SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 47


__ADS_3

Pradita berlari cepat ke arah rumahnya sambil mengeluarkan satu pedang berjenis katana dari inventaris sistem. Amarahnya tambah meluap-luap saat melihat rumahnya sudah tidak ada, dan justru dibangun shelter penambangan.


“Sialan, siapa yang menyuruh kalian membongkar rumahku dan membangun shelter disini!” hardik Pradita dengan raut muka dipenuhi urat otot.


Semua pekerja, penjaga dari Geng Cross, dan Geng Klowor menoleh ke arah Pradita. Muka mereka langsung merah padam, terutama Geng Klowor, dan Geng Cross yang membawa pistol serta parang.


“Teknik Naga Dhanindra!”


Tanpa basa-basi Pradita melesat dan melakukan tebasan secara acak. Dengan menggunakan teknik Naga Besukih ke anggota Geng Klowor yang sudah menghunuskan parang.


Pradita menebaskan bilah katana yang tumpul tersebut dengan sekuat tenaga. Tentu saja untuk membabak belurkan satu persatu anggota Geng Klowor.


Alhasil, mereka semua terkapar di permukaan tanah dalam keadaan terkapar. Sambil meringis kesakitan.


Ada yang memegangi tangan, kaki, perut, bahu, dada, dan paha mereka yang terkena sabetan bilah katana tumpul. Pradita tidak menghentikan serangannya dan melompat tinggi sambil mengangkat katananya secara vertikal.


“Teknik Naga Wanabaya!” serunya.


Kemudian dihantamkan ke permukaan tanah, hingga mengeluarkan gelombang kejut yang sangat kuat. Bahkan, membuat anggota Geng Cross yang bersiap menarik pelatuk senapan mereka terpental cukup jauh, saat terkena gelombang kejut yang dihasilkan dari hantaman tersebut.


Beberapa dari mereka terpental mengenai para pekerja dan pepohonan. Bahkan ada pula yang mengenai tiang-tiang shelter yang baru saja di bangun.


Melihat penjaga keamanan dari Geng Klowor dan Geng Cross terkapar di permukaan tanah dengan raut wajah meringis kesakitan, dan babak belur. Para pekerja pun lari tunggang langgang karena ketakutan dengan Pradita yang mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat.


Pradita menyeret pedangnya ke arah salah satu ketua preman yang sedang menodongkan pistol ke arahnya. Pelatuk pistol pun ditarik oleh ketua penjaga keamanan bernama Raswidi tersebut.


Tanpa berkedip Pradita mengayunkan katana tumpul tersebut untuk membelah peluru yang mengarah ke dahinya.


“A-apa! Mustahil!” Raswidi langsung berlutut lemas dengan tubuh bergetar hebat, dan cairan hangat membasahi celananya. “A-ampuni a-aku!”


Pradita yang amarahnya sudah terlanjur meluap-luap, segera menebas secara horizontal ke leher Raswidi. Hingga membuat pria gondrong tersebut tumbang, lalu pingsan seketika.


Setelahnya, Pradita kemudian membalikan badan. Mengarahkan pandangannya ke arah semua anggota Geng Klowor, dan Geng Cross yang terkapar di belakangnya dengan tatapan tajam.


“Katakan pada bos kalian! Aku akan datang membuat perhitungan, dan kalian semua harus pergi dari sini! Bila perlu panggil para oknum yang berpihak pada kalian, dan aku pastikan mereka semua akan membusuk di penjara!” hardik Pradita.

__ADS_1


Semua anggota Geng Klowor, dan Geng Cross lari tunggang langgang ke mobil, serta motor masing-masing. Mereka semua sangat ketakutan dengan tatapan tajam Pradita seperti manik mata Elang yang siap membidik mangsanya.


Pradita pun pergi ke Balai Desa Jagapura Lor untuk menemui Kepala Desa. Tujuannya tentu saja untuk mempertanyakan kenapa ada pihak yang berani membangun shelter penambang tanpa izinnya.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Selamat, host mendapatkan transferan uang dari profit dividen 100% saham Unilever sebesar 200 miliar, dan sudah masuk ke dalam saldo sistem]...


Amarahnya yang meluap-luap saat berjalan menuju balai Desa Jagapura Lor langsung mereda, dan berubah menjadi senyuman yang sangat lebar.


“Tahu saja sistem ini cara menyenangkan hatiku,” gumam Pradita sambil menatap panel hologram berwarna biru transparan tersebut.


Dalam perjalanan Pradita menyimpan katana tumpul tersebut ke dalam inventaris sistem, dan bertemu lagi dengan Choki juga Rivan.


“Elah, sekarang sudah terkenal sombong amat!” sindir Choki.


Pradita langsung memeluk leher Choki, “Sorry bro, aku lagi marah sama orang-orang yang sudah mengambil tanah dan rumahku tanpa izin. Aku sudah bereskan mereka semua, ayo ikut aku ke Balai Desa!”


“Mau apa lagi Dit?” sergah Rivan tidak percaya kalau Pradita sudah membereskan tikus-tikus Panji yang berada di rumahnya, dan selalu menekan masyarakat Desa Jagapura Lor.


“Ya, maulah! Siapa yang tidak hijau melihat uang?” potong Choki dan Rivan serentak.


Leher mereka berdua dipeluk oleh lengan Pradita dan ditariknya menuju Balai Desa Jagapura Lor.


Sesampainya di depan gapura Balai Desa, semua staf yang bekerja di Balai Desa terkejut setengah mati.


Bagaimana tidak, mereka merasa bersalah karena telah menzalimi Pradita dengan menyerahkan tanah, dan rumah miliknya ke Panji untuk dihancurkan. Perangai Pradita yang semula ceria langsung berubah saat melihat semua staf yang berada di depan Balai Desa tertunduk sesal.


"Kenapa Bapak-Bapak yang terhormat melihatku seperti itu? Apakah gestur kaian ini menunjukan kalau kalian bersalah padaku?" sindir Pradita dengan tersenyum sinis.


Kepala Desa keluar dari kantornya mendengar suara Pradita yang cukup keras sampai ke kantornya.


"Anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya apakah pantas menuntut hak yang memang tidak menjadi haknya?" sindirnya dengan membusungkan dada.


"Oh, Anda dibayar berapa oleh Panji agar mau mengizinkan mereka membangun shelter penambangan di tanah milikku?" tanya Pradita sambil merapikan kerah baju pak Kades Darmo dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


"Choki, Rivan! Panggil semua warga Desa, aku akan membeli tanah sawah mereka dengan harga yang sangat tinggi!"


Pemuda culun tersebut menuruti saja permintaan Pradita yang mengeluarkan hawa membunuh yang sangat kuat.


"Sungguh malang, kedua orang tuanya mati malah menjadi gila seperti ini dengan mengatakan mau membeli semua tanah sewa milik warga, hahaha …."


"Hahaha …."


"Hahahaha …. Gila memang gila!"


Semua staf Desa dan Pak Kades Darmo menertawakan Pradita, yang dianggapnya gila.


Akan tetapi, setelah melihat Choki dan Rivan datang berbondong-bondong bersama warga, Pradita tersenyum simpul, dan ingin menunjukan pada mereka jika apa yang dikatakannya bukan main-main.


Pradita langsung berteriak sekeras-kerasnya, "Silahkan berbaris! Aku akan melayani kalian satu persatu dan tawarkan dengan harga tertinggi tanah sawah kalian padaku!"


Choki dan Rivan hanya bisa menepuk jidatnya sendiri melihat tindakan Pradita yang dianggapnya sudah tidak waras.


"Huuuuu …!"


Semua warga mencemooh Pradita dengan menyorakinya. Mereka pikir Panji, dan Brock yang akan membeli sawah mereka, tetapi ternyata hanya seorang pemuda yang sudah dianggap sampah oleh penduduk Desa Jagapura Lor.


Tiba-tiba janda muda berambut sebahu ikal bernama Kinan Rianti mengacungkan tangan.


“Aku mau jual sawah milikku 1 hektar! Aku ingin membuka harga 3 milyar!” teriaknya.


“Oh, Kinan.” Pradita tersenyum tipis sambil melambaikan tangan ke arah gadis berkulit sawo matang dengan mata sipit, dan hidung mancung tersebut, “Semuanya sudah disiapkan termasuk nomor rekening?’


Kinan mendekati Pradita dan berkata dengan senyuman menggoda, “Transfer saja dahulu uangnya, masalah surat-surat gampang.”


“Baiklah!”


Kinan menunjukan layar ponsel berisikan nomor rekening miliknya ke Pradita, dan pria tersebut langsung memasukan nomor rekening Kinan untuk mentransfer uang sesuai yang gadis berambut pendek sebahu itu inginkan.


...[Tongteng … Tongteng]...

__ADS_1


...[Selamat, host mendapatkan transferan uang dari profit dividen 100% saham Bugatti sebesar 20 triliun, dan sudah masuk ke dalam saldo sistem]...


__ADS_2