SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 54


__ADS_3

Pradita menarik dagu Nabila sejajar dengan wajahnya, lalu tanpa basa-basi lagi bibirnya dicium lembut. Nabila sudah terhipnotis ketampanan Pradita, dan ia membalas ciuman Pradita dengan lebih ganas.


Keduanya saling bertukar saliva. Hingga saat melepas ciuman tersebut, saliva yang tersisa membentuk sebuah garis lurus seperti jembatan penghubung yang menghubungkan hasrat antara mereka berdua.


Nafas keduanya tersengal, bahkan seolah sedang berebut oksigen setelah melakukan ciuman panas yang cukup lama. Untung saja tidak ada pengunjung lain, karena semuanya sudah tertidur lelap.


Setelahnya, Pradita mulai menjelaskan tentang siapa Prisilia. Walaupun Nabila bukan bagian dari hatinya yang hilang, karena saat ini hatinya masih belum bisa membuka sepenuhnya untuk wanita manapun.


Saat itu Pradita sudah bisa membaca setiap bahasa tubuh Nabila yang menunjukan kalau ia sedang kecewa padanya. Akan tetapi mau bagaimana lagi karena itu kenyataannya.


“Prisilia adalah sahabatku sejak kecil, aku hanya sedang menolong untuk melegakan hatinya yang sedang banyak masalah. Harta kekayaannya telah diambil paksa oleh pamannya dari pihak ayahnya,” jelas Pradita.


Nabila langsung mengerti, “Aku harap tidak salah paham lagi dengan tindakanku yang selalu bergelut dengan para wanita. Kalau kamu tidak kuat, lebih baik cari saja laki-laki lain yang memang Nabila inginkan.”


Nabila terdiam, dan tidak ingin membalas perkataan Pradita. Di setiap perlakuan lembut Pradita padanya, ia dapat merasakan kalau sesungguhnya hati Pradita sedang menangis.


Sedang menumpahkan setiap tangisan hatinya dengan memperlakukan lembut pada orang-orang yang dikasihinya. Walaupun itu hanya seorang sahabat baginya.


“Terima kasih, aku akan tetap pulang, dan aku memahami hal itu.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Nabila kembali menarik pegangan kopernya. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju lift untuk meninggalkan Pradita seorang diri di lorong lantai 6 hotel Kuta.


Pradita pun masuk ke dalam kamar, dan mengemasi pakaian untuk segera keluar dari hotel malam ini juga. Tidak lupa ia menelepon Natahlia, dan Nathania untuk ikut pulang ke Cirebon, guna membantunya untuk membangun gedung perusahaan PT. Nasiku Empuk di Desa Jagapura Lor.


Dengan sigap kedua gadis kembar tersebut langsung menghubungi pihak maskapai jet pribadi yang telah disewa oleh mereka berdua sebelumnya.


......................


Keesokan paginya, unit apartemen milik Pradita, pusat kota Cirebon.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Selamat, host mendapatkan uang Rp,20.000.000 dari mengupil sebanyak 2.000 kali]...


Seperti biasanya pradita melakukan latihan fisik di pagi hari. Nathalia, dan Nathania menyiapkan masakan untuk mereka berempat, karena Arman masih belum berangkat kerja.


“Arman, nanti kamu katakan pada Ibu Yurike, dan Nikita untuk menerima proposal yang diajukan oleh PT. Setia Cinta, ya. Biar langkah menghancurkan perusahaan milik Panji sebentar lagi terlaksana —”


“Sorry, nih Bos. Tampaknya itu tidak mungkin. Aku dengar dari temanku yang jadi mata-mata di Geng Cross dan Geng Klowor. Perusahaan Tuan Panji telah mendapatkan suntikan dari mafia gembong narkoba terbesar di Indonesia dan akan menyerang balik PT. MMK,” potong Arman.


“Siapa dia?” tanya Pradita dengan tatapan tajam.


“Brock alias Dasmad setahuku. Temanku memang gila karena menjadi intel di dalam geng mafia, dia tak takut mati,” jawab Arman menggeleng pelan memikirkan teman karibnya itu yang seorang polisi intel.

__ADS_1


“Tepat sesuai dugaan Wilma. Geng Cross bukan geng yang digawangi Brock, tetapi ada geng lain atau organisasi gembong narkoba lain yang bergerak menguasai wilayah Indonesia dari bawah tanah,” batin Pradita dengan sorot mata yang tajam.


Mereka berempat makan tanpa ada satu kata pun yang keluar. Pradita makan dengan cepat, dan setelah selesai memberikan pesan pada kedua gadis kembar tersebut, “Temui Choki, dan Rivan di Desa Jagapura Lor. Aku akan menyusul nanti, dan selesaikan terlebih dahulu rincian yang sudah aku kirimkan di email kalian berdua.”


“Siap!” Keduanya mengangguk tegas.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Selamat, host mendapatkan 1 poin massa otot dan sudah ditambahkan ke status sistem]x3...


Mereka berempat keluar dari kamar apartemen milik Pradita. Kedua gadis kembar pergi ke Desa Jagapura Lor bersama Sarkowi, dan Arman tentu saja pergi ke kantor PT. MMK.


Sedangkan Pradita menunggu driver ojek online untuk menuju tempat mata-mata yang ditugaskan oleh Wilma untuk masuk ke dalam markas geng Cross. Mata-mata itu berada di Desa Kaplongan Kidul.


Setelah beberapa saat, sang driver ojek online datang, tetapi dia enggan untuk mengantarkan Pradita karena jaraknya jauh.


“Mas, Anda tidak butuh uang?” sindirnya dengan senyuman sinis, dan melanjutkan, “Aku juga sama Mas, masih aktif sebagai ojek online di Tangerang Selatan, dan tidak pernah pilih-pilih orderan. Ini uang buat Mas, terserah mau bawa aku atau tidak.”


Sang driver mengernyit, karena tiba-tiba oleh Pradita disodorkan 5 lembar pecahan uang 100.000.


“Maaf, Mas. Bukannya aku tidak mau antar Mas ke Kaplongan Lor, tetapi jalan daerah Krangkeng itu cukup rawan. Biasanya banyak begal disana, dan polisinya juga tidak sanggup menangani mereka.”


“Karena ada gembong mafia-nya disana. Aku pernah sekali ditodong, dan untungnya hanya dompetku yang dirampas,” terang sang driver bernama Joly.


Joly bingung, antara mau menerima atau tidak. Namun saat ini dia butuh biaya untuk anaknya yang sudah SMK untuk bayar SPP karena sudah 3 bulan nunggak.


“Kalau mas bisa menjaga keamananku, aku siap mas bawa Mas kesana —”


“Beres, aku jamin,” potong Pradita dengan nada tegas.


Joly akhirnya percaya dan mereka berdua pun berangkat menuju Desa Kaplongan Kidul melewati jalur jalan Sunan Gunung Jati. Supaya tidak bosan, Pradita terus berbicara dan memancing Joly untuk berbicara, mulai dari asal-usul Joly sampai keluarga Joly.


“Aku yang banyak uang ini malah berpikir untuk terus invasi perusahaan, tetapi tidak berpikir bagaimana membuat uang ini bermanfaat.”


“Mungkin aku akan buat Yayasan Super Miss Queen untuk mereka semua yang memang membutuhkan biaya pendidikan baik sekolah maupun pondok,” batin Pradita dengan raut muka sendu.


Hingga tibalah mereka di wilayah perbatasan antara Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Cirebon. Sudah banyak preman yang membawa parang membentuk barikade, dan memalak kendaraan apapun yang lewat dengan membayar uang keamanan untuk mobil 10.000, dan motor 5.000.


Pradita menepuk pundak Joly sebagai isyarat supaya Joly memberhentikan motornya.


“Mas, pulang saja. Biar aku sampai disini saja, masalah mereka biar aku atasi sendiri.”


Pradita memberikan lagi uang 5 juta pada Joly, untuk biaya anaknya sekolah. Ia sangat kasihan pada Joly yang hidup pas-pasan, dan harus menyekolahkan anaknya seorang diri. Sedangkan istrinya kabur dengan selingkuhannya yang lebih kaya dari dirinya.

__ADS_1


Setelah itu berjalan santai ke arah barikade preman yang berjumlah sangat banyak, kurang lebih ada 100 orang.


"Bayar upeti!" hardik salah satu preman dengan codet di pipi kanannya, dan menunjukan kebolehannya dengan menjilat bilah parang yang dipegangnya untuk menakuti Pradita.


Pria bergaya rambut harajuku itu justru membalas dengan mengeluarkan pedang kodachi yang sudah ditaruhnya bagian dalam punggungnya bersama pedang wakizashi. Bilah pedang kodachi itu malah digesek-gesekan ke leher Pradita.


Hampir semua preman yang dapat melihat tindakan Pradita tercengang, dan sedikit gentar. Mereka menganggap Pradita punya ajian kebal terhadap senjata tajam. Padahal aslinya bilah pedang kodachi itu memang tumpul, dan mana mungkin bisa melukai leher Pradita.


“Satu sen pun aku tidak akan membayarnya, paham!” bentak Pradita dengan suara menggelegar.


Seketika Pradita menatap tajam semua preman yang masuk dalam persepsi pandangannya, “Ini adalah jalan umum, dan aku tidak takut dengan siapapun, termasuk orang yang berada di belakang kalian!”


“Jangan banyak cingcong! Maju!” teriak salah satu preman dengan mengacungkan parangnya ke arah Pradita.


Bagi mereka itu adalah suatu penghinaan, karena Pradita tidak mau membayar upeti yang sudah ditetapkan selama ini oleh mereka. Kesepuluh preman berlari cepat ke arah Pradita dan salahhhhh satunya mengumpat keras.


“Dasar kampret! Kau akan mati karena tidak mau membayar upeti pada kami!”


Mereka bertukar serangan dengan Pradita yang sama-sama menggunakan senjata tajam. Setelah beberapa saat mereka bersebelas saling menghindar dan membalas serangan, serta terlihat imbang.


Pradita menarik pedang wakizashi di punggungnya, dan kini ia memegang pedang kodachi di tangan kanan, serta pedang wakizashi di tangan kiri.


“Teknik Naga Besukih!” Pradita menangkis sambil memantulkan tebasan parang mereka, dan dipantulkan ke rekan mereka yang dekat.


"Aaaakh!" Mereka memekik kesakitan, karena parang yang mereka tebaskan berbalik dan menebas rekan mereka sendiri.


Mereka bersepuluh terkapar dengan cairan kental merah membasahi permukaan aspal.


“Ayo siapa lagi!” tantang Pradita sambil mengacungkan kedua pedangnya yang berbeda ukuran panjang tersebut ke arah 90 preman dengan tatapan seperti manik mata Elang.


Bukannya takut melihat rekan-rekannya yang terkapar bersimbah darah, mereka malah bertambah geram dan ingin menguliti Pradita hidup-hidup. Dari inventaris sistem Pradita mengeluarkan pedang Ninjato, dan terbang keluar dari belakang punggungnya.


Pedang tersebut dikendalikan oleh teknik Naga Taksaka yang bisa mengendalikan suatu objek tanpa menyentuhnya. Pedang ninjato tersebut diperintah oleh Pradita melalui pikirannya, untuk berputar cepat seperti gasing, dan melesat ke arah 90 preman yang sedang berlari cepat ke arah Pradita, untuk mengeroyoknya.


Pedang itu menebas sangat kuat tangan kanan para preman, dan parang yang mereka pegang berjatuhan. Begitu pula para preman meringis kesakitan dibuatnya, karena ditebas oleh pedang ninjato dengan tebasan yang sangat kuat di lengan kanan mereka.


Tersisa satu orang bertubuh besar setinggi 230 cm, dan tidak mempan tubuhnya ditebas oleh pedang ninjato yang terus berputar cepat seperti gasing mengelilingi tubuhnya sambil menebasnya dengan tebasan yang sangat kuat juga cepat.


“Xixixi ….” Pria bertubuh besar dan berotot tersebut tertawa cekikikan karena pedang ninjato yang dikendalikan oleh Pradita tidak mampu melukainya.


Bahkan ia tidak merasakan sedikitpun rasa sakit dari bekas tebasan bilah pedang tersebut. “Apa ini kemampuanmu anak muda? Tidak, Pradita Mahendra sang raja dunia bawah tangerang Selatan, Xixixi ….”


Pradita matanya membola mendengar penuturan pria besar, dan botak bernama Eugene tersebut.

__ADS_1


__ADS_2