
Kakek Astra menangkap sesuatu yang membuatnya menarik dari paparan mata, serta wajah Pradita yang penuh ambisius. Sifat yang ingin mendominasi, tetapi ada kelembutan di dalamnya.
“Pemuda seperti ini langka. Seperti energi negatif dan energi positif yang tidak bertentangan, tetapi sangat menyatu. Pradita kamu orang yang sangat menarik,” batin Kakek Astra tersenyum simpul.
Mereka pun mulai mengambil hidangan yang sudah disiapkan oleh sang tuan rumah. Makan malamnya penuh dengan senyum dan juga canda. Kakek Astra merasakan kehangatan di dalam rumahnya, dan sebuah kehangatan yang selama ini dirindukannya.
Setelah makan dengan lahap, Pradita melangkahkan kakinya ke belakang mansion. Matanya menatap tajam langit yang sudah gelap tanpa ada bintang, lalu pandangan itu melunak setelah kedatangan Nabila yang tidak pernah mau jauh dari Pradita.
“Mas, setelah ini kamu mau pulang kemana?” tanya Nabila tertunduk malu.
“Duduklah!” Pradita menunjuk ke arah pangkuannya, dan Nabila pun duduk di pangkuan Pradita.
“Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu. Semoga saja kamu suka. Pejamkan matamu!”
Hati Pradita mulai melunak dan mencoba membuka perasaannya untuk wanita lain. Harapan cintanya pada Nesa sudah kandas, dan sudah berpikir ulang tentang dirinya yang banyak disukai wanita.
Maka dari itu Pradita mencoba melonggarkan hatinya untuk mau menerima setiap perasaan wanita yang datang padanya. Nabila memejamkan mata, dan Pradita mengeluarkan satu persatu 10.000 Comanche Drone, juga Helm Empress.
...[Sistem pengendalian Comanche Drone menggunakan helm Empress secara wireless diaktifkan]...
Drone-drone berwarna putih dengan empat sayap itu terbang ke langit di ketinggian 100 meter dan menyalakan lampu yang terus bergonta-ganti sesuai arahan dari pikiran Pradita.
“Lihatlah! Buka matamu!” seru Pradita dan Nabila membuka matanya.
Drone-drone dengan lampu berwarna kuning tersebut membentuk hati dan di atasnya bertuliskan huruf ‘I’, serta di bawah bentuk hati tersebut bertuliskan ‘NABILA’.
Gadis berambut perak tersebut sangat terharu, hatinya meleleh, dan langsung memeluk Pradita. Padahal Pradita melakukan ini hanya ingin menguji dron-drone tersebut apakah bisa dikendalikan semuanya hanya dengan helm Empress.
__ADS_1
Lama sekali Nabila memeluk Pradita dengan menempelkan pipi kirinya ke pipi kanan Pradita.
“Kamu romantis banget sih, Mas. Apakah aku harus pensiun dari dunia entertainment, dan aku fokus pada Mas saja,” kata Nabila yang tidak mau lepas memeluk Pradita.
"Jangan! Walaupun kamu sudah punya uang banyak, lebih baik tetap berkarir. Akan tetapi hanya ambil jadi bintang tamu, model dan bintang iklan saja. Kenapa tidak buat saja podcast di youtube kaya om botak
itu?" tolak Pradita.
Drone-drone tersebut tiba-tiba menghilang setelah selesai membuat hati Nabila meleleh. Drone-drone tersebut masuk ke dalam inventaris sistem secara jarak jauh, dan Pradita juga menyimpan kembali Helm Empress ke dalam inventaris sistem cukup dengan menjentikan jari.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Memotong uang 1 milyar untuk meningkatkan sistem penyimpanan secara jarak jauh pada inventaris sistem. Radius penyimpanan dan pemindahan objek ditingkatkan sampai 15 km]...
"Baiklah, Mas. Aku nurut sama kamu, aku akan membuat manajemen sendiri dengan uang yang telah kamu berikan dari transaksi aset ruko Da Costa di Pakulonan," balas Nabila.
Kemudian mereka berdua berciuman bibir sangat lama dan begitu mesra. Pradita merasakan getar-getar cinta di dalam hatinya, sepertinya perasaan cinta Nabila telah tersampaikan melalui ciuman bibir tersebut.
“Tuan bukan saja tampan, tetapi juga sangat romantis pada wanita. Andaikan saja Nona Nabila itu aku,” pikir Nathalia dan Nathania serentak.
"Kentut beranak! Kenapa Mas Pradita harus menyukai Nabila si cewek tua itu sih? Aku juga kan nggak kalah cantik juga seksi. Malah punyaku lebih besar, hmph!" batin Nira kesal dengan mendengus kasar.
......................
...Satu jam kemudian....
Pradita kini sudah berada di depan gedung BSD Grup di daerah Rawa Buntu untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir di halaman parkir gedung BSD City. Saat dirinya mau melangkahkan masuk ke dalam kursi kemudi, ponselnya berbunyi.
__ADS_1
Willy melaporkan jika ada lima puluh anggota geng Zero Crime di distrik Timur telah berkhianat. Mereka bergabung dengan Geng Helucin yang memiliki wilayah perbatasan tepat di dekat proyek apartemen Liudou.
Otomatis Pradita langsung geram dan melajukan mobilnya ke arah wilayah Summarecon untuk menghajar anak buahnya yang berkhianat. Maka dari itu Pradita melajukan mobilnya sangat kencang di jalanan kota Tangsel yang mulai sepi dan gelap untuk mencari anak buahnya itu.
“Anak buah sampah! Berani mereka mengkhianatiku. Padahal yang lain sudah aku babak belurkan, tetapi masih saja mereka berani berkhianat,” geram Pradita sambil memukul stir mobil.
Sebenarnya lima puluh anggota geng Zero Crime yang berkhianat tersebut aslinya memang anggota Geng Helucin yang sengaja masuk, dan disusupkan ke dalam wilayah anggota Geng Zero Crime. Untuk memecah belah, dan menghancurkan anggota Geng Zero Crime dari dalam.
Willy saja yang masih amatir sebagai seorang ketua geng tidak mampu mendeteksi mana yang benar-benar setia, dan mana yang mata-mata.
Pradita terus memutari jalan dari wilayah BSD, Alam Sutera, sampai Summarecon.
Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan lima puluh anggota geng yang berkhianat. Karena menurut informasi mereka biasanya nongkrong di depan Gereja Basilea.
Pradita melirik ke kiri dan ke kanan mencari satu saja anggota geng Zero Crime sampai di depan Q-Big Mall. Merasa lelah dan kesal, Pradita memarkirkan mobil Lotus Eclipse di bahu jalan seberang Q-Big Mall. Kemudian dia keluar dan duduk di tikar yang dipasang oleh penjual kopi keliling.
"Mas, Mas Pradita!" panggil tukang kopi yang bernama Warjan.
"Eh, Pak Warjan. Belum pulang, Pak?" sahut Pradita.
"Aku sampai pangling loh sama Mas Pradita yang pakai mobil. Mau minum apa, kopi? Teh? Atau coklat hangat?" tawar Warjan.
Lalu Warjan pun melanjutkan ucapannya, "Belum, Mas. Biasa himpitan ekonomi, hehehe …."
Melihat Warjan Pradita jadi punya ide untuk membuat sebuah usaha dengan konsep gerobak motor, dan yang dijual seperti pada umumnya tukang kopi keliling. Dia akan menerapkan sistem bagi hasil pada orang-orang yang mau mengoperasikan gerobak motor tersebut.
“Ya, sudah. Aku minta coklat hangat saja ya, Pak. Kalau ada seperti biasa 3 sachet Chocolatos dalam gelas besar, hehehe …,” balas Pradita sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
Pikiran Pradita lebih condong untuk mensejahterakan masyarakat bawah. Itu disebabkan karena selama satu bulan kemarin, Pradita banyak bercengkrama dengan masyarakat bawah yang sangat susah dalam mengembangkan usaha, pembiayaan modal, ataupun ide-ide usaha.
Kebanyakan dari mereka pun jika berdagang atau memulai usaha karena ikut-ikutan yang sedang tren, tanpa mau memikirkan ide yang diluar kotak atau melawan arus.