SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 99


__ADS_3

Melihat foto Stephen Chow di ponsel Pradita, semua warga yang berada di wilayah pak Maman langsung mundur dengan raut wajah seputih kertas.


Tidak ada yang berani mengatakan keberadaan sang raja preman yang memegang kabupaten bekasi tersebut.


Pasalnya sudah banyak orang yang pernah berani menyatakan keberadaan rumahnya Stephen Chow, alhasil besoknya mereka babak belur, dan patah tulang, bahkan ada yang koma.


“Aku yakin kalian tahu keberadaan Stephen Chow atau Budi. Baiklah, aku akan memberikan uang 100 juta plus perlindungan pada orang yang berani menunjukan keberadaan Budi padaku,” tantang Pradita, lalu mengeluarkan kartu ATM black SVIP miliknya, dan menaruhnya di atas meja.


Sebagian warga tahu akan kartu hitam yang diletakan oleh Pradita di atas meja. Mereka semua meneguk salivanya dalam-dalam, karena tergiur oleh hadiah yang diberikan Pradita pada orang yang mau memberitahukan keberadaan Budi atau Stephen Chow.


Mata Pradita menangkap gelagat yang aneh terhadap salah seorang pria brewok di belakang Pak Maman. Sedari tadi pria brewok itu menatap terus ke arah Pradita sambil mengetik-ngetik papan ketik ponsel androidnya.


"Mas, kamu anak buah Budi ya?" tunjuk Pradita ke arah pria brewok tersebut langsung pada intinya.


Pria brewok itu malah ketakutan, dan langsung berlari. Pradita kembali menyimpan kartu ATM miliknya ke inventaris sistem. Lalu berlari cepat mengejar pria brewok tersebut.


Pradita mengejarnya dengan gerakan lari yang diperlambat. Tujuannya agar pria tersebut terus berlari menuju tempat keberadaan Budi.


Pria brewok tersebut terus berlari ke arah terminal Cikarang, dan masuk ke dalam toilet pria, dan Pradita juga ikut masuk. Namun jaga jarak, agar pria brewok itu tidak mengetahui keberadaannya.


"Huff .. huff …. Bos, aku sudah selamat dari kejarannya. Tolong aku, Bos! Sepertinya pria itu memang nekat untuk mencarimu. Bahkan dia berani mengadakan sayembara," tutur pria brewok sambil menelepon Budi di dalam kamar toilet dengan nafas terengah-engah.


“Tenang, aku akan kesana! Dimana kamu sekarang? Biar aku habisi dia!” tanya Budi melalui komunikasi telepon dengan berapi-api.


“Terminal, Bos!”


Setelah mendengar jawaban pria brewok tersebut, Budi segera mematikan panggilan pria brewok, dan segera menuju Terminal Cikarang membawa banyak anak buahnya.


“Terima kasih, Bro. Kamu sudah memanggil bosmu kemari. Tenang, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin membawa Budi pulang menemui kakeknya,” ungkap Pradita yang berada di luar kamar toilet.


Pria brewok itu ketakutan di dalam kamar toliet, dan tidak berani keluar. Karena Pradita terus menunggunya di depan pintu toilet sambil menunggu kedatangan Budi.


Setelah menunggu di dalam toilet selama 30 menit, Budi bersama 20 anak buahnya masuk ke dalam toilet. Lalu memanggil pria brewok tersebut, “Jontor, dimana kau!”


Pradita yang malah menyahuti panggilan Budi pada Jontor, "Ada di dalam, dan aku sudah menunggunya dari tadi, tapi dia tidak keluar-keluar. Lebih baik kamu ikut menemui seseorang!"


"Siapa kau berani-berani memerintahku, hah?” bentak Budi dengan raut merah padam.


20 anak buahnya yang berwajah sangat juga sudah mengepung Pradita. Cukup dengan gerakan jari Budi, maka Pradit siap diserangnya oleh mereka.


“Aku memintamu baik-baik. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, dan dia adalah teman baikku. Aku mencarimu untuk memenuhi janjiku padanya untuk membawamu ke hadapannya. Kamu juga tidak perlu tahu siapa aku,” terang Pradita dengan senyuman tipis.


“Kalau dia ingin menemuiku ya tinggal temui saja. Kenapa aku harus datang menghadapnya? Mana mungkin air laut menemui gayung, paham!” balas Budi dengan berapi-api.


"Baiklah, kau yang memaksaku untuk melakukannya."


Pradita melipat kemeja putih sampai ke lengan atas, lalu memulai melayangkan tendangan satu persatu ke arah anak buah Budi.

__ADS_1


Alhasil semua anak buah Budi dibuat tak berdaya, karena tendangan kaki Pradita yang begitu kuat, dan cepat. Tubuh mereka semua menabrak dinding hanya dalam tiga hembusan nafas.


Melihat anak buahnya tumbang di dalam ruangan toilet pria, Budi berlari keluar untuk kabur. Namun Pradita juga mengejarnya dengan berlari cepat, lalu melompat sambil melayangkan tendangan yang tepat mengenai punggung Budi.


"Aaaakh!" pekik Budi dengan muka tersungkur di permukaan beton.


Anak buahnya yang berada di dalam terminal langsung menolong Budi, lalu menyerang Pradita dengan brutal. Jual-beli pukulan pun tak terelakan antara Pradita dengan 50 anak buah Budi yang membawa senjata tajam.


"Kalian yang memaksaku melakukannya." Pradita mengeluarkan katana tumpul, dan hilang dari pandangan semua orang, "Teknik naga dhanindra! teknik Naga besukih!”


Secepat kilat Pradita menebas secara acak, baik tebasan vertikal, horizontal, maupun diagonal ke tubuh anak buah Budi satu persatu.


Hanya dalam tiga nafas semua anak buah Budi yang berjumlah 50 orang tersebut meringkuk di permukaan beton memegangi bagian tubuhnya yang sangat sakit.


“Ampun! Ampuni kami!”


Suara-suara erangan kesakitan menggema di wilayah terminal. Semua orang yang lalu lalang di wilayah terminal pun dibuat ketakutan, karena melihat banyak anak buah Budi terkapar.


“S-siapa pemuda ini?” kata Budi dengan tubuh gemetar, dan mata melebar.


Belum pernah Budi merasakan ketakutan seperti ini. Selama karirnya sebagai preman, Budi sudah menemui banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Namun setelah melihat kemampuan Pradita, kesombongannya sebagai raja preman di wilayah Bekasi langsung runtuh.


“Bagaimana? Apakah kau masih mau melayaniku?” tantang Pradita yang tiba-tiba muncul di belakang Budi.


“Ti-tidak, a-aku akan ikut denganmu, B-bos!” jawab Budi dengan bibir bergetar.


Budi pun mengajak Pradita masuk ke mobil Lancer Evolution miliknya yang sering digunakan balap jalanan di wilayah Cikarang Selatan.


Sepanjang jalan terus mengobrol santai dengan Budi, walaupun raja preman bekasi sangat takut setiap menjawab pertanyaan Pradita.


Sesampainya di halaman parkir pabrik D3, Budi heran karena dirinya malah dibawa ke sebuah pabrik yang baru saja beroperasi, dan pabrik tersebut pernah dijadikan target oleh Budi untuk dihancurkan atas suruhan Komandan Selena.


Akan tetapi Budi memutuskan untuk tidak menerima penawaran Komandan Selena untuk menghancurkan pabrik D3 tersebut.


“Fyuh, untung saja tidak terjadi. Kalau saja waktu itu aku menerimanya, habis sudah kekuasaanku di Bekasi,” batin Budi sambil menyeka keringat dingin di dahinya.


Pradita membawa Budi ke ruangan Master Chou yang sedang menuliskan beberapa formulasi pil kesehatan, pil kecantikan, dan masker kecantikan yang memiliki kualitas dibawah cairan serum dewa-dewi.


Pradita berencana menjual semua produk dari perusahaan D3 tersebut dengan target pasar dari kalangan bawah sampai kalangan atas. tentu saja dengan efek, dan harga yang bervariasi.


Pradita langsung masuk saja ke ruangan master Chow bersama Budi, "Mohon maaf, Master Chow. Aku mengganggu waktu anda. Aku ada hadiah untukmu!"


Master Chow yang sedang fokus memuat formulasi pil kesehatan, dan pil kecantikan kaget. lalu langsung membalikan badan, "Tidak, Tuan Muda. Aku hanya sedang main-main saja."


"Budi, katakan siapa aslimu!" seru Pradita sambil mendorong tubuh pria bermata sipit tersebut ke arah Master Chow.


"Namaku-namaku Stephen Chow. Itu kata ayahku, dan nama Indonesiaku Budi. Apakah Master Chou mengenalku?"

__ADS_1


"Cu-cucuku, hiks-hiks!" Master Chow langsung menangis tersedu-sedu setelah mengenali wajah cucu yang telah hilang sedari kecil, "Ka-kamu cucuku, Stephen Chow yang telah hilang saat berumur 3 atau 4 tahun, hiks-hiks …."


Budi pun merasa familiar dengan wajah Master Chow, ditambah lagi batinnya bergejolak dan mengatakan kalau pria tua berjenggot putih tersebut adalah kakeknya.


"Kakek!"


"Chow'er!"


Mereka berdua berpelukan setelah 17 tahun lebih terpisah. Pradita pun tak kuasa menahan air matanya, karena melihat dua orang yang terpisah jarak, dan waktu akhirnya bisa dipertemukan kembali.


Pradita pun keluar dari ruangan Master Chow, supaya tidak mengganggu nostalgia mereka berdua. Ia melangkahkan kakinya keluar dari wilayah pabrik D3, dan duduk di depan penjual kopi keliling.


“Mbak, kopinya satu!” pinta Pradita.


“Nggih, Mas. Tampaknya sangat lelah sekali ya Mas?” tanya ibu paruh baya penjual kopi dengan tersenyum licik.


Saat Pradita lengah, ia menyeduh kopi, dan memasukan pil tidur ke dalam kopi tersebut. Rupanya ibu paruh baya tersebut adalah Komandan Selena yang sedang menyamar menjadi penjual kopi keliling.


Komandan Selena memiliki keahlian penyamaran, dan peretas. Masalah mencari informasi, dan nyamar-menyamar itu adalah keahliannya.


Pradita pun menerima gelas plastik berisi kopi hitam, dan perlahan menyeruput kopi yang masih panas tersebut.


“Mantap ini Bu, kopinya!” puji Pradita.


"Terima kasih, Mas," balas Selena dengan senyuman lembut, dan melanjutkan, "Mas, kerja disini?"


"Ah, tidak. Aku hanya mengantar teman saja tadi. Kalau Ibu punya kerabat, bisa aku bantu supaya kerja disini, tenang gratis, hehehe …," tutur Pradita dengan terkekeh pelan.


Entah mengapa hati Selena terenyuh setelah melihat ketampanan, dan keramahan Pradita. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan setelah melihat Pradita lebih dekat.


Saking enaknya, Pradita terus menyeruput secangkir kopi tersebut, dan setelah kopi di gelas plastik itu habis, pandangan mata Pradita mulai buram.


Komandan Selena menghubungi anak buahnya yang membawa mobil Toyota Alphard untuk menjemputnya. Karena memang ditugaskan oleh Komandan Selena untuk berjaga tidak jauh darinya.


"Sekarang kau akan menjadi milikku, selamanya, hahaha …." kata Selena dengan tertawa jahat.


Pradita pun dimasukan ke dalam mobil Toyota Alphard, dan mereka membawa tubuh Pradita menuju Colombia menggunakan pesawat jet pribadi yang sudah menunggu Selena di bandara Soetta.


****


Keesokan paginya.


[Tongteng … Tongteng! Selamat, tuan mendapatkan uang Rp,2.000.000 dari mengupil sebanyak 100 kali]x2


Pradia membuka matanya setelah mendengar mekanis sistem. Kepalanya sangat pusing, dan ia mendapati tubuhnya sudah tak memakai sehelai benang, serta terantai di dinding menggunakan rantai-rantai besar yang membelenggu tubuhnya.


“Apa yang terjadi?” tandas Pradita dengan melebarkan mata.

__ADS_1


Rupanya ketika Pradita pingsan oleh pil tidur, Komandan Selena membabak belurkan tubuh Pradita berkali-kali.


"Oh, kamu sudah bangun," tutur Selena dengan tubuh tak memakai sehelai benang, hingga menampakan gunungan kembar berukuran C cup yang mencuat kencang.


__ADS_2