SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 72


__ADS_3

“Haaa …!” raung Pradita dan membuat batu besar itu terbelah dua, karena dihentakan oleh gelombang kejut dari teknik Naga Suryadaksa, “Teknik Naga Anubra!”


Pradita menatap nyalang semua petarung, seperti seekor Naga siap memangsa makanannya.


Pria botak yang seorang pegulat tersebut bergerak cepat ke arah Pradita, dan memeluk pinggangnya untuk membanting badan Pradita.


Akan tetapi sebelum tubuh mereka berdua kayang, dan menyentuh permukaan arena, Pradita menghantamkan kepala bagian belakangnya ke wajah pria botak itu.


Suara hantaman itu cukup keras disertai bunyi gemeretak di tulang dahi pria botak yang retak.


“Aaakh!” pekik pria botak sambil memegangi mukanya sambil melangkah mundur dalam keadaan limbung.


Pradita melesat cepat dengan teknik Naga Dhanindra untuk berpindah tempat ke belakang pria botak, lalu memegang pinggangnya, dan membanting tubuhnya ke arah belakang.


Kepalanya terantuk permukaan lantai hingga retak dan membentuk cekungan kawah sebesar setengah meter, dan pria botak kekar tersebut pingsan.


Seorang pria berpakaian ninja berwarna putih melompat, dan melemparkan shuriken ke arah Pradita. Pria tersebut dari sekolah pembunuh bayaran yang sama dengan Zevalia.


Pradita langsung salto ke belakang beberapa kali menghindari shuriken-shuriken yang dilemparkan oleh Dante, adik kelas Zevalia di sekolah pembunuh bayaran bernama Ryuga.


Alhasil shuriken-shuriken tersebut hanya mengenai permukaan lantai. Namun serangan dante tidak berhenti disitu, ia melesat secepat kecepatan suara, dan tiba-tiba berada di belakang tubuh Pradita yang sedang salto cukup tinggi dalam keadaan tubuh terbalik.


Dante melepaskan tendangan ke punggung Pradita, dan berhasil dihantamnya. Tubuh Pradita terpental ke arah salah satu petarung seni bela diri shaolin.


"Tendangan tanpa bayangan!"

__ADS_1


Dalam keadaan melayang, tubuh Pradita ditendang bertubi-tubi oleh petarung seni bela diri shaolin tersebut. Untuk mengakhiri gerakan tendangannya, petarung tersebut menendang perut Pradita dengan lututnya hingga menghantam permukaan arena.


“Guhak!” Pradita memuntahkan darah, dan permukaan arenanya juga membentuk cekungan kawah sedalam 75 cm, “Sa-sakit.”


Diluar prediksi Pradita yang meremehkan semua petarung-petarung sewaan Komandan Aramain, dan menganggap jika teknik Naga Anubra yang memiliki pertahanan absolut dengan pertahanan sekeras berlian. Namun nyatanya teknik pertahanan Naga Anubra bisa ditembus oleh tendangan tanpa bayangan dari seorang petarung seni bela diri shaolin.


"Lihat! Kekasihmu pasti mati!" tunjuk Komandan Aramain ke arah Pradita yang sudah terkapar di permukaan arena dengan bersimbah cairan kental merah.


"Tidak! Aku … aku yakin mas Pradita tidak akan kalah, hiks-hiks …," sanggah Nabila sambil menyeka bulir-bulir bening di kedua pipinya. Ia sangat tidak tega melihat Pradita bersimbah cairan kental merah, makanya ia tiba-tiba menangis.


[Tongteng … Tongteng! Memotong uang Rp,10.000.000 dari saldo sistem untuk menyembuhkan luka dalam di tubuh tuan]


Pradita yang masih terkapar tersenyum menyeringai, lalu menopang pada kedua tangannya untuk bangkit berdiri. Matanya menatap tajam petarung seni bela diri shaolin seperti seekor Elang siap memangsa mangsanya.


Seperti sulap Pradita mengeluarkan pedang shirasaya dari inventaris sistem, dan memuat semua mata yang melihatnya terkejut. Pasalnya tiba-tiba pedang yang tadinya tidak ada menjadi ada, dan sudah dipegang oleh tangan Pradita.


Tiba-tiba tubuh Pradita hilang dari pandangan semua orang, dan semua petarung seni beladiri merasakan aura membunuh yang sangat kuat muncul dimanapun.


Mata mereka semua berkeliling untuk mencari keberadaan dengan sikap waspada. Namun kewaspadaan mereka semua itu tidak ada gunanya di depan Pradita yang menggunakan kombinasi teknik Naga Dhanindra, dan teknik Naga Besukih.


Pradita tiba-tiba muncul di belakang mereka seperti hantu, yakni saat mereka memukul atau menendang tubuhnya tidak kena seperti memukul tubuh hologram yang transparan.


Tanpa angin, dan tanpa hujan satu persatu petarung seni bela diri berjatuhan setelah ditebas bertubi-tubi oleh Pradita dengan kecepatan tebasan yang yang bisa ditangkap oleh mata mereka.


"Aaaakh! Aaakh!"

__ADS_1


Satu persatu petarung bayaran memekik kesakitan, dan terkapar di permukaan arena dengan raut muka meringis kesakitan. Karena tubuh mereka ada yang mengalami patah tulang akibat hantaman bilah pedang yang tumpul, tapi ditebaskan sekuat tenaga.


Termasuk petarung seni bela diri shaolin yang mendapatkan ratusan tebasan, dan tercetak jelas di sekujur tubuhnya bekas tebasan bilah pedang tumpul tersebut.


Hanya ada satu orang yang tidak terluka terlalu parah, dan masih bisa berdiri tegak dengan raut muka meringis kesakitan, dan tangannya memegang gagang pedang yang digunakan sebagai tumpuannya untuk berdiri.


"Teknik macam apa ini? Padahal aku sudah menguasai teknik pembunuh Naga yang tak bisa dikuasai oleh gadis lakanta itu," ringis Dante dengan dada kembang-kempis.


"Ck! Kampret! Si Lalat itu bertambah cepat dan kuat hanya dalam sekejap mata? Padahal waktu melawanku dia seimbang denganku, kalau saja luka lama di bahu kiri tidak kambuh saat itu, mungkin dia mati,” decak Zevalia dengan membulatkan mata.


Akan tetapi hal yang dilakukan Pradita membuat Komandan Aramain yang dijuluki ‘The Time’ sangat senang. Dengan tersenyum menyeringai ia berkata sambil mencium rambut Nabila, “Akhirnya aku punya lawan seimbang, dan aku akan membuatnya menjadi seni ledakan yang paling indah, hahaha ….”


"Ka-kamu pasti masti!" teriak Nabila dengan raut muka seputih kertas, dan tubuh yang menggigil ketakutan karena merasakan hawa membunuh yang sangat pekat keluar dari tubuh Komandan Aramain.


Kembali ke Pradita yang menyeret pedang shirasaya yang ia pegang di permukaan arena, sambil melangkahkan kakinya ke arah Dante dengan tersenyum menyeringai, "Aku ingin sekali bilah pedang ini menggores kulitmu yang sangat mulus itu, hahaha …."


Tubuh Dante bergetar, dan melirik ke arah Malik sebagai isyarat untuk menyelamatkannya. Akan tetapi sebelum Malik menyadarinya, kepalanya sudah terlepas dari lehernya oleh tebasan pedang Pradita yang sudah dikombinasikan dengan teknik Naga Suryadaksa.


Cairan merah menyembur dengan deras membanjiri tubuh Pradita. Pria berambut hitam tersebut begitu menikmati tubuhnya disiram oleh cairan merah yang begitu segar yang baru keluar dari leher Dante.


"Turun kau!" tunjuk Pradita ke arah Malik dengan tersenyum menyeringai, dan tatapan yang sangat tajam setajam silet.


Malik merasa tertantang, karena melihat semua petarung bayaran tidak ada yang mampu mengalahkan ataupun melukai Pradita.


Dengan sombongnya ia melompat dari lantai tiga, dan mengaktifkan cyborg armor suit khusus yang selama ini ia simpan sebagai kartu as atau senjata pamungkas.

__ADS_1


Malik tiba di depan Pradita, dan membuat permukaan arena yang di pijaknya sampai retak, lalu berkata dengan tersenyum sinis, “Kali ini nafasmu akan berakhir di tanganku. Bersiaplah!”


__ADS_2