
Pradita mengajak kedelapan istrinya untuk menikmati sunset atau matahari terbenam. Kedelapan istrinya tersebut memakai pakaian yang kurang bahan untuk menggoda Pradita.
Namun kali ini Pradita memutuskan untuk menekan hasratnya, dan menikmati matahari terbenam di pantai Maldive bersama kedelapan istrinya.
Dari sekian banyak istri Pradita, hanya Helly yang paling muda, dan bersifat periang. Ia mengajak Reina, dan Nikita untuk berenang di pantai sambil menikmati matahari terbenam.
“Mas, ayo berenang!” ajak Helly dengan senyuman khasnya.
Pradita hanya mengulum senyum tipis, dan mendorong tubuh Zevalia yang dijadikan sebagai penjaga kesembilan istrinya itu.
“Maaf, sayang. Kamu harus menjaga mereka, itu juga resikomu mau menjadi istriku,” bisik Pradita dengan senyuman licik.
“Sompret, memang aku baby sitter?” gerutu Zevalia, lalu berjalan pelan ke arah Nikita, Reina, dan Helly yang sedang berenang di tepi pantai bertahtakan air laut yang begitu biru juga bening.
Nathalia, dan Nathania berada di sisi kiri, serta sisi kanan Pradita sambil memeluk lengannya.
“Mas, nanti ke kamar kami berdua ya?” pinta Nathalia, dan Nathania manja secara serentak.
“Ya.” Pradita mencium kening mereka satu persatu, dan membuat iri Seva, serta Prisilia.
Saat asyik-asyiknya menikmati matahari terbenam, tiba-tiba terdengar suara letupan tembakan. Disusul kemudian drone-drone muncul dan menembakan misil ke arah Zevalia, Helly, Reina, serta Nikita yang sedang berenang.
Helly yang sudah tewas tertembus jantungnya oleh peluru yang ditembakan oleh sniper drone tubuhnya hancur berkeping-keping. Disusul oleh Reina, dan Nikita, sedangkan Zevalia sudah melompat untuk menghindari rudal tersebut.
Akan tetapi Zevalia juga lukanya cukup parah, dan tergeletak di tepi pantai. Seva nekat mengeluarkan senapan magnum yang selalu dibawanya di kedua paha bagian dalam, dan menembaki drone-drone tersebut.
Drone-drone tersebut meledak di udara akibat tembakan Seva yang sangat akurat. Pradia pun mengamuk, dan mengeluarkan pedang Nagamaki, yakni sebuah pedang sepanjang 1,2 meter seperti katana, tetapi dengan gagang pedang yang lebih panjang.
Drone-drone yang dikendalikan oleh seseorang tersebut menembaki Zevalia yang terlihat masih bernafas. Pradita segera melesat ke arah Zevalia untuk melindunginya dengan mementalkan setiap peluru yang mengarah pada Zevalia.
“Aargh! Kalian semuanya sampah! Haa …!” erang Pradita, dan membalikan setiap peluru ke drone-drone yang menembak dengan senapan gatling gun.
Nathalia, dan Nathania juga bertindak dengan melindungi Prisilia. Mereka berdua melemparkan belati-belati yang disimpannya di paha bagian dalam.
__ADS_1
Anak buah Pradita pun keluar dari dalam gedung resort, dan menembaki drone-drone yang semakin berjumlah banyak. Mereka membombardir drone-drone tersebut dengan senapan SMG Combat gun, dan berhasil menjatuhkan mereka semua.
Pihak berwenang setempat pun datang dengan sigap, dan membawa banyak ambulan.
Akan tetapi semua itu tidak bisa menghapus kesedihan Pradita, karena Nikita, Reina, dan Helly tewas dengan tubuh tercecer di tepi pantai.
“Aaaargh!” Pradita meraung keras, dan menebas-nebas permukaan tepi pantai untuk melampiaskan amarahnya.
Amarahnya semakin menjadi-jadi saat melihat Seva, Prisilia, Nathalia, dan Nathania juga terluka parah. Sekarang mereka berlima termasuk Zevalia dibawa ke rumah sakit setempat untuk segera mendapatkan pertolongan darurat.
“Cepat bawa ketiga mayat istriku pulang!” teriak Pradita dengan menggertakan gigi.
Rivan yang ikut dalam baku tembak tersebut segera membisikan pada salah satu petugas medis untuk menaruh ketiga mayat istri Pradita di peti mati. Lalu dikirimkan ke jet pribadi yang masih terparkir di bandara international Maldive.
Pradita bingung apa yang ia harus lakukan saat ini. Padahal ia sudah meningkatkan keamanannya dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi.
Tiba-tiba ada satu drone yang membawa pengeras suara, dan memberikan pesan, "Hahaha …. Bagaimana setelah melihat ketiga orang yang kamu cintai mati. Ini adalah balas dendam kami Sevenfall, karena telah membunuh Komandan Eugene, dan Komandan Aramain, hahaha …. Satu hal lagi perhatikan istrimu yang lain, baby!"
Pertama ia masuk ke alam kamar Nabila, dan ia baru bangun. Lal Pradita dengan tergesa-gesa menarik tangan NNabila untuk segera berlari ke kamar Nira.
Akan tetapi kamar Nira yang sebelumnya tidak terkunci, sekarang malah terkunci. Maka dari itu membuat Pradita panik dan langsung mendobrak pintu tersebut dengan kekuatan penuh, hingga jebol.
Mata nabila, dan Pradita langsung melebar, saat melihat Nira telah diikat dalam keadaan terduduk dengan bom waktu yang menggantung di lehernya.
Bulir-bulir keringat dingin membasahi dahi Pradita, dan Nabila. Mereka berdua agak panik, dan meneguk salivanya dalam-dalam.
“Sayang, tenanglah! Aku akan menyelamatkanmu.” Pradita sambil menggenggam tangan Nabila berjalan mendekati Nira. Lalu berbicara juga pada Nabila, “Kamu juga sayang, tenanglah! Jangan berlari keluar, percayalah padaku!”
Pradita tidak mau Nabila berlari keluar, karena menurutnya tempat yang paling aman saat ini adalah berada disisinya. Walaupun mereka bertiga sedang menghadapi bom waktu yang tersisa 40 detik lagi untuk meledak.
Pria berambut merah tersebut berjongkok, dan memindai dengan cepat seluruh rangkaian bom. Ada sebuah tipuan kabel kecil di belakang kabel biru, dan kabel merah.
Pradita hanya dengan tangannya memotong kabel merah, dan kabel biru tersebut cukup dengan jarinya yang sudah dialiri energi tekin naga taksasa, tanpa harus mengenai kabel kecil tersebut. Alhasil hitungan waktu mundur yang tersisa sepuluh detik tersebut berhenti.
__ADS_1
Mereka bertiga menghela nafas panjang, dan bergumam serentak, "Syukurlah!"
Pradita segera melepas ikatan yang mengikat kaki, dan tubuh Nira. Kemudian melepas bom waktu yang dikalungkan di lehernya.
Akan tetapi setelah bom waktu itu dilepas dari leher Nira, detikannya terus berlanjut dan lebih cepat.
“Awas!”
Dengan sekuat tenaga Pradita melemparkan bom tersebut ke jendela yang mengarah ke pantai. Mereka bertiga langsung tertelungkup dipeluk oleh Pradita.
Hasilnya bom tersebut meledak saat terlempar 20 meter dari bibir pantai, dan menciptakan gelombang air laut, serta kepulan api yang menghalangi pandangan.
Mereka bertiga kembali bernafas lega, dan memapah tubuh Pradita yang mulia kelelahan keluar dari kamar Nira menuju lobi resort Maldive.
[Tongteng … Tongteng! Misi diterima dan tidak bisa ditolak]
<>...............<>..............<>
[Misi: Temukan dalang pengeboman]
[Batas waktu: 7 hari]
[Hukuman: Aset tuan dikurangi 75%]
[Hadiah: ???]
<>...............<>..............<>
Melihat panel hologram tersebut, Pradita sama sekali tidak bersemangat. Karena bingung dengan kelima istrinya yang terluka cukup parah, dan ketiga istrinya yang sudah tewas dalam penyerangan tersebut.
"Kenapa aku harus merasakan pedih lagi ditinggal orang yang baru saja aku cintai. Helly … Reina … Nikita …," batin pradita sambil menyeka air matanya yang terus jatuh.
Nira, dan Nabila hanya bisa menenangkan Pradita, walaupun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kesatuan bidadari yang lain.
__ADS_1