
“Ada apa?” tanya Pradita bingung karena Marsudi tiba-tiba menggeser kursinya untuk mendekat ke samping kursi Pradita.
“Kak!” panggil Helly dari jarak 15 meter sambil melambaikan tangan dan sisi sebelah kirinya Willy dengan raut wajah pucat.
“Ya, sini!” Pradita pun melambaikan tangan. Lalu duduk dan berbicara lagi ke Marsudi.
“Sudah, tidak apa-apa jika tidak bisa dikatakan. Aku sudah pesan via online untuk anak-anak di pos. Nanti Abang bawa, ya! Aku ada urusan, itu temanku datang, dan ini buat Abang.”
Pradita merogoh saku bagian dalam jasnya untuk mengambil uang sebesar 10 juta, dan memberikannya pada Marsudi, “Aku nitip buat anak-anak. Buat Putra 2 juta, sisanya Abang bagi-bagikan pada anak-anak di pos, ya.”
Marsudi menerima uang 10 juta tersebut dengan mata berbinar-binar dan membalas, “Terima kasih banyak, Dit. Kamu memang malaikat penolong kami. Tahu saja anak-anak saat ini sedang sepi orderan.”
Marsudi pun pergi ke arah kasir untuk mengambil makanan yang sudah dipesan oleh Pradita via online. Kemudian Helly, dan Willy duduk di depan Pradita.
“Ada apa sih Kak mengundang kami di Mall?” tanya Helly bingung, dan Willy menunduk terus tidak berani menatap wajah Pradita.
“Aku sudah pesan makanan untuk kalian berdua. Makan dahulu, baru kita bicara,” jawab Pradita.
Kemudian pelayan datang membawakan makanan ayam ditepungin, dan minuman air berwarna coklat berbusa.
Willy, Helly, dan Pradita yang memang sudah lapar makan dengan lahap sampai nambah dua kali.
Setelah selesai makan Pradita baru bicara, “Apakah Helly mau kuliah? Willy juga mau kerja?”
“Tentu saja mau, tapi aku tidak punya uang,” jawab Helly.
“Aku juga aku bekerja. Aku juga agak capek kalau tidak pegang duit, masa harus seperti ini terus,” timpal Willy.
Pradita mengambil kembali uang 100 juta dari saku jas bagian dalamnya, untuk diberikan pada Willy 50 juta dan Helly 50 juta.
“Sekarang kamu cari kampus dan daftarkan diri, dan kamu Willy beritahukan kepada semua anggota Geng Zero Crime yang menentangku untuk berkumpul sekarang. Aku siap melawan mereka!” titah Pradita dengan tatapan mata yang tajam.
“Terima kasih banyak, Kak!”
Willy dan Helly serentak memeluk Pradita dan semua pengunjung yang berada di sekitar mereka berdua terheran-heran melihatnya. Apalagi Willy dan Helly memeluk Pradita dengan tangis haru.
Merasa diperhatikan oleh semua pengunjung di sekitarnya, Willy dan Helly melepaskan pelukannya dari tubuh Pradita sambil menyeka cairan bening yang membasahi kedua pipinya.
“Sistem, tingkatkan skill level pedang 9 Naga terbang sampai habis persyaratannya!” titah Pradita dalam bahti.
...[Toongteng … Tongteng]...
__ADS_1
...[Persyaratan Rp,30.000.000 dan 30 poin stamina telah terpenuhi]...
...[Memotong uang Rp,30.000.000 untuk meningkatkan level skill pedang 9 Naga terbang ke level 3. Memproses dalam 3 … 2 … 1]...
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Peningkatan skill pedang 9 Naga terbang ke level 3 berhasil dan mendapatkan teknik pedang Naga Danindra]...
...[Toongteng … Tongteng]...
...[Persyaratan Rp,40.000.000 dan 40 poin stamina telah terpenuhi]...
...[Memotong uang Rp,40.000.000 untuk meningkatkan level skill pedang 9 Naga terbang ke level 4. Memproses dalam 3 … 2 … 1]...
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Peningkatan skill pedang 9 Naga terbang ke level 4 berhasil dan mendapatkan teknik pedang Naga Suryadaksa]...
...[Toongteng … Tongteng]...
...[Persyaratan Rp,50.000.000 dan 50 poin stamina telah terpenuhi]...
...[Memotong uang Rp,50.000.000 untuk meningkatkan level skill pedang 9 Naga terbang ke level 5. Memproses dalam 3 … 2 … 1]...
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Toongteng … Tongteng]...
...[Persyaratan Rp,60.000.000 dan 60 poin stamina telah terpenuhi]...
...[Memotong uang Rp,40.000.000 untuk meningkatkan level skill pedang 9 Naga terbang ke level 6. Memproses dalam 3 … 2 … 1]...
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Peningkatan skill pedang 9 Naga terbang ke level 6 berhasil dan mendapatkan teknik pedang Naga Taksaka]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan 10 poin massa otot]...
...[Tongteng … Tongteng]...
__ADS_1
...[Selamat, host berhasil menaikan skill otot super ke level 2]...
“Kak, aku akan pergi ke kampus yang dekat dengan Aeon Mall.”
Helly mencium punggung tangan Willya dan Pradita bergantian dengan tersenyum lebar. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya bisa kuliah.
“Hati-hati dijalan! Jangan buru-buru!” teriak Willy yang hatinya sekarang lebih lembut, dan kembali menyayangi Helly adik perempuan semata wayangnya itu.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan 1 poin pesona]x5...
...“Sistem, apakah aku bisa memindahkan mobil dari inventaris sistem ke tempat parkir Aeon Mall?” tanya Pradita dalam hatinya....
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Bisa Tuan, dikenakan biaya Rp,10.000.000 untuk memindahkan sebuah benda dari inventaris sistem yang berjarak sangat jauh dari titik lokasi host. Maksimal radius 10 km]...
“Pindahkan mobil Calya dari inventaris sistem!” titah Pradita dalam hatinya.
Sistem pun langsung memegang uang 10 juta dari saldo sistem dan mobil Calya yang berada di dalam inventaris sistem telah berpindah tempat di tempat parkir khusus mobil di basement Aeon Mall.
Tanpa bicara apapun pada Willya, Pradita berjalan ke arah lift dan diikuti Willy menuju basement parkir dan menyerahkan kunci mobilnya ke Willy.
"Mobil ini untukmu!” kata Pradita.
Willy hanya mengangguk dengan wajah tertunduk. Dia sangat segan menatap wajah Pradita dengan aura kharisma yang terlalu mendominasi.
......................
Depan dinding pagar proyek apartemen Lioudu.
Pradita dan Willy keluar dari dalam mobil. Seratus anggota Geng Zero Crime yang tidak setuju dengan pengangkatan Pradita sebagai ketua Geng mafia Zero Crime sudah menunggunya di dalam wilayah proyek apartemen Lioudu yang mangkrak sudah satu bulan.
“Ayo Bos, masuk! Mereka sudah menunggu di dalam. Aku tidak bisa membantu.”
Willy berjalan di depan memasuki lubang dinding pagar baja ringan yang cukup lebar. Pradita pun ikut mengekor di belakang Willy dengan jas, dan dasi yang sudah dilepas, serta lengan kemeja putih yang sudah dilipat ke atas.
Tampak seratus orang anggota Geng Zero Crime yang memakai seragam jaket berwarna biru dengan motif dua pedang menyilang di punggungnya.
"Oh, ini sampah yang berani mengalahkanmu, Willy" ejek Samuel yang sebelumnya menyerah, sekarang menentang Pradita.
__ADS_1
Karena dia digadang-gadang oleh rekan-rekannya menggantikan Willy sebagai ketua Geng mafia Zero Crime.
“Sam, jangan seperti ini! Bukankah kau sudah merasakannya hah?” bentak Willy kesal dan tidak suka dengan perpecahan di dalam Geng Zero Crime.