
“Tentu aku mau. Dunia bawah tanah adalah penopang dunia atas.”
Pradita pun melajukan mobilnya agak pelan, dan ingin mendengar petuah-petuah dari Kakek Astra yang dianggapnya memang berpengalaman. Ia bisa melihat itu setelah sebelumnya melihat cara bertarung Kakek Astra saat melawan para preman di Terminal Cikokol.
“Di dunia bawah Tangerang Selatan ada 10 tingkatan penguasa atau geng mafia yang berkuasa. Aku sudah mengawasimu yang sedang berkonflik dengan geng mafia Zero Crime yang hanya bergerak di bidang jasa tukang pukul.”
“Zero Crime merupakan geng tingkat paling rendah dari 10 geng teratas yang berkuasa di Tangerang Selatan. Jika kau bisa menciptakan kekacauan menggunakan Zero Crime, maka kau punya kesempatan untuk menggulingkan Emperlord, geng mafia teratas,” jelas Astra dengan sorot mata yang tajam.
Pradita terus memperhatikan penjelasan Kakek Astra secara seksama, dan mulai mengerti kemana arah pembicaraannya.
“Maksud kakek? Tunggu sebentar, ini pendapatku loh, ya."
Pradita tampak menghela nafasnya lalu kembali berucap, "Ciptakan konflik antar geng, dan buat mereka tidak percaya satu sama lain, begitu?"
"Lanjutkan!" ucap Kakek Astra.
"Kemudian raih kepercayaan dari salah satu dari mereka yang berpotensi bermusuhan dengan Emperlord?” balas Pradita mengemukakan pendapatnya.
Kakek Astra terkekeh pelan mendengar pendapat Pradita. Menurutnya, Pradita terlampau cerdas untuk mengerti sebuah penjelasan yang terselubung yang dilontarkan olehnya.
“Bisa iya, tetapi saat ini kamu belum siap. Kamu butuh sumber daya, baik itu uang, fasilitas pelatihan, dan juga yang paling utama hal yang membuat anggotamu memiliki rasa hormat yang tinggi padamu, yakni penghormatanmu kepada mereka.”
Pradita mengingat dan menyimpannya dalam hati semua hal yang dinasihatkan oleh Kakek Astra padanya. Mobilnya pun sampai di daerah Rawa Buntu. Lalu memarkirkannya di depan gedung setinggi 10 lantai bertuliskan BSD Grup.
Pradita langsung disambut ramah oleh penjaga keamanan yang memakai jas hitam, dan melewati mekanisme keamanan yang super tinggi. Badan Kakek Astra dan Pradita dipindai oleh mesin pemindai seperti lubang pintu.
Kemudian diperiksa lagi oleh penjaga keamanan yang berada di belakang mesin pemindai dengan seluruh badannya digeledah dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Permisi, Mbak. Aku Pradita Mahendra. Aku ada janji temu dengan Tuan Julius Aslan,” kata Pradita tersenyum ramah.
__ADS_1
Resepsionis yang berjaga langsung pucat wajahnya, dan tubuhnya gemetar mendengar kata Pradita Mahendra yang telah digosipkan oleh seluruh karyawan di gedung BSD sebagai pemilik saham 50% BSD City.
“Ba-baik, Tuan. A-aku akan memberitahukan kedatangan, Tuan Pradita,” balas resepsionis wanita itu gugup.
Lalu dia menghubungi sekretaris pribadi melalui panggilan khusus CEO Julius Aslan, “Nona Mikha, Tu-tuan Pradita telah datang.”
“Terima kasih atas informasinya. Layani dengan baik Tuan Pradita, bawa dia ke lantai ruangan rapat para pemilik saham.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Mikha memutuskan sambungan telepon. Wanita resepsionis tersebut segera mengantarkan Kakek Astra dan Pradita ke lantai 9 melalui lift.
Pradita cukup gugup, walaupun sudah berdandan rapi. Ia sangat gugup karena baru pertama kali masuk ke dalam lingkaran kelas atas.
Setelah keluar dari lift, Pradita dan Kakek Astra kembali digeledah sekujur tubuhnya. Namun, Kakek Astra tidak diperbolehkan masuk. Ia harus menunggu di ruangan tamu di samping kanan ruangan rapat.
“Kakek, tunggu aku, ya! Kalau ada hal yang tidak bisa aku bereskan, dan aku tidak mengerti, aku akan kirim pesan ke Kakek,” pinta Pradita dengan raut muka agak kecewa.
Kakek Astra mengelus lembut kepala Pradita, dan pria berambut hitam tersebut mencium punggung tangan Kakek Astra untuk meminta restu. Saat ini yang dimiliki Pradita hanyalah beliau yang sudah dianggapnya seperti Kakek sendiri.
Pradita pun masuk ke dalam ruangan rapat pemegang saham dengan detak jantung tidak beraturan. Beberapa kali dia menyeka bulir-bulir bening dingin di dahinya, karena sangat gugup dan grogi.
Pradita disambut dua orang wanita cantik dan seksi berwajah kembar. Keduanya memiliki paras gadis latin. Berhidung mancung, memakai blazer hitam, serta rok mini dengan stocking hitam transparan membalut betisnya, hingga paha.
“Selamat datang, Tuan Pradita!” sapa Nathalia dan Nathania serentak dengan tersenyum ramah.
Pradita tambah grogi, dan beberapa kali meneguk salivanya dalam-dalam. Ada getaran-getaran aneh di hati Pradita melihat kecantikan dan keseksian tubuh Nathallia, serta Nathania.
“Silahkan duduk, Tuan Pradita!”
Nathania, dan Nathalia menggiring Pradita ke arah salah satu kursi yang memutari meja bundar.
__ADS_1
Ada sebelas kursi yang memutari meja bundar tersebut. Sementara itu Pradita duduk ditemani kedua gadis kembar berambut pirang tersebut di sebelah kiri, serta kanannya. Baru setelahnya para pemegang saham yang lain masuk ke ruangan.
Ternyata dari salah satu pemegang saham tersebut ada Hiro yang pernah berseteru dengan Pradita tempo hari. Kedua mata Hiro melebar sempurna saat melihat Pradita.
Namun, tatapannya langsung berubah sinis pada Pradita. Apalagi dia tahu Pradita hanya seorang pemuda desa, miskin dan tidak terpelajar menurutnya.
Kakek Aslan pun masuk dari pintu yang berbeda dan langsung duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang diduduki oleh Pradita. Di dalam ruangan tersebut sangat sunyi dan senyap.
Di sana hanya ada lima orang pemegang saham BSD City. Kelima lainnya sudah memutuskan menjual saham BSD City, karena dirasa profit yang dibagikan tahun ini tidak sesuai ekspektasi mereka.
“CEO Aslan, aku out!”
“Aku juga out!”
“Tentu saja aku juga out!”
Ketiga pemegang saham menyatakan mengundurkan diri termasuk Hiro. Setelah mereka melihat Pradita yang digadang-gadang oleh Tuan Aslan untuk memberikan hasil yang maksimal, justru tidak dipercayai oleh mereka, karena dianggap tidak punya kompetensi.
Hiro dan kedua pemegang saham lain menandatangani surat penyerahan saham secara sepihak. Mereka tidak peduli jika harus merugi, dan tidak mendapatkan profit dividen tahun ini. Karena mereka bertiga menganggap jika diteruskan, maka kerugian mereka lebih besar.
CEO Aslan hanya bisa menghela nafas panjang dengan raut muka kecewa. Ia merasa keputusannya menerima tawaran dari seseorang yang misterius untuk menawari Pradita saham 1% itu merupakan sebuah kesalahan.
“CEO Aslan! Aku merasa kau itu sekarang sedang membunuh dirimu secara perlahan dengan memberikan si sampah ini tempat. Aku dan perusahaanku jauh lebih baik dari orang udik ini,” ejek Hiro sambil menunjuk Pradita.
“Diam! Hanya orang yang pengecut menyuruh orang lain untuk membersihkan semut. Akan tetapi semut itu malah menggigitnya!” teriak Pradita emosinya mulai memuncak karena direndahkan oleh Hiro.
Kemudian dia melanjutkan, “CEO Aslan! Aku berjanji padamu. Sebelum aku membereskan apa yang menjadi ganjalan BSD City dalam melebarkan sayapnya. Maka aku tidak pantas menerima 49% saham BSD City.”
Pradita kemudian menandatangani surat penyerahan saham BSD City yang masih bernilai 1%. CEO Aslan akan memberikan 49%, kalau Pradita mampu menyelesaikan masalah yang tengah di hadapi oleh para kontraktor yang sedang membangun apartemen kembar di tanah dekat rumah Willy.
__ADS_1