SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 38


__ADS_3

“Telapak tangan Mas Pradita lembut banget,” batin Nabila dan Devi serentak.


Pradita yang memang sudah terbiasa hidup di desa, dan memiliki adab yang baik. Setelah makan dia merapikan semua pringnya, dan mencucinya sendiri.


Nabila dan para pembantunya sudah tidak kaget dengan kebiasaan Pradita setelah makan. Akan tetapi Devi cukup tercengang, sampai-sampai rahangnya terjatuh lebar.


“Bil, kalau kamu mau berbagi Mas Pradita denganku, aku juga siap menampungnya, Bil,” celetuk Nabila sambil menatap lebar ke arah Pradita tak berkedip sama sekali.


Karena saking takjubnya melihat pria tampan, seksi, dan kaya, serta sangat sopan seperti Pradita.


“Bengek kamu, Dev! Aku saja belum tentu cintanya diterima mas Pradita. Dia itu orang yang susah membuka hati, walau dia itu ramah, tapi hatinya susah ditaklukan,” sindir Nabila sambil mencubit paha Devi.


“Aaaw!” pekik Devi kesakitan.


Pradita yang sedang mencuci piring di wastafel menoleh ke arah Devi, setelah mendengar pekikan gadis berambut pirang tersebut.


“Kenapa Nona Devi?” tanya Pradita dengan senyum khas nya dan membuat Nabila serta Devi meleleh hatinya.


"Tidak apa-apa, hehehe …. Hanya digigit semut, hehehe …," jawab Devi sambil terkekeh pelan, dan Pradita kembali mencuci piring.


Kemudian dia melotot ke arah Nabila, sambil berbisik, "Apa-apa sih Bil? Cemburu ya?" 


"Bodo amat, hmph!" Nabila membuang muka sambil menggembungkan pipinya. "Lagian Mas Pradita juga tidak akan mau sama kamu. Dia saja dua punya sekretaris pribadi seorang gadis kembar yang tak kalah cantik darimu, hmph!"


"Cie-cie cemburu ni yee ….!" Devi *******-***** pipi Nabila yang agak chubby, karena sudah candu bagi Devi ketika melihat Nabila marah.


Setelah selesai mencuci piring, Pradita yang sudah menganggap rumah Nabila seperti rumahnya sendiri menyeduh coklat. Lalu duduk di sofa ruang tamu sambil menyesap coklat hangat.


“Rupanya pembangunan menggunakan Comanche Drone sangat cepat, dan kerja dua gadis kembar seksi itu sangat cakap juga cepat. Baru satu hari 25% proyek sudah diselesaikan,” puji Pradita sambil tersenyum memandangi layar ponselnya yang berisikan foto proyek apartemen Liudou yang sudah selesai 25 lantai.


“Mas, traktir aku donk beli baju! hehehe …,” pinta Devi dengan berkedip cepat.

__ADS_1


“Boleh asal Nona Devi mau jadi Brand Ambassador Fetucini Motors ya!” balas Pradita tersenyum tipis. “Kalau mau nanti Silf Management akan mengurusnya. Aku juga baru mendapat kabar dari orang-orangku, bahwa Silf Management menyerahkan 60% sahamnya padaku.”


Mata Nabila dan Devi membelalak lebar mendengar penuturan Pradita. Bagaimana tidak, Silf Management merupakan agensi artis mulai dari artis gelap, dan artis terang ada di Silf Management, serta banyak melahirkan artis-artis populer lewat jalur kebanyakan bawah tangan.


“Mas, kenapa kamu mengakuisisi perusahaan yang gelap-gelap sih,” keluh Nabila menggembungkan pipinya.


“Tenang, justru peranku membuat mereka semua terang. Maka dari itu aku membutuhkan kalian untuk mendongkrak popularitas perusahaan yang akan menggawangi semua industri di Indonesia. Jika setuju aku sendiri yang akan melihat penandatangan kontrak kalian di Silf Management,” tawar Pradita dengan senyum khasnya.


Mereka berdua mengelus dagunya menimbang pikir dan rasa atas tawaran Pradita yang harus menggunakan Silf Management sebagai agency mereka berdua.


Setelah memikirkan selama 10 menit akhirnya mereka berdua menyetujui, tapi semua kegiatan promosi mereka yang menentukannya, "Baiklah, Mas. Kami setuju."


Pradita, dan Nabila, serta Devi saling berjabat tangan secara bergantian sebagai tanda kerja sama mereka telah resmi disetujui satu sama lain, tinggal menunggu penandatanganan kontraknya saja.


****


1 jam kemudian, Aeon Mall.


“Selamat datang Tuan Pradita, silahkan berbelanja dengan nyaman, Tuan!” sapa salah satu karyawati yang berada di dekat pintu masuk yang menjaga meja resepsionis.


Pradita terheran-heran dan menggaruk kepalanya tidak gatal, “Mbak kenal aku?” tanyanya sambil menunjuk ke arah dada.


“Tentu, tuan adalah pemilik Aeon Group sekarang, dan foto tuan telah disebar ke seluruh staf di semua perusahaan Aeon Group —”


“Ya salam!” potong Pradita menepuk jidatnya sendiri dan melanjutkan, “Tolong Ya Mbak jangan beritahukan pada kedua Nona yang aku bawa itu kalau aku pemilik Aeon Group, takut jantungan.”


“I-iya tuan muda,” balas karyawati gugup dan diberikan uang 1 juta oleh Pradita.


“Mas Pradita!” teriak Devi, dan membuat semua pengunjung menoleh ke arah mereka berdua yang sedang melambai-lambaikan memanggil Pradita.


Nabila dan Devi  langsung tersentak  kaget, karena semua mata memandangnya dengan tatapan berbinar-binar. Tentu saja karena mereka berdua artis jadi banyak pengikutnya dan banyak disukai netizen di dunia maya.

__ADS_1


Apalagi setelah Pradita mendekati mereka berdua, para wanita tambahan ricuh dan membuat petugas keamanan mall kebingungan harus mengamankan mereka bertiga dari fans-fans garis keras yang ingin berswafoto dengan mereka bertiga.


Pradita berkata lantang sambil tersenyum ramah, "Mohon maaf, semuanya! Bukannya kami menolak, tapi tolong berikan kami waktu sebentar saja untuk berbelanja. Setelah ini kalian boleh berswafoto dengan kami bertiga!"


Berkat sikap ramah Pradita semua fans garis keras tersebut mau mengerti dan tak berbuat ricuh lagi. 


Lagi-lagi Pradita mendatangkan berkah melimpah untuk mall. Setelah para netizen garis keras mengupload foto Pradita yang berada di dalam Aeon Mall. Banyak fans dadakan Pradita menuju Aeon Mall untuk menemuinya, dan membuat Aeon Mall semakin bertambah ramai.


Mereka bertiga berlari ke arah lift dan segera masuk ke dalamnya sambil terus dijaga oleh penjaga keamanan Mall. 


"Sial, gara-gara kamu sih, Nabila! Mereka jadi mengejarku —"


"Maaf-maaf, mas. Aku tidak sengaja memasukan Mas Pradita dalam segmen bintang tamu dadakan," potong Nabila sedih, karena Pradita kesal dengannya.


Pradita tidak tega melihat Nabila menangis gara-gara dia meluapkan kekesalannya dengan memarahi Nabila.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Maafkan aku ya." Pradita memeluk Nabila sangat erat di depan Devi yang cemburu melihat kemesraan Nabila dan Pradita.


"Eleh, teman tapi kok mesra," gerutu Devi sambil mengerucutkan bibir. “Terus cari perhatian! Cengeng-cengeng, hmph!”


“Blee!” Nabila menjulurkan lidah ke arah Devi yang kesal Pradita tak memperhatikannya malah memperhatikan Pradita.


Setelah keluar dari lift, mereka bertiga menuju ke arah outlet perhiasan. Semua karyawan juga membungkuk hormat ke arah Pradita yang menggandeng tangan Nabila.


Nira juga ternyata sedang membeli perhiasan dan langsung disapa ramah oleh Pradita, “Nona Nira juga sedang memilih perhiasan?”


“Eh, Pradita.” Nira menoleh ke arah Pradita dengan tersenyum ramah, tapi sesaat kemudian berubah setelah melihat Pradita menggandeng tangan Nabila. “Kapan nih perusahaanku juga diajak kerjasama?”


“Tentu, sekarang juga bisa. Aku juga lagi butuh tambahan keamanan untuk beberapa bisnisku, terutama untuk grand launching apartemen Liudou kemungkinan 6 hari lagi," jawab Pradita dengan penuh percaya diri.


Pradita harus memperkuat tingkat keamanannya saat Grand Launching, takut terjadi penyerangan tiba-tiba oleh ketujuh geng lain yang mulai mencium dalang dibalik huru-hara yang terjadi kemarin.

__ADS_1


__ADS_2