SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 109


__ADS_3

Keesokan paginya.


Setelah pertemuan dengan Arshavin, kondisi psikis Pradita tidak tenang. Ia hanya bisa tertidur setelah pukul 3 pagi, bahkan DNA yang sudah berpakaian kurang bahan, dan menggoda Pradita untuk mantap-mantap pun tidak digubrisnya.


Pradita duduk termangu di tepi tempat tidur berukuran king size dengan tatapan hampa.


“Kenapa, Mas?” tanya Nathalia, “Apa ada masalah?”


Pradita yang bangun dalam keadaan sesak nafas pun menghela nafas panjang, dan menjawab, “Komandan Arshavin telah tiba di Indonesia. Dia sudah mengancam kita untuk merebut pasar kita.”


“Mas, aku punya ide. Bagaimana kalau kita mulai bisnis berbasis food, dan berbasis logam?” usul Nathania yang sudah bergelayut manja di lengan kiri Pradita.


“Aku setuju. Kamu pergi ke Libya, dan temukan titik lokasi beberapa smelter disana!” 


“Loh, kenapa harus di benua Afrika? Bukankah Mas punya tanah dengan kandungan emas yang tinggi?” tolak Nathania.


“Ya salam!” Pradita menepuk jidatnya sendiri, dan melanjutkan dengan tersenyum sumringah.


“Ya, kamu benar. Kita akan buat smelter di tanah milikku. Namun jangan sampai merusak tugu peringatan kematian kedua orang tuaku.”


“Siap, Mas!” sahut DNA serentak.


Mereka berdua pun mulai melucuti pakaiannya, untuk menggoda Pradita di pagi hari. Karena memang hari ini adalah jadwal mereka berdua untuk bersama Pradita.


“Ish-ish! Kalian ini memang pantang menyerah untuk membuatku on fire, hehehe ….” kata Pradita sambil terkekeh, dan tangannya mulai bergerilya perlahan di gunung kembar milik Nathalia, dan Nathania secara bergantian.


Keduanya seperti ayam yang baru disembelih, tubuhnya meng_gelin_jang dengan leng_uhan nikmat. Membuat singkong Pradita segera on fire, dan siap membabak belurkan mereka berdua dengan jurus pamungkas singkong memangsa kerang beracun.

__ADS_1


Dengan gerakan yang sangat cepat, singkong premium milik Pradita meluluhlantakan kerang beracun milik Nathalia, dan hanya dalam waktu lima belas menit, Nathalia terkapar tidak  berdaya.


“Huff .. huff …. Mas, semakin hari kamu semakin perkasa. Aku lemas, Mas,” puji Nathalia dengan raut muka sumringah, karena telah diberikan pelayanan terbaik oleh Pradita.


Mendengar hal tersebut Nathania tambah bersemangat untuk melakukan perhelatan akbar dengan Pradita. Dengan cepat tubuh Pradita yang masih tertaut dengan tubuh Nathalia didorong, hingga tubuh Pradita terlempar ke tempat tidur.


Perutnya langsung diduduki oleh Nathania, dan singkong premium itu diarahkan ke dalam kerang beracun miliknya.


“Kali ini aku akan mengalahkanmu, Mas!” tantang Nathania dengan senyuman licik.


“Coba saja kalau kamu bisa. Lihat saja Nathalia sudah babak  belur, hehehe …,” balas Pradita dengan terkekeh pelan, dan penuh percaya diri.


Mereka berdua pun melakukan perhelatan akbar sambil terus ciuman dengan sangat ganas. Hingga pada akhirnya setelah tiga puluh menit berlalu, Pradita sudah tidak kuat lagi dan singkong premiumnya di buat babak belur oleh Nathania.


Pradita meminta Nathania untuk turun dari tubuhnya, lalu mencium bibir Nathania, dan Nathalia satu persatu. Setelah itu ia membersihkan diri untuk segera berangkat ke Kaki Gunung Ciremai untuk menemui Mardono.


“Siap, Tua Besar!” sahut Abu Hossef dengan menunduk hormat.


Setelah itu Abu Hossef hilang dari pandangan Pradita, dan pria berambut merah tersebut melajukan motor Kawasaki KLX miliknya dengan cepat ke arah daerah Majalengka. Perjalanan Pradita menuju kaki gunung Ciremai di sebuah desa yang sudah ditentukan oleh Mardono tidak seindah, dan semulus yang dibayangkan.


“Berhenti!” teriak salah satu pria berbadan kekar dengan rambut panjang acak-acakan.


Ia kemudian mengambil kunci motor Pradita dari lubangnya, "Orang asing dilarang masuk kawasan ini! Jika memaksa maka harus membayar 1 juta!”


Pradita pun dengan tersenyum simpul, lalu mengeluarkan uang 1 juta dari dompetnya, dan mengejek, “Jangankan satu juta! Sepuluh juta juga aku akan kasih! Tapi, terima ini!”


Uang pecahan 100 ribu yang terikat karet tersebut, dilempar dengan keras oleh Pradita ke wajah penjaga kawasan kaki gunung ciremai tersebut.

__ADS_1


Tentu saja membuat penjaga yang suka memeras orang-orang yang mau melewati jalur tersebut sangat marah. Saking marahnya ia reflek menghantamkan sebuah bogem mentah ke arah rahang Pradita


Pradita yang tidak siap, dan waspada terpelanting dari motornya, hingga berguling di permukaan tanah yang dipenuhi oleh bebatuan-bebatuan kecil. Sang penjaga bersiul keras untuk memanggil rekan-rekannya yang bersembunyi di balik pepohonan.


Komplotan ini memang dikenal sebagai pemeras, perampok, dan pembegal jika ada warga yang lewat jalur tersebut. Bahkan tidak segan-segan membunuh korbannya di tempat, apabila mereka melawan.


"Oh, beraninya keroyokan," decih Pradita sambil menyeka cairan kental merah di sudut bibirnya.


Kemudian ia bangkit dengan senyuman sinis, “Aku rasa kalian itu semuanya pengecut. Kalau kalian berani, kenapa masih ada yang bersembunyi di balik pepohonan.”


Seorang pemuda yang memiliki tanda luka berupa huruf X di pipi kanannya keluar dari balik pohon besar yang cukup jauh dari tempat Pradita berdiri, dan berteriak, “Kalian semua minggir! dia adalah mangsaku, dan kepalanya akan aku kubur di tempat ini sebagai bukti bahwa aku pernah mengalahkannya, hahaha ….”


Setelah mengatakan hal tersebut, pemuda yang memiliki bekas luka berbentuk huruf tersebut hilang dari pandangan mereka semua. Semua anak buahnya menyingkir, dan kembali bersembunyi di balik pepohonan dengan lutut gemetar. Mereka sangat tahu jika sang bos sudah mengatakan hal tersebut, maka ia akan membunuh target tersebut dengan sangat cepat, dan sadis.


Dentingan suara pedang terdengar sangat keras. Rupanya Pradita, dan Hilman beradu jual-beli tebasan dengan senjata masing-masing. Pradita mengeluarkan katana tumpul miliknya, dan Hilman mengeluarkan golok yang cukup panjang yang selalu menjadi andalannya.


“Oh, kamu hebat juga bisa mengimbangi gerakan tubuhku. Namun ini sementara, sebentar lagi kamu akan menjadi pecundang seperti ayam kampung, hahaha!” 


Sambil tertawa jahat, Hilman mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat untuk menekan Pradita.


Akan tetapi Pradita tidak tertekan sedikit pun, dan membalas dengan senyuman sinis, “Sungguh hebat para penjahat gunung. Menekan pemula sepertiku pun tidak mampu. apalagi menekan seekor semut, hahaha ….”


Hilman geram, dan meningkatkan kecepatan tebasan golok panjangnya. Ia melakukan tebasan bertubi-tubi hingga gerakan tubuhnya tak dapat dilihat oleh mata biasa.


Dedaunan yang terkena tebasan tersebut berjatuhan di sekitar tubuhnya, Pradit kewalahan menghadapi gerakan tebasan yang dilancarkan oleh Hilman yang dijuluki raja pedang gunung.


"Aku salah memilih lawan. Ternyata memang benar ada pepatah dilangit masih ada langit. Aku terlalu meremehkan pemuda ini," gumam Pradita sambil terus menangkis setiap tebasan yang dilancarkan Hilman dengan katana miliknya.

__ADS_1


__ADS_2