
Saat ini raut muka Panji dan Riko seputih kertas. Apalagi saat bilah pedang katana tumpul itu sudah mendekati burung otokowok milik Panji.
“Bagaimana rasanya saat berada di posisi yang tidak menguntungkan seperti sekarang?” tanya Pradita dengan senyuman menyeringai.
Panji, dan Riko tidak bisa mengeluarkan suara, karena mulutnya dibungkam oleh lakban. Mereka berdua hanya bisa bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa?” Pradita mendekatkan telinganya ke mulut Panji yang terus bergumam, “Aku tidak mendengarnya …. Oh, kamu ingin burung otokowokmu ini dipotong dengan pedang ini?”
Bulir-bulir keringat dingin seketika membasahi wajah Panji yang terus menggeleng berkali-kali dengan raut wajah seputih kertas. Pradita reflek langsung menghantam paha kiri Riko, dan membuatnya meringis kesakitan, tapi tidak bisa berteriak atau memekik keras.
“Bagaimana kalau anakmu aku bunuh di depan matamu seperti kamu membunuh kedua orang tuaku dan menggantungnya tepat di hadapanku?”
Pradita menebas pipi kiri Riko, dan pipi kanan Panji sekeras mungkin. Walaupun tidak merobek kulitnya, tapi terdengar suara gemertak tulang pipi mereka yang menunjukan adanya keretakan tulang.
Pradita melepaskan lakban yang menyumpal mulut mereka berdua, “Aku mohon ampuni aku! Lepaskan kami berdua, aaargh!” pekik Panji dengan raut muka meringis kesakitan.
“Mengampuni kalian? Melepaskan kalian? Boleh-boleh.” Pradita menghantamkan lagi katananya secara vertikal ke paha kiri, paha kanan milik Panji dan Riko secara bergantian.
“Aaaakh!” Keduanya memekik bergantian, dan sangat keras.
Pradita terus memukuli mereka berdua hingga babak belur, dan memulihkan mereka dengan penyembuhan dari sistem. Terus diulang sampai sebanyak 10 kali penyiksaan terhadap mereka berdua.
Setelah lelah Pradita menelepon Gondes untuk menjemput mereka berdua dan menyuruhnya untuk dibuang di jalan, agar menjadi gelandangan.
Merasa urusannya hari ini selesai dengan mereka berdua yang sudah terkena mentalnya. Pradita menaiki kembali menaiki motornya dan sekarang ia harus kembali ke rumahnya untuk mencari keberadaan pelaku penyerangan mereka berdua.
Saat Pradita sedang mengendarai motor dengan senyuman puas, tiba-tiba dirinya dikejar oleh seseorang yang memakai cybor armor ninja suit berwarna abu-abu yang memotong ban depan motornya.
Motor Aprilir S660 terjungkal, dan Pradita menyilangkan tangan dalam keadaan berguling di permukaan aspal. Untungnya ia sempat mengaktifkan teknik Naga Anubra agar tubuhnya tidak terluka oleh permukaan aspal.
__ADS_1
Sosok ninja cyborg menyerang Pradita dengan menebaskan pedang katananya ke lehernya.
Suara dentingan bilah pedang bertemu dengan leher Pradita sangat keras. Namun sosok ninja cyborg matanya membulat sambil melompat mundur, karena bilah katananya patah menjadi dua setelah menghantam leher Pradita.
Pradita tersenyum sinis, lalu bangkit berdiri dengan cepat sambil mengeluarkan pedang kodachi, dan pedang wakizashi dari inventaris sistem.
“Aku tidak tahu siapa kamu. Tapi aku akan membalas siapapun yang telah mencelakai aku dan orang-orangku,” ancamnya.
“Tentu saja aku akan membunuhmu, karena telah membunuh salah satu komandan kami,” balas sosok ninja cybirg dengan suara mekanis robot sambil menarik sebuah gagang pedang, dan menekan gagang pedang tersebut untuk mengeluarkan sebuah bilah pedang saber berwarna merah.
Pradita dan Zevalia melesat ke arah masing-masing sambil mengayunkan pedang. Keduanya beradu jual-beli tebasan, hingga ribuan gerakan jurus, tapi keduanya sama-sama cepat, dan kuat. Jadi belum ada tanda-tanda siapa yang kalah atau menang.
Keduanya menyabetkan pedang dengan sekuat tenaga, dan kedua pedang tersebut mengeluarkan percikan disertai gelombang kejut. Sehingga tubuh keduanya terpundur lusinan meter, hingga kaki mereka berdua mengeluarkan kepulan debu tebal.
Kedua dada mereka kembang-kempis dengan nafas tersengal-sengal, “Aku … aku akui kamu memang seimbang denganku!” teriak Pradita tersenyum puas, karena menemukan lawan yang seimbang.
“Seimbang? Cih, jangan bermimpi! Setelah ini kau akan mati ditanganku!”
“Teknik Naga Dhanindra!”
Pradita menangkis dengan pedang kodachi yang berada di tangan kirinya, hingga bilah pedang saber dan bilah pedang itu bergesekan membuat percikan api.
Saat itu pula Pradita menggunakan gagang pedang wakizashi ditangan kanannya menusuk topeng cyborg yang menutupi wajah Zevalia.
Suara hantamannya terdengar sangat keras, hingga merusak topenng cyborg yang menutupi wajahnya. Tubuh Zevalia juga ikut terpental lusinan meter, hingga masuk ke dalam semak-semak pinggir jalan raya.
Tubuh Zevalia berguling-guling seperti bola di permukaan tanah, dan menghentakan kedua telapak tangannya sebagai tumpuan agar ia bisa bangkit berdiri tegak sambil salto ke belakang beberapa kali.
“Sial, aku gagal membunuh si Lalat itu!” ringis Zevalia dengan mata kanannya yang sudah lebam, dan tampak seorang wanita berwajah Rusia yang memiliki rambut coklat kemerahan yang terurai sebahu.
__ADS_1
Mata Pradita yang melihat dari jauh membulat. Ia tak percaya jika sosok ninja cyborg yang dilawannya ternyata seorang perempuan, dan bergumam, “Sompret! Kampret! Ternyata wanita dan bisa bertarung seimbang denganku?”
Zevalia melemparkan sebuah kartu yang terlontar sangat cepat ke arah Pradita berputar seperti gasing. Bersamaan itu pula gadis berwajah Rusia tersebut melemparkan bom asap, dan dirinya kabur secepat mungkin dari Pradita.
“Kalau kau ingin mengetahui siapa orang yang telah menyerangmu! Datanglah ke Uni emirat Arab!”
Terdengar suara wanita, dan itu adalah suara Zevalia yang memberitahukan informasi mengenai keberadaan Komandan Aramain yang menjadi otak penyerangan Pradita, dan Nira kemarin.
Tanpa basa-basi lagi Pradita menelepon Sarkowi untuk menjemputnya, lalu mengantarkannya ke bandara Soekarno-Hatta mengejar orang yang telah menghabisi Nira untuk melampiaskan balas dendamnya.
****
5 jam kemudian, pesawat maskapai Emirates, wilayah udara Tiongkok.
Pradita duduk bersantai sambil mendengarkan musik menggunakan headset miliknya. Sebagai orang kaya baru ia memesan tiket kelas VVIP, dan di belakang kursinya ada Zevalia yang sengaja mengikuti Pradita.
“Kenapa kau terus mengikutiku?” tanya Pradita santai.
“Sial, padahal hanya setengah bagian topengku yang rusak, tapi si Lalat ini mengetahui wajahku,” gerutu Zevalia di dalam batinnya.
Kemudian dia menjawab sekenanya, “Aku hanya ingin memastikan paket yang aku kirim sampai ke tuannya.”
Zevalia tidak mengetahui jika pesawat yang dinaiki oleh mereka berdua ternyata telah dibajak oleh anak buah Aramain yang dipimpin oleh Malik.
Anak buah Malik semuanya memakai jas merah, dan memakai kacamata merah duduk di berbagai kursi yang berada di dek berbagai kelas, mulai dari kelas ekonomi sampai VVIP.
Tentu saja mereka melakukan hal tersebut untuk menjarah setiap penumpang kaya, sekaligus membunuh Pradita di udara. lalu membuang mayatnya di udara dengan melemparkan mayatnya keluar.
"Tampaknya paket yang akan kau kirimkan takan sampai ke tuannya. Aku tidak tahu alasannya apa, tapi aku merasakan firasat buruk di pesawat ini sejak saat aku menginjakan masuk ke dalamnya," celetuk Pradita sambil mengambil botol air mineral di samping kursinya.
__ADS_1
Mata Zevalia berkeliling memindai semua sudut tempat di dek VVIP, dan instingnya mengatakan jika pesawat ini dalam keadaan bahaya.