SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 68


__ADS_3

Pradita mulai berpikir, dan mulai merenungi nasib yang ia terima juga telah di jalaninya saat ini. Apa yang dikatakan oleh Choki itu benar adanya, dan saat Pradita bangkit dari tempat tidurnya, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil Prisilia.


Ia pun bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyambut Prisilia. Dari sekian teman gadis Pradita, hanya Prisilia satu-satunya teman gadis yang tak ingin melihat wajah pradita sedang sedih atau murung.


Pradita mencoba tersenyum walaupun dengan senyuman kecut untuk menyambut gadis bermanik mata biru tersebut, “Eh, Sil! Kamu sudah sampai? Masuk-masuk!” ajaknya.


Akan tetapi bagaimanapun Pradita menyembunyikan kesedihannya, Prisilia yang memiliki kedekatan batin yang sangat dekat dengan Pradita mengetahuinya.


Sontak Prisilia yang baru saja keluar dari mobilnya langsung memeluk Pradita, “Sudah, tak usah kamu sembunyikan apapun dariku. Aku merasakannya!”


Kejadian tersebut dilihat oleh para karyawan yang bekerja di rumah pradita baik laki-laki maupun perempuan.


“Aish, melihat si Bos bikin aku pusing.”


“Pusing kenapa? Sebenarnya aku juga pusing sih!”


“Tentu saja pusing. Satu gadis cantik pergi, datang lagi gadis cantik lain. Susah punya wajah super tampan dan banyak uang, ada saja jalannya untuk tidak menjadi Zombie —”


“Zomblo goblok!”


“... ….”


Para karyawannya pun malah bergosip ria, dan Pradita membiarkannya, karena sudah sering terjadi semenjak mereka bekerja di rumah Pradita.


“Hehehehe ….” Pradita terkekeh pelan dengan mata menggenang, dan melanjutkan, “Aku memang tidak bisa berbohong padamu, hehehe ….”

__ADS_1


“Tentu, aku memang tidak pernah bisa mendapatkan perhatianmu, Dit! Tapi aku sangat mengerti hatimu, dan pikiranmu,” batin Prisilia dengan raut muka sendu.


Mereka berdua pun masuk, dan pradita mempersilahkan Prisilia duduk. Lalu ia pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua untuk membersihkan diri. Sedangkan Prisilia ditemani Yumna, salah satu pembantu yang masih berumur 17 tahun.


Padahal Yumna sudah dibiayai Pradita untuk sekolah, tapi gadis lulusan SMK di umur yang masih muda tersebut tidak mau. Malah Yumna ingin bekerja di rumah Pradita dan diberi wewenang untuk mengurusi rumah Pradita, bahkan diperbolehkan untuk menggunakan apapun di rumah Pradita.


Pradita turun dari tangga, dan mengenakan kaos biru dengan bawahan celana training berwarna biru juga. Kemudian duduk di samping Prisilia, dan mendengarkan semua keluhannya secara seksama.


Ternyata Sasongko berencana membeli perusahaan Panji untuk menyelamatkan pria pembunuh kedua orang tua Pradita tersebut dari jurang kebangkrutan. Karena sudah tak bisa mengembalikan pendanaan uang yang telah diberikan oleh Bank BJB.


“Biarkan saja Sasongko membeli perusahaan si Tolol itu. Aku akan buat dia menderita sama seperti Panji tolol itu, dan aku bisa mengakuisisi semua perusahaan yang dia rebut menjadi milikku. Lalu akan kembalikan semua perusahaan yang ia rebut padamu lagi —”


“Tapi bukankah akan menghabiskan banyak uangmu, Dit! Kamu sudah membakar uang yang sangat banyak di PT.MMK. Ya, walaupun kamu mendapatkan untung yang sangat berlimpah sekarang,” potong Prisilia yang tidak setuju tindakan yang akan diambil oleh Pradita kepada Sasongko.


Entah mengapa Prisilia melihat sosok yang lain dari dalam diri Pradita. Sebuah sosok yang sangat asing baginya, dan sangat misterius bagi gadis tersebut.


“Kenapa kamu melihatku? Mau menciumku?” tanya Pradita heran dengan Prisilia yang terus menatapnya dengan tatapan heran. “Kalau kamu mau cium saja! Tubuhku ini bisa dimiliki oleh semua wanita kok, tapi hatiku sudah mati bersama seseorang yang sudah terjun ke alam baka.”


Prisilia tersentak kaget, karena pagi tadi ia baru saja melayat ke rumah Riko, untuk menghadiri pemakaman Nesa. Ia juga mendengar desas-desus kalau Pradita yang telah membunuhnya, tapi Prisilia tidak mempercayainya, dan itu sangat mustahil baginya, kalau Pradita membunuh Nesa.


Nyatanya itu benar adanya, meskipun cara membunuhnya sangat halus dan lembut, cukup dengan membuat mamah muda mandul itu terkena mentalnya.


Tanpa basa-basi Prisilia yang tak mau melewatkan kesempatan tersebut mencium bibir Pradita. Semakin lama pergulatan dua lembar tebal nan lembut itu semakin ganas di ruang tamu, dan tak malu-malu disaksikan para karyawannya yang mengintip, mereka berdua bertarung dengan sangat ganas.


Namun Pradita melakukan hal tersebut dengan perasaan yang sangat dingin. Saking dinginnya, kedua bibirnya tidak merasakan kehangatan sentuhan bibir Prisilia.

__ADS_1


Pada akhirnya hanya Prisilia yang menikmati sentuhan aduan bibir tersebut, dan menyisakan air liur yang berceceran di sekitar bibirnya, serta dada yang kembang kempis seperti hampir kehabisan nafas.


Pradita mendapat pesan dari Gondes, bahwa mereka telah berhasil menculik Panji, dan Riko, serta membawa mereka berdua ke pabrik kosong yang pernah dijadikan Pradita membantai Eugene beserta semua anak buahnya.


“Sudah, hari ini tak perlu ke kantor. Beristirahatlah! Perusahaanmu itu ada kamu atau tidak ada kamu, tetap akan berjalan autopilot selama perusahaanmu itu berada di bawah kendal Union Group!i” seru Pradita dengan memakai jaket hitam, dan helm KYT berwarna hitam yang dibawakan oleh Yumna.


Kemudian ia melangkahkan kakinya sambil menjentikan jari ke arah salah satu karyawannya untuk membukakan garasi.


Sang karyawan bernama Modi ini mengeluarkan salah satu motor sport yang memiliki dapur pacu yang besar, yakni 600 cc. Motor yang ia keluarkan adalah motor Aprilia S660 berwarna kuning metalik, dan diparkirkan di depan Pradita.


Stang motor mengeluarkan seberkas cahaya untuk memindai wajah Pradita. Sebab motor tersebut hanya bisa dinyalakan oleh Pradita menggunakan teknik pemindaian wajah.


Pradita pun keluar dengan menarik-narik pegangan gas motornya, hingga suara knalpotnya begitu bising. Sampai-sampai ayam tetangga yang baru saja menetas mati, dan ayam yang sedang memadu kasih pun lari tunggang langgang.


Motornya dilajukan sangat cepat menuju daerah Sindang Laut, dimana pabrik bekas pembantaian itu berada.


Pradita sampai di dalam wilayah pabrik kosong, dan masih tercium bau busuk darah para mayat-mayat anak buah Eugene.


Gondes dan anak buahnya sudah mengikat Panji, dan Riko di salah satu tiang di dalam pabrik kosong.


Pradita turun dari motornya, dan melambaikan tangan untuk memberi perintah agar semua anak buah Gondes, dan pria yang memiliki kambang seperti Rhoma irama tersebut meninggalkan Pradita, Riko, dan Panji disana.


Setelah Gondes, dan anak buahnya tak terlihat lagi oleh Pradita. Ia mengeluarkan sebuah katana dari inventaris sistem, dan menyeret bilah pedang tersebut di permukaan tanah dengan tersenyum menyeringai.


Suara gesekan pedang itu sangat keras, dan membuat Riko serta Panji ketakutan. Mereka berdua berteriak-teriak dengan tubuh bergejolak, tetapi teriakannya tidak dapat didengar siapapun, karena mulut mereka berdua disumpal sapu tangan, dan dilakban.

__ADS_1


__ADS_2