
Pukul, 19.00, Stasiun Arjawinangun.
Pradita dan Nikita keluar dari dalam wilayah stasiun. Ternyata ada orang-orang dari Panji serta geng Klowor yang terus mengawasi mereka berdua.
Salah satu anak buah Panji yang ditugaskan untuk membunuh Pradita berjalan cepat ke arahnya. Dia memakai masker hitam, kacamata, hitam, dan dn mengeluarkan pisau lipat kecil.
Pria itu menekan tombol pisau lipat untuk mengeluarkan bilah pisau sepanjang 15 cm. Pradita dan Nikita tidak menyadari keberadaan pria tersebut yang sedang berjalan cepat menyibak kerumunan penumpang yang baru keluar dari dalam wilayah stasiun.
Saat keduanya sedang menunggu taksi online, pria itu menusuk ke arah punggung kiri Nikita. Pradita tubuhnya tiba-tiba reflek dan langsung memeluk Nikita dari belakang, dan membuat punggungnya tertusuk pisau.
Cairan kental berwarna merah merembes deras di bagian punggung kemeja putih yang dipakai oleh Pradita.
Pradita meringis kesakitan dengan raut wajah meringis, dan petugas keamanan yang melihatnya langsung mengejar pria tersebut. Akan tetapi pria itu berlari sangat cepat, dan tak bisa dikejar oleh kedua penjaga keamanan tersebut.
“Dit, kenapa Dit?” tanya Nikita panik, karena melihat wajah Pradita meringis kesakitan dan seputih kertas dengan bulir-bulir keringat dingin menetes deras.
“Mbak, ayo kita bawa masnya ke rumah sakit. cepat Mbak!” celetuk salah seorang ibu-ibu penjual nasi uduk yang baru saja menjajakan dagangannya.
Tukang becak yang berada di dekat stasiun juga menghampiri Pradita dan Nikita. lalu membantu Pradita untuk didudukan di kursi becaknya, dan becak itu digenjot kuat-kuat, supaya Pradita tidak terlambat ditangani oleh Dokter.
“Pak, tidak usah ke rumah sakit! Nanti juga sembuh sendiri,” tolak Pradita dengan suara agak lirih, karena merasakan rasa sakit yang cukup luar biasa setelah tertusuk bilah pisau yang sudah dilumuri racun tersebut.
[Tongteng … Tongteng!]
[Memotong uang Rp,50.000.000 untuk menyembuhkan semua luka di tubuh host termasuk racun ular King Cobra dan racun King Erebus]
Cairan kental yang merembes di punggung kiri Pradita langsung berhenti, dan goresan luka bekas tusukan pisau tersebut langsung tertutup. Wajahnya yang seputih kertas juga sudah kembali segar seperti sedia kala.
“Terima kasih pak!” Pradita melompat dan menghentikan becak yang agak melaju kencang, dan membuat tukang becak bernama Sarkowi tersebut terkejut setengah mati.
__ADS_1
Sarkowi membelalakan matanya sambil menarik tuas rem, “O-orang sakti?!”
Nikita yang berlari dengan perasaan panik mengejar becak yang membawa Pradita pun ikut berhenti dan matanya membelalak seperti Sarkowi.
Sesaat kemudian mobil taksi online yang dipesan oleh Pradita berhenti di depan stasiun. Sang driver keluar dari mobilnya mencari keberadaan Pradita, dan Nikita yang sudah jauh dari depan stasiun hanya berjarak 25 meter dari mobil tersebut.
Ponsel Pradita berbunyi, dan ada pesan masuk dari sang driver yang sedang berkeliling mencari keberadaan Pradita.
“Pak, anterin kami berdua ke depan stasiun!” pinta Pradita pada Sarkowi dan langsung duduk di becaknya sambil menarik tangan Nikita.
Tubuh gadis bermata sipit dengan bentuk muka antara Korea dan Jepang tersebut langsung terduduk di pangkuan Pradita. Membuat Nikita tersipu malu, karena baru pertama kalinya dia duduk di pangkuan pria yang sangat dicintainya tersebut.
“Sorry, aku sengaja, hehehe ….” Pradita terkeke. Kemudian dia menoleh ke arah Sarkowi, “Jalan pak!’
Sarkowi mengayuh pedal becaknya menuju depan stasiun, tepatnya ke arah mobil Avanza abu-abu yang sudah menunggunya.
2 menit kemudian Pradita sampai di samping mobil Avanza berwarna abu-abu tersebut. Dari jauh anak buah Panji terus mengawasi Pradita, tapi dia terkejut setelah melihat Pradita yang sudah ditusuk oleh rekannya, ternyata masih sehat walafiat.
Pradita dan Nikita pun masuk ke dalam mobil taksi online yang menuju ke arah Desa Kedokan Agung dan mobil Iwan mengikutinya. Karena mereka juga diperintahkan untuk membunuh Pradita, kalau Setyo gagal membunuh Pradita, dan siapapun yang sedang bersamanya.
Saat di dalam mobil, Pradita diam sambil memikirkan pelaku yang telah menusuk punggungnya. Lalu bertanya pada Nikita secara terus terang, “Niki, apakah kamu punya musuh?”
“Tidak, Dit aku rasa,” jawab tegas Nikita, karena memang Nikita tidak punya musuh.
“Orang menusukku itu mengincarmu. Ada dugaan kuat tentang penyebab orang itu menusukku.
“Pertama dia itu memang orang yang disuruh oleh saingan bisnismu, atau dia sengaja mencelakai setiap orang yang ada didekatku, untuk mengaburkan fokusku dari mereka.”
“Saat aku lengah, dan terfokus pada orang yang berada di dekatku, maka mereka akan mudah menghabisiku,” jelas Pradita dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Lalu masalah dengan mertua Nessa belum selesai?' tanya Nikita.
"Belum. Aku sudah tidak percaya pada siapapun termasuk pihak yang katanya bisa memperjuangkan keadilan," jawab Pradita dngan menggertakan gigi.
Saat mereka berdua sedang berbicara serius, tiba-tiba sang sopir taksi online menginjak pedal rem dalam-dalam. Setelah mobil Iwan berhenti di depan menjegal mobil taksi online yang ditumpangi oleh Pradita dan Nikita.
"Aduh!" Dahi Pradita dan Nikita serentak terantuk kursi di depannya. "Ada apa pak?"
Iwan keluar dari dalam mobil bersama ketiga anak buahnya, membawa parang dan sudah memakai penutup kepala, supaya identitas mereka berempat tidak diketahui.
Keempat parang tersebut dihantamkan ke kaca jendela mobil hingga pecah. Pradita reflek menendang pintu mobil hingga terdorong kuat menimpa ketiga anak buah Iwan.
Pria berambut harajuku tersebut keluar dan berdiri gagah di depan pintu mobil yang sudah rusak.
Supir taksi online, dan Nikita meringkuk di tempat duduk masing-masing dengan tubuh gemetar, serta wajah seputih kertas.
Iwan geram melihat ketiga anak buahnya terkapar di permukaan tanah, dan salah satunya tertimpa pintu mobil. Dia langsung berlari cepat ke arah Pradita dan menyabetkan parang tersebut ke arah kepala Pradita secara bertubi-tubi.
“Mati kau!” geramnya.
Akan tetapi Pradita tidak semudah itu untuk dibunuh. Buktinya, setiap parang yang disabetkan oleh Iwan itu melesat ke arah kepalanya, bilah parang panjang itu hanya mengenai ruang kosong.
"Tidak semudah itu Ferguso! Terima ini! teknik Naga Taksaka!"
Sambil menghindari serangan sabetan parang yang bertubi-tubi, Pradita melakukan serangan balik dengan melakukan tusukan menggunakan kedua jari tangannya ke bagian lambung, usus dan ginjal Iwan.
Saat itu juga perut Iwan langsung melilit dan menjatuhkan parangnya. Dia sudah tak tahan lagi untuk buang air besar saat itu juga, dan pada akhirnya Iwan buang air besar di celana, karena sudah tak tertahankan lagi.
Pradita segera masuk ke dalam mobil taksi online dan menepuk pundak sang supir, “Pak, ayo cepat pergi!”
__ADS_1
Sang supir yang langsung tersadar langsung menabrak mobil Iwan yang menghalangi jalannya, hingga terguling dan masuk parit.