SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 52


__ADS_3

Keesokan paginya, Hotel Kuta Bali.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Mohon maaf host tidak mendapatkan uang dari mengupil. Meskipun telah mengupil sebanyak 2000 kali. Disebabkan jumlah berat yang host keluarkan tidak mencapai target 15 kg]...


Pradita yang baru bangun untuk melakukan latihan pagi di kamar hotel yang sudah direservasi jauh hari oleh Nabila pun mengernyit.


“Apa? Ada apa dengan sistem ini? Apakah terjadi sesuatu atau bug?” gumamnya dengan mata membola melihat panel hologram biru di depannya.


[Tongteng … Tongteng!]


[Sistem mengalami malfungsi, dan akan dimatikan. Semua uang host tidak dapat diambil]


Panel hologram biru itu pun tiba-tiba menghilang di hadapan matanya. Hal itu membuat Pradita panik, “Sistem! Sistem!” 


Tidak ada jawaban dari sistem, walaupun Pradita berulang kali memanggilnya. Ia mencoba menghela nafas panjang, lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya beberapa kali.


Dia berharap semua ini adalah mimpi, tapi nyatanya hal ini benar-benar terjadi. Setelah mencubit pipinya berkali-kali dan merasakan sakit, ia ingin marah semarah-marahnya, serta memuntahkan seluruh asam lambungnya saat ini juga. Namun dia menghela nafas panjang untuk menerima kenyataan yang terjadi.


“Tenang Pradita, tenang. Lagipula aset itu sudah tercantum atas namamu, walaupun kamu kehilangan banyak uang 20 triliun lebih Pradita,” monolog dalam batinnya.


Dengan perasaan lapang dada, Pradita melangkahkan kakinya gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah 10 menit Pradita keluar tanpa memakai handuk karena kebiasaannya yang seperti itu kalau di dalam kamarnya sendiri. 


Nabila masuk tanpa mengetuk pintu yang memang tidak dikunci. Ia tidak menyadari jika Pradita tidak memakai sehelai benang, sebab jalan menunduk dengan senyuman sumringah.


“Mas!” panggilnya dengan tatapan lurus ke arah burung Otokowok milik Pradita, dan saat itu juga Nabila bungkam seribu bahasa.


Pradita pun terperangah dengan rahang terjatuh. Keduanya saling bertatap-tatapan satu sama lain dengan mata melebar dan rahang terjatuh.


“Aaaaa! Itu anunya!”

__ADS_1


“Aaaaa! Dasar pencuri keperjakan, aaaaaa!”


Keduanya malah berteriak histeris. Pradita langsung bersembunyi di balik tempat tidur sambil berjongkok, dan Nabila keluar dari kamar pradita dengan menyandarkan punggungnya di pintu kamar Pradita.


“Nabila, lain kali ketuk pintu! Kamu harus bertanggung jawab telih melihat keperjakaanku!” teriak Pradita kesal sambil meraba-raba baju yang sudah disiapkannya di tempat tidur.


“Maaf, Mas. Aku tidak sengaja. Siap, aku akan bertanggung jawab. Apakah besok kita akan menikah?” sahut Nabila dengan senyuman sumringah. “Tidak apa-apalah, aku dapat rejeki nomplok, hehehe ….”


Pradita pun bergegas memakai baju kasual dengan setelan kaos berwarna cream, dan celana jeans berwarna biru dongker, serta sandal gunung berwarna hitam. 


Kemudian keluar dari dalam kamarnya dengan raut muka dingin seperti tidak terjadi apa-apa.


“Ayo!” ajaknya dan lengan kanannya langsung dipeluk erat oleh Nabila yang selalu manja, serta kecentilan di depan Pradita.


Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju lift, dan menuju lantai satu. setelah keluar, mereka berdua mengernyit, karena melihat ada Nathalia, Nathania, Nira, Devi, Wilma, dan Seva sudah ada di lobi. 


Ternyata keenam bidadari tersebut menguntit Nabila dan Pradita ke Bali menggunakan pesawat jet pribadi yang dimiliki oleh keluarga Wismatama, yakni keluarga besar dari Wilma.


Tentu saja yang sangat kecewa adalah Nabila. Hak berdua bersama Pradita gagal total, sebab mereka berenam ternyata menyusulnya ke Bali.


Nabila mengejek keenam bidadari dengan menjulurkan lidahnya ke arah Nathalia, Nathania, Nira, Devi, Wilma, dan Seva. mereka berenam langsung naik pitam, tapi tidak dengan Pradita yang hanya tersenyum kecut melihat hal tersebut.


“Susah juga ya kalau menghadapi mereka bertujuh yang seperti Gukguk berebut tulang …. Aiiih, berarti aku tulangnya donk,” batin Pradita.


Pradita melemparkan senyum pada mereka berenam, agar menyudahi perselisihan mereka dengan Nabila. 


Lalu keluar dari dalam lobi hotel membawa Nabila dalam gendongannya ke pantai Kuta Bali untuk menikmati panorama Lobster-lobster cantik sedang berjemur yang hanya memakai pelindung dada dan pelindung bagian vital.


Mereka berdua akhirnya berjalan menyusuri bibir pantai dengan deru angin, dan deburan ombak merayap melewati kedua kaki mereka sangat pelan.


“Terima kasih ya mas sudah mau ikut denganku,” kata Nabila sambil menyandarkan kepalanya di lengan kiri Pradita dan memeluknya.


“Ya, sama-sama. Lagipula tanpa kamu mungkin aku sudah menjadi sebujur bangkai,” balasnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


“Sudah, tak perlu dibahas lagi hal itu. Justru nanti buat aku gede kepala karena aku bisa menyelamatkan seorang pangeran yang menunggangi kuda putih,” goda Nabila.


Mereka berdua sangat menikmati bercengkrama satu sama lain menyusuri bibir pantai. 


“Mas, aku haus. Aku beli minum dulu ya —”


“Jangan, Nabila tunggu saja disini! Aku akan pergi mencarikan minum untuk kita berdua,” potongnya sambil mengelus lembut rambut Nabila, dan gadis berambut perak tersebut meleleh hatinya.


Dari jauh keenam bidadari terus menguntit dan mengawasi mereka berdua. Namun mereka sangat senang, saat melihat Pradita meninggalkan Nabila seorang diri.


“Yes, aku ada kesempatan,” batin Nathalia, Nathania, Nira, Devi, Wilma, dan Seva serentak.


Kembali ke Pradita yang sedang mencari kedua di sekitar pantai Kuta Bali, dan menemukan satu kedai.


“Bli, dua es jeruk!” pinta Pradita dan Prisilia serentak.


Pradita dan Prisilia yang berdampingan tiba-tiba menoleh untuk melihat satu sama lain.


“Pradita!”


“Prisilia!”


“Kamu liburan disini?”


“Ya, kamu sih Sil, liburan juga? Bukannya kamu sedang ada di Spanyol untuk perjalanan bisnis?”


Prisilia langsung menggeleng pelan dengan tatapan sendu, dan matanya berkaca-kaca. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Pradita, tapi tak kuat untuk mengatakannya.


Pradita paham dan langsung memeluk Prisilia. Sebagai seorang sahabat, Pradita tidak ingin melihat Prisilia yang selalu riang dan gembira itu menjadi bersedih hati.


“Aku paham. Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya. Kita bisa bicara nanti, jika ingin menangis, menangislah,” ucapnya sambil mengelus lembut rambut Prisilia, dan membuat gadis berambut pirang tersebut menangis sesenggukan dengan perasaan yang sangat nyaman.


Nabila yang menunggu Pradita di dekat pantai Kuta, dan tak kunjung datang akhirnya menyusul Pradita.

__ADS_1


Dia sangat terkejut saat melihat Pradita sedang memeluk Prisilia dengan sangat erat dan penuh kasih sayang. Hatinya langsung sakit, dan pulang ke ke kamarnya dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


“Mas, kenapa kamu selalu memperlakukan aku seperti kapas, dan kamu angin. Kapas yang selalu kamu terbangkan dan jatuhkan sesuka hati. Aku sadar aku bukan siapa-siapa untukmu, aku tidak akan mengganggumu lagi mas,” batinnya sangat kecewa sambil berlari cepat ke arah kamar hotelnya.


__ADS_2