SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 106


__ADS_3

Sebelum Zevalia dibawa oleh Profesor Hendro ke ruangan operasi, wanita berwajah Rusia tersebut diperlihatkan Selena yang memiliki borok di seluruh tubuhnya.


Selena sedang duduk di ranjang tidur, dengan menghadap ke arah partisi kaca. Kelopak matanya sudah menghitam, karena sudah tidak tidur selama kurang lebih tiga hari.


Wanita yang memiliki borok di sekujur tubuhnya tersebut, menggaruk kepalanya yang memiliki rambut semrawut dengan sangat beringas.


“Lihat, bagaimana bahagianya Selena disini!” tunjuk Pradita dengan tersenyum menyeringai, lalu menarik rahang Zevalia untuk menghadap ke arah Partisi kaca.


“Tidak! Tidak!” erang Zevalia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah seputih kertas.


Selena berjalan ke arah partisi kaca dengan langkah sempoyongan seperti zombie yang sedang ingin memangsa. Lalu sesampainya di depan partisi kaca, ia tersenyum menyeringai sambil mencakar pelan partisi kaca tersebut, dan memanggil Zevalia, “Ze-va-lia …!”


Suara Selena memang tidak terdengar, tetapi gerak bibirnya mampu terbaca jelas, kalau Selena sedang memanggil Zevalia.


Wanita berwajah Rusia tersebut terkencing-kencing, saking takutnya melihat Selena yang sudah seperti zomblo, eh zombie. Padahal ia hanya tidak tidur kurang dari 3 hari.


"Bawa pergi aku, cepat!" teriak Zevalia histeris.


Pradita tersenyum sumringah melihat Zevalia ketakutan. Seketika itu juga jiwa psikopatnya bangkit, dan mengusulkan diri, "Profesor, operasi ini biar aku yang melakukannya, xixixixi …."


Profesor Hendro hanya mengangguk pelan, dan tidak bersuara menanggapi usulan Pradita.


Zevalia semakin berontak, tetapi ikatan yang mengikat tubuhnya terlalu kuat. Brankar yang membawa tubuh Zevalia itu didorong oleh Pradita menuju ruang operasi eksperimen subjek 02 dengan relawan Zevalia.


Sesampainya di ruangan operasi yang begitu terang, para Profesor lain yang sudah memakai baju operasi berwarna hijau menunduk hormat pada Pradita dengan wajah dingin. Lalu mengikat tubuh Zevalia yang terus meronta-ronta dengan ikatan yang lebih kuat. Saking kuatnya ikatan tersebut, hanya kepalanya saja yang bisa bergerak.


Transfusi darah pun dilakukan dengan menusukan jarum transfusi ke leher Zevalia, dan langsung membuatnya menjerit histeris, “Aaakh! Sakit!”


Disaat Zevalia meraung-meruang inilah Pradita membuka meja yang tertutup kain hitam. Mata Zevalia langsung membola saat melihat isi di atas meja tersebut yang menampakan keempat kaki singa yang sudah dibersihkan bulunya.


Tanpa basa-basi lagi, Pradita menjahit persendian bahu Zevalia dengan kaki Singa satu persatu tanpa diberi cairan anestesi atau bius.


“Aaakh! Apa yang kau lakukan? Aaaakh!”


Kepala Zevalia berontak bergoyang cepat ke kiri, dan ke kanan. Tubuhnya juga ikut bergerak acak, tetapi tidak bisa untuk melepaskan tali yang mengekangnya.


Zevali terus meronta-ronta kesakitan, karena kedua tangannya disatukan dengan kedua kaki singa. Ia bertambah keras pekikannya saat Pradita menjahit kedua pergelangan pahanya dengan kaki singa satu persatu.


Bahkan saat itu juga suaranya hilang, karena terus-terusan berteriak. Namun pada akhirnya ia pasrah, dan lemas tak berdaya, karena apa yang dilakukannya sama sekali tak berguna.


“Xixixi ….” Pradita tertawa cekikan, setelah menyelesaikan jahitan di paha kiri Zevalia yang sudah jatuh mentalnya. Kemudian ia melanjutkan sambil menyeka keringat di dahinya, “Bawa dia ke ruangan isolasi bersama Selena!”


Para Profesor itu hanya mengangguk dengan raut wajah dingin. Lalu mendorong brankar tersebut keluar dari ruangan operasi menuju ruangan isolasi.


Pradita masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, dan bergumam, “Sayangku, Prisilia, Malika, dan Seva. Aku sudah membalaskan dendam kalian pada Zevalia. Semoga kalian tenang di alam sana.”

__ADS_1


Raut wajah psikopat yang ditampakan Pradita itu berubah dengan raut muka kesedihan, saat melihat wajahnya sendiri di cermin. Air mata tumpah di kedua pipinya meluncur dengan deras, ia masih merasa menyesal atas kematian Prisilia, Malika, dan Seva.


Rasa sakit itu muncul, dan bertambah sakit disaat Pradita mengingat kenangan dirinya bersama Prisilia saat kuliah bersama di Unswagati. Senyum ceria Prisilia selalu terngiang-ngiang di dalam kepala Pradita saat ini.


****


Keesokan sore, Mansion Union.


Pradita sudah tiba lima jam yang lalu, dan ia langsung tertidur di pangkuan Nabila sampai saat ini. Hanya Nabila yang ada di rumah, karena ketiga istrinya yang lain sibuk mengurus bisnis masing-masing milik Pradita.


“Tidur yang nyenyak ya sayang,” ucap Nabila, lalu mencium tangan kanan Pradita, dan ia merasakan tangan yang sangat dingin sedingin es.


Nabila panik, karena mengira Pradita mati, tetapi saat melihat dadanya kembang-kempis, Nabila bisa bernafas lega. Untuk menguatkan dugaannya kalau Pradita masih hidup, ia memegang nadi radita, dam masih merasakan denyut di nadi tersebut.


Oleh karena panik, dan sedih yang datang tiba-tiba. Air mata Nabila terjatuh ke pipi Pradita, hingga membangunkannya.


Mata Pradita langsung membelalak. Apalagi setelah melihat air mata menggenang di kedua kelopak Nabila, ia pun langsung bangkt duduk dengan cepat.


“Kenapa sayang?” tanyanya dengan nada yang cepat.


"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya kelilipan —"


"Jangan bohong!" potong Pradita dengan nada yang sedikit meninggi.


Tangan Pradita menyeka kelopak mata Nabila, dan berkata, “Mati itu misteri Tuhan. Aku pun tidak bisa berjanji bahwa esok hari masih bisa hidup. Namun aku bisa berjanji, aku akan selalu mencintai kalian sampai akhir hayatku.”


Hati Nabila langsung meleleh, dan langsung mencium bibir Pradita dengan tatapan mesum. Namun saat mencium ia merasakan hawa kematian yang sangat pekat dari dalam mulut Pradita.


Nabila melepaskan bibirnya dari bibir Pradita dengan nafas terengah-engah, dan bertanya dengan nada agak tinggi “M-mas, apakah kamu baru membunuh orang?”


Pradita langsung menunduk pasrah, karena ia tak bisa berbohong pada Nabila. Lalu menjawab dengan tatapan penuh penyesalan, "I-iya, aku sudah membunuh banyak anak buah Zevalia. Karena mereka mau merusak lagi lahan sawah dengan racun yang sangat berbahaya."


Nabila memeluk Pradita dengan menangis terisak-isak, "Mas, aku tidak tahu, dan aku tidak mengerti dengan tindakan Mas Pradita. Apakah itu salah atau benar? Apapun itu aku … aku Nabila Salsabila akan tetap mendukungmu, Mas. Hiks-hiks …."


Pradita tambah tidak tega, ia terus mengelus-elus lembut kepala Nabila untuk menenangkannya. Karena ia tahu kalau Nabila menangis, untuk menghentikannya itu butuh proses yang lama.


Setelah dielus-elus kepalanya masih terus menangis, Pradita merasa putus asa. Maka ia melepas pelukannya pada Nabila, untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya.


“Teknik Singkong premium! Hyaaa!” seru Pradita sambil melepaskan celananya.


Tampak singkong premium yang masih menjadi cacing premium. hal itu mengundang gelak tawa Nabila, karena Pradita melakukan hal yang konyol di hadapan matanya.


“Hahaha … Apa yang sedang kamu lakukan mas? Hahaha ….”


Nabila tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat cacing premium itu sudah menjadi singkong premium, dan dimainkan oleh Pradita dengan menggoyangkannya ke atas, dan ke bawah dengan cepat.

__ADS_1


Pradita memicingkan matanya dengan tersenyum licik setelah melihat Nabila yang memakai dress tanpa memakai pelindung kerang beracun.


"Xixixi … kena kau!"


Tanpa basa-basi Pradita mengungkung kedua kaki Nabila hingga membentuk huruf M, dan singkong premium itu sudah membabak belurkan kerang beracun.


Suara lirih, suara lenguhan. suara rintihan, dan suara pekikan silih berganti dari mulut Nabila yang sedang menikmati perhelatan akbar dengan Pradita.


"Mas, jangan Mas, jangan!," rintih Nabila dengan mata merem-melek menikmati suasana romantis bersama suami yang paling dicintainya ini.


Dari sekian istrinya, Pradita sebenarnya hanya ingin menikahi Nabila, dan punya anak dengannya. Maka dari itu intensitas perhelatan akbar Pradita dengan ketiga istrinya itu lebih sedikit, ketimbang dengan Nabila. Karena wanita berambut perak tersebut dimata Pradita lebih menggairahkan, dan menggemaskan.


Setelah dua jam melakukan perhelatan akbar, dan keduanya sudah final dengan kondisi Nabila terkapar babak belur oleh singkong premium milik Pradita. Pria berambut merah tersebut membersihkan diri sambil melihat dari jendela kamar mandi yang mengarah ke arah sawah.


Bibit padi pun sudah ditebar tadi pagi, dan prosesnya sedang berjalan. Semua kegiatan tersebut, mulai uji tanah sebelum diberi pupuk cair dan sesudah diberi pupuk cair pun sudah direkam sebagai bukti.


Pradita sudah menyiapkan banyak rencana kalau formula pupuk cair, dan bibit padi unggul yang diberi nama Sparta tersebut berhasil panen hanya dalam kurun waktu 15-20 hari.


[Tongteng … Tongteng! Selamat, host mendapatkan uang Rp,100.000 karena mengupil sebanyak lima kali, dan sudah ditransfer ke inventaris sistem]


“Sial, gara-gara aku jarang mengupil uang yang didapatkan juga sedikit,” gerutu Pradita sambil menyiramkan air di kepalanya menggunakan shower.


[Tongteng … Tongteng! Misi otomatis diterima]


<>...............¤……………<>


[Misi: Hasilkan uang Rp,60.000.000 dari jualan bakso bersih]


[Syarat: Modal tidak boleh menggunakan uang pribadi, dan tidak boleh dibantu promosi oleh keempat istri host]


[Batas waktu: 30 hari]


[Hukuman: Perusahaan D3, dan 50 hektar sawah milik host akan dipindah tangankan]


[Hadiah: Semua status host tembus ke poin maksimal, wilayah segitiga emas Sunyaragi Business District (SBD) 100 % sahamnya akan menjadi milik host]


<>................¤…………….<>


"Sompret, aku yang kaya raya, dan super tampan ini harus jualan bakso? apa kata dunia?" gerutu Pradita sambil membuang handuknya ke atas. Setelah keluar dari kamar mandi, dan menampakan singkong premiumnya yang kembali tegak.


Nabila yang sudah terkapar di atas kasur langsung bangkit duduk dengan tatapan mesum. Namun Pradita mencegahnya dengan menutup mata Nabila, "Sudah ya sayang. Kamu kan capek, lebih baik sayang mandi, dan kita makan. Lalu kita jalan-jalan ke mall, oke? Aku belikan perhiasan dan baju deh. Kamu kan sudah lama gak belanja?"


"Memangnya uang kamu masih banyak mas?" tanya nabila sangsi dengan kondisi keuangan Pradita saat ini, dan melanjutkan, "Kalau kurang, dan mas butuh uang, ambil saja tabunganku. Uang yang Mas berikan waktu itu saja aku masih simpan, dan masih utuh, belum digunakan sama sekali."


"Tenang, uang Mas masih banyak. Ya walaupun sekarang pengeluaran Mas lebih banyak, karena harus menggaji pasukan Black Shadow, hehehe …," jawab Pradita sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


__ADS_2