SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 80


__ADS_3

Pada akhirnya Pradita diseret ke sebuah gedung yang dijadikan penjara. Hal itu dilakukan untuk menghukum murid-murid yang melanggar aturan.


Abu Hossef sangat kesal, karena enerzone tidak bisa dilepaskan dari leher Pradita. Untuk itu ia melaporkan kejadian Pradita membunuh lima belas pengawas, dan satu murid baru pada Komandan Aramain dengan mengirimkan semua rekaman CCTV, serta data nama Pradita yang telah diubah oleh Red Queen menjadi Visky Alpha.


Di dalam sel isolasi, tubuh Pradita memakai pakaian isolasi. Ia hanya bisa meringkuk di permukaan lantai sel isolasi yang hanya berukuran seperti kubus sepanjang satu meter. 


Di lehernya juga diberi kalung yang dikendalikan oleh Abu Hossef secara jarak jauh. Akibatnya menimbulkan efek setrum berdaya tinggi, untuk mengantisipasi Pradita kalau mengamuk lagi.


......................


...7 hari kemudian....


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Mohon maaf, host tidak mendapatkan uang dari mengupil, karena host tidak melakukan tindakan mengupil]x7...


Pradita dikeluarkan dari sel isolasi tersebut dengan diseret kakinya. Raut mukanya sudah seputih kertas, karena selama 7 hari hanya diberi air saja, itupun hanya 3 kali sehari sebanyak satu botol.


“Hahaha …. Makanya jangan belagu kau!” Sipir penjara mendorong dahi Pradita dengan tersenyum puas.


Kemudian membuka ikatan di kakinya, tetapi ikatan tangannya di baju isolasi tidak dilepas. Ditakutkan Pradita kembali akan mengamuk.


Pradita digiring ke arah ruangan Abu Hossef. Karena hari ini Pradita akan diberi keputusan terkait nasibnya di sekolah Hosfu oleh pria berkumis melintang tersebut.


“Ck, kamu masih hidup juga rupanya,” cibir Abu Hossef dengan senyuman sinis.


Rupanya ia masih menyimpan kemarahan di dadanya untuk Pradita. Apalagi karena ia telah membunuh lima belas anak buahnya.


Pradita hanya mengulum senyum simpul ke arah Abu Hossef. Pria berkumis melintang tersebut bertambah kesal.

__ADS_1


Ingin rasanya saat ini juga menembak kepala Pradita. Namun, itu tidak diizinkan oleh Komandan Aramain yang menyukai apa yang dilakukan oleh Visky Alpha, yakni menjadi pembunuh kejam yang sangat dingin.


"Cepat beri dia makan! Karena setelah ini akan menjadi tes terakhir untuknya. Kalau lolos pria kecoa ini akan dikirim ke Libya, untuk menjadi tentara bayaran di pihak oposisi!" titah Abu Hossef.


Pradita pun dilepaskan ikatan tangannya, dana baju isolasi tersebut dilepaskan dari tubuhnya. Ia pun digiring ke kamarnya. Di sana sudah disiapkan semua perlengkapan, termasuk seragam, dan juga senjata.


"Sial, aku terlalu gegabah dan memandang enteng organisasi Sevenfall. Untung saja aku masih bisa bertahan hidup di dalam sel isolasi yang begitu pengap itu,” batin Pradita yang kesal terhadap dirinya sendiri.


Setelah lima belas menit berada di kamarnya, ia tidak ingin memberontak lagi. Walaupun itu sementara, Pradita keluar dengan pakaian cyborg armor suit standar yang dipakai oleh semua murid sekolah Hosfu. Ia kembali digiring menuju ke sebuah gedung yang dijadikan sebagai latihan, dan ujian dalam menggunakan senjata.


“Masuk!” 


Pradita ditendang pinggangnya, hingga ia tersungkur ke permukaan lantai. Lalu bangkit dan mendengarkan arahan yang terdengar di seluruh gedung tersebut.


Arahan suara mekanis tersebut berisikan tata cara ujian penggunaan senjata. Pradita yang sudah sangat mengeri hanya dalam sekali dengar langsung memulai ujiannya yang pertama, yakni melemparkan shuriken ke arah boneka yang memiliki tanda sasaran di kepalanya.


Shuriken-shuriken itu dilempar sekuat tenaga, dan tidak asal. Meskipun sebelumnya Pradita belum pernah latihan melempar shuriken. 


"Mustahil?"


"Bagaimana bisa?"


"Apa? Tidak mungkin?"


Komandan Aramain, Kapten Abu Hossef, dan Azriel, bahkan semua pengawas, juga semua murid sekolah Hosfu yang menyaksikan Pradita di layar televisi besar terkejut setengah mati. Rupa-rupanya Komandan Aramain yang sangat tertarik dengan Visky Alpa datang sendiri ke sekolah Hosfu secara rahasia, dan hanya diketahui oleh Kapten Abu Hossef.


Selanjutnya adalah tes menembak, dan Pradita melakukannya dengan sangat baik. Dari sepuluh tembakan, hanya satu kali tembakan meleset, itu pun hanya meleset 1 cm dari target sasaran.


 

__ADS_1


Di tes tembak dengan objek bergerak malah hasil Pradita sangat gemilang, dan sempurna. Dari 10 target yang bergerak, kesepuluhnya dilibas dengan sempurna tepat mengenai sasaran.


Kini tinggal tes bertarung menggunakan senjata. Tes tersebut bebas menggunakan senjata apapun untuk melawan salah satu pengawas juga merupakan tangan kanan Abu Hossef yang mahir menggunakan dua katana.


Kali ini Komandan Aramain memandang rendah Pradita, karena ia tahu benar siapa yang akan menjadi lawannya. Tentu saja lawannya seorang veteran pembunuh bayaran yang masuk dalam ranking 10 pembunuh terbaik di dunia bernama Syahrul Devano.


"Lebih baik kamu pulang, sebelum kepalamu hilang dari lehermu," cibir Syahrul dengan senyuman sinis.


Tangannya memainkan kedua katana miliknya yang memiliki gagang putih. Pradita dengan gaya kerennya menarik salah satu pedang yang sudah disiapkannya di luar arena.


Ia mengambil pedang berjenis nodachi, yakni sebuah pedang seperti katana tapi memiliki bilah sepanjang satu setengah meter. Tindakan Pradita menggunakan pedang nodachi untuk melawan Syahrul yang justru membuat dirinya ditertawakan oleh semua orang yang melihat pertandingan itu.


“Benar-benar tolol!”


“Bodoh, dia benar-benar bodoh!”


“Dia itu tidak tahu lawannya, yaitu pengawas Syahrul yang terkenal mempunyai gerakan secepat kilat.” 


“Dengan pedang panjang dan seberat itu, mana mungkin bisa melukai pengawas Syahrul, hahaha ….” 


“Hahaha … hahahaha ….”


Pradita tahu, dan merasakan kalau dirinya sedang dipandang remeh, juga ditertawakan oleh semua orang. Ia tetap santai, dan tidak terganggu dengan cemoohan-cemoohan yang bisa didengar oleh kedua telinganya yang sudah sangat tajam seperti cacing yang mampu mendengar atau merasakan suatu objek dalam radius 1 km.


Syahrul melesat cepat ke arah Pradita, dan sudah hilang dari tempatnya berdiri. Pradita membalikan badan dan langsung menghantamkan pedang nodachi ke permukaan lantai, hingga terdengar suara ledakan yang cukup kuat.


Permukaan lantai tersebut terbelah menjadi dua sepanjang 5 meter. Tiba-tiba muncul Syahrul yang sedang melompat mundur, dan kedua kakinya mendarat di permukaan arena sampai bergesekan dengan permukaan arena.


Akibat gesekan kedua kaki Syahrul, kepulan debu tebal menghalangi pandangan. Ditambah kepulan debu yang diakibatkan hantaman pedang nodachi yang membuat kepulan debu di arena semakin mengepul tebal.

__ADS_1


Rupanya Pradita mendengar langkah kakinya, walau langkah kaki Syahrul sudah bisa melangkah atau berlari melebihi kecepatan suara.  Akan tetapi, semua itu percuma di mata, dan telinga Pradita yang mampu menangkap gerakan, ataupun suara yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia normal pada umumnya.


“Aku akan mengalahkanmu hanya dengan satu teknik andalanku saja, dan tidak akan menggunakan teknik pedang yang lain. Aku berjanji!” tantang Pradita, dan membuat Syahrul geram, karena merasa direndahkan oleh Pradita.


__ADS_2