
Pradita turun di Bandara Internasional Beijing,tetapi bingung harus mencari dimana, dan kemana tanpa ada informasi yang rinci mengenai bahan-bahan tanaman obat tersebut.
Ia duduk termangu di halte bis, hingga ada seorang lelaki gelandangan yang sedang dikejar-kejar oleh beberapa orang preman.
“Tolong! Tolong!” Lelaki gelandangan tersebut berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak ada satupun yang menolongnya.
Pradita tetap tak bergeming dengan pikirannya sambil mendongakan kepalanya ke langit. Sampai suatu ketika, lelaki gelandangan tersebut dilempar oleh preman berbadan kekar, dan tepat menimpa tubuhnya.
“Aw!” pekik Pradita, dan langsung kesal.
Dengan sigap ia bangun sambil menegakan badan lelaki gelandangan yang memiliki bau badan seperti bau septictank tersebut.
“Jangan campuri urusan kami!” tunjuk preman berbadan kekar ke arah Pradita dengan raut muka merah padam.
Pradita malah lebih garang, dan mendekati preman berbadan kekar itu dengan berkacak pinggang, “Oh, begitu? Tapi kalian telah mengganggu waktu santai yang berhargaku. Lalu aku harus minta ganti rugi pada siapa, hah?”
"Bukan urusan kami!"
Preman berbadan kekar itu menjawab sambil melepaskan pukulan ke arah rahang Pradita, dan pukulan itu tept mengenai rahang pria bergaya rambut harajuku tersebut.
Bukannya Pradita yang sakit, dan terpental. Malah kebalik, preman berbadan kekar itu yang terpental, hingga menabrak tong sampah, dan tiang listrik hingga bengkok.
"Ayo, siapa lagi?" tantang Pradita dengan memainkan jari telunjuknya untuk memprovokasi mereka.
Kelima preman yang lain penasaran, dan menyerang Pradita secara serentak dengan pukulan, juga tendangan. Alhasil tendangan, dan pukulan tersebut hanya mengenai ruang kosong, dan ibalas Pradita dengan memukul satu persatu perut mereka hingga tersungkur di permukaan aspal.
__ADS_1
"Uuugh!" Kelima preman meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang sangat sakit, akibat bogem mentah itu bersarang di perut mereka, dan sangat keras.
Lelaki gelandangan itu tertawa sambil mengacungkan dompet yang berhasil dicurinya dari saku Pradita, “Bos, terima kasih ya!” katanya sambil berlari cepat.
“Sial, kalau tahu begitu aku takkan menolongnya, kampret! Dompetku malah dicuri olehnya,” gumamnya kesal, lalu berlari mengejar lelaki gelandangan tersebut. “Woy, jangan lari, woy!”
Lelaki gelandangan itu salah memilih lawan untuk adu lari. Hanya dalam beberapa hembusan lelaki gelandangan terkejar oleh Pradita, dan kakinya ditekel, hingga ia tersungkur masuk ke dalam parit.
“Cepat berikan dompetku!” teriak Pradita sambil menegakan tubuh lelaki gelandangan bernama Tai Shi Chi tersebut.
“Ampun bos! Ini!” Tai Shi Chi memberikan dompet Pradita dengan raut muka bermuram durja. Karena hari ini ia tidak bisa memberikan makanan untuk anak yatim yang diasuh olehnya.
“Kenapa kau sedih? Ada masalah? Kalau kau butuh uang setidaknya jangan mencopet. Aku akan memberikanmu uang, asal kau bisa memberikanku informasi yang aku butuhkan,” jelas Pradita, dan membuat Tai Shi Chi sumringah.
Wajah sumringah itu langsung berubah ketus, karena melihat wajah Pradita yang bukan orang asli lokal atau pribumi Tiongkok, dan menolaknya, “Aku tidak akan memberikan informasi apapun terkait negaraku.”
Tai Shi membalas sambil memegangi kepalanya yang sakit dengan raut muka meringis kesakitan, “Aw, oke. Yang penting ada hefengnya, hehehe ….”
“Sudah, kau mandi dulu, dan makan! Antar aku ke hotel terdekat! Bau banget tau!”
Pradita menutup hidungnya, sambil menyeret Tai Shi Chi seperti pemulung menarik karung, karena dibuat sangat kesal oleh Tai Shi Chi.
Pradita membawa Tai Shi Chi ke salah satu hotel yang sangat mewah, dan dibantu oleh para karyawannya untuk membersihkan tubuh Tai Shi Chi. Tentu saja membuat Tai Shi Chi terkejut setengah mati.
Pasalnya ia tak menyangka kalau Pradita mampu membayar makanan, dan hotel yang sangat mahal di Beijing tersebut. Bahkan para pelayannya dibuat ketar-ketir ole Pradita, yang awalnya mereka meremehkannya. Namun setelah mengeluarkan kartu Black SVIP miliknya, keangkuhan mereka langsung runtuh.
__ADS_1
Setelah didandani, Tai Shi Chi ternyata tampan sebagai seorang gelandangan, dan sekarang mereka berdua sedang menuju pusat suatu tempat bernama paviliun naga emas menaiki mobil Rolls Royce Phantom bagian dari pelayanan hotel.
Sekarang Tai Shi Chi sangat canggung setelah berdiri di samping Pradita yang merupakan seorang crazy rich. Maka dari itu dia bungkam seribu bahasa.
Namun Pradita terus mengajaknya berbicara, mulai dari kenapa dia mencopet, dan latar belakang hidupnya. Tai Shi Chi menjawab semua hal tersebut dengan jujur. Bahwa dirinya mencopet karena untuk membiayai hidup 10 anak yatim, dan latar belakangnya dari keluarga miskin. Makanya sampai sekarang pun ia jadi gelandangan.
Mobil yang dinaiki oleh Pradita, dan tai Shi Chi tiba di depan sebuah bangunan china kuno bertuliskan paviliun naga emas, tetapi sangat bersih juga terawat. Hal itu terlihat dari struktur bangunannya yang berwarna emas, dan tidak luntur, serta tetap kokoh, walaupun itu bangunan tua.
Tai Shi Chi yang satu tahun lalu sering mengemis, dan mencopet di depan bangunan paviliun naga emas. Barang tentu sudah tahu peraturan, untuk masuk ke dalam paviliun naga emas. Karena Tai Shi Chi memiliki ingatan yang cemerlang, dan pengamatan yang sangat baik.
"Tuan Muda, silahkan berlutut di depan pintu masuk ini!" ajak Tai Shi Chi sambil berlutut, dan Pradita tanpa bertanya lagi juga ikut berlutut. "Ikuti aku ya!"
Tai Shi Chi bersujud tiga kali, dan Pradita pun mengikutinya. Lalu terdengar suara menggelegar, “Apakah sampah busuk sepertimu berani masuk kemari?”
“Tentu saja bisa. Sampah juga bisa didaur ulang,” balas tai Shi Chi, dan embuat Pradita kebingungan.
“Lalu kau akan didaur ulang jadi apa?” Suara menggelegar itu terdengar lagi dengan melontarkan pertanyaan kembali.
“Naga emas!” jawab Tai Shi Chi.
Pintu gerbang yang hanya terlihat dari luar itu sebuah lobi itu terbuka. Tentu saja membuat Pradita terkejut setengah mati, karena ia berpikir pintu paviliun naga emas itu telah terbuka sedari tadi. Ternyata itu hanya gambar yang tergambar di pintu gerbang dengan sangat nyata.
Mereka berdua pun masuk, tetapi Tai Shi Chi tidak tahu untuk naik ke lantai paling atas, sang pengunjung paviliun naga emas harus melewati beberapa ujian.
Paviliun naga meas adalah sebuah organisasi yang memiliki bahan banyak langka tanaman obat dari berbagai belahan dunia. Maka dari itu untuk masuk ke dalam paviliun naga emas harus bisa melewati berbagai ujian yang diberikan oleh paviliun emas.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam lobi paviliun gedung emas, pemandangan mereka berdua disuguhkan banyak wanita cantik, dan seksi memakai pakaian china tradisonal dengan belahan paha yang terlihat sangat jelas.
"Gluk!" Mereka berdua serentak meneguk salivanya dalam-dalam.