SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 43


__ADS_3

Sesampainya di rumah Nikita, Pradita tak enak hati melihat mobil sang driver taksi online rusak pintunya.


Kemudian Pradita menggandeng sang driver bernama Yono ke sebuah gang sempit untuk berbicara empat mata.


“Pak, aku akan mengganti mobil yang sudah aku rusak. Aku akan mengganti mobil bapak dengan mobil yang baru, ini kuncinya!”


Pradita berpura-pura merogoh sakunya, padahal dia mengambil kunci mobil Toyota Hilux dari inventaris sistem, dan diberikan pada Yono. Dia juga memberikan uang cash sebanyak 50 juta dari inventaris sistem pada sang Sopir.


“Mas, tidak perlu seperti ini. Kalaupun rusak kan hanya perlu diperbaiki, dan itu paling sekitar 20-30 juta,” tolak Yono dan memberikan kembali uang yang diberikan oleh Pradita.


“Sudah terima saja. Anggap saja karena Bapak menolong temanku, kalau tidak ada Bapak temanku Nikita bisa amsyong oleh para begal itu.” Pradita beralasan dan tetap kekeh terhadap keputusannya. “Bawa uang dan kuncinya, esok hari kesini lagi ya Pak. Kita ketemuan di pasar Kedokan Bunder, soalnya mobilnya berada disana. Tapi jangan bilang-bilang temanku.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Pradita meninggalkan sang Sopir dengan hati yang lega, karena sudah menuntaskan tanggung jawabnya pada Yono.


Nikita mondar-mandir di depan rumahnya menunggu Pradita, tapi dia menoleh ketika sang Bunda memanggilnya, “Niki, kamu sudah pulang? Kok, kamu tidak mengabari Bunda, kan bisa jemput kamu.”


“Tidak apa-apa Bunda. Aku pulang sama temanku, dan dia yang menjemputku dan membelikanku tiket naik kereta untuk pulang,” jawab Nikita dengan tertunduk. Baginya ketika berbicara dengan Bunda yang sangat ia cintai tersebut harus menunduk hormat.


“Siapa temanmu? Setahu ibu hanya Pradita temanmu itu,” kata Yurike agak sinis, karena menganggap pemuda seperti Pradita tidak punya masa depan yang baik dan cerah.


“I-iya, Bun. Tapi aku minta izin untuk mas Pradita tinggal disini ya Bun. Kasihan mas Pradita sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tuanya telah tewas dibunuh,” balas Nikita dan membuat hati Yurike terenyuh.


Tiba-tiba Pradita datang membawa 3 bungkus nasi goreng, dan langsung tersenyum ramah ke arah Yurike.


“Maaf, Ibu. Kalau aku ganggu waktu Nikita,” tuturnya lembut sambil mencium punggung tangan kanan Yurike, dan membuat hatinya semakin terenyuh, serta merasa bersalah. Karena selalu punya perasaan sinis dn merendahkan ke Pradita.

__ADS_1


Yurike mengelus lembut rambut Pradita, “Terima kasih banyak, Nak Pradita sudah capek-capek jemput Nikita di bandara. Kamu tinggal saja disini sepuas hati kamu, dan kamu juga bisa kerja di kantor Ibu kalau kamu mau.”


“Oh, benarkah Ibu?” Pradita sumringah mendengar hal tersebut. Rencananya untuk menghancurkan Panji secara elegan ternyata memiliki jalan yang mulus, yakni akan menggunakan perusahaan milik Yurike yang bergerak di bidang Logistik.


"Ya, sudah-sudah, ayo masuk!" ajak Yurike.


Rumah Yurike terkesan sangat sederhana, walaupun dia memiliki perusahaan Logistik yang cukup terkemuka di Cirebon. Karena Yurike juga Nikita tidak suka bermegah-megahan dalam hal rumah, dan hal lainnya mengenai apa yang mereka gunakan, serta apa yang mereka miliki.


Mereka bertiga makan nasi goreng yang dibelikan oleh Pradita sambil bercengkrama satu sama lain membicarakan hal apapun.


Setelah selesai makan, Pradita diajak ke belakang rumah Nikita yang berdampingan dengan kamarnya untuk mengobrol santai sambil menyeruput secangkir teh hangat.


"Aku kira Mas Pradita sudah menikah dengan Nessa," kata Nikita tersenyum tipis. Padahal dirinya yang sangat mengharapkan bisa memiliki Pradita seutuhnya melihat ikatan pernikahan.


"Kalau aku menikah dengan Nessa, memangnya kamu akan datang?" sindir Pradita tersenyum lebar.


"Kenapa sih mas suka sekali dari dulu melakukan ini padaku? Mas tidak pernah tahu kalau Mas melakukan seperti ini terus membuat hatiku meleleh dan berharap aku bisa memiliki mas Pradita," kata Nikita dengan mata berkaca-kaca.


Pradita mencubit pelan hidung Nikita, "Entah, aku suka saja melakukan ini pada Nikita sejak kecil, dan rumahku masih berada di samping rumah Nikita. Apakah aku sudah tak boleh lagi melakukannya?"


"Bukan begitu. Mas tahu kalau aku menyukai mas Pradita sedari kecil —-"


Pradita menaruh telunjuknya di bibir Nikita untuk memotong perkataannya, "Apakah cinta hanya bisa dilontarkan dengan mulut dan kata-kata indah? Lalu aku menjemputmu dan jauh-jauh mengantarkanmu pulang ke Indramayu itu untuk apa?"


[Tonteng … Tongteng! Selamat, host telah mendapatkan skill Raja Gombal level maksimal. Skill ini hanya akan bekerja pada seorang wanita]

__ADS_1


Tiba-tiba Nikita matanya terpejam karena terharu dengan perkataan Pradita akan tindakannya yang rela menjemput dan mengantarkan Nikita pulang ke Indramayu.


Menurut Nikita tindakan Pradita sangat romantis, dan menunjukan kalau pria berambut harajuku tersebut juga menyukai, serta sangat peduli terhadapnya.


Nikita mencium bibir Pradita dan kedua bibir tersebut saling bergerilya satu sama lain dengan hasrat yang menggebu-gebu.


“Aku merasakan kenikmatan setiap kali mencium bibir wanita, dan setiap bibir wanita mempunyai rasa-rasa yang khusus yang hanya dimiliki setiap individu,” batin Pradita.


Dalam adegan ciuman tersebut, Pradita yang sedang memangku tubuh Nikita langsung menggendong tubuh mungil gadis bermanik mata biru tersebut , dan membawanya ke dalam kamar Nikita melalui jendela yang sudah terbuka lebar.


Otak mereka sudah dipenuhi hormon feromon yang membuat mereka sangat berhasrat ingin bercinta. Untung saja Yurike, dan beberapa pembantunya sudah tertidur. Jadi mereka berdua bisa leluasa memadu kasih.


"Uuugh!" Nikita melenguh nikmat saat Pradita mencium kedua jempol kakinya bergantian, dan merasakan kenikmatan yang hakiki yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Mas, ka-kalau kamu ingin lakukan sa-saja, uugh …."


Pradita yang mau melepas kancingnya langsung tersadar dan terduduk lemas di depan Nikita yang sudah terkapar di kasurnya dalam keadaan roknya sudah terangkat ke pinggang.


"Astaga!" Pradita langsung banngkit berdiri dan menutupi bagian vital Nikita dengan menurunkan roknya. Kemudian berlutut di depannya, "Maafkan aku. Sungguh aku tak sengaja, aku tidak ada niat untuk melukai kehormatanmu."


Nikita bangkit duduk dan menangis terharu. Dia tak menyangka Pradita tidak memanfaatkan dirinya yang sudah rela kalau Pradita merenggut kesuciannya. Dengan segera dia memeluk Pradita dengan rasa cinta yang bertambah besar.


"Seharusnya aku yang meminta maaf, Mas Dit. Aku yang telah lepas kontrol dengan mencium bibirmu, hiks-hiks …."


"Sudah, jangan menangis lagi! Tidurlah! Aku akan tidur di kamarku," kata Pradita lalu melepaskan pelukan erat Nikita, dan mencium keningnya.


Kemudian dia membatin, "Entah berapa kali aku ingin melakukannya dengan wanita. Saat itu juga aku tak ingin melakukannya, karena tidak ingin merusak masa depan seorang wanita yang sangat tulus mencintaiku sebelum terikat dalam janji pernikahan."

__ADS_1


Pradita keluar melompat dari jendela. Kemudian duduk kursi sambil mendongakkan kepala menghadap bulan purnama, dan mengupil dengan raut muka penuh penyesalan.


__ADS_2