
Pradita pergi ke Karawang Barat bersama Master Chow, dan ditemani oleh duo kembar, juga Zevalia.
Perjalanan ini merupakan lawatan penting untuk memperlihatkan pabrik baru yang akan dikepalai langsung oleh Master Chow. Untuk itu Pradita harus menjaga ktat Master Chow supaya tragedi di bandara internasional Beijing tidak terulang kembali.
Mobil Toyota Vellfire tiba di halaman gedung yang dinamakan PT.Dewa Dan Dewi atau disingkat D3. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, dan kecantikan.
“Mas, semua pembangunan telah rampung 100%, tapi ada sedikit —”
“Aku tahu. Makanya hari ini aku datang langsung untuk membereskan mereka semua, dan aku sudah mendapatkan semua buktinya dari Red Queen,” potong Pradita dengan tatapan tajam.
Pradita yang dilihat di rumah sangat jauh berbeda dengan Pradita yang terlihat di wilayah kerjanya. Ia begitu lembut, dan ramah apabila di rumah, tetapi kalau sudah di wilayah kerjanya, Pradita begitu dingin, dan sangat serius.
“Eva, jaga Master Chow sambil mengelilingi pabrik bersama DNA!” titah Pradita, lalu meninggalkan mereka di lobi, dan langsung menuju lantai ruangan direktur.
DNA atau duo Nathalia, dan Nathania bersama timnya membangun gedung D3 ini tergolong sangat cepat. Kurang dari lima hari pabrik D3 selesai dirampungkan, dan operasional sudah berjalan dengan 5000 karyawan sudah masuk kerja.
Di dalam ruangan direktur, para jajaran direksi sedang mengadakan pesta kecil-kecilan. Mereka melakukan pesta bukan karena tiga hari yang lalu pabrik D3 ini dibuka, tetapi mereka berpesta karena berhasil melakukan mark up atau peningkatan harga beli material bangunan. Namun mereka melakukan hal tersebut dengan sengaja, kenaikan harganya terlalu signifikan, dan tidak diketahui oleh DNA selaku pemegang proyek.
“Ayo, coy! Minum lagi! Cheers!”
Mereka semua bersulang dengan raut muka sudah merah merona setelah menenggak banyak minuman batu alias minuman keras.
“Kamu hebat, Dan. kamu melakukan itu, dan tidak ketahuan sama bos!” puji direktur utama D3.
“Hamdan!” Pria yang menyandang jabatan direktur keuangan tersebut sambil menepuk dadanya berkali-kali untuk membangggakan diri, “Ayo kita minum lagi sampai pagi, coy!”
Pintu ruangan direktur utama sudah dijaga dua orang penjaga keamanan yang memang ditugaskan untuk menjaga ruangan tersebut. Supaya tidak ada yang mengganggu mereka yang sedang melakukan pesta kecil-kecilan dari hasil korupsi.
Pradita dengan wajah garang keluar dari dalam lift, dan langsung dihentikan oleh kedua penjaga keamanan, "Berhenti! Kau dilarang masuk! Ini wilayah khusus direksi!"
"Oh, kalian berdua dibayar berapa oleh para tikus-tikus pemakan uangku?" sindir Pradita dengan tersenyum sinis, "Lebih baik ingat anak istrimu di rumah. Jangan kasih makan dengan uang yang haram!"
Mereka tidak mengetahui kalau pria yang memakai jas merah, dan berambut merah yang ada di depannya adalah pemilik pabrik D3 sekaligus pemilik Union Group. Makanya mereka berani menghentikan Pradita yang tiba-tiba muncul di lantai khusus direksi.
"Pria berandalan seperti kau mana tahu halal-haram. Lebih baik pergi! Atau kami akan bertindak tegas pada kutu kupret sepertimu!" hardik salah satu penjaga keamanan dengan mengeraskan rahang.
Tanpa basa-basi lagi Pradita menjentikan jari untuk mengeluarkan pedang katana miliknya dari inventaris sistem. Katana itu ditebas secara diagonal ke badan kedua penjaga keamanan untuk meluapkan amarahnya. Karena mereka berani lancang menghalangi Pradita, untuk masuk di gedung perusahaan miliknya sendiri.
“Aaakh!” pekik kedua penjaga keamanan serentak, dan sudah terkapar di permukaan lantai dengan raut muka meringis kesakitan. “Ampuni kami, Tuan!”
Pradita tidak memperdulikan mereka berdua, malah langsung menendang pintu ruangan direktur utama, hingga ambruk. Lalu pintu itu menimpa salah satu wanita panggilan yang mereka undang.
__ADS_1
“Oh, jadi uang korupsi yang kalian dapat dari dompetku hanya buat ini!” Pradita mengeraskan rahangnya, dan langsung menginjak pintu yang menimpa salah satu wanita panggilan, hingga pintu itu jebol.
Wanita itu memekik kesakitan setelah punggungnya diinjak hingga retak oleh Pradita, “To-tolong!”
Mendengar teriakan tersebut Pradita mengangkat kakinya, lalu menendang pintu tersebut, hingga menimpa sang direktur utama.
Semua jajaran direksi yang sedang berpesta, raut wajahnya seputih kertas setelah melihat wajah dari bos besar mereka yang tiba-tiba datang membawa pedang tumpul yang terhunus.
“Ayo pukul aku! Disini ada CCTV! Kau juga tidak ada bukti bahwa kami korupsi berjamaah!" tantang Hamdan yang menyandang direktur keuangan di D3.
"Justru aku punya banyak bukti. Red Queen, putarkan!" titah Pradita dengan sorot mata yang tajam.
Hologram Red Queen pun muncul, dan memunculkan panel hologram besar seperti bioskop mini yang memutarkan semua bukti bukti persekongkolan korupsi berjamaah yang dilakukan oleh jajaran direksi D3.
Semua jajaran direksi tubuhnya langsung menggigil, keringat dingin mengucur deras di tubuh mereka, dan bibir mereka kelu seperti membeku.
Pradita menjentikan jari untuk menyimpan katana ke inventaris sistem, dan muncul pasukan bayangan milik Abu Hossef yang sudah berpihak pada Pradita. Pasukan yang dinamakan Black Shadow baru saja pagi tadi dibentuk oleh Pradita, setelah menghubungi Abu Hossef.
"T-tuan M-muda, ja-jangan apa-apakan kami. Kami juga punya a-anak-istri," pinta Hamdan dengan bibir bergetar.
"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun pada kalian. Aku hanya ingin membawa kalian liburan ke tempat favorit kalian," balas Pradita dengan tersenyum menyeringai.
Dalam sekejap mata, pasukan Black Shadow, dan kesepuluh direksi hilang dari pandangan Pradita.
“Dalam bekerja itu harus jujur, dan kalau tidak jujur, maka siap-siap menerima konsekuensi dariku, hmph!” dengus Pradita.
Setelah drama itu selesai, Pradita duduk di kuris direktur utama, dan membaca laporan-laporan dari kinerja semua orang yang bekerja dibawah naungannya dengan sangat cepat.
Informasi itu diperlihatkan oleh Red Queen melalui panel hologram. Red Queen memang sangat berjasa besar atas perkembangan bisnis, dan investasi Pradita saat ini.
Zevalia, DNA, dan Master Chow masuk ke dalam ruangan. Disusul kemudian 10 orang di level manajerial masuk ke dalam ruangan. Pradita berencana mengangkat mereka bersepuluh, untuk menggantikan 10 orang yang sudah dipecat dari jajaran direksi.
"Ini adalah Master Chow yang akan memimpin kalian di perusahaan D3 ini. Apapun perintahnya turuti, dan patuhi selama itu baik buat perusahaan! Aku mengundang kalian bersepuluh, dan sudah membaca kinerja kalian dari perusahaan sebelumnya."
"Dengan resmi kalian akan menyandang beberapa jabatan penting di perusahaan D3. Masalah gaji silahkan tulis nominalnya berapa, tapi setiap angka yang kalian tulis harus ada pertanggung jawabannya di depanku setiap bulan, paham!" tegas Pradita.
"Paham, Tuan Muda!" sahut kesepuluh manajer tersebut dengan nada tegas.
"DNA, siapkan kontrak kerjanya! 15 menit lagi paling lambat sudah ada di depan mereka!" titah Pradita.
"Siap, My Husbu!" sahut serentak DNA.
__ADS_1
"Master Chow! Silahkan berkreasi, dan anggap ruangan ini adalah rumah anda sendiri. Mulai sekarang masa depan D3 di tangan anda, dan ini formula cairan serum dewa, dan dewi!"
Pradita mendekati telinga kiri master Chow, dan berbisik cukup lama untuk memberitahukan semua metode pembuatan serum dewa, dan serum dewi.
"Siap, Tuan Muda," balas Master Chpw berapi-api.
Setelah itu Pradita pergi dari wilayah pabrik C3, karena Red Queen sudah menemukan keberadaan Stephen Chow, cucu dari master Chow Rou.
Pradita melepas jasnya, dan pergi menaiki taksi online menuju mall SGC atau sentra grosir Cikarang. Menurut Red Queen, cucu Master Chow sekarang berada di pasar belakang Mall SGC, dan menjadi kepala preman di sana dengan mengganti namanya menjadi Budi Engkong.
Stephen Chow sewaktu kecil diambil oleh ayahnya diam-diam dari Master Chow Rou saat berumur 4 tahun. Lalu dibawa ke Indonesia, dan menetap sampai sekarang di Cikarang, Bekasi.
"Kasihan Master Chow. Aku harap setelah membawa Stephen Chow pulang, Master tidak jantungan, kalau cucunya jadi raja preman di Bekasi," gumam Pradita sambil memandang panel hologram berisikan informasi Stephen Chow. "Bang, sudah bayar pakai aplikasi ya!"
Pradita keluar dari dalam mobil Toyota Avanza, dan tak memperdulikan sang sopir yang terus memanggilnya. karena Pradita memberikannya uang tips sebesar 1 juta.
Ia terus berjalan di bahu jalan depan pasar SGC sambil matanya berkeliling mencari keberadaan pria ceking dengan gaya rambut mullet.
Setelah dirasa lelah, dan tak menemukan keberadaan Stephen Chow, akhirnya Pradita mampir di depan pedagang es kelapa yang berada di depan pintu masuk teminal.
"Fyuh, panas sekali siang ini. Namun tak sepanas hatiku yang sedang kasmaran," kelakar pradita sambil menyeka keringat di dahinya yang mengalir cukup deras, "Bang, es kelas tiga gelas! Pakai janda, jangan pakai perawan ya!"
Semua orang yang berada di sekitar penjual es kelapa tersebut dibuat tertawa terbahak-bahak gara-gara kalimat yang dilontarkan oleh Pradita.
"Ah, sa ae lu amplas bekas!" sindir Abang penjual es kelapa, "Oke, coy!"
Penjual es kelapa itu melayani pesan Pradita. Sesekali ia terus melirik Pradita yang memiliki wajah super tampan, "Alien! Kenapa lu dimari?" tanyanya bercanda.
"Et bujuk! Bocah ngapa yak? Orang seganteng mirip BWX eh salah mirip BTS dibilang alien," balas Pradita berpura-pura marah sambil menerima nampan berisi tiga gelas es kelapa pesanannya.
"Loh, bukannya Bidadara itu alien? Kan bukan makhluk bumi, tapi makhluk surga, hahaha …. Masuk pak Eko!”
“Ah, sa ae lu taplak meja!”
Akibat pedagang es kelapa yang bernama pak Maman, dan Pradita saling melontarkan candaan. Para warga yang lalu lalang pun ikut tertawa terbahak-bahak. Mereka cukup terhibur dengan lontaran candaan mereka berdua, dan membuat jualan es kelapa pak Maman diserbu warga.
Pradita meminum dengan cepat ketiga gelas es kelapa tersebut satu persatu. Ia menenggak tiga gelas tersebut tanpa bernafas, dan memuat semua orang takjub.
Setelah selesai minum ketiga gelas es kelapa, Pradita mengeluarkan ponselnya, dan menunjukan foto Stephen Chow pada para warga yang lalu lalang.
Melihat foto Stephen Chow di ponsel Pradita, semua warga yang berada di wilayah pak Maman langsung mundur dengan raut wajah seputih kertas.
__ADS_1