
Mata sang gadis Rusia tersebut tidak menemukan tanda-tanda adanya bahaya. Hanya ada beberapa pria memakai setelan jas merah, dan memakai kacamata merah.
Komandan Aramain menurunkan salah satu pasukan elit miliknya yang bernama Red Cobra yang dipimpin oleh Kapten Malik untuk membunuh Pradita yang berada di dalam pesawat, sekaligus melakukan pembajakan pesawat.
“Menurutku aman. Tidak apa-apa, lebih baik kamu beristirahat sebelum aku akan menghajarmu sampai mati di Uni emirat Arab.” Zevalia berpendapat, tapi ditanggapi gelengan kepala oleh Pradita.
“Kalau terjadi pembajakan pesawat akan sulit jika yang membajak berjumlah sangat banyak. Kalau targetnya adalah diriku sendiri, aku tidak masalah. Tapi kalau targetnya semua penumpang, ini akan menjadi masalah besar,” pikir Pradita, lalu berjalan ke arah toilet.
Zevalia sendiri malah memejamkan mata, karena sudah hampir 7 hari tidak tidur untuk mengawasi pergerakan Pradita. Baginya misi dari komandan Arshavin adalah mutlak, dan ia pun tahu kalau ada konflik antara komandan Arshavin dengan komandan Aramain.
Pradita melangkahkan kakinya sambil menundukan kepala dengan mata terus melirik ke kiri dan ke kanan menuju toilet.
Sembari berjalan ia memikirkan strategi jika firasatnya itu benar terjadi. Karena sedari tadi hatinya gelisah, dan itu biasanya tanda sesuatu buruk akan terjadi.
Sampai di pintu toilet, dan sudah masuk ke dalamnya, Pradita mendengar suara mengenai rencana pembajakan pesawat oleh salah satu anak buah Malik akan dimulai 5 menit lagi.
Pradita menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri, dan mengeluarkan pistol kejut yang disimpan di dalam lengan kiri kemeja putihnya.
Ia keluar dari dalam toilet dan matanya langsung tertuju pada dua orang berbadan kekar yang memakai setelan jas merah tiba-tiba berdiri di depan pintu toilet.
Mereka sudah mengunci Pradita, dan kemanapun ia pergi akan diikuti. Maka dari itu Pradita mengambil tindakan dengan menembak mereka berdua dengan pistol kejut, karena matanya mendapati salah satu mereka di pinggangnya ada senapan magnum yang tergantung.
Keduanya langsung pingsan tanpa bisa memekik, dan Pradita menyeret satu persatu tubuh kekar tersebut ke dalam toilet. Lalu mengganti bajunya dengan baju setelan merah milik salah satu dari mereka. Setelah itu ia keluar dan mengunci toilet tersebut.
Pradita terus mendengarkan informasi yang didengungkan oleh Malik di jaringan khusus handsfree yang didapatkannya dari salah satu anak buahnya.
Ia melesat cepat dan gerakannya tidak dapat ditangkap oleh mata biasa, dan menumbangkan satu persatu anak buah Malik yang berjaga di dek VVIP menggunakan pistol kejut yang dimaksimalkan kejutannya, hingga membuat target yang terkena langsung pingsan.
Zevalia yang memejamkan mata seperti pejaman mata ayam gelisah, karena sudah hampir lima menit Pradita belum kembali. Gadis berwajah Rusia tersebut tidak mau tangkapannya untuk komandan Arshavin lolos begitu saja. Maka dari itu ia pun mencarinya ke toilet.
__ADS_1
“Kemana dia?’ pikirnya.
Pradita turun ke dek kelas bisnis dan bergumam sambil berjalan santai ke salah satu anak buah Malik yang tak mencurigainya sama sekali, karena memakai seragam yang sama.
“Ternyata disini lebih banyak. Kemungkinan kecil mereka ingin membajak sekaligus merampok orang-orang kaya disini,” gumam Pradita.
“Hei, kenapa kamu berada disini?” teriak salah satu anak buah Malik pada Pradita.
“Sorry, Bro! Aku ditugaskan Kapten untuk kesini,” sahut Pradita.
Sesaat kemudian operasi pembajakan pun dimulai, semua anak buah Malik bergerak dengan menodongkan pistol senapan magnum, dan juga Blaster Rifle ke arah penumpang.
“Terlambat!” gumam Pradita kesal, karena ia tidak bisa mengantisipasi dengan baik penumpang yang berada di dek kelas bisnis yang berisikan orang kaya.
Kemudian dia berbicara dengan sistem di dalam batinnya, “Sistem, apakah ada senjata kecil yang bisa dilempar, dan bisa membuat pingsan target seketika?”
[Tongteng … Tongteng! Ada, Host. Namanya Jarum kejut]
[Ya/Tidak?]
Pradita mengernyit melihat panel hologram yang menunjukan harga sarung tangan yang begitu sangat mahal.
[Kenapa host? Mahal ya? Kasihan! dasar host miskin!]
Raut muka Pradita sudah dipenuhi urat otot karena dihina oleh sistem, tetapi ia tahan. Sebab kondisinya kali ini sangat genting, mau tidak mau untuk meminimalisir korban ia harus membeli sarung tangan kejut tersebut.
[Tenang, host! Amunisinya bukan saja jarum yang tersedia. Ada banyak amunisi yang bisa host lontarkan dengan sarung tangan kejut tersebut salah satunya kunai kecil atau anak panah pendek]
Pradita menekan tombol ya, dan sarung tangan kejut tersebut sudah masuk ke dalam inventaris sistem. Setelah sistem memotong uang 2 milyar dari saldo sistem milik Pradita.
__ADS_1
Sarung tangan tersebut ada sepasang, tetapi Pradita hanya memasang satu pasang saja di tangan kirinya, supaya tidak kelihatan oleh anak buah Malik.
“Ayo kita beraksi!” gumam Pradita sambil menembakan jarum kejut ke beberapa anak buah Malik dari jarak 10 meter, dan tepat mengenai tengkuk mereka.
Alhasil satu persatu anak buah Malik yang berada di dek kelas bisnis berjatuhan pingsan.
Pradita kembali melesat menuju dek ekonomi, setelah semua anak buah Malik di dek kelas bisnis dilumpuhkan dan dilucuti senjatanya oleh Pradita.
Pria bergaya rambut harajuku tersebut meminta penumpang untuk tetap tenang, dan jangan panik, supaya Malik yang mengawasi mereka tidak curiga, karena 100% anak buahnya yang berjaga di dek kelas VVIP, dan bisnis telah dilumpuhkan.
Akan tetapi usaha yang dilakukan Pradita sia-sia. Rupanya Malik sudah membaca pergerakan Pradita dan menahan satu sandera anak kecil saat ia sudah turun di dek kelas ekonomi.
Suara letupan senapan magnum terdengar sangat keras, dan pelurunya menyerempet ke pipi kanan Pradita. Peluru tersebut dimuntahkan oleh senapan magnum Rifle milik Malik.
Semua penumpang meringkuk di kursi masing-masing dengan raut muka seputih kertas, dan tubuh menggigil. Setelah mendengar suara letupan senapan magnum yang ditembakan Malik ke arah Pradita.
“Aku tak menyangka kau begitu waspada, hingga semua anak buahku di dua dek kau lumpuhkan. Tapi … nasibmu detik ini juga akan terputus, dan menemui raja neraka, hahaha ….”
Pria berjambang lebat seperti Rhoma Irama tersebut kembali menarik pelatuknya, dan senapan yang dipegangnya memuntahkan peluru ke arah Pradita.
Pria bergaya rambut harajuku tersebut mengganti amunisi sarung tangan kejutnya dengan sebuah anak anak kecil yang memiliki racun tidur, dan ditembakan juga ke arah Malik.
Alhasil anak panah dan proyektil bertabrakan. Namun peluru itu kalah cepat dengan anak panah yang dilesatkan oleh sarung tangan kejut milik Pradita.
Peluru tersebut terbelah dua, dan anak panah itu melesat ke arah Malik, dan tepat mengenai bahu kanannya. Saat itu juga Malik tumbang dan menjatuhkan senapan magnumnya.
Salah satu penumpang yang seorang polisi di Negara Francis menendang pistol itu supaya jauh.
Melihat anak buah Malik mulai bertindak dengan akan menembak para penumpang, Pradita melompat sambil mengganti amunisi sarung tangan kejut yang semula anak panah kecil menjadi amunisi jarum kembali cukup dengan menekan tombol yang berada di bagian punggung tangan.
__ADS_1
Dalam keadaan melompat dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas, Pradita menembakan bertubi-tubi jarum kejut, dan tepat mengenai semua anak buah Malik.
Hanya dalam beberapa hembusan nafas semua anak buah Malik dilumpuhkan oleh Pradita, dan pembajakan pesawat berhasil digagalkan.