
Pradita sekarang terbang menuju Indonesia. Dia dijemput oleh Admiral Kokoci menggunakan pesawat maskapai Ochobot City yang bisa melakukan perjalanan warp.
Hanya dalam satu jam, Pradita sudah sampai di atas wilayah pabrik D3. Dia harus sesegera mungkin memproduksi serum D2, yakni sebuah serum yang ditingkatkan formulasi rumusnya dengan batu Stantium.
“Tuan Muda, apakah aku harus menunggu?” tanya Admiral Kokoci dingin.
“Tidak perlu. Aku ada keperluan untuk bertemu Presiden Nakowi, guna menindaklanjuti penyebaran virus Venom yang mulai menyebar di Indonesia —”
“Tapi Tuan Muda. Keselamatan anda lebih utama dari apapun,” potong Admiral Kokoci kekeh, sebab ia yang ditugaskan menjadi pengawal pribadi bagi Pradita.
Mau tidak mau Pradita harus menghela nafas panjang, karena kengototan Kokoci, “Baiklah, Admiral Kokoci boleh ikut. Cepat turunkan aku!”
Admiral Kokoci yang mempiloti pesawat jet pribadi maskapai Ochobot City segera memegang tangan Pradita. Lalu menekan tombol jam tangan kirinya, dan membuat keduanya berteleportasi ke kantor milik Master Chow.
Pria tua berjenggot putih yang sedang bersama cucu kesayangannya itu matanya membola, sambil memegangi dada bagian jantung, “Walahiyung?”
Stephen Chow juga ikut terkejut setengah mati, sebab tiba-tiba mereka berdua muncul di hadapannya, “Astaga naga!”
Teknologi teleportasi saat ini hanya dimiliki oleh Ochobot City. Makanya mereka berdua sangat terkejut setelah tiba-tiba Pradita, dan Admiral kokoci muncul di depan mereka berdua.
Rahang mereka berdua masih terjatuh, dan matanya membulat. Bahkan setelah Pradita memainkan telapak tangannya di depan muka Stephon Chow, dan Master Chow, mereka berdua masih melongo.
Kokoci berdehem keras membuat mereka berdua yang masih syok menjadi sadar kembali.
“I-ini benar Tuan Muda, dan ….”
“Admiral Kokoci super soldier di WD Army!” tegas Admiral Kokoci dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Stephen Chow yang seorang raja preman di Bekasi pun langsung menciut ditatap tajam oleh Admiral Kokoci yang memiliki aura wibawa yang sangat mendominasi.
“Sudah tak perlu dibahas lagi.” Pradita segera memberikan sebuah flashdisk berisikan formulasi rumus serum D2 pada Master Chow, “Ini adalah formulasi serum D2. Tarik semua serum dewa, dan dewi yang sudah beredar, dan berikan kompensasi!”
“Baik, Tuan Muda,” tegas Master Chow, dia sama sekali tidak membantah, karena perintah Pradita adalah perintah mutlak yang tak bisa dibantah. Walaupun dalam hatinya ingin menolak, dan menanyakan alasan kenapa semua serum dewa, dan dewi ditarik.
"Satu hal lagi, buat serum D2 dengan dosis rendah sebanyak mungkin, dan buat seri yang berbeda sampai 3 seri. Namun setiap seri persentase dosisnya seri pertama 30%, seri kedua 33%, dan seri ketiga 37%!" titah Pradita.
Stephen Chow, dan Master Chow hanya manggut-manggut seperti burung pelatuk. Apalagi dengan Admiral Kokoci, dia sama sekali tak mengerti dengan perintah yang diberikan oleh Pradita pada Master Chow.
Namun di dalam bayangan Pradita, dia bisa untung besar dengan menjual serum D2 sebagai vaksin. Apalagi proses vaksinasi dibagi 3 kali tahapan vaksin. Pradita benar-benar akan jadi elite global baru atau taipan baru di Indonesia kalau dia berhasil melobi pemerintah untuk membeli vaksin virus venom dari pabrik D3.
Master Chow segera meramu formulasi rumus yang telah diberikan oleh Pradita. Pria tua itu sudah paham akan strategi Pradita dalam memasarkan barang, yakni tampakan contoh barang, dan kasih gratis dengan dosis 100%.
Ketika orang yang terinfeksi sembuh di depan mata orang yang membutuhkan vaksin, maka pada saat itu juga Pradita telah menangkap kepercayaan hatinya.
"Tuan Muda, untuk bahan ini apakah sudah ada?" tanya master Chow yang mulai bingung tentang batu Stantheim yang tiba-tiba masuk dalam formulasi rumus serum D2.
Kemudian ia melanjutkan sambil mengeluarkan bongkahan batu merah delima atau batu Stantheim dari inventaris sistem, "Ini contohnya! Aku beri waktu maksimal 15 menit untuk membuat 100 serum sebagai contoh, dan dosis 100%."
Apa yang dikatakan oleh Pradita sudah terbaca jelas di dalam pikiran Master Chow. Karena Pradita sudah pasti meminta dosis 100%, karena pria berambut hitam tersebut pasti akan melakukan teknik marketing S3 miliknya di depan klien yang telah menjadi targetnya.
"Siap, Tuan Muda. 10 menit, aku pasti selesai!"
Pradita tersenyum lebar mendengar jawaban Master Chow yang selalu saja menyenangkan hatinya. Makanya Pradita sama sekali tidak rugi walaupun harus mengeluarkan uang 50 triliun lebih demi mendapatkan Master Chow di pelelangan. Buktinya berkat Master Chow, penjualan serum dewa, dan dewi laris manis. Sudah lebih dari 10 triliun laba bersih Pradita dapatkan dari penjualan serum dewa, dan dewi. Padahal baru beberapa hari diluncurkan.
Master Chow bukanlah seorang alkemis biasa. Dengan kecepatan tangannya, ia mulai meramu serum D2 dengan efektifitas dosis 100%.
__ADS_1
Satu botol kecil ia bisa buat, dan cukup untuk disuntikan untuk 10 orang. Ia membuatnya lagi sampai 9 botol lagi, lalu dimasukan ke dalam kotak penyimpanan kecil, dan dikunci dengan kata sandi pemindaian retina mata milik Pradita.
"Ayo pergi!" ajak Pradita kepada Admiral Kokoci.
Pradita pun pergi menggunakan mobil Nissan Sky Evolution milik Stephen Chow bersama Admiral Kokoci.
Saat mobil yang dikendarai oleh Pradita masuk tol Karawang Barat, Kokoci berujar, "Tuan Muda, sepertinya kita telah diikuti."
"Biarkan saja. Bisa apa mereka."
Pradita segera menekan pedal gas dalam-dalam, dan mobil berakselerasi dengan cepat.
Seketika itu juga, kecepatan mobil yang tadinya hanya 80 km per jam, kini malah langsung naik ke 180 km per jam, hanya dalam waktu 5 detik.
"Tu-tuan Muda, pe-pelan-pelan. Aku …." Perut Admiral Kokoci tiba-tiba mual, dan ia ingin memuntahkan semua isi perutnya, diakibatkan Pradita menyetir mobilnya seperti orang kesetanan.
Dua mobil Bentley berwarna hitam terus mengejar Pradita. Kedua mobil tersebut mampu mengimbangi kecepatan mobil yang dikemudikan oleh Pradita.
"Oh, sungguh menarik. Jadi kalian siap melawanku, baiklah," kata Pradita dengan tersenyum simpul.
Pradita sudah mengetahui kalau mobil milik Stephen Chow ini punya tombol rahasia yang biasanya dimiliki oleh pembalap jalanan. Ia berhasil menemukan tombol rahasia yang disembunyikan oleh Stephen Chow yang berada di bagian atas kepalanya, lalu mengganti mode mobil Stephen Chow ini ke mode balapan.
"Dasar bocah kencur, aku pikir tidak tahu isi rahasia mobilmu, Chow-Chow! Hahaha …."
Muncul sebuah papan di depan dashboard, dan papan tersebut memiliki tombol untuk mengaktifkan nitrous oxide system (NOS).
Pradita menekan tombol NOS tersebut, dan knalpot mengeluarkan roket pendorong, sehingga membuat mobil melaju semakin kencang.
__ADS_1
Admiral Kokoci yang sudah tak bisa tahan lagi dengan cara menyetir Pradita, akhirnya dia pingsan. Sebab mobil yang dikemudikan oleh Pradita telah menyentuh kecepatan 250 km per jam.