
Pradita beserta rombongan tim pembangunan Black Golden City sudah terbang di dalam pesawat induk milik Ochobot City.
Pradita telah berhasil melakukan tanda tangan kontrak dengan Raimu Group untuk meminjamkan alat pembangunan kota yang termutakhir beserta material langka yang hanya ada di Ochobot City.
Sepanjang perjalanan menaiki pesawat induk Veigas Stark, Pradita tersenyum sumringah. Sebab ia pasti bisa berhasil membangun Black Golden City melebihi ekpektasinya.
“Mas, sedari tadi kamu tersenyum terus, kenapa?” tanya DNA serentak dengan raut muka bingung.
“Tentu saja aku senang. Kita sebentar lagi akan menguasai dunia, hahaha ….” jawab Pradita dengan tertawa girang.
“Sebenarnya apa yang Mas Pradita tawarkan pada CEO Raimu Group?” tanya Nira penasaran, karena N4 tidak diajak dalam pertemuan rahasia bersama Yosep.
“Tuan Muda Yosep hanya ingin Golden Black City nantinya terkoneksi dengan Ochobot City. Itu saja, dan tentu saja ia hanya meminta saham 1% dari Balck Golden City,” jawab Pradita masoh tersenyum girang.
Pesawat Induk pun sampai, dan melayang di ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. Namun pesawat tinduk Veigas Stark tersebut tidak dapat dilihat oleh siapapun, karena sedang dalam moe kamuflase.
“Semua penumpang harap menuju lift teleportasi! Sekali lagi, seluruh penumpang harap menuju lift teleportasi!” seru suara Komandan pesawat induk Veigas Stark melalui suara mikropone.
Pradita beserta rombongan tim pembangunan Black Golden City segera menuju lift teleportasi yang berada di ujung pintu ruangan penumpang.
Alat-alat berat sudah diteleportasikan ke permukaan tanah, beserta ribuan drone CPX Build milik Ochobot City.
Pradita beserta N4 pun diteleportasikan ke permukaan tanah, dan disusul tim pembangunan Golden Black City yang berjumlah 100 orang.
Semua raut muka tim pembangunan Black Golden City terlihat sangat muram. Setelah mereka mendarat di hutan yang memiliki struktural tanah tandus.
Untungnya para rombongan James sudah dihubungi oleh Pradita melalui ponselnya sudah menyambut mereka.
“Aku minta maaf kalau kondisi kita seperti ini, dan kita setelah turun ini harus membangun pemukiman disini,” tutur Pradita sambil membunggkuk hormat pada rombongan timnya.
Ia merasa tidak enak, karena harus melibatkan mereka di medan yang membuat mereka tidak nyaman.
__ADS_1
Nathalia, dan Nathania bereaksi pertama kali, dan langsung memakai helm pengendali drone. Lalu memulai menggerakan CPX drone untuk mengangkut material-material yang sudah berada di dalam kontainer-kontainer yang sangat banyak.
Kecepatan gerak CPX drone jauh lebih lincah, dan lecih cepat dibandingkan build drone yang dimiliki oleh Pradita. Ditambah lagi proses pengendaliannya lebih mudah.
Dron-drone tersebut mulai menyusun pemukiman sementara seperti rumah-rumah dalam anime dragon ball yang berbentuk kubah.
100 anggota tim menjadi bersemangat setelah melihat pemimpin mereka membangun rumah-rumah kapsul. Mereka segera bekerja dengan memangkas pepohona dalam radius 500 meter menggunakan Combhand Ekskavator Drone.
Kayu-kayu bekas pohon yang ditebang juga disimpan rapi ke dalam gudang yang selesai menggunakan Combhand Ekskavator Drone.
Hanya dalam 1 jam saja mereka berhasil membangun 200 rumah kapsul beserta instalasi listrik, dan air yang menggunakan bahan bakar material mineral Vanadium, serta aliran air dari air terjun terdekat.
“Semuanya berisitirahat!” teriak Pradita melalui pengeras suara.
100 anggota tim berbaris rapi di depan Pradita, penduduk gua juga ikut berbaris. Karena ada pembagian rumah kapsul untuk mereka juga.
Para warga desa gua telah kembali sehat setelah Dokter mereka meramu pil dari tanaman herbal yang dikirimkan oleh Pradita kemarin.
“Jangan seperti itu, saudara James. Kita sekarang adalah keluarga. karena kota ini akan kita kelola, dan suatu saat nanti dunia takan memandang sebelah mata kita lagi,” balas Pradita.
****
California, Amerika Serikat.
“Aaakh!” pekik seorang pria, dan jatuh di tengah-tengah jalan.
Kemudian tubuhnya tak sengaja dilindas oleh truk kontainer, hingga hancur lebur. Saat itu pula warga yang lalu lalang memekik kesakitan dengan tubuh menggelepar di pemukaan aspal, tanah, dan beton bahu jalan.
"Hahaha …. Virus Venom mulai tersebar. Para petinggi pemerintahan Amerika Serikat pasti tidak dapat mengelak lagi, hahaha …." kata salah satu sosok Komandan Sevenfall yang berdiri di atas rooftop gedung dengan memperhatikan keadaan sekitar menggunakan teropong.
"Komandan, lebih baik kita segera pergi! Kalau tidak, kita akan ketahuan telah menyebar Virus ini lebih cepat dari rencana yang telah ditentukan oleh Jendral Yinlong," sergah salah satu tangan Komandan Nathalie tersebut.
__ADS_1
"Biarkan saja. Bukannya kita akan meraup lebih besar uang dari pembelian vaksin?" Komandan Nathalie menatap sinis anak buahnya itu, lalu melanjutkan, "Cepat sebar virusnya di udara. Biar kita bisa lebih cepat mendapatkan banyak uang dari mereka!"
"Siap, Komandan."
10 menit kemudian, pesawat-pesawat jet dalam mode siluman terbang di seluruh langit benua Amerika, dan menyebarkan Virus Venom.
Seluruh warga benua Amerika hanya dalam 10 menit sudah terinfeksi virus Venom, dan memiliki gejala ringan adalah demam, dan batuk. Namun jika segera ditangani tubuh mereka akan membusuk perlahan seperti terkena penyakit diabetes, dan setelah 7 hari mereka yang terinfeksi akan mati.
Media masa di seluruh benua Amerika mulai menyebarkan berita ini infeksi virus venom secara masive, dan tentu saja membuat para warga ketakutan. Karena selang satu jam korban jatuh, atau warga yang terinfeksi semakin banyak, walaupun itu hanya terkena gejla ringan virus venom.
***
5 jam kemudian, Black Golden City, Afrika Selatan.
"Sayang, media masa Amerika Serikat menayangkan berita mengerikan,” terang Nabila dengan raut muka seputih kertas.
“Apa sayang? Kok kamu ketakutan gitu?” tanya Pradita khawatir.
“Ada video seseorang yang telah mengkonfirmasi dirinya sebagai salah satu komandan tentara bayaran yang bernama Sevenfall yang menjadi otak dalam penyebaran virus yang disebut Venom,” jawab Nabila, lalu dipeluk oleh Pradita untuk menenangkan ketakutannya.
“Tenanglah sayang. Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-kenapa,” tuturnya mesra.
Tiba-tiba Pradita ingat akan master Chow, dan langsung menghubunginya, "Halo, Master Chow. Apakah anda sudah melihat berita saat ini?"
"Sudah, Tuan Muda. Namun jangan khawatir, justru berkat ini Tuan Muda akan semakin kaya raya, hahaha …," balas Master Chow melalui sambungan telepon dengan tertawa girang.
Pradita bingung, dan bertanya, "Loh, kok bisa?"
"Aku sudah menghubungi temanku di New York, untuk mengirimkan sampel DNA orang yang telah terinfeksi virus Venom itu. Kalau sesuai dugaanku, maka serum dewa, dan dewi merupakan obat penawar atau vaksinnnya," jawab Master Chow.
Pradita tersenyum lebar, karena ia sangat tahu kemampuan Master Chow sebagai seorang alkemis tidak dapat diragukan lagi. Cukup hanya sekali lihat, maka ia bisa memberikan solusi atas sebuah penyakit.
__ADS_1