
Pandangan mata mereka semua tertuju pdaa Arov. Karena gara-gara dirinya mereka tidak mendapatkan satu gram pun narkoboy dari berbagai jenis tersebut, dan salah satunya adalah jenis sabu.
“Sorry, rekan-rekan. Bagaimanapun juga orang yang memiliki banyak uang dan menawar dengan penawaran tertinggi selalu akan menjadi pemenang,” cibir Arov dengan tersenyum sinis.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Penggunaan Topeng seribu wajah 10 menit lagi akan habis dan akan diisi ulang selama 24 jam. harap host segera menyelesaikan urusan host]...
Arov mengernyit, ia tidak menyangkai kalau topeng seribu wajah tersebut memiliki batas waktu pemakaian. Tentu saja membuatnya panik, karena sisa waktunya hanyalah sedikit.
Ia langsung melangkahkan kakinya dengan cukup cepat ke arah Brock yang sudah berdiri dengan senyuman sumringah.
“Master Brock, lakukan saja transaksinya sesuai keinginanmu. Aku harus buru-buru ada hal penting. Masalah barangnya kita akan urus nanti, yang penting aku sudah memberikan uangnya, dan aku percaya padamu Master Brock.”
“Baiklah, untuk pengiriman barangnya kita bicarakan lain waktu. Tenang saja aku jamin aman dan tak berkurang sedikitpun.”
Keduanya bertransaksi 100.000 ton narkoba dari berbagai jenis senilai 1 triliun, dan Arov alias Pradita akan membuat pupuk terhebat yang akan diaplikasikan pada tanaman padi agar panennya lebih cepat dan meningkat. Pria berhidung mancung tersebut sudah merumuskan formula pupuk untuk tanaman padi berbahan utama narkotika.
Setelah selesai bertransaksi, Pradita yang waktu penyamarannya hanya tersisa 5 menit menggunakan topeng seribu wajah. Ia segera keluar, dan dibuntuti ketua gembong narkoba provinsi Jateng, Banten, Jabar, Jatim, dan DKI.
“Ada gunanya juga waktu penggunaan topeng seribu wajah akan habis. Aku bisa menarik umpan lebih cepat,” gumamnya menyeringai licik sambil melangkahkan kakinya ke dalam lift yang menuju bagian gudang penyimpanan daging.
“Kita habisi si bule gila itu. Berani-beraninya dia merebut barang kita seenak jidatnya!” hardik Rei kesal.
“Ya, bule gila itu tak tahu aturan. Malah Master Brock membelanya lagi,” timpal Setyawan sambil mengeluarkan senapan SMG Uzi di pinggangnya.
__ADS_1
Mereka berlima sudah siap untuk menghabisi Pradita, dan menunggu waktu yang tepat saat dirinya telah keluar dari dalam gedung Club Nineties.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Batas waktu penggunaan topeng seribu wajah atau Thousand Face Mask telah habis. Tubuh host kembali seperti semula]...
Saat keluar dari lift seorang diri, Pradita panik. Karena pasti akan diperkarakan oleh kedua penjaga yang menjaga di depan gudang penyimpanan daging.
Sesaat kemudian kelima ketua gembong narkoba pulau jawa keluar dari pintu lift lain yang bersebelahan dari pintu lift yang digunakan Pradita sebelumnya. Mereka menatap heran karena tidak menemukan Arov, hanya menemukan Pradita yang sedang mengeluarkan senapan kejut Enforce Phazzer.
“Walahiyung! Penyusup!” teriak Armando ketua gembong narkoba provinsi Jabar, dan langsung menembakan senapan magnum ke arah Pradita.
Peluru tersebut bergerak sangat cepat, tetapi hanya melewati rambut atas Pradita dan mendarat di salah satu bongkahan daging yang tergantung di belakang Pradita. Pria berambut harajuku tersebut berlari cepat dengan mendobrak pintu gudang penyimpanan daging menggunakan teknik Naga Anubra, dan dikombinasikan dengan teknik Naga Dhanindra.
Suara hantaman kedua pintu besi tersebut sangat keras, hingga membuat kedua penjaga beserta kedua pintu besi yang tebal tersebut terpental. Kelima ketua gembong narkoba pulau jawa terkejut, dan langsung berlari ke arah pintu yang sudah tidak terpasang di tempatnya dengan menembak secara membabi buta menggunakan senapan SMG Uzi, dan juga senapan magnum.
“Sompret! Kemana dia?” Rei kesal, karena tembakannya tidak mengenai Pradita malah mengenai pundak beberapa koki yang berada di sana.
Mereka berlima tidak memperdulikan beberapa koki dan staf asisten koki yang bersimbah darah di permukaan lantai. Mereka berlari mengejar Pradita yang dituduh oleh mereka sebagai antek-antek dari Arov yang sengaja memata-matai konferensi transaksi narkoba terbesar di tahun ini.
Diluar gedung Club Nineties, Pradita menghubungi Rena untuk segera mengirimkan bala bantuan. Timnya yang sudah lama mengintai pergerakan Rena, dan Pradita dari atas salah satu gedung yang berseberangan dengan gedung Cub Nineties.
Pradita yang sedang bertengger di salah satu pohon yang berada di luar pagar gedung mendapatkan pesan untuk memancing kelima ketua gembong narkoba pulau jawa ke gedung Yamiskin. Sambil melompat, Pradita menembakan beberapa tembakan ke arah kelima Rei, Armando, Andi, Soniv, dan Yukas. Ia sengaja menembak secara sal untuk memprovokasi mereka untuk mengejarnya,
“Woy, aku disini!” teriaknya.
__ADS_1
Mereka berlima dengan tergesa-gesa mengejar Pradita yang masuk ke dalam gedung Yamiskin yang berada di seberang gedung Club Nineties.
“Sompret! Ayo kejar dia dan jangan sampai lolos!”
Mereka berlima mengejar Pradita, dan anak buah mereka juga yang berjumlah 50 orang ikut mengejar sambil mengeluarkan senapan magnum.
Pradita menoleh dengan tersenyum menyeringai, dan bergumam, “Tangkapan kali ini akan banyak. Mereka semua bisa menjadi tabungan informasi untuk Wilma.”
Semua penjaga keamanan gedung Yamiskin ketakutan melihat 55 orang berseragam setelan jas hitam membawa senapan masuk ke dalam gedung yang mereka jaga. Alhasil mereka membiarkan kelima puluh lima orang tersebut untuk menaiki tangga darurat untuk mengejar Pradita yang sudah sampai di rooftop lantai sepuluh.
Tim yang digawangi Rena sudah bersiap-siap menyambut lima puluh lima orang anggota gembong narkoba terbesar di pulau jawa, dan bersembunyi di beberapa celah tempat di rooftop gedung Yamiskin.
Namun saat mereka satu persatu keluar, Pradita mengeluarkan dua senapan SMG Uzi dari inventaris sistem, dan menembaki mereka secara bertubi-tubi, serta membabi buta.
Alhasil mereka satu persatu tumnag dengan tubuh dipenuhi bentol-bentol lebam berwarna ungu karena di berondong peluru karet yang ditembakan Pradita.
“Aaaakh! Aaaakh!” pekiknya serentak.
Ketujuh anggota tim Rena segera bergerak dan melakukan tindakan keras dengan menyetrum mereka dengan tongkat kejut. Satu persatu anggota gembong narkoba terbesar di pulau jawa menggeliat di permukaan lantai, termasuk Rei, Armando, Andi, Soniv, dan Yukas.
Mereka semua langsung di borgol satu persatu oleh ketujuh anggota tim Rena. Mereka tak menyangka orang yang dikirimkan oleh Wilma ternyata sangat berkontribusi besar, bisa diandalkan untuk menjebak, dan melumpuhkan kelima ketua gembong narkoba terbesar di pulau jawa.
Pradita mendekati Rei yang sedang tertelungkup, dan diborgol oleh salah satu anggota tim Rena. Karena kesal Pradita menendang pelipis kanan Rei, “Kampret! Ternyata kau ini pemasok besar di Banten. Sekarang rasakan kehidupanmu di penjara, dan sampai bertemu dengan raja neraka!”
“Hahaha …. Ketua geng rendahan sepertimu mana mengerti tentang cuan dan cuan. Aku yakin sebentar lagi aku akan bebas —”
__ADS_1
“Oh, bebas. Maka aku yang akan datang untuk membawamu menemui raja neraka,” potong Pradita dengan raut muka merah padam.