SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 24


__ADS_3

...[Tongteng … Tongteng]...


...[Misi sampingan diterima]...


...<>......................<>...................<>...


...[Misi sampingan: kalahkan semua anggota geng mafia Zero Crime selama 30 menit]...


...[Batas waktu: 30 menit]...


...[Hukuman: Host babak belur dan kehilangan respek semua anggota geng Zero Crime]...


...[Hadiah: 100% respek geng Zero Crime, Mobil Toyota Hilux Extreme, 10.000 unit Comanche Drone, dan helm Empress]...


...<>......................<>...................<>...


“Tidak usah ikut campur! Pecundang sepertimu mana mengerti tentang harga diri sebagai anggota Geng Zero Crime. Serang!” teriak Samuel sambil melambaikan kedua tangannya ke depan.


Pradita tetap santai, walau melihat semua anggota Geng Zero Crime yang berjumlah seratus orang tersebut berlari ke arahnya sambil membawa kayu, tongkat besi, parang, dan bat baseball. Semua barang yang dihantamkan ke arah Pradita secara bergantian maupun serentak mampu dihindarinya dengan mudah.


Senjata-senjata tersebut hanya mengenai ruang kosong, dan setiap inchi anggota tubuh Pradita tidak ada luka sedikitpun.


“Ayo! Apakah kemampuan kalian hanya seperti ini?” ejek Pradita sambil memainkan jari telunjuknya untuk memprovokasi mereka.


Samuel tiba-tiba berada di belakang Pradita dan mengibaskan bat baseballl secara horizontal dari kiri ke kanan dengan target rusuk kiri Pradita. Alhasil sabetan bat baseball itu tidak kena, karena Pradita melompat tinggi dan mendarat di ujung bat baseball yang dipegang oleh Samuel.


Pria berkulit hitam tersebut menengok ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Pradita. Berat tubuh Pradita tidak dirasakan oleh Samuel saking ringannya. Padahal kedua kakinya menginjak ujung bat baseball.


“Bos! Dia di belakang!” teriak salah satu anak buah Samuel.


Sebelum mendarat, dan bertepatan dengan kepala Samuel menoleh ke belakang, Pradita melompat turun sambil melayangkan tendangan memutar ke pipi kiri Samuel. Hal itu membuat tubuhnya berputar beberapa saat di udara, lalu kepalanya pertama kali masuk ke kubangan lumpur.


Pradita mendarat tepat di samping Samuel yang sudah pingsan. Lalu mengambil bat baseball miliknya.


“Ayo, siapa lagi yang mau menantangku?” tunjuk Pradita menggunakan bat baseball ke arah kerumunan anggota geng Zero Crime yang sudah agak kelelahan dengan dada kembang-kempis tak karuan.


Salah satu anggota geng Zero Crime di barisan paling belakang mengeluarkan pistol revolver dan membidiknya ke arah dahi Pradita.

__ADS_1


Sembilan puluh delapan angota Geng Zero Crime tidak ada yang menyerang, semuanya diam di tempat. Namun, Willy melihatnya dan segera berlari ke arah Pradita untuk menghalau pluru yang usdah dimuntahkan oleh senapan yang dipegang oleh Jimmo tersebut.


Suara letupannya terdengar sangat kencang, dan Willy tidak bisa mencapai tepat waktu untuk melindungi tubuh Pradita, karena pelurunya terlau cepat melesat.


Akan tetapi semua mata melebar, melihat Pradita sudah tidak ada lagi ditempatnya. Semua mata berkeliling mencari keberadaan Pradita yang sudah menggunakan teknik pedang Naga Danindra, yakni berlari cepat secepat tanpa suara, dan secepat peluru.


“Aaakh! Aaakh!” 


Satu persatu anggota geng Zero Crime memekik keras dan bejatuhan di permukaan tanah dengan bahu kiri mengalami keretakan tulang.


Mereka terhantam serangan bat baseball yang diayunkan oleh Pradita secara vertikal dari atas ke bawah.


Willy dari jauh hanya melihat ujung bat baseball menghantam bahu-bahu kanan anak buahnya dan membuat pria berwajah arab tersebut gemetar dengan kemampuan Pradita dalam bertarung.


Hanya dalam 5 menit 60 anggota geng Zero Crime tumbang di permukaan tanah dlam keadaan tertelungkup.


30 anggota geng Zero Crima yang masih tersisa termasuk Jimmo melakukan pukulan secxara membabi buta agar Pradita tidak mendekati mereka. Sebab keberadaan Pradita tidak bisa dilihat oleh mata biasa, seperti hantu di kegelapan malam.


Jimmo juga terus menembak secara acak ke berbagai arah, dan berharap tembakannya mengenai Pradita.


Tentu saja hal itu tidak mungkin, karena Pradita terus berlari cepat untuk berpindah-pindah tempat menghindari serangan pukulan juga tendangan yang dilayangkan oleh mereka.


“Ini yang namanya geng mafia? Hah! Aku merasa kalian hanya preman pasar pecundang yang suka bersembunyi di dalam rok istri atau ibu kalian,” ejek Pradita yang amarahnya sudah memuncak dan memukuli mereka dengan brutal, hingga menyemburkan darah dari mulut mereka.  


[Tongteng … Tongteng]


[Misi sampingan berhasil diselesaikan]


<>......................<>...................<>


[Misi sampingan: kalahkan semua anggota geng mafia Zero Crime selama 30 menit]


[Batas waktu: 30 menit]


[Hukuman: Host babak belur dan kehilangan respek semua anggota geng Zero Crime]


[Hadiah: 100% respek geng Zero Crime, Mobil Toyota Hilux Extreme, 10.000 unit Comanche Drone, dan helm Empress]

__ADS_1


<>......................<>...................<>


[Tongteng … Tongteng! Selamat wilayah kekuasaan geng Zero Crime telah berhasil direbut oleh host dan mendapatkan respek 100% dari semua anggota geng Zero Crime]


[Tongteng … Tongteng! Selamat, host mendapatkan 10.000 unit Comanche Drone dan Helm pengendali Empress telah ditransfer ke inventaris sistem]


[Tongteng … Tongteng! Selamat, host mendapatkan mobil Toyota Hilux Extreme]


Pradita yang sudah puas memukuli Samuel, dan 100 anggota geng Mafia Zero Crime melemparkan bat baseball dengan menatap tajam semua anggota geng Zero Crime yang merangkak ke arahnya untuk meminta ampun.


“Ampuni kami ketua. Akmi akan setia pada anda ketua.”


“Ya ketua. Ampuni kami!”


“... ….”


Semua anggota geng Zero Crime meminta ampun dan menyesal telah menantang Pradita, serta meremehkannya.


“Willy urus mereka dan bawa ke rumah sakit!” titah Pradita. Lalu memberikan uang 50 juta pada Willy sebagai biaya pengobatan. 


“Ba-baik, ketua.” Willy mengangguk, lalu menggiring mereka semua ke rumah sakit yang berjarak hanya dua blok dari tanah pembangunan apartemen Liudou.


Pradita pun meminta temannya yang bernama Hoki untuk menjemputnya. Setelah selang 5 menit, Hoki datang menjemputnya, lalu mengantarkannya ke kontrakan Pradita untuk mengganti baju yang terbasahi oleh cairan merah.


***


6 jam kemudian. Kediaman Rumah Astra.


Pradita, Astra, Nira, Nabila, Nathalia, dan Nathania sedang mengadakan makan malam bersama di ruang makan mansion Astra.


“Dit! Wajah kamu pucat banget? Sakit?” tanya Astra khawatir melihat wajah Pradita seputih kertas.


“Tidak apa-apa, Kek. Aku sungguh bahagia hari ini, karena mendapatkan banyak uang, dan juga berhasil merebut satu wilayah 10 geng mafia teratas di Tangerang Selatan,” jawab Pradita dengan tersenyum lebar.


“Mas, itu kan bahaya.” Nabila yang khawatir melihat wajah Pradita pucat langsung mendekatinya. Lalu memeluk kepala Pradita dengan erat. “Kenapa kamu malah masuk ke dalam dunia bawah tanah sih mas?”


"Aku ingin menjadi penguasa bukan hanya di Tangerang Selatan, tapi juga Indonesia. Bila perlu dunia juga harus bertekuk lutut di bawah kakiku," jawab Pradita dengan raut muka menyeringai.

__ADS_1


Pria berambut hitam tersebut sudah mulai menikmati rasanya memukuli orang lain, dan kepuasan merebut wilayah orang lain


__ADS_2