SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 120


__ADS_3

Vic Zhou masuk ke dalam gua, dan banyak orang berambut pirang di dalam hanya memakai pakaian dari kulit. Namun mereka membawa laptop, dan ada sekitar kurang lebih 50 orang.


“Tuan, anda membawa tanaman herbal yang sudah kami pesan?” tanya seorang wanita bernama Sherley dengan tatapan heran. Karena Pradita datang dengan tangan kosong.


Sherley menjentikan jari, dan beberapa orang laki-laki mengepung Pradita dengan menodongkan senapan M16, “Apa-apaan ini?” tanya Pradita panik.


“Aku tanya sekali, dimana tanaman herbal yang kami pesan? Kalu tidak mereka kan menghabisimu!” ancam Sherley dngan tatapan nyalang.


“Oh, tenang!” Pradita menaikan kedua bahunya, lalu melanjutkan dengan menjentikan jari, “Tararaat!”


Pradita mengeluarkan tumpukan kotak dari inventaris sistem berisi tanaman herbal akar naga pelangi, daun ginseng emas, akar ginseng emas, dan akar naga putih.


Setelah Pradita mengeluarkan kotak-kotak tersebut, mereka menurunkan senjatanya dengan mata berbinar-binar. Karena Pradita mampu melakukan sulap di depan mereka dengan mengeluarkan kotak-kotak tersebut dari ruang hampa.


“Maaf-maaf, Tuan. Anda memang Tuan Pradita Mahendra, dan ….” Sherley tidak berani mengatakan kata-kata selanjutnya.


Pradita curiga, jadi bertanya, “Ada apa, Nona? Katakan saja! apakah ada masalah?”


“Ada, Tuan Pradita,” samber James, dan melanjutkan dengan menunduk hormat pada Pradita, “Sisanya kami tidak bisa bayarkan, karena uang kami habis tak tersisa. Namun —-”


“Kami akan membayarnya dengan gua ini, Tuan Pradita,” potong Sherley, dan membuat semua warga gua tersebut menatap tajam Sherley.


Karena tidak setuju dengan keputusan Sherley, walaupun perempuan bermanik mata biru tersebut adalah kepala desa dari pemukiman gua pirang tersebut.


Pradita membaca keadaan, dan mencoba mencari jalan keluar, supaya penduduk desa tidak saling bertengkar.

__ADS_1


“Tunggu!" Pradita mengacungkan tangan, dan melanjutkan, “Biarkan aku berbicara, dan bertanya sesuatu pada kalian!”


Semua warga desa gua pirang terdiam seribu bahasa, karena menganggap Pradita sebagai dewa penolong mereka yang bisa mendatangkan empat tanaman herbal yang sangat mereka butuhkan untuk menyembuhkan 50 warga desa lain yang terkena penyakit penurunan kekebalan tubuh.


“Pertanyaan pertama, bagaimana kalian membangun infrastruktur komunikasi untuk bisa menghubungi dunia luar di hutan rimba seperti ini?”


“Kedua, darimana kalian mendapatkan uang sebanyak ini untuk membeli tanaman herbal dariku?” Terakhir, apa isi di dalam gua ini?” tanya Pradita.


“Kami dahulunya adalh seorang peneliti di hutan ini yang membawa banyak teknologi yang biasa digunakan di dunia luar.”


“Namun karena insiden, kami terjebak disini dan membangun sistem komunikasi dengan meletakan batu-batu khusus di titik hexagonal dari gua ini yang memiliki jarak 500 meter.”


“Kami mendapatkan uang dari trading saham menggunakan laptop-laptop yang kami bawa, dan terkumpul uang 50 juta dolar.”


“Akan tetapi setengah peneliti kami terjangkit penyakit penurunan kekebalan tubuh, dan hanya keempat obat tersbeut yang bisa menyembuhkannya menurut dokter kami, Tuan Chang Shin.”


“Baiklah, aku sudah paham.” Pradita mengangguk pelan, dan melanjutkan, “Begini saja. Aku akan membangun kota disini dengan sumber daya batu tersebut, dan sisa pembayaran tanaman herbalnya anggap saja aku melakukan investasi pada kota yang akan kita bangun ini.”


“Kota yang akan bernilai sangat fantastis, dan semua orang kaya di dunia ini pasti ingin mengunjungi kota ini.”


Sherley, James, dan 48 warga Desa Pirang lain melakukan rapat tertutup meminta persetujuan untuk melepas sebagian gua pada Pradita.


Setelah diskusi panjang dan alot. Akhirnya mereka menyetujui hal tersebut, karena dokter Chang Shin harus segera membuat obat untuk menyembuhkan 50 warga lain yang sedang dalam perawatannya.


Sherley, dan James keluar membawa kertas yang dibuat dari kulit kambing yang disamak. Ia menulis surat perjanjian penyerahan saham kota yang diberi nama Golden Black itu pada Pradita, dan tertuang 50% saham untuknya jika sudah menjadi kota.

__ADS_1


Pradita menandatangani surat perjanjian kontrak tersebut, dan berkata, “Aku akan kembali ke Indonesia memanggil tim arsitek yang aku percaya, untuk memulai pembangunan kota ini. Berikan aku waktu paling lambat satu bulan untuk menyelesaikan pembangunan kota ini.”


“Tuan Muda Pradita, apa anda tidak gila membangun kota seluas ini dengan medan, dan juga hutan seganas ini hanya dalam satu bulan?” sergah James.


“Aku yakin pasti bisa. Karena kami membangun bukan pakai alat manual, tapi alat khusus. Lagipula semua material sudah ada disini, hanya perlu sumber daya manusianya saja,” jawab Pradita dengan senyuman mantap.


James, dan Sherley masih tetap saja tidak percaya. Namun mau tidak mau mereka berdua harus merelakan kepergian Pradita untuk kembali ke Indonesia, meskipun ada rasa tidak enak, karena Pradita sudah memenuhi janjinya, sedangkan mereka masih berhutang 50 juta dolar yang harus dibayar dengan gua berisi berbagai macam mineral langka.


James mengantarkan Pradita untuk keluar dari dalam hutan dalam Mongshuo tersebut. Rupanya penduduk desa pirang meminum ramuan yang diberikan Dokter Chang Shin, dan bisa membuat tubuh mereka sangat kuat.


Bahkan dua orang penjaga di gua yang memiliki tinggi 3 meter tersebut adalah manusia biasa sebelumnya, tetapi kebanyakan minum ramuan dari Dokter Chang Shin tubuh mereka jadi seperti raksasa berbulu.


"Tuan Pradita, kami mengharapkan anda kembali secepat mungkin. James sangat berhutang besar pada anda," kata James sambil menyodorkan tangan.


Pradita menyambut tangan James lalu berjabat tangan, dan berkata, "Sama-sama, Tuan James. Aku juga sangat senang bisa berbisnis dengan warga anda."


"Oh, ya. Anda kemari menaiki pesawat? Apakah perlu aku antar ke bandara terdekat? Ya, walaupun sangat jauh dari sini," tanya James bingung, karena Pradita bisa sampai dengan selamat di hutan Mongshuo.


"Tidak perlu. Aku punya pesawat yang sangat hebat, dan mungkin aku bisa menerapkan teknologi ini di kota Golden Black nanti. Biar memperpendek jarak antara dunia dan kota Golden Black," balas Pradita dengan senyuman ramah.


Kemudian Pradita menelepon kapten pilot maskapai Ochobot City untuk menjemputnya, dan sudah mengirimkan titik koordinat penjemputannya.


Kapten Jasuke langsung menyetujui penjemputan Pradita, karena memang semua teknologi Ochobot City saat ini telah disewa oleh Pradita beserta keluarga selamanya satu tahun. Jadi mau tidak mau mereka harus menyetujuinya.


Pradita melompat dari satu lempengan udara ke lempengan udara yang lebih tinggi sambil melambaikan tangan ke arah James. Pria mirip tarzan tersebut hanya bisa menjatuhkan rahangnya, dan menganggap Pradita bisa terbang.

__ADS_1


Pesawat jet pribadi Ochobot City keluar dari dalam lubang warp, dan sedikit terheran-heran dengan Pradita yang tia-tiba muncul di depan bagian depan pesawat sambil berdiri tegak seperti memijak angin.


__ADS_2