
Rolling door itu didobrak, hingga jebol oleh anak buah Gian. Namun tiba-tiba muncul salah satu anggota Black Shadow, dan menendang mereka satu persatu sebelum rolling door itu sepenuhnya ambruk.
“Minggir! Atau aku habisi kau!” berang Gian sambil menodongkan senapan ke arah Neymar, yakni kode nama anak buah Pradita yang khusus mengawalnya dalam bayangan.
Neymar tetap santai, dan dingin di balik topeng cyborg armor ninja suit yang dipakainya. Malah ia memainkan telunjuknya untuk memprovokasi Gian beserta 50 anak buahnya.
Gian kesal karena merasa diremehkan oleh Neymar, pelatuk senapan magnum ditarik bertubi-tubi oleh Gian dengan mengeraskan rahang. senapan magnum tersebut memuntahkan beberapa peluru secara bergantian.
Namun kecepatan ayunan tangannya dalam memainkan pedang ninjato, semua peluru tersebut yang melesat lurus dibelah oleh Neymar dengan gerakan tebasan pedang secara vertikal dari atas ke bawah. Belahan proyektil-proyektil tersebut terpental ke sisi kiri, dan sisi kanan Neymar.
“A-apa?”
Gian beserta lima puluh anak buahnya membulatkan mata. Mereka sangat terkejut dengan manuver yang dilakukan oleh Neymar yang mampu membelah peluru yang melesat sangat cepat.
Pradita tiba agak jauh dari kedainya dengan mengerem mendadak, membuat bagian belakang motornya terangkat. Saat ia mengetahui kerumunan itu anak buah Gian, motor yang masih terangkat bagian belakangnya tersebut dibelokan untuk menghantam anak buah Gian yang berada di barisan belakang.
"Aaakh!" pekik beberapa anak buah Gian setelah menimpa satu sama lain.
"Pergi! Atau aku habisi kalian semua!" ancam Pradita dengan tatapan nyalang.
Neymar tiba–tiba menghilang dari pandangan semua orang, dan masuk lagi ke dalam bayangan. Karena Pradita telah datang, dan ia tidak akan ikut campur, kecuali Pradita dalam kondisi terdesak.
Hal Itu adalah peraturan pengawal pribadi Pradita, kalau mereka tidak boleh membantu kecuali atas perintah Pradita sendiri, dan Pradita dalam kondisi terdesak.
Pria bermanik mata biru tersebut mengacungkan jari tangan sebagai isyarat ucapan terima kasih atas Neymar yang melindungi Akmar yang berada di dalam kedainya.
Setelah itu Pradita berbicara pada Gian, “Apa yang ingin kamu lakukan? Meminta uang atas hutang-hutang kakek Mardono?”
“Tentu saja pecundang. Hutang tetaplah hutang, dan aku Gian raja preman di Cirebon tidak akan melepaskan dengan mudah Mardono sialan itu,” jawab Gian dengan senyuman sinis.
__ADS_1
Akan tetapi sikap sinisnya berubah saat Pradita menantangnya, “Kau takan bisa menemukan orang yang sudah menjadi mayat. Lalu kau seenaknya merusak properti milikku yang sudah aku miliki dari mayat tersebut? Kita selesaikan saja secara jantan!”
“Secara jantan? Hahaha ….”
“Hahahaha ….”
Gian beserta anak buahnya menertawakan Pradita yang dianggapnya hanya pemuda pecundang yang tak bisa apa-apa. Walaupun beberapa hari yang lalu Gian dibuat babak belur olehnya.
“Lebih baik kau pakai saja rok, terus menari balet di perempatan lampu merah sana, hahaha …,” ejek Gian sambil tertawa sinis.
“Aku rasa kau yang malah seperti ayam. Beraninya membawa senapan, dan juga anak buahmu hanya untuk menagih hutang kepada seorang kakek tua. Lebih baik gigimu itu di behel dengan warna-warni biar menunjukan kalau kau itu hanya seorang laki-laki berjiwa perempuan, hahaha …,” balas Pradita sambil tertawa terbahak-bahak.
Anak buah Gian juga ikut tertawa terbahak-bahak. Padahal bos mereka sendiri yang dihina, karena saking lucunya kata-kata balasan yang dilontarkan oleh Pradita.
“Jahara, eh Jahanam! Mati kau!” geram Gian sambil menarik pelatuk pistolnya yang sudah terbidik ke arah Pradita.
Semua anak buah Gian mundur beberapa langkah dengan raut wajah seputih kertas, dan meneguk salivanya dalam-dalam. Mereka tak menyangka kalau Pradita mampu menangkap peluru dengan kedua jarinya. Padahal anggapan mereka Pradita haya seorang pemuda yang paling-paling memiliki seni bela diri jalanan.
“Bos, kita balik saja! Dia … dia ….”
Suara tamparan keras terdengar dari tangan kanan Gian menghantam tangan kanannya yang berada di samping kanannya.
“Kalau kau memang takut seperti pecundang. Mulai sekarang aku pecat, dan ….”
Gian mengarahkan moncong senapan magnum tersebut ke dahi anak buahnya yang wajahnya sudah seputih kertas.
“Ja-jangan bunuh aku, Bos!” mohon Luis dengan kedua paha gemetar, dan cairan hangat sudah membasahi cacing premium miliknya.
Pradita hanya menggeleng pelan, karena tak habis ada seorang bos yang tidak mendengarkan anak buahnya yang memberikan saran yang baik.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu! Ini tempatku, dan siapapun tidak boleh berbuat seenaknya disini!" berang Pradita dengan tatapan nyalang, dan kedua kepalan tangan menggenggam erat.
Kemudian ia melanjutkan dengan memberikan ancaman, "Kalau kalian dalam waktu 3 detik tidak pergi dari sini! Maka jangan salahkan aku bertindak tegas."
"Bertindak tegas? Memangnya apa yang bisa kau perbuat dengan senapan ini? tadi memang aku anggap kegagalan, tapi ditembakan selanjutnya, kau akan …," balas Gian sambil menggesekan pelipis luar tangan kiri ke lehernya.
"Kalian memang memaksaku untuk melakukan ini. Teknik naga Dhanindra! Teknik jari bumi!"
Tubuh pradita hilang dari pandangan semua orang. Ia bergerak cepat seperti hantu melepaskan totokan di bagian bawah pusar semua anak buah Gian, termasuk yang sebelumnya terkena hantaman motor Pradita.
Pradita kembali muncul di tempat sebelumnya ia berdiri, dan melemparkan senyum sinis. Namun langsung diejek oleh Gian, "Hahaha … akui akui kamu memang punya kemampuan, tapi lihat tubuh kami tidak apa-apa. Nama jurusnya saja keren, nyatanya ampas, hahaha …."
"Hahahaha …."
"... …."
Anak buah Gian juga ikut menertawakan Pradita yang melepaskan beberapa totokan pada bagian bawah perut mereka masing-masing. Namun sampai saat ini mereka tidak merasakan kesakitan, atau efek apapun di sekujur badan mereka.
“Tahu rasa setelah 10 detik nanti. Selamat menikmati,” gumam Pradita, lalu memperbaiki rolling door kedai yang hampir roboh.
Setelah 10 detik, efek totokan jari bumi itu mulai bereaksi. Mereka semua langsung merasakan hasrat di tubuh mereka yang begitu tinggi, hingga melihat satu sama lain seperti melihat wanita cantik.
“Ayo, kita pulang!” ajak Gian dengan nada yang manja, karena sudah tak kuat melampiaskan hasratnya yang sudah tak bisa dibendung lagi.
Semua anak buah Gian, dan Gian berlari mencari tempat yang sepi. Mereka semua masuk ke dalam salah satu bekas ruko yang tak terurus, dan melakukan jual-beli pedang.
Pradita yang sudah memperbaiki pintu rolling door masuk ke dalam untuk menemui Akmar. Lalu memberikan perintah pada Neymar yang berada di atap kedai untuk mengikuti Gian, dan anak buahnya yang sedang beradu pedang, serta merekam aksi tersebut untuk digunakan sebagai alat untuk melawan mereka.
"Hahaha …. Mampus kalian! Berani-beraninya melawan ku, hahahaha …," kata Pradita sambil tertawa terpingkal-pingkal, dan dilihat oleh Akmar dengan tatapan bingung, karena tidak ada hujan, dan tidak ada angin tiba-tiba Pradita tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1