
Penjual Boboba mengeluarkan sebuah menu khusus yang dinamakan mantan kenangan yang berisikan coklat hangat spesial, chocolate cake, pudding cake, dan chocolate pie. Semua bahan-bahan pembuatnya dengan grade terbaik.
Semua orang tercengang. Ternyata apa yang dipesan oleh Pradita itu ada, dan penjual yang bernama Nano itu gemetar tangannya saat menyajikan semua menu itu pada Pradita.
“P-pak big b-bos?” ucapnya dengan mata melebar.
Pradita menaruh telunjuknya di tengah bibirnya sambil berbisik, “Sst! Biasa saja, oke! Kalau kamu mau, buat lagi saja aku yang bayar!”
Setelah mengatakan itu pada Nano, Pradita menikmati menu mantan kenangan itu dengan sangat lahap, dan dibuat-buat untuk membuat semua orang tergoda.
Tentu saja semua orang tergoda, dan ingin segera menikmati menu mantan kenangan. Akibat Pradita memperagakan cara makan, atau mukbang menu matan kenangan dengan setulus hati, dan benar-benar menggugah selera.
“Bang, sudah aku bayar ya!”
Pradita pun pergi setelah mentransfer uang sebesar 1 juta pada akun milik Nano yang terkoneksi aplikasi dana.
Setelah itu ia kembali ke rumah, karena Nabila tlah tiba. Untuk persiapan esok hari menikah dengan Pradita.
***
Keesokan paginya.
Semua orang sudah bersiap dengan baju yang elegan, termasuk Pradita yang memakai tuxedo berwarna hitam, dan Nabila memakai gaun pengantin putih dari rancangan penata busana terkenal Iguana Gunawin.
Kedua mempelai berjalan menuju pelaminan, tetapi saat mereka berjalan perlahan berdampingan, kepala Nabila ada yang melempari dengan telur busuk.
Pradita menengok ke belakang ingin melihat siapa orang yang melakukannya. Ternyata yang melakukan hal tersebut adalah Nira.
"Mas Dita! Kamu harus bertanggung jawab! Aku mengandung anakmu!" berang Nira.
Keadaan semakin ricuh saat para wanita yang pernah dekat dengannya datang dengan tatapan nanar. Mulai dari Devi, duo kembar Nathania, dan Nathalia, Zevalia, Nikita Reina, Nikita Prasita, Prisilia, Malika, serta terakhir adiknya Willy si Helly.
Satu persatu mereka mengaku kalau pernah tidur dengan Pradita, dan mengandung anaknya.
__ADS_1
“Mas, kamu harus bertanggung jawab!”
“Ya, kamu juga harus bertanggung jawab padaku. Ingat malam itu!”
“... ….”
Pradita santai saja sambil menyeka telur busuk di kepala Nabila, dan mengecup keningnya. Ia sangat yakin, karena dari semua wanita yang menuntutnya tidak ada satupun yang dapat membuktikan kalau mereka hamil, karena Pradita belum pernah bercocok tanam dengan siapapun.
“Jangan seperti ini. Kalau kalian seperti ini padaku, kalian yang akan malu,” ancam Pradita dengan nada yang halus.
“Pokoknya Ms harus bertanggung jawab!” tuntut Nikita Prasita, karena hanya gadis berpipi chubby itu yang hampir di lahap oleh Pradita.
Anak buah Pradita sudah bersiaga untuk mengamankan mereka, dan Nabila memeluk erat Pradita untuk melindunginya juga. Namun Pradita menyuruh untuk membiarkan saja mereka.
Untungnya pernikahan Pradita, dan Nabila merupakan pernikahan tertutup hanya bisa dihadiri oleh 50 orang saja. Para barisan mantan yang belum pernah berpacaran dengan Pradita, dan sakit hati itu memang masuk dalam daftar tamu khusus yang diundang oleh Pradita.
Karena Pradita bersikap seperti orang yang acuh, para barisan mantan yang belum pernah berpacaran dengan Pradita itu mengamuk, dan hampir saja memukul Nabila. Namun Pradita memeluk erat tubuh Nabila, dan dijadikannya sebagai tameng, supaya Nabila tidak terluka.
Setelah puas memukuli Pradita, para barisan sakit hati tinggal nikah itu terduduk lemas di permukaan lantai. Mereka sangat kelelahan setelah memukuli tubuh Pradita.
Sebenarnya Pradita tidak ingin melukai hati Nabila dengan menikahi banyak wanita. Namun setelah mendengar penuturan Nabila yang begitu tulus, dan ikhlas. Apa boleh dikata, Pradita pun menyetujuinya.
“Aku umumkan! Aku akan menikahi Nathania, dan Nathalia, Prisilia, Devi, Zevalia, Malika, Helly, Reina, Nikita —”
“Aku juga mau!” putus Seva yang tiba-tiba masuk aula mansion rumah Pradita.
“Oh, ya dan Seva!” Lanjutnya.
Badan catatan sipil yang diundang langsung pun langsung kebingungan. Karena tiba-tiba mempelai wanita yang seharusnya satu orang malah bertambah sembilan wanita.
“Busyet! Tampan sih tampan, tapi cacingnya kuat tidak?”
“Gampang kan ada segitiga biru —”
__ADS_1
“Tolol, pil blue!”
“... ….”
Semua undangan malah bergosip ria setelah Pradita memutuskan untuk menikahi 10 wanita sekaligus dalam satu akad pernikahan. Ia tidak berpikir bagaimana nanti malam pertamanya, dana biaya bulanan untuk setiap wanita yang harus ia anggarkan. Maklumlah namanya juga orang kaya, suka-suka dialah.
Akad nikah pun dimulai dengan satu mempelai pria melawan 10 mempelai wanita. Pradita benar-benar berhati dingin seperti es, ia tetap santai dan berwajah dingin disaat mulai akad nikah. Padahal semua orang d belakangnya yang tegang melihat Pradita harus menikahi 10 wanita sekaligus.
Pradita pun selesai mengucap janji suci, dan raut mukanya sangat dingin, tidak ada raut muka sumringah yang terpancar di mukanya. Hanya ada beberapa senyuman tipi yang bisa dihitung oleh jari yang terlempar dari bibir manisnya.
Perasaan dingin, dan tak pekanya ini akibat dirinya menjadi pembunuh bayaran. Makanya Pradita selalu bersikap dingin pada semua orang termasuk wanita.
Setelah akad pernikahan selesai, semua orang berpesta memakan makanan, dan minum sepuas mungkin sampai geleng-geleng kepalanya.
Sedangkan Pradita malah pergi ke rooftop setelah menyalami semua undangan yang mengucapkan selamat atas pernikahannya.
Ia duduk memandang langit yang begitu cerah, sambil menyesap sebatang rokok yang baru pertama kali ia hisap.
"Entah ini beruntung atau musibah. Kenapa sikap baik yang aku sampaikan pada mereka malah dianggap rasa cinta? Apakah ini resiko orang super tampan?" pikirnya bingung.
Nira menyusul Pradita ke rooftop, dan melihat suaminya itu termenung menatap langit.
"Maafkan aku, dan kakek, Mas. Aku tidak mengabarimu bahwa aku telah lolos dari maut. Kalau tidak ada mas, mungkin memang aku benar-benar mati," kata Nira sambil meneteskan air mata.
"Sudahlah. Itu masa lalu, bukankah Nira senang sekarang menjadi istriku?" Pradita berdiri, dan menyeka air mata yang menetes di pipi Nira.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa jika Mas tidak bisa aku miliki. Saat aku melihat Mas pertama kali, saat itu pula aku telah jatuh cinta sama Mas Pradita, hiks-hiks …," jawab Nira sambil memeluk Pradita dengan erat, bahkan riasan make up-nya sampai luntur gara-gara tangisannya itu.
Kesembilan istri yang lain juga menyusul Pradita, tetapi melihat Nira sedang memeluk Pradita, mereka mengurungkan niatnya untuk mendekati Pradita, dan Nira.
Tidak ada kata-kata yang bisa Pradita ungkapkan kepada Nira, karena saat ini pikiran , dan hatinya telah kosong. Entah apa yang membuat pikiran, dan hatinya kosong. Padahal harta, tahta, dan renata, eh wanita sudah ia dapatkan.
"Sudah, jangan menangis kasihku. Besok kita akan pergi ke Maldive untuk bulan madu. Lebih baik kita beristirahat, karena esok hari kita akan berangkat."
__ADS_1
Walau hati, dan perasaannya kosong, Pradita tetap bersikap romantis dengan mengecup kening Nira, hingga membuat gadis berambut coklat tersebut tenang hatinya.