SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 66


__ADS_3

Pradita membawa Nesa ke sebuah hotel, dan makan bersama di lobi hotel. Saat Nesa bercerita tentang Riko dengan penuh kesedihan yang mendalam, Pradita menaruh cairan yang bisa membuat Nesa tertidur.


Ia memang sudah menyiapkan balas dendamnya pada Nesa dengan cara yang elegan, dan salah satu kamar hotel berisikan duo gadis kembar, juga Nira akan menjadi saksi hidup kehancuran hidup Nesa di tangan Pradita.


Nesa selesai makan, dan meminum es jeruk berisikan cairan yang bisa membuatnya tertidur. Pradita tersenyum licik sambi terus menanggapi pembicaraan yang dilontarkan oleh mulut Nesa.


“Mas, kepalaku tiba-tiba pusing.”


Nesa tiba-tiba memegangi kepalanya yang merasa berdenyut kencang, lalu tertidur pulas, dan kepalanya ditangkap oleh Pradita. Tubuh Nesa digendong ala bridal style, dan dibawa oleh Pradita menuju salah satu kamar hotel yang sudah dipesannya.


Sesampainya di dalam kamar hotel tersebut, tubuh Nesa ditaruh di atas tempat tidur king size. Pradita mengacungkan dua jempol ke arah Nathalia, Nathania, dan Nira. Lalu ia keluar dari kamar, dan menyerahkan urusan Nesa itu ke mereka bertiga.


Sudah disiapkan kamera, dan beberapa model laki-laki yang mau di foto dalam keadaan tanpa sehelai benang. Mereka bertiga pun mulai melucuti pakai Nesa, dan dibentuk pose-pose dengan angle-angle yang panas, supaya saat diambil gambar menunjukan gambar yang mereka inginkan.


Dalam adegan foto tersebut, saat diambil gambarnya, salah satu pria yang menjadi modelnya tidak ditampakan wajahnya. Yang membuat adegan ini lebih seru adalah Pradita juga telah menyewa beberapa wartawan gosip, dan sudah menunggu di depan kamar hotel tersebut.


“Rasa sakit yang kau torehkan tidak akan sebanding dengan semua yang kau lakukan saat ini. Kalau saja kau tidak mencampakkan cintaku, mungkin kedua orang tuaku masih punya harta, dan tidak habis olehku yang stres gara-gara kamu,” gumamnya tersenyum menyeringai.


Setelah selesai dengan pengambilan gambar panas, gambar-gambarnya pun diserahkan kepada wartawan. Para wartawan tersebut langsung mengunggahnya ke beberapa platform media sosial.


Semua orang pergi dari kamar hotel tersebut, setelah menyuntikan cairan yang bisa membuat Nesa siuman. Sang mamah muda mandul tersebut ditinggalkan seorang diri dalam keadaan tanpa sehelai benang.


Para wartawan yang disewa oleh Pradita sudah bersiap mewawancarai Nesa, saat dirinya keluar dari kamar hotel. Pradita duduk santai di lobi hotel sambil melihat layar ponsel UR Predacon miliknya yang sudah terhubung oleh Red Queen dengan CCTV di lorong lantai 3 hotel Pramulya.

__ADS_1


"Mas, kamu benar-benar gila! Apakah masih belum puas melihat mantan tunangan, dan pembunuh kedua orang tuamu menderita. Bukankah lebih baik diserahkan ke pihak yang berwajib," kata Nira memberikan saran, dan tidak percaya dengan hal gila yang dilakukan oleh Pradita kepada Nesa, Riko, dan Panji.


"Pokoknya sampai mereka jadi gelandangan pun aku akan tetap membuat mereka bertiga susah. Termasuk keluarga Nesa yang dahulu menghinaku."


"Aku akan baik pada orang yang berbuat baik kepadaku dan aku akan lebih jahat pada orang yang telah menjahatiku. Apalagi sampai membuat kedua orang tuaku mati," jawab Pradita dengan menggertakan gigi.


Pertunjukan pun dimulai, Nesa bangun dalam keadaan linglung, dan bingung. Ia tidak tahu kenapa tubuhnya dalam keadaan tanpa sehelai benang.


Matanya langsung berlinang air mata. Tangannya meraih satu persatu baju yang berserakan di permukaan lantai, lalu memakainya.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku seperti ini? Kemana Mas Pradita?" pikirnya bingung.


Nesa segera melangkahkan kakinya dengan langkah yang agak limbung untuk keluar dari dalam kamar hotel tersebut. Kedua matanya membola saat dirinya melihat banyak wartawan.


Mungkin saja ia ingin menjerit sekeras mungkin saat itu juga karena sudah tidak mampu menahan beban mental. Apalagi setelah ia dipertontonkan tentang foto dirinya tanpa sehelai benang.


"Tidak! Tidak!"


Nesa kena mental. Ia terlihat meraung-raung keras, lalu berlari menabrak kerumunan para wartawan. Terus berlari dalam keadaan putus asa.


Bahkan tanpa sadar menabrakan diri pada jendela kaca yang berada di lantai tiga, hingga kacanya hancur berkeping-keping. Tubuhnya meluncur cepat menuju permukaan aspal, dan saat itu pula ada truk kontainer besar lewat hingga berhasil melindas tubuhnya hingga hancur berkeping-keping.


Pradita mematikan layar ponsel miliknya yang terhubung ke salah satu CCTV yang menyorot ke arah jalan raya. Walaupun begitu, rasa balas dendamnya masih membara. Rasanya ia belum puas, karena belum membuat semua orang yang terlibat atas kematian kedua orang tuanya menerima hukuman. Bahkan masih ada yang berkelana bebas di luar sana.

__ADS_1


Pradita memegang tangan Nira, dan menariknya untuk keluar dari lobi hotel. Tangan Pradita bergetar dan begitu dingin saat bersentuhan dengan tangan Nira.


“Mas, kamu tidak apa-apa?” tanya Nira khawatir karena merasakan hal tersebut.


“Ti-tidak apa-apa. Aku hanya sedikit syok saja, semua rencanaku terlalu cepat membuat Nesa putus asa dan mati,” jawab Pradita dengan bibir bergetar.


“Ya, sudah. Lebih baik kita liburan keluar negeri saja untuk menenangkan, Mas Pradita. Lagipula semua urusan pembukaan Astral Guardian, dan semua urusan Union Group disini sudah beres.”


Nira segera mengirim pesan kepada salah satu sahabatnya yang memiliki jasa penyewaan jet pribadi. Untuk menjemputnya di Bandara Kertajati, karena mereka berdua akan bertolak ke Swiss. Duo gadis kembar tidak ikut, karena harus kembali ke Tangerang Selatan untuk mengurus kembali Union Group.


Pradita dan Nira masuk ke salah satu mobil taksi online yang sudah dipesan Nira beberapa saat yang lalu. Mobil toyota Avanza tersebut mengantarkannya ke arah Bandara Kertajati.


Sepanjang jalan tubuh Pradita menggigil ketakutan, karena ia masih tidak terima jika mantan tunangannya itu mati di tangannya sendiri dengan cara bunuh diri. Ia tidak sadar kalau mobilnya telah diikuti oleh mobil Hummer H2 berwarna perak.


Mobil tersebut dikemudikan oleh pasukan dari salah satu komandan Sevenfall di bawah komando Komandan Aramain. Mereka hanya ingin membalas dendam pada Pradita yang telah menghancurkan Brock.


"Tikus akan menuju Bandara Kertajati! Semua Serigala harap bersiap menyerang di udara!" lapor Malik salah satu kapten yang memimpin operasi pembunuhan Pradita kali ini.


Sepuluh tentara bayaran yang memakai wing jet suit terbang dan terus mengikuti mobil yang membawa Pradita juga Nira. Mereka menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan bom dari udara ke mobil yang membawa mereka berdua di lokasi yang sudah ditentukan.


Saat melewati jalan Provinsi Cirebon-Bandung, Malik sengaja keluar dari jendela mobil. Dengan segera ia menodongkan senapan Blaster Rifle untuk membuat mobil yang membawa mereka berdua sesuai jalur yang mereka tentukan.


Malik menarik pelatuk dan senapan M14 tersebut menembakan peluru bertubi-tubi, tetapi tidak tepat sasaran. Sang sopir taksi online tersebut tersentak kaget dan sangat syok. Ia menoleh ke arah spion ternyata mobilnya sedang ditembak bertubi-tubi oleh sosok yang ia tidak kenal.

__ADS_1


__ADS_2