
Apartemen The Branze, Club Branze.
Sembilan ketua geng yang menguasai wilayah Tangerang Selatan berkumpul, dan akan membahas mengenai kekalahan anggota Geng mafia Zero Crime oleh Pradita.
“Apakah benar Zero Crime telah berhasil direbut dari Willy?” tanya Seva ketua Geng Emperlord.
Tangannya yang putih dengan warna kuku merah mengambil sepuntung cerutu kuba. Sementara itu salah satu asistennya yang berada di sebelah kiri menyalakan korek, lalu didekatkan pada bibir merah merekah yang sedang menjepit puntung cerutu kuba di bibirnya.
Seva menghisap cerutu tersebut dengan penuh perasaan, membuat kedelapan ketua geng mafia yang memiliki jenis kelamin laki-laki tersebut meneguk salivanya dalam-dalam.
“Ya, anggotaku melihatnya, dan pria tersebut sedang bekerja sama dengan Aslan. Itu berarti dia ingin melanjutkan kembali proyek apartemen di wilayahku,” jawab Fetucini ketua Geng Helucin.
“Dia harus diundang, kalau memang dia punya kompetensi bisa memimpin geng kelas bawah seperti Zero Crime. Bagaimanapun juga Zero Crime merupakan 10 geng 10 ranking teratas, walau bisnisnya hanya jadi tukang pukul dan jaga parkiran minimarket,” kata Seva dengan tatapan tajam ke arah delapan ketua geng yang lain.
Delapan ketua geng lain kesal dengan keputusan yang diambil oleh Seva, tetapi mereka tidak ada yang berani menginterupsi keputusan Seva. Keputusannya adalah keputusan mutlak dan tak bisa diganggu gugat.
Fetucini tiba-tiba mendapat pesan dari anak buahnya, bahwa Pradita sedang berada di Pagedangan.
“Aku harus memberinya pelajaran pada anak songong seperti dia yang berani mengusik wilayahku. Lihat saja, Zero Crime pasti akan hancur,” batin Fetucini dengan tersenyum licik.
......................
Suara knalpot mobil yang begitu bising terdengar bersahut-sahutan saat Pradita menyesap minuman coklat hangat di gelas besar. Dua mobil itu lewat dengan kecepatan tinggi dan memang sedang balapan.
Mobil itu berbelok ke arah kanan di perempatan lampu merah Q-Big Mall menuju ke arah Pagedangan. Pradita bangkit dengan rasa penasaran yang tinggi, karena melihat di malam hari yang sudah sepi dengan aktivitas ternyata ada balapan mobil liar.
“Pak, tiap jam segini memangnya selalu ada balapan liar?” tanya Pradita menyelidik.
“Iya Mas. Malah setiap malam. Aku tidak mau jualan disana, takut digerebek polisi, dan juga yang balapan anak-anak geng sini. Takut ribut dan baku hantam, soalnya sering banget tawuran. Nanti bukannya untung banyak malah babak belur," jawab Warjan dengan keringat dingin mengucur di tengkuknya.
__ADS_1
“Tenang saja, Pak. Jika aku yang berkuasa, maka tidak ada lagi balapan-balapan seperti ini. Balapan yang meresahkan, narkoboy, dan juga perebutan wilayah antar geng,” batin Pradita dengan sorot mata yang tajam.
Pradita memberikan uang 100.000 pada Warjan. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Warjan sudah paham dan tidak menolak diberi uang 100.000 yang masih ada kembaliannya tersebut.
Awalnya Warjan selalu menolak, apabila Pradita membayar setiap jualannya dengan uang yang lebih. Padahal kembalian uangnya masih banyak. Akan tetapi setelah Pradita mengatakan alasannya, ia pun menerimanya dengan senang hati.
Kata Pradita mungkin saja uang pemberiannya itu bisa bermanfaat. Mungkin juga uang yang dipegang oleh Pradita ada sebagian dari rizki Warjan. Baru dia mengerti dan paham.
Pradita melajukan mobilnya ke arah jalan Pagedangan yang cukup sepi di malam hari. Namun, malam ini sangat ramai dan terlihat pernak-pernik lampu. Suara musik rap menggema menemani anak-anak orang kaya, anggota geng Helucin, dan lima puluh anggota geng mata-mata di Zero Crime.
Pradita yang baru tahu dunia malam ada balapan liar, cukup terkesima dengan mobil-mobil yang sedang melaju balapan. Baik jenis balapan sprint, maupun drag.
Terlihat ada salah satu anggota mata-mata Geng Helucin yang memakai seragam jaket Zero Crime. Pradita turun dan melangkahkan kakinya dengan cepat ke arahnya.
Saat pemuda tersebut mau menyalakan rokoknya dan merogoh kantongnya untuk mencari rokok, Pradita dengan kecepatan tangannya mengambil korek. Tentu saja itu bukan korek miliknya, melainkan milik orang lain yang berada di kantong samping kirinya saat Pradita berjalan ke arah anggota mata-mata Geng Helucin tersebut.
"Apakah seru masuk Geng Helucin?" tanya Pradita dengan tersenyum simpul ke arah pemuda tersebut.
"Tentu saja seru. Dapat Narkoboy gratis, wanita tinggal pilih, setiap bulan dapat gaji yang cukup besar. Tidak seperti Geng Zero Crime geng miskin yang hanya dapat recehan,” jawab pemuda tersebut tanpa rasa bersalah.
Ia memang sengaja menyindir Pradita. Karena semua mata-mata Helucin telah mengetahui wajah Pradita dari Willy yang tidak waspada.
“Kalau seandainya aku bisa mengalahkan pembalap terbaik geng kalian. Apakah kalian mau bergabung denganku?” tangan Pradita sambil memainkan korek di tangannya.
“Taruhannya apa jika kamu kalah —”
“Patahkan saja kedua kakiku, taruhan uang 1 milyar, dan juga aku akan memberikan wilayah Zero Crime pada kalian,” potong Pradita sambil menunjuk dadanya dengan penuh percaya diri.
Mendengar hal tersebut, Rei salah satu pembalap terbaik di Geng Helucin segera mendekati Pradita. Ia bahkan menyingkirkan semua rekan-rekannya yang menghalangi jalannya menuju ke arah Pradita.
__ADS_1
Wajahnya di dekatkan ke wajah Pradita dan berkata, “Aku pastikan kedua kakimu lumpuh, dan akan aku pukuli sampai mati!”
“Ini masih awal. Balapan sebelum dimulai kau sudah mengklaim dirimu menang. Klaim kemenangan itu kalau kau sudah mengalahkanku,” balas Pradita tersenyum simpul.
“Kita balapan Sprint 1 lap, bagaimana?”
Rei yang memiliki tinggi 200 cm ini tidak menjawab, hanya menodongkan jempol ke bawah ke arah Pradita. Lalu berjalan cepat ke arah mobil Mazda MX5 berwarna hijau yang sudah dimodifikasi.
Keduanya sudah masuk ke dalam mobil masing-masing dan sejajar berdampingan, dan ditengahnya ada wanita seksi bercelana hot pant, memakai tanktop putih yang hanya menutupi bagian gunung kembarnya.
“Are you ready?” tanya gadis aba-aba balapan pada Rei yang berada di kanannya.
“Ready!” jawab Rei dengan sorot mata yang tajam. Ia menekan-nekan pedal gasnya dalam-dalam, hingga suara knalpot mobilnya berdengung kencang.
“Are you Ready?” tanya gadis aba-aba balapan pada Pradita yang berada di samping kirinya.
“Wis pokok isun siap. Ayo gage! (Sudah, pokoknya aku siap. Ayo cepat!)” jawab Pradita dengan bahasa Cirebon.
Gadis tersebut menghitung mundur dengan merentangkan kedua tangannya ke atas. Tentu saja tidak ada yang menjagokan Pradita, karena tidak ada yang kenal, dan hanya dianggap pembalap amatir oleh semua orang yang berada disini.
"Tolol, itu bocah. Cari mati!"
"Ya, dia cari mati dengan menantang Rei."
"Mana taruhannya besar lagi pake kedua kaki dipatahkan. Benar-benar tolol memang."
Semua orang merendahkan Pradita, dan menjagokan Rei. Bandar judi balapan liar langsung mengumumkan membuka taruhan balapan antara Pradita dengan Rei.
Namun, tidak ada yang memasang taruhan untuk Pradita. Semua memasang taruhan di Rei, hingga ada seorang pemuda keluar dari mobil MCLaren 650s berwarna putih dan memasang taruhan 1 milyar untuk Pradita.
__ADS_1