
Persaingan adu tawar menawar lisensi biji pohon daun lima bintang, dan master Chow Rou semakin sengit. Claudya terlempar, karena tidak mampu bersaing karena penawaran harganya sudah menyentuh nominal 30,5 triliun.
Tiga pria, termasuk Pradita bersaing memperebutkan kedua barang yang sedang dilelang dengan harga yang sangat fantastis.
“31,5 triliun!” teriak pria di dalam ruangan nomor 7.
‘Tuan Muda, langsung skakmat saja mereka di angka 40 triliun. Menurutku firasatku mereka bertiga pasti tidak punya uang sebanyak itu,” bujuk Lu Qingqing dengan senyuman licik.
Akan tetapi Pradit bukan orang yang terlalu gegabah. Ia ingin melihat situasi, dan kondisi penawaran apakah berhenti di nominal 31,5 triliun, atau berhenti.
“Mulutmu sangat manis. Apakah orang seperti Nona mendapatkan banyak komisi dari pelelangan di paviliun naga emas ini?” sindir Pradita.
Lu Qingqing langsung tersipu malu disindir seperti itu. Karena setiap penawaran para peserta lelang di ruangan yang dipegangnya, Lu Qingqing mendapatkan komisi 2% atas setiap harga penawaran yang dimenangkan oleh para peserta lelang.
“35 triliun!” teriak pria nomor 1, dan otomatis pria di ruangan nomor 7 mundur.
“Sial, uangku hanya ada 32 triliun. Pria di ruangan nomor 1 malah menaikan penawarannya sampai 35 triliun. Ini memang sengaja ingin menjatuhkanku,” decak pria di ruangan nomor 7.
“35,5 triliun!” teriak Pradita langsung menyerang balik penawaran pria di ruangan nomor 1.
Kali ini pria di ruangan nomor 1 langsung terkena mental, sebab uang yang ia miliki hanya 35 triliun.
Untuk menguatkan posisinya setelah 30 detik tidak ada lagi menawar, Pradita langsung menaikan penawarannya lagi, “36 triliun!”
“Aku hajar pria yang berada di ruangan 11 itu. Mentang-mentang dia membawa uang yang lebih banyak bisa melakukan seenaknya seperti itu,” decak Claudya.
“Ini benar-benar keterlaluan. Dia berani menyombongkan diri di depan pria terkaya di Finlandia, cari mati!” berang pria di ruangan nomor 1 sambil memukul kursi yang didudukinya, hingga retak.
Setelah 1 menit tidak ada lagi yang menawar, gadis berbando telinga kelinci itu mengumumkan, "36 triliun pertama … 36 triliun kedua … 36 triliun ketiga! Deal, lisensi master Chow Rou, dan biji pohon daun lima bintang jatuh ke tangan pria di ruangan nomor 11!"
Bukannya malah senang mendapatkan kelima lisensi, Pradita malah bersedih. Karena harus mengeluarkan uang 51 triliun 363 milyar.
“Apes-apes! Baru saja menarik uang sebanyak itu sudah harus dimuntahkan, apes-apes,” cicit Pradita sambil menepuk jidatnya berkali-kali.
Semua transaksi sudah diselesaikan, termasuk alamat pengiriman gudang perusahaan baru yang sedang dibentuk oleh Pradita di Karawang Barat.
Biji pohon daun lima bintang, akar ginseng emas, akar 7 naga, dan akar naga putih akan dikirim paviliun naga emas 7 hari lai ke gudang perusahaan Pradita yang sedang dibangun oleh istri duo kembarnya di kawasan industri Karawang Barat.
Lu Qingqing yang dapat banyak komisi tersenyum lebar, lalu membungkuk hormat ke arah Pradita sambil memberikan kartu namanya, “Terima kasih, Tuan Muda. Kalau ada keperluan apapun, Tuan MUda bisa hubungi aku.”
“Ya,” balas singkat Pradita dengan muka ketus sambil menerima kartu nama yang disodorkan oleh Lu Qingqing.
__ADS_1
Seorang pria berkumis tipis, dan berjenggot lurus berwarna putih langsung membungkuk hormat ke arah Pradita saat dirinya keluar dari ruangan SVIP nomor 11.
“Hormat pada Tuan Muda, aku Chow Rou,’ tutur Mater Chow Rou dengan nada lembut.
Pradita langsung mengetahuinya kalau pria berambut putih di hadapannya ini adalah master Chow Rou.
Maka dari itu Pradita langsung menegakan badannya, “Jangan sungkan seperti ini, Master Chow. Anda lebih tua dariku, dan anda lebih banyak makan asam garam dariku. Katakan saja berapa gaji yang Master inginkan untuk bisa bekerja denganku. Aku melakukan ini diluar peraturan paviliun naga emas.”
"Baik, Tuan Muda. Aku hanya ingin Tuan Muda membantu menemukan cucuku yang bernama Stephen Chow yang hilang saat berumur 5 tahun, mungkin sekarang sudah sepantaran dengan Tuan Muda,” ungkap Master Chow.
Mereka berdua pun keluar dari dalam wilayah paviliun naga emas, dan kembali ke Indonesia untuk memulai rencana proyek pembuatan serum dewa, dan serum dewi.
Tai Shi Chi pun mengantarkan mereka berdua ke bandara internasional Beijing. Namun ia tak dapat menahan tangisnya, karena ini merupakan pertemuan pertama sekaligus terakhir dengan Pradita.
“Se … hiks-hiks …. Selamat tinggal, Tuan Muda. Semoga di masa depan kita akan bertemu lagi, haaaa ….”
Ta Shi Chi menangis terisak-isak, dan membuat Master Chow, juga Pradita kasihan padanya.
“Tuan Muda, bisakah anda membawa nak Tai Shi Chi juga. Entah kenapa setiap kali aku melihat wajah Nak Tai Shi Chi, wajahnya mengingatkanku padaku cucuku Stephen Chow,” mohon Master Chow dengan membungkuk hormat, dan membuat Pradita tak bisa menahan lagi kesedihannya.
“Baiklah, aku berikan waktu dua jam, dan bawa semua anak yatim yang kau asuh juga!” titah Pradita, dan langsung membuat Tai Shi Chi sumringah.
Pria tampan bermanik mata biru tersebut segera berlari ke mobil, dan meminta supirnya untuk pergi ke distrik kumuh di wilayah selatan kota Beijing.
"Bos, master Chow, dan pria kutu kupret itu masih berada di bandara Beijing. Apakah kita perlu habisi dia disana, dan rebut Master Chow dari tangannya?" lapor pria berseragam hitam putih tersebut melalui saluran komunikasi telepon.
“Bereskan!” titah Judai Ghan dari komunikasi telepon.
Pria berseragam hitam putih berjumlah 10 orang keluar dari dalam mobil Toyota Vellfire membawa senapan magnum yang sudah diberi peredam.
Dengan langkah garang mereka menuju ke arah Pradita, dan master Chow yang sudah menunggu Tai Shi Chi.
Pradita yang tak sabar menunggu tai Shi Chi beberapa kali jam tangannya dengan perasaan gelisah. Rasa gelisah itu berubah menjadi terkejut saat kesepuluh pria berseragam hitam-putih tersebut serentak menodongkan pistolnya ke arah mereka berdua.
“Jangan melawan! Serahkan semua lisensi itu, dan Master Chow pada kami!” tekan salah satu pria berseragam tersebut.
“Apakah kalian sudah memikirkan matang-matang melakukan ini?
Benua Asia, Eropa, dan Afrika adalah wilayahku, Kalian akan menerima konsekuensi atas perbuatan kalian ini,” ancam Pradita dengan kata-kata lembut.
“Konsekuensi? Aku rasa kau itu terlalu banyak membaca novel dewa perang. Padahal yang aku lihat kau ini lebih sekedar seperti dewa cu pat kay, hahaha …,” ejek pria tersebut, dan membuat semua kawan-kawannya juga ikut menertawakan Pradita.
__ADS_1
“Baiklah.” Pradita mengeluarkan katana secepat kilat dari inventaris sistem, dan langsung menghantamkan katana tersebut ke permukaan tanah, “Teknik naga wanabaya!”
Kesepuluh pria berseragam hitam-putih tersebut terpental sejauh 5 meter, dan senapan yang mereka pegang juga ikut terpental.
Master Chow yang juga seorang ahli bela diri juga ikut bertindak dengan melepaskan jurus totok jari petir ke tubuh pria berseragam hitam-putih yang sudah terkapar itu.
Alhasil mereka semua tidak dapat bergerak, dan terkapar di permukaan tanah dengan tubuh mematung.
Red Queen memanggil pihak berwenang untuk datang, dan sesaat kemudian mobil polisi berjumlah 5 mobil datang. Lalu membekuk mereka bersepuluh.
“Master, bela diri anda sangat hebat,” puji Pradita dengan mengacungkan jempol.
“Tuan Muda juga sangat hebat, hanya dalam sekali hantaman pedang semua orang-orang itu terpental. Gerakan itu mengingatkanku pada seseorang,” puji balik Master Chow dengan senyuman ramah.
Mereka pun akhirnya bertolak dari bandara Beijing menuju bandara Kertajati. Setelah Tai Shi Chi datang membawa 10 anak yatim yang diasuhnya menggunakan pesawat jet pribadi milik Pradita.
****
Keesokan paginya, Mansion Union.
“Faster baby! Faster!” erang Nathalia yang sedang dibabak belurkan oleh Pradita. “Auuuu!”
Nathalia pun akhirnya terkapar lemas menyusul adik kembarnya Nathania yang sudah di babak belurkan oleh Pradita lebih dahulu.
Setelah Pradita datang bersama rombongan jam 3 malam, Nathalia, dan Nathania yang belum tidur, karena memikirkan suaminya itu pergi tanpa pamit. Meminta Pradita untuk melepaskan hasrat rindu mereka berdua untuk melakukan perhelatan akbar.
Alhasil perhelatan akbar dari jam 3 lebih 5 menit itu baru selesai jam 6 lebih 15 menit. Untungnya Pradita sudah tidur nyenyak di dalam pesawat. Jadi Pradita punya stamina yang banyak untuk membombardir mereka berdua dengan serangan pamungkas singkong premium.
“Kalau kalian ayang-ayangku lelah beristirahat saja!” seru Pradita, “Aku akan pergi ke Karawang untuk meninjau pembuatan gudang penyimpanan dan pabrik serum kita yang baru sudah sampai mana penyelesaiannya.”
Pradita bergegas membersihkan diri untuk segera pergi bersama Tai Shi Chi, dan Master Chow juga Rivan menuju pabrik barunya di kawasan Karawang Barat.
Pria berambut merah itu turun dari lantai dua melalui tangga, dan tidak mendapati semua istrinya, kesepuluh anak angkatnya, Master how, dan juga Tai Shi Chi. Bahkan seluruh pelayannya pun tidak ada di wilayah tempat kerja masing-masing.
“Kemana mereka semua?” pikir Pradita bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Daripada diambil pusing, Pradita makan seorang diri di ruang makan sambil menikmati tiga gelas coklat hangat, dan ayam bakar satu ekor yang menjadi makanan favoritnya di pagi hari.
Rupanya semua orang sedang berada di rooftop mansion sedang melakukan gerakan taichi bersama Mater Chow.
Semenjak kedatangan rombongan Tai Shi Chi, dan Master Chow semalam, suasana rumah jadi lebih ramai. Ada banyak gelak tawa yang terukir jelas di semua istri Pradita, dan juga semua pelayannya.
__ADS_1
Setelah jam 7 tepat, para pelayan Pradita, 10 anak angkatnya, dan juga kelima istrinya turun berbondong-bondong dengan raut wajah sumringah, serta gelak tawa.
Pradita yang melihat hal tersebut juga ikut senang, dan bergumam, "Suasana rumah ini kembali ceria. Mungkin karena kau juga yang terlalu sibuk wara-wiri demi menghidupi kesepuluh istriku. Walaupun Helly, Reina, dan Nikita sudah tiada, tapi aku sudah berjanji pada keluarga mereka untuk tetap menafkahi keluarga dari ketiga istriku yang sudah tiada."