
7 hari kemudian.
Penyerangan tujuh hari yang lalu oleh Zevalia itu berhasil diredam. Namun Zevalia sendiri berhasil kabur, dan N4 dalam keadaan baik-baik saja.
Pradita beserta N4 awalnya digelandang ke polsek krangkeng untuk dimintai keterangan terkait penyerangan tersebut yang menewaskan lima anak buah Zevalia.
Berkat kepiawaian DNA yang hafal pasal undang-undang pidana, dan pasal undang-undang perdata, Nira berhasil lolos dari jeratan pembunuhan. Walaupun yang dibunuh adalah para pembegal atau para pembunuh yang diutus oleh Komandan Arshavin.
...[Tongteng … Tonteng]...
...[Selamat, host berhasil mendapatkan uang Rp,1.000.000 dari mengupil selama 50 kali, dan sudah ditransfer ke inventaris sistem]x7...
Pradita yang sedang membabak belurkan Nira di kamarnya terkejut, saat bel mansion terus berbunyi. Padahal masih pagi-pagi buta sekitar jam 4 lebih 30 menit. Ditambah lagi ponselnya terus berdering berkali-kali, tetapi Pradita tidak memperdulikannya.
“Aaakh!” Nira sudah melenguh nikmat, karena ia sudah mencapai tahap final, dan tubuhnya langsung lemas tak berdaya tanpa memakai sehelai benang.
Pradita juga sudah mencapai tahap final dengan bulir-bulir keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Singkong premium yang sudah menjadi tering loyo pun ditarik dari dalam kerang beracun. Tangan Pradita merayap ke atas nakas untuk mengambil ponsel UR Predacon miliknya yang terus berbunyi.
Pradita mengangkat panggilan dari Choki, “Bos, gawat Bos! Semua lahan sawah tanamannya rusak, dan terbakar!” tutur Choki dari panggilan telepon.
Saat itu juga Pradita rasanya mau pingsan, karena sawah tersebut kurang lebih 14 hari lagi akan panen, dan semua penduduk sudah menantikan panen tersebut selama 100 hari lebih.
“Sialan!” Pradita menjambak-jambak rambutnya, karena begitu depresi 50 hektar sawahnya telah dibakar.
Ia segera membersihkan diri dengan cepat, lalu keluar dari mansion untuk menemui Choki. Pradita, dan Choki pun pergi ke sawah untuk melihat keadaannya mengendarai motor Kawasaki KLX.
Saat sampai di di sawah, tampak api yang masih berkobar disertai asap yang mengepul ke langit membelah waktu fajar yang masih gelap gulita.
Terlihat beberapa sekelebat bayangan yang bergerak sangat cepat, tetapi masih bisa ditangkap oleh kedua bola mata Pradita.
Pria berambut merah tersebut mengejarnya menggunakan teknik naga Dhanindra. Akan tetapi, terdengar suara ledakan disertai suara erangan kesakitan dari Choki. Maka dari itu Pradita kembali ke tempat Choki berdiri, dan mendapati pria kurus tersebut tengah terkapar dengan luka bakar yang sedang.
“Ayo, Chok! Kita ke rumah sakit!”
Pradita memapah tubuh Choki, dan menaruhnya di belakang. Lalu naik ke atas motor, dan meminta Choki untuk memeluk pinggangnya.
Dengan perasaan panik, dan khawatir, Pradita melajukan motornya di jalan setapak sawah yang mulus secara gila-gilaan menuju RSUD Arjawinangun.
“Bertahan, Chok! Kita akan sampai!” Pradita terus mengulang-ulang perkataannya, supaya Choki tetap tersadar dalam perjalanan ke rumah sakit.
__ADS_1
Saking paniknya saat sampai di depan rumah sakit, Pradita melajukan motornya dengan sangat kencang. Lalu mengangkat stang motornya, hingga melewati pagar rumah sakit.
Motor Pradita mendarat tepat di depan halaman rumah sakit, dan terus meluncur ke depan ruang ICU. Walaupun mesin motor sudah dimatikan oleh Pradita.
“Suster! Suster! Tolong sahabatku!” teriak Pradita panik.
Suster yang berjaga pun segera keluar membawa brankar, dan tubuh Choki langsung dinaikan ke atas brankar. Kedua suster itu langsung membawa Choki ke dalam ruangan ICu untuk segera ditangani.
Pradita ke bagian administrasi untuk melunasi semua pengobatan Choki, sambil menunggu kedatangan N4 yang sedang menuju RSUD Arjawinangun. Setelah selesai, Pradita duduk di samping kursi yang mengarah ke pintu ruangan ICU. Lamat-lamat terlihat seorang perempuan memakai celana pendek ketat, dan tanktop ketat berwarna biru mendekati Pradita.
“Kamu harus memberikan penilaian terhadap hal yang sudah aku lakukan pada sawah-sawahmu, Mas. Tidak, sayangku,” kata Zevalia dengan tersenyum menyeringai.
Kedua tangan Pradita mengepal, tetapi ia masih bisa menahan emosinya. Hanya tampak jelas urat otot di bagian lehernya mengeras, lalu membalas, “Apapun yang kau lakukan itu tidak akan berimbas besar padaku. Kau pikir aku rugi?”
“Tentu anda tidak rugi, Tuan Pradita Mahendra.” Zevalia dengan berani duduk di pangkuan Pradita, dan melanjutkan sambil mencolek dagunya, “Tapi bagaimana dengan penduduk desa? Aku yakin anda tidak mungkin menutup mata atas nasib mereka bukan?”
Pradita bungkam seribu bahasa, dan tidak menanggapi provokasi Zevalia. Namun Pradita sudah tak kuat ketika melihat wajah Zevalia, wajah yang sudah membunuh ketiga istrinya.
Maka dari itu Pradita mengangkat tubuh Zevalia, dan membantingnya ke permukaan lantai. Hantaman tubuh Zevalia ke permukaan lantai terdengar cukup keras, hingga membuat penjaga keamanan berlari ke arah Pradita, dan Zevalia.
"Hahaha …."
Bukannya malah kesakitan, Zevalia malah tertawa terbahak-bahak mengejek Pradita. Lalu bangkit, dan setelah itu berlari secepat mungkin dari wilayah RSUD Arjawinangun.
......................
Dua jam kemudian, Balai desa Jagapura Lor.
Penanganan Choki sudah selesai, dan Pradita meminta beberapa anggota pasukan Black Shadow untuk bersiaga di wilayah RSUD Arjawinangun. Sedangkan dirinya pulang bersama N4, mengadakan rapat dadakan di kelurahan terkait lahan tanah sewa warga yang terbakar semua.
Semua warga yang mendapatkan hak sewa bagi hasil 70% dengan Pradita telah berkumpul di balai desa Jagapura Lor. Semua warga menangis tersedu-sedu, setelah melihat sawah mereka yang sudah digarap selama kurang lebih 85 hari ludes tak tersisa dibakar oleh anak buah Zevalia dalam waktu semalam.
"Aku tahu kita sedang mengalami musibah, tetapi aku sendiri sudah melakukan upaya penanaman kembali dengan bibit dadakan yang sedang diformulasikan oleh Master Chow," kata Pradita mengumumkan dengan senyum sumringah untuk memberi efek pada para warga, supaya tetap semangat.
"Bos, masalahnya kita sudah mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit. Walaupun 100% seluruh biaya penanaman, dan perawatan dari Bos. Tapi aku sendiri merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah dari Bos," sergah salah satu warga bernama Pak Bidin.
"Begini saja. Aku tetap akan memberikan ganti rugi pada kalian, sesuai besaran persentase rata-rata panen yang telah dikalkulasi oleh tim yang sudah dibentuk,” kata Pradita.
Bukannya senang, mereka masih tetap bersedih. Mereka merasa bersalah, karena tidak bisa melindungi sawah yang dipercayakan mereka pada Pradita.
“Kami akan membantu apapun yang Bos butuhkan untuk kembali menanam sawah pasca kebakaran ini!” teriak Pak Bidin.
__ADS_1
“Ya, kami juga akan ikut!”
“Kami juga!”
Semua orang berdiri dengan penuh kobaran semangat, karena merasa ini adalah tanggung jawab mereka. Padahal Pradita sudah memberikan kompensasi atas tenaga yang mereka sudah keluarkan sesuai besaran surat perjanjian kontrak.
Tindakan mereka ini didasarkan atas kebaikan Pradita yang selalu mendukung, dan membantu para warga disaat kesusahan. Semua warga yang sakit, melahirkan, sekolah, dan pembiayaan modal semua biayanya dibiayai oleh Pradita secara tulus ikhlas tanpa Pradita meminta imbalan.
Bahkan beberapa hari terakhir, Pradita mendatangi rumah-rumah warga yang jompo membawa beras, dan sembako untuk dibagi-bagikannya. Kebaikan Pradita ini terasa hingga tersebar ke seluruh Kabupaten Cirebon. Makanya harta Pradita semakin banyak, dan semakin banyak di tabungan diluar saldo sistem.
“Mas, lihat warga rela tidak diberi kompensasi! Padahal Mas Pradita mau memberikan kompensasi sesuai surat perjanjian,” bisik Nathalia.
“Entah, aku juga tidak paham. Aku selalu ingin memberikan hal yang baik, dan layak untuk mereka. Aku merasa ini masih belum layak, dan cukup untuk mereka,” balas Pradita dengan berbisik.
Semua warga satu kampung berbondong-bondong ke sawah sambil membawa cangkul, dan ada pula yang mengemudikan traktor bajak. Pradita pun ikut terjun ke sawah membantu para warga supaya hari ini cepat selesai membajak semua sawah yang memiliki luas 50 hektar tersebut.
Di sawah sangat ramai dipenuhi para warga Desa jagapura lor yang semuanya terjun ke sawah. Mereka bahu membahu membajak lahan sawah penuh dengan suka cita.
“Aku harap Master Chow sudah selesai membuat pupuk cair penyubur tanaman, dan penyubur tanah dengan cepat. Juga membuat bibit unggul padi,” gumam Pradita sambil menyeka keringat di dahinya setelah mencangkul sawah seluas satu hektar sendirian.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, Host mendapatkan 10 poin massa otot]...
Setelah 4 jam 30 menit, para warga beristirahat. Karena semua lahan sawah selesai dibajak menggunakan 50 unit drone traktor bajak.
Kemudian 30 unit Aevum Drone yang mengangkat kontainer besar mendarat di jalan provinsi. 30 kontainer tersebut berisikan 10 kontainer pupuk cairan penyubur tanah, 10 kontainer pupuk cairan penyubur tanaman, dan 10 kontainer berisikan bibit padi hasil rekayasa genetika dari Master Chow.
"Aku sungguh tak menyesal mengeluarkan uang sampai 36 triliun untuk pak tua itu. Dia sangat-sangat berguna, hehehe …," gumam Pradita dengan terkekeh pelan.
Kemudian Pradita meminta para warga yang sudah mahir, dan berlisensi penggunaan drone, untuk menyiramkan cairan pupuk penyubur tanah. Aevum Drone versi kecil pun berterbangan ke seluruh lahan silih berganti melakukan penyemprotan cairan penyubur tanah.
"Mas, ayo makan!" panggil Nabila sambil membawa rantang berisikan masakan kesukaan Pradita.
Pradita yang tak jaim turun ke samah pun naik ke jalan pinggir sawah sambil mengangkat cangkul di bahu kanannya. Nira kasihan melihat tubuh Pradita yang sudah basah kuyup oleh keringat. Maka dari itu ia menyeka tubuhnya dengan handuk.
"Mas, kenapa Mas harus seperti ini?" tanya Nira dengan tatapan sendu.
"Aku ini menjadi panutan mereka, dan seorang panutan itu tidak pantas hanya berpangku tangan melihat semua orang bergotong royong, dan bekerja keras terhadap sawah ini," jawab Pradita, dan jawaban itu memang Nira takjub.
"Tidak salah aku memilih Mas Pradita menjadi suami. Dia lebih banyak punya hati yang lembut, walaupun di depan musuh-musuhnya ia akan berubah sangat kejam," batin Nira dengan mata menggenang haru.
__ADS_1
Pradita menatap sendu ke arah sawah yang sedang dilakukan penyemprotan oleh aevum drone mini. Ia tak menyangka Zevalia tega melakukan ini padanya. Padahal ia juga mencintai Zevalia setulus hatinya.