SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 49


__ADS_3

Wilma yang sedang patroli malam guna pencegahan pada tindakan kejahatan, miras, dan narkoba, tiba-tiba masuk ke dalam warunk upnormal. Tentu saja hal itu dilakukan untuk menggeledah siapa pun yang berada di dalam sana.


Saat membuka pintu masuk warunk upnormal, matanya langsung tertuju kepada Hiro yang sedang menodongkan senapan magnum ke kepala Pradita.


“Jatuhkan senjatamu, Tuan Hiro!” teriaknya sambil menodongkan senapan magnum miliknya.


“Nona Polisi, biarkan senjata dia menodongkan senjata itu padaku. Aku yakin sebentar lagi senjatanya juga nasibnya jadi seperti pistol milik Nona Polisi waktu itu,” celetuk Pradita.


Apa yang dikatakannya benar terjad. Hanya dalam sepersekian detik, saat Pradita menggunakan teknik Naga Dhanindra, ia mampu mengambil senapan yang sedang ditodongkan ke kepalanya. Lalu dibongkar menjadi bagian per bagian.


Bahkan bagian-bagian senjata itu langsung dijatuhkan ke permukaan lantai dalam sekejap.


Semua orang yang melihatnya seketika menjatuhkan rahang dengan mata melebar.


“A-apa!” ucap semua pengunjung serentak, termasuk Hiro dan Sarkowi.


Pradita berdiri dan menepuk pundak Sarkowi yang masih terkejut, “Ayo, Pak! Kita pulang saja ke kontrakanku!”


Sarkowi tersadar dan langsung mengikuti Pradita yang sudah berjalan santai menuju pintu keluar warunk upnormal.


“Sampai jumpa lagi, Nona Polisi,” kata Pradita sambil tersenyum tipis dan menepuk pundak Wilma yang masih tercengang.


Wilma tersadar dan langsung menyuruh anak buahnya untuk menangkap Hiro. Salah satu alasannya karena menggunakan senjata api di tempat umum, dan menodongkannya pada warga sipil yang tidak bersalah.


Ia sendiri mengejar Pradita dengan melangkahkan kakinya cukup cepat, “Tunggu! Tuan Muda Pradita!”


Mendengar nama Pradita, pengunjung wanita di dalam warunk upnormal langsung meronta-ronta batinnya. Sejenak terbesit keinginan untuk menemui dan berswafoto dengan pria berambut harajuku tersebut.


Namun, keinginan mereka kandas, karena semua pengunjung tidak diperbolehkan keluar. Hampir semuanya akan diperiksa dan tes urine. Barangkali mereka ada yang kedapatan membawa atau menggunakan barang-barang terlarang.


Pradita yang mau masuk ke dalam mobil berhenti, dan menyahuti panggilan Wilma, “Ada apa? Bukankah Nona Polisi menganggapku musuh?” tanyanya tersenyum sinis.


"Maafkan sikapku yang waktu itu!” Wilma langsung membungkuk hormat pada pradita dan membuatnya heran.

__ADS_1


“Berkat Tuan muda Pradita menjual Boboba, 80% transaksi 10 geng mafia terbesar di Tangerang Selatan menurun drastis. Aku sudah mengetahui dari intel yang aku tanam di beberapa geng.”


“Aku sudah tahu, tapi aku biarkan. Biar mereka menjadi marketing tersembunyiku pada kalian. Tanpa aku harus capek-capek mengatakannya pada kalian, hehehe ….”


Pradita menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Apakah ada hal yang penting?”


“Ada, aku hanya khawatir mereka akan kembali jika masih ada gembong narkoba yang tersembunyi masih beroperasi. Ini diluar mereka ya—”


“Oh, ternyata masih ada yang mau memasok ke dalam geng milikku yang sudah aku satukan dengan Union Group. Baiklah, apa yang bisa aku bantu?” potong Pradita.


Pemuda itu rupanya cukup tertarik untuk membereskan masalah kecil. Mungkin saja akan mengubah lagi proses pertobatan sepuluh ketua geng terbesar di Tangerang selatan.


Wilma berjinjit, dan membisikan sesuatu ke telinga kanan Pradita. Pria berambut hitam tersebut hanya manggut-manggut saja dan sambil mengupil mengatakan.


“Beres, musuhku musuh polisi juga ternyata. Intinya polisi tidak perlu turun tangan, dan awasi saja mereka yang berkeliaran disini. Aku yang akan membereskan akarnya.”


Mereka berdua pun berpisah, Pradita pulang ke kontrakannya di Desa Lengkong Gudang Timur, dan Wilma berlanjut memeriksa pengunjung.


Keesokan harinya.


Pradita bangun pagi-pagi sebelum subuh untuk berolahraga pagi. Semua itu dilakukan demi menguatkan otot-ototnya yang sudah lama tidak diolah.


Dia melakukan gerakan yang biasanya dilakukan pada misi harian penguatan fisik. Ada pula gerakan yang sengaja ditambah untuk lebih memperkuat massa ototnya.


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Selamat, host mendapatkan uang Rp,10.000.000 dari mengupil sebanyak 2000 kali, dan sudah ditransfer ke saldo sistem]...


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Selamat, host mendapatkan 1 poin massa otot]...


Sarkowi pun sudah bangun dan membersihkan diri. Dia harus siap siaga melihat tuan mudanya itu sangat sigap dan sudah rapi pagi-pagi buta.

__ADS_1


Rupanya setelah selesai melakukan latihan pagi, Pradita langsung mencari sarapan nasi uduk untuk dirinya dan Sarkowi. Kemudian membersihkan diri dan setelah itu memakai setelan jas merah, kemeja putih, serta dasi merah. Mereka berdua sarapan dengan sangat lahap, dan Pradita memberikan uang 10.000.000 pada Sarkowi.


“Pak, ini uang buat Bapak jalan-jalan disini. Nanti setelah mengantarkan aku, Bapak jalan-jalan saja, tapi di wilayah Tangerang selatan saja, ya. Kemungkinan aku akan lama, aku akan telpon Bapak kalau aku sudah selesai,” terang Pradita tersenyum tipis.


“Bos ini aneh, sumpah! Duit banyak, mobil banyak, dan sangat dihormati. Bahkan Komandan polisi wanita semalam itu saja sangat hormat pada, Bos. Tapi mau saja tinggal di kontrakan seperti ini, kan bisa beli apartemen, atau beli rumah,” gerutu Sarkowi panjang seperti kereta api.


Pradita paham, Sarkowi bukan mengeluhkan tentang dirinya yang tinggal di kontrakan seperti ini. Namun, dari tatapan matanya, Sarkowi sangat prihatin melihat Pradita.


“Pak, aku melakukan ini hanya ingin menyadarkan diri sendiri bahwa semua yang aku miliki bukan milikku, hanya titipan. Sempit atau lapang itu letaknya dalam hati. Kalau hati kita lapang, walau keadaannya sempit ya tetap lapang, dan sebaliknya,” balas Pradita.


“Pantas saja banyak suka pada, Bos. Bukan hanya tampan, tapi juga cara berpikir, cara bertindak, dan akhlaknya juga tampan,” batin Sarkowi kagum.


Mereka berdua segera melangkahkan kakinya menuju mobil Toyota Hilux dalam suasana matahari masih malu-malu berlindung di balik awan ufuk timur. Mobil Toyota Hilux tersebut, terlebih dahulu diarahkan menuju gedung BSD Group.


Di sana nanti Pradita harus menemui CEO Aslan, Nathalia, dan Nathania. Mereka akan membahas mengenai persiapan Grand Launching Apartemen Liudou.


Sarkowi melajukan mobilnya cukup cepat, karena diminta Pradita cukup cepat. Soalnya CEO Aslan, Nathalia, dan Nathania sudah menunggunya di ruangan CEO beserta direktur marketing BSD Group.


Sesampainya di depan gedung BSD Group, Pradita cukup tegang. Beberapa kali ia meneguk salivanya dalam-dalam, karena baru pertama kali menghadiri gladi resik grand launching suatu apartemen.


“Sialan ! Kenapa aku tegang sekali?” Pradita beberapa kali menyeka keringat dingin di dahinya, sambil menunggu pintu lift terbuka.


Setelah pintu lift terbuka, jantungnya tambah berdegup kencang dan tidak beraturan. Padahal ini hanya rapat evaluasi persiapan sebelum 3 jam lagi Grand Launching apartemen Liudou diresmikan.


Begitu Pradita membuka pintu dengan tampilan maskulin dan gagah, semua orang yang berada di dalam ruangan Aslan berdiri, lalu membungkuk hormat padanya.


“Selamat datang, Tuan Muda Pradita!” sapanya serentak.


Setelah itu suasana menjadi senyap, bahkan suara nyamuk atau lalat pun tidak terdengar, karena saking senyapnya. Mereka semua juga tegang melihat Pradita yang sangat tegang, dan terkesan serius.


Pradita duduk dan berdehem keras, lalu berkata, “Coba aku cek laporan persiapannya!”


Nathalia dan Nathania dengan tersenyum tipis berjalan pelan ke arah Pradita. Lalu memberikan beberapa map berisikan laporan persiapan Grand Launching yang sudah dieksekusi.

__ADS_1


__ADS_2