bayaran dari organisasi Sevenfall yang memakai seragam Cyborg armor suit berwarna hitam. Hampir semuanya memegang senapan Blaster Rifle yang dilengkapi pelontar granat.
Brock sengaja menyewa tentara-tentara tersebut dari salah satu komandan Sevenfall yang bernama Komandan Aramain yang bergerak di bidang jasa tentara bayaran, dan senjata gelap tapi dengan teknologi termutakhir. Pradita menyuruh Red Queen meretas setiap sudut kamera CCTV dan mengirimkan rekamannya ke ponsel milik Rena, juga Wilma.
“Pantas saja mereka susah sekali digulingkan. Persenjataan mereka bukan main-main, dan bukan lawan tentara-tentara kita. Dilihat dari alutsistanya sudah jauh, ibarat langit dan bumi,” batin Pradita dengan mata melirik ke kiri, dan ke kanan memindai setiap sudut tempat fasilitas milik Brock tersebut.
Akhirnya dia sampai di fasilitas mansion milik Brock yang seperti istana. Ada banyak wanita yang hanya memakai pakaian mini, dan sedang berenang di kolam besar di depan mansion tersebut. Kondisi mereka semua dalam keadaan sakau, karena baru saja pesta sabu bersama.
__ADS_1
Pradita juga sudah menyiagakan banyak Aevum Drone dengan jumlah yang tak terhitung di ketinggian 1000 meter di atas permukaan air laut. Untuk mengangkut 100.000 ton narkotika berbagai jenis.
Setelah barang itu berada di tangannya, maka Pradita akan meminta Wilma menyerang fasilitas markas Brock. Sementara ia akan pergi meninggalkan markas tersebut sesuai rencananya.
"Master Brock, mana barangku!" pinta Pradita dingin.
Brock tertawa jahat sambil merentangkan kedua tangannya. Sementara dadanya dipeluk oleh dua orang gadis berpakaian mini, “Barangmu? Tidak ada, hahaha ….”
Pradita kesal dan geram, dan sudah menekan tombol rahasia yang memerintahkan Red Queen untuk mengambil alih kendali Aevum Drone untuk segera turun. Hal itu akan membuat generator yang memasok di seluruh fasilitas milik Brock padam dalam jangka waktu yang lama, sehingga kacau balau.
“Aku sudah membayar 100.000 ton barangmu secara tunai, dan kau katakan tidak ada —-”
“Ya, aku hanya ingin mengambil uangmu saja, hahaha …. Lagipula kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari markas tersembunyiku yang dijaga 10.000 tentara bayaran yang sangat terlatih, hahaha …,” potong Brock dengan sombongnya sambil tertawa jahat.
“Tolol! Kau melawan orang yang salah!” hardik Pradita sambil menjentikan jarinya, dan semua pasokan listrik termasuk cadangannya telah dimatikan oleh Red Queen. Alhasil daya listrik di seluruh pulau mati total.
Dengan kecepatan penuh Aevum Drone melesat ke arah gudang penyimpanan 100.000 ton narkotika dari berbagai jenis. Tentu saja hal tersebut mengejutkan Brock beserta pasukannya.
Ditambah lagi Aevum Drone yang berjumlah sangat banyak itu tidak mempan ditembak menggunakan peluru yang dilontarkan dari Blaster Rifle secara bertubi-tubi. Bahkan granat yang dilontarkan secara cepat dan bertubi-tubi ke beberapa Aevum drone pun tidak dapat menjatuhkan satu pun unit Aevum Drone.
“Kampret! Senjata macam apa yang tak mampu diledakan dengan misil, dan juga granat!” geram Brock berapi-api melihat senjata yang ditembakan tentara bayaran tidak mampu menembak jatuh satu unit pun Aevum Drone.
Lima orang tentara bayaran langsung menodongkan senapan Blaster Rifle ke arah tubuh Pradita, dan pria itu dengan tersenyum simpul mengalungkan kedua tautan tangannya ditengkuknya.
__ADS_1