
“Hahaha …. Aku puas telah menikam jantungmu! Matilah sekarang!” teriak Komandan Selena dengan tersenyum menyeringai.
Dada Pradita diinjak saat tubuhnya sudah terkapar. Namun ia masih kuat untuk melawan, walaupun ujung bilah belati yang dihujamkan oleh Selena berhasil menusuk sedikit jantungnya.
“Aaargh!” pradita meraung kera, dan sekuat tenaga mendorong kaki Selena, hingga tubuhnya terjungkal. “Wanita Blengep! Takan aku ampuni karena sudah memanfaatkan tubuh istriku untuk mengelabuiku!”
Amarah Pradita sudah tak terbendung lagi, dan menarik belati di punggungnya, dan segera menggunakan teknik nag kurusetra untuk menyembuhkan jantungnya yang mengalami robekan kecil.
Bersamaan itu pula Pradita menendang perut Komandan Selena, hingga terlempar jauh lusinan meter.
“Aaakh!” pekik Komandan Selena setelah punggungnya menghantam pagar gedung kosong, dan memuntahkan seteguk darah, “Guhak!”
Pradita menggerakan pedang katana yang terjuh di permukaan tanah dengan teknik naga taksaka, dan membuat pedang itu terbang melesat ke arah Komandan Selena yang sedang mencoba bangkir dberdiri dengan meringis kesakitan.
Reflek kepala Komandan Selena cukup baik, ujung katana itu hanya melewati kepala bagian kiri hanya berjarak 5 cm, dan tertancap di besi pembatas gedung kosong.
“Hahaha …. Aku akan perlihatkan wajahku padamu sebagai rasa terima kasih telah memberikan pertunjukan yang sangat mengesankan kepadaku!”
Sambil tertawa jahat, Komandan selena mengusap wajahnya, dan tampak wajah seorang gadis berwajah Belanda yang sangat cantik, memiliki bibir merah bak batu merah delima, serta hidung yang mancung bagaikan puncak gunung himalaya yang begitu indah.
Sepuluh jari-jemarinya digerakan untuk menembakan benang-benang lengket ke arah Pradita, dan berhasil menjerat pria berambut merah tersebut.
Lagi-lagi Pradita terjerat oleh kecantikan Komandan Selena, dan membuat tubuhnya saat ini malah terikat benang-benang lengket yang ditembakan dari kesepuluh jari Komandan Selena.
Komandan Selena mengusap kembali wajahnya, dan merubah wajah gadis Belandanya itu menjadi wajah Helly. Lalu mengangkat tangan kanannya, untuk menembakan jaring lengket yang keluar dari telapak tangannya ke bagian bawah Helikopter.
Sambil tubuhnya terangkat, Helikopter tersebut membawa Komandan Selena menjauh dari Pradita yang sudah tidak bisa bergerak di permukaan aspal.
[Tongteng … Tongteng! Misi berhasil diselesaikan]
<>...............<>..............<>
[Misi: Temukan dalang pengeboman]
__ADS_1
[Batas waktu: 7 hari]
[Progres waktu: 6 hari 12 jam
[Hukuman: Aset tuan dikurangi 75%]
[Hadiah: ???]
<>...............<>..............<>
[Selamat, host mendapatkan formula serum dewa, dan formula serum dewi]
[Pengetahuan formula serum dewa, dan serum dewi telah ditransfer ke otak host]
[Serum dewa adalah sebuah cairan yang meningkatkan ketampanan, kekekaran tubuh, dan kekuatan tubuh menjadi lebih signifikan]
[Serum dewi adalah sebuah cairan yang meningkatkan kecantikan, keseksian tubuh, dan kecerdasan otak]
****
Keesokan paginya, Markas utama Sevenfall Segitiga Bermuda.
Kelima Komandan Sevenfall yang tersisa berkumpul. Keempat Komandan menatap tajam ke arah Komandan Arshavin.
"Dompret kau Arshavin! Kalau kau tidak bisa mengurus anak buahmu itu, biar aku yang turun tangan untuk menghabisinya!" berang Komandan Fatman sambil menggebrak meja, dan membuat mejanya itu terbelah dua.
"Dasar kau Selena cepu! Apa kau ingin mengadu domba antar Komandan, hah!" Arshavin juga tak kalh garang emmbentak komandan Selena yang dianggapnya telah mencampuri urusan dirinya dengan Zevalia.
"Loh, aku selalu benar, dan wanita itu selalu benar. Buat apa punya anak buah malah menikah dengan pria yang jelas-jelas telah membunuh kedua saudara kita —-"
"Tolol! Aku menempatkan Zevalia di sisi Pradita, karena aku ingin Zevalia merebut kunci satelit Red Queen. Apa kau itu cuma hacker kelas teri yang tidak tahu jika wilayah benua eropa, asia, dan afrika tidak bisa kita masuki saat ini, hah!" putus Komandan Arshavin berapi-api, dan memberikan alasan yang sangat masuk akal.
Seketika itu juga Komandan Selena, Komandan Fatman, Komandan Prime, dan Komandan Ray bungkam seribu bahasa setelah Komandan Arshavin mengungkapkan alasannya memberikan izin Zevalia untuk menikah dengan Pradita.
__ADS_1
****
Union Mansion.
"Uuugh!" Pradita, dan Zevalia sedang olahraga pagi, hingga membuat keduanya melenguh nikmat, dan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.
Sudah semalaman Pradita berhasil membabak belurkan ketujuh istrinya, dan membuat mereka semua tidak bisa bangun. Zevalia adalah target olahrga boxingnya yang terakhir, dan saat ini pula di sudah terkapar dibuat babak belur oleh Pradita di atas tempat tidur berukuran king size.
Ketujuh istrinya tertidur di atas ranjang king size tersebut seperti ikan yang berjejer. Setelah dibombardir, dan dibabak belurkan Pradita di segala sisi.
"Son, kamu sangat kuat sekali son! Untung saja dengan Zevalia kamu sudah goal, hahaha …," tandas Pradita sambil menyentil ujung singkong premiumnya yang sudah lembek.
ia begitu riang gembira, walaupun wajah Selena terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ditambah lagi wangi tubuh Selena sudah merasuk ke dalam pikirannya. Sampai-sampai Pradita tidak sadar sudah mandi selama satu jam.
"Sial, aku malah kebablasan memikirkan pembunuh itu!" gerutu Pradita, dan segera mengakhiri bersih-bersih tubuhnya.
Hari ini ia harus menemukan orang yang tepat yang bisa meramu formulasi, atau minimal bisa memberikan informasi bahan-bahan yang dibutuhkan untuk meramu serum dewa, dan serum dewi.
Pradita sudah bertanya pada Red Queen, dan seluruh istri, rekanan bisnisnya. Namun satupun dari mereka tidak ada yang tahu mengenai bahan-bahan yang diinformasikan oleh Pradita.
Sambil menyetir mobil Bugatti Bolide miliknya, Pradita terus berpikir sambil bergumam, "Menurut istriku Seva, hanya ada satu tempat didunia yang memiliki banyak tanaman obat, yakni Negara Tiongkok dan sekitarnya. Apakah aku harus kesana? Tapi aku sama sekali tidak punya rekanan disana."
Pradita malah memutar balik mobilnya untuk menuju Bandara Kertajati. Ia langsung memutuskan untuk pergi ke Tiongkok, tanpa istri-istrinya. Alasan Pradita tidak membawa istrinya, karena trauma akibat serangan ledakan tempo hari yang membunuh ketiga istrinya.
Pradita langsung menelepon pilot jet pribadi untuk membawanya ke Tiongkok 30 menit lagi, dan sang pilot, serta para kru langsung menyiapkan penerbangan Pradita menuju Tiongkok.
Dalam perjalanannya menuju Bandara Kertajati, Pradita terus menabur uang pecahan seratus ribuan di jalanan. Banyak warga yang berebut, dan mengabadikan momen tersebut.
Pradita melihat dari kaca spion mobilnya, dan raut wajahnya sumringah. Ingin sekali di hatinya menyapa mereka, tetapi kali ini waktunya sangat penting untuk menemukan bahan-bahan pembuat serum dewa, serta serum dewi.
Sesampainya di bandara Kertajati, Pradita langsung dikawal oleh anak buahnya yang bekerja di Bandara Kertajati. Karena Pradita berencana mengakuisisi saham PT.Angkasa Pura dari satu sampai tiga, dan tidak main-main minimal harus 90% saham yang diakuisisi oleh Pradita.
Saat di dalam Bandara Kertajati pun gerak-gerik Pradita tetap diawasi oleh anak buah Selena, tetapi anak buah yang diturunkan bukan dari kalangan pasukan elit yang dimiliki oleh Komandan Selena.
__ADS_1