
6 hari kemudian, setelah pemakaman.
[Tonteng … Tongteng! Mohon maaf, host tidak mendapatkan uang dari mengupil, karena sudah 5 hari host tidak mengupil]
Pradita selama 7 hari setelah pemakaman Helly, Reina, dan Nikita. Hidupnya sangat hampa, dan merasa bersalah. Selama enam hari itu pula Pradita tidak tidur, tidak makan, dan tidak minum hanya melamun di atas rooftop.
“Mas, makan Mas! Ya, makan!” seru Nabila sambil menyodorkan sendok berisikan nasi padang.
Sudah enam hari Nabila, dan Nira membbujuk Pradita untuk makan. Namun Pradita teta mengunci mulutnya untuk tidak makan.
Zevalia yang sudah sembuh oleh teknik Naga kurusetra keluar dari lift. Dengan raut muka nyalang melemparkan sebuah flashdisk ke arah Pradita.
“Pengecut! Apa kau hanya bisa diam saja melihat mayat ketiga istrimu mati? Apakah kau tidak ingin balas dendam? Apakah dengan melamun, dan merenung bisa mengembalikan mereka, hah?” bentak Zevalia kesal.
“Yunda! Apa yang kamu lakukan? Mas Pradita itu sedang bersedih —”
“Tidak apa-apa. Zevalia benar,” putus Pradita yang sudah menangkap flashdisk yang dilemparkan oleh Zevalia. “Sayang, tolong nasinya!”
Nira yang sedang mengurusi seluruh operasional Union group dibantu oleh duo kembar yang sudah sembuh melalui laptop. Memberikan laptop tersebut kepada Pradit, untuk digunakannya mencari informasi siapa dalang penyerang ketiga istrinya.
Pradita mulai mengotak-atik laptop tersebut, dan mendapati sebuah informasi yang dikirim oleh intel Zevalia. Bahwa penyerangan tersebut didalangi oleh Komandan Selena, salh satu komandan Sevenfall yang terkenal lebih licik dari Komandan Aramain.
Yang membuat Pradita kesusahan mencari keberadaan ataupun wajah Selena. Karena Komandan Selena wajahnya tidak ada yang tahu, ia selalu memberi perintah melalui drone-drone yang disebar dengan jaringan sinyal khusus kepada anak buahhnya.
“Sayang, kenapa dia wajahnya tidak ada?” tanya Pradita bingung kepada Zevalia.
“Dia adalah seorang hacker yang mempunyai satelit pribadi, dan merupakan Komandan yang tidak diketahui wajahnya. Namun ada satu cara yang membuatnya tertarik, yakni seseorang yang bisa membuatnya terkesan.”
__ADS_1
“Sekarang Mas Pradita adalah orang yang membuat Komandan Selena itu terkesan. Makanya Mas Pradita, dan yang berhubungan dengan Mas Pradita dijadikan target olehnya,” jawab Zevalia.
Pradita mengelus dagunya untuk memikirkan strategi untuk memancing keberadaan Komandan Selena.
Ia menemukan sebuah cara untuk memancingnya, dan bergumam, “Jika aku adalah objeknya. Maka aku hanya perlu berdiam diri mencari komunikasi yang bisa menghubungkan ke subjek.”
Nabila menyuapi nasi padang ke mulut Pradita sampai habis. Setelah itu tanpa berkat apapun pada istri-istrinya, Pradita pergi dari rumah menuju cadas pangeran yang berada di Sumedang menaiki motornya, untuk menemui seseorang.
****
4 jam kemudian.
Pradita tiba di depan sebuah bengkel motor yang cukup ramai, dan keadannya banyak pembalap motor yang sedang memperbaiki motor pacuannya.
“Bos, tolong cek motorku!” pinta Pradita dengan senyuman ramah.
Para pembalap, dan mekanik-mekanik yang sedang duduk santai sambil ngopi-ngopi langsung menoleh semua ke arah Pradita yang membawa motor Kawasaki H2 Carbon.
Salah satu pembalap jalanan bernama Rony bangkit berdiri, dan mencengkram kerah baju Pradita dengan tatapan nyaylang, dan raut muka merah padam. Lalu membentak Pradita, “Cih, jangan sombong! kau disini hanya ingin pamer kan? Kalau kau itu anak orang kaya, hah?”
Pembalap-pembalap yang lain juga lngsung berdiri, dan mengepung Pradita dengan menggertaan gigi.
Pradita menghela nafas panjang, dan berkata lembut, “Santai, bro. Aku hanya ingin minta para mekanik di bengkel ini untuk mengecek motorku. Aku dengar mekanik disini sangat hebat, bahkan lebih hebat dari mekanik yang aku punya.”
“Ah, kau ini hanya pamer motormu yang seharga ratusan juta rupiah, tapi sayang larinya seperti semut, hahaha …,” ejek Rony sambil mencebikan bibir.
Semua pembalap jalanan yang suka balapan di jalur Cadas Pangeran tersebut serentak menertawakan Pradita. Namun Pradita tetap santai, dan tidak emosi menanggapi ejekan mereka.
__ADS_1
Mata Pradita melirik seseorang yang menurutnya mencurigakan. Karena sedari tadi terus menatap ke atas, dan setelah dilirk tajam oleh Pradita, di atas bangunan bengkel tersebut ada sebuah drone yang terus mengawasinya.
“Hmm, umpan sudah termakan. Rupanya ada banyak antek-antek dari Komandan Selena yang mengawasiku,” gumam Pradita dengan senyuman licik.
Kemudian dia melanjutkan menantang semua pembalap, “Kita taruhan saja. Aku akan gunakan salah satu motor dari kalian. Kalau aku kalah, motorku itu sebagai taruhannya. Kalau aku menang nanti saja aku bicarakan apa mauku.”
"Oke, jangan menyesal kalau kau kalah, hahaha …," ejek Rony sambil tertawa sinis, dan mengacungkan jempolnya ke bawah.
Pradita pun diperbolehkan memilih salah satu motor yang sudah dimodifikasi milik bengkel tersebut. Piihannya jatuh pada motor kawasaki KLX yang sudah di tingkatkan performa mesinnya.
Balapan motor pun dimulai, dan diikuti sepuluh pembalap termasuk Pradita, Rony, dan anak buah Komandan Selena yang sedari tadi mengawasi Pradita.
Kesepuluh pembalap akan melakukan balapan tipe sprint dengan garis finish adalah gapura perbatasan antara kabupaten Bandung, dan kabupaten Sumedang.
Karena jarak nya terlalu jauh. Maka dari itu para mekanik mengisi semua bahan bakar motor yang para pembalap gunakan dengan bahan bakar yang sudah terisi penuh.
Kedelapa pembalap termasuk Rony menarik pegangan gas motornya berkali-kali, untuk memprovokasi lawan-lawannya. Sedangkan Pradita, dan sosok pria dari anak buah Selena yang membawa kamera di dadanya tetap santai.
"Bersiaplah kalah! Anak kay cengeng! Hahaha …," ejek Rony yang memang mengincar Pradita sedari tadi.
Wanita berbaju hampir kurang bahan tersebut mengacungkan tangannya yang membawa sapu tangan merah. Lalu menghitung mundur, dan setelah hitungan mundur berakhir, ia melemparkan sapu tangan merah tersebut.
Semua pembalap termasuk Pradita menarik pegangan gas mereka dalam-dalam. Namun baru sampai di tikungan menurun pertama, tiga pembalap bersenggolan, dan jatuh masuk ke dalam parit.
Pradita tetap di belakang anak buah Komandan Selena, dan berada di urutan paling belakang. Ia melakukan hal tersebut merupakan bagian dari strategi, karena Red Queen sudah mengirimkan peta jalur cadas pangeran ke dalam otaknya yang memiliki jalur berkelok-kelok, dan menurun tajam.
Motor Pradita terus mendekati motor yang dikendarai oleh anak buah komandan Selena yang bernama Aditia. Mereka dikejutkan salah satu pembalap yang terselip ban depannya, dan hampir saja dilindas oleh Aditia, juga Pradita.
__ADS_1
"Fyuh, hampir saja. Untung saja aku di urutan belakang. Aku akan menggunakan medan sekitar unntuk menjtuhkan merea satu persatu, dan aku bis amenang dengan mudah, hehehe …," gumam Pradita dengan tersenyum licik.
Baru saja mengataka hal tersebut, dua pembaap yang berada di depan Aditia tidak bisa mengendalikan motornya, dan menabrak dinding pembatas jalur cadas pangeran. Kedua motor itu berputar seperti gasing di udara, dan mengarah ke arah Pradita.