SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 107


__ADS_3

Pradita bersama Nabila pergi ke CSB Mall, tetapi mereka berdua memakai pakaian tidak seperti biasanya untuk menghindari orang-orang yang sangat mengenali Nabila.


Bagaimanapun juga Nabila adalah seorang artis, walaupun sekarang sudah menjadi mantan artis. Maka pandangan masyarakat tetap memandang Nabila sebagai artis, dan itu nantinya akan merepotkan mereka berdua.


Pradita bersama Nabila pergi ke CSB Mall menaiki motor beat keluaran lama milik karyawannya yang bekerja di mansion. Mereka berdua pun memakai masker, dan memakai topi untuk menutupi identitas mereka berdua yang sudah sangat terkenal di Cirebon, dan sekitarnya.


“Kita sudah sampai,” kata Pradita memarkirkan motornya di parkiran motor umum di sekitaran CSB Mall. Lalu turun sambil membukakan helm di kepala Nabila, “Susah juga ya hidup jadi orang terkenal, hehehe ….”


“Ya begitulah, Mas. Yang lebih mengerikan itu kalau kita bertemu fans garis keras yang kalau minta foto bareng menjadi suatu keharusan. Kalau kita menolak, pasti kita akan dilukai oleh mereka,” balas Nabila sambil merapikan rambutnya, lalu memakai topi.


Mereka berdua berjalan bergandengan sambil matanya melirik ke kiri, dan ke kanan. Takutnya orang-orang yang lalul lalang mengenali mereka berdua.


Sesampainya di lantai dua, kondisinya masih aman. Namun ada beberapa orang yang sudah curiga kalau itu Nabila, dan Prdita. Mereka mendekati Nabila, dan Pradita yang sedang berada di toko perhiasan.


Pradita menyadari itu, dan tetap tenang sambil berbincang ria dengan karyawati toko emas tersebut.


“Sayang, silahkan pilih yang kamu suka!” seru Pradita sambil terus mengelus-elus punggung tangan Nabila.


“Aku suka semuanya, Mas. Bagaimana kalau kita memberikan untuk Nira, Nathalia, dan Nathania juga. Pasti mereka suka,” celetuk Nabila.


Membuat beberapa orang yang tahu betul tentang kehidupan Pradita tambah yakin. Kalau pria bertopi hitam, dan wanita bertopi putih yang memakai masker berwarna putih itu adalah Pradita, juga Nabila.


“Ayo kita minta foto! Itu pasti Pradita Mahendra, dan Nabila Salsabila. Aku yakin!” seru seorang emak-emak berdaster dengan motif bunga bangkai.


Seruannya membuat semua orang yang sangat menyukai Pradita, dan Nabila pada akhirnya mengerumuni mereka berdua. Namun Pradita, dan Nabila tidak menyadari kalau di belakang mereka berdua sudah banyak orang.


“Ayo, sayang! Kita ke lantai yang lain!” seru Pradita setelah memborong semua perhiasan di toko emas tersebut.


Saat Pradita membalikan badan, matanya membulat dengan rahang terjatuh, “Eeeh … kenapa ini?” teriaknya.


Untuk mengelabui mereka, Nabila berteriak, “Itu ada Justin Bieber di belakang kalian!”


Wanita berambut perak tersebut menarik tangan Ryuga, saat semua orang membalikan badan untuk melihat Justin Bieber. Padahal itu hanya kebohongan yang Nabila buat untuk mengelabui mereka.


Pradita, dan Nabila lari ke lift terdekat untuk keluar dari wilayah CSB Mall, karena mereka berdua sudah tidak merasa nyaman.


Mereka berdua masuk ke dalam salah satu kedai bakso yang masih sepi pembeli. Lalu duduk dengan nafas terengah-engah, dan Pradita berkata “Fyuh … untung saja kita meminta karyawan toko emas itu untuk mengirimkan emas yang kamu beli ke rumah. Kalau tidak, kita akan kerepotan membawa emas sebanyak itu.”


“Iiya … Mas,” balas singkat Nabila dengan dada kembang-kempis.


Pradita menengok ke kiri, dan ke kanan. Ia baru sadar kalau mereka berdua sudah masuk ke dalam kedai bakso.


Seorang pria tua duduk di meja kasir dengan muka ditekuk, dan tatapan kosong. Sudah satu minggu jualan, satu pembeli pun belum ada yang membeli di kedai baksonya itu. Sampai-sampai Pradita, dan Nabila masuk ke kedainya pun tidak menyadarinya.

__ADS_1


Pradita bangkit, lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah pria tua tersebut, dan memanggilnya, “Pak, kami ingin pesan bakso, dua mangkok!”


Namun tidak ada sahutan, pria tua tersebut tetap termangu dengan tatapan kosong, dan pikirannya sedang entah kemana.


Pradita mengulangi lagi panggilannya sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan muka pria tua tersebut, “Pak, kami ingin memesan bakso!”


Tetap saja pria tua itu dengan wajah yang sudah keriput masih termangu, Pradita yang sudah kesal pun memanggilnya kembali dengan nada alunan suara cadas, “Pak! Kami mau beli bakso! Roaaaar!”


Sontak saja pria tua itu terkejut setengah mati, dikira suara Pradita itu suara petir di siang bolong.


“Huff … huff ….” Pria tua itu terengah-engah sambil memegangi dadanya yang naik turun, “A-ada apa, Mas? Ma-maaf, bapak tidak dengar. Maklum mikirin cicilan panci yang harus dibayar selama 10 tahun belum selesai-selesai.”


“Ya, sudah. Sekarang aku pesan bakso dua mangkok, minumnya es teh manis tiga kelas, dan kalau ada es teh coklat tiga gelas,” pinta Pradita sambil menahan emosinya.


Dengan sigap, dan cekatan, pria tua bernama Pak Mardono tersebut segera menyiapkan pesanan yang Pradita minta.


Mardono merasa sangat senang, karena selama 7 hari ia berjualan belum ada pelanggan yang membelinya, dan hari ini jualan pria tua itu pecah telor, karena Pradita membeli bakso tersebut.


Pak Mardono bukan penjual bakso biasa. Dari gerakannya dalam penyajian bakso tersebut, Pradita sudah menduga kalau pak Mardono seorang bela diri yang cukup mumpuni.


Pria tua berkumis melintang berwarna putih tersebut membawakan nampan berisikan dua mangkok bakso. Lalu menghidangkan dua mangkok bakso tersebut di depan meja Pradita.


“Silahkan mas!” kata Mardono sopan, dan tersenyum ramah.


Kebetulan Pradita yang mempunyai misi untuk berjualan bakso itu bisa membandingkan bakso yang dijual oleh Mardono.


“Kuahnya sangat enak,” gumam Pradita dengan mata berbinar-binar setelah kuah bakso itu meledak di dalam mulutnya.


Wajah Naila juga berseri-seri setelah merasakan keenakan bakso Mardono yang begitu lembut teksturnya, tapi sangat terasa daging uratnya. Kuahnya juga begitu harum, dan mengundang selera. Saking enaknya Nabila makan dengan lahap, dan sudah menyelesaikan makan baksonya lebih dahulu dari Pradita.


“Pak, tambah!” panggil Nabila sambil mengacungkan tangan kanannya.


“Siap, Non!”


Mardono kembali menyiapkan mangkuk kedua untuk Nabila. Kali ini ia melakukan gerakan akrobatik dari seni bela diri wushu, ia menaruh beberapa bumbu di dalam mangkuk tersebut dengan melemparkan ke atas, dan bumbu-bumbu tersebut masuk ke dalamnya dengan tepat sasaran.


Setelah meramu satu mangkuk bakso, Mardono membawa nampan ke arah meja Pradita, Namun tiba-tiba ada seorang pria yang dipenuhi bekas luka di wajahnya dan menjegal kaki Mardono.


Suara mangkok pecah pun terdengar keras, setelah mangkok tersebut menghantam permukaan lantai.


Melihat hal tersebut, Pradita bangkit dengan tatapan nyalang, dan menghampiri pria yang jangkung setinggi 210 cm tersebut.


“Mengapa kamu menumpahkan satu mangkok bakso yang istriku pesan?” tanya Pradita dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Maaf, kakiku terpeleset, hehehe,” jawab pria bermuka rusak tersebut dengan ringan.


“Kamu harus ganti, cepat!” kata Pradita dengan mata yang mengancam.


“Kamu tuli ya! Kakiku terpeleset, Tolol!” bentak pria jangkung tersebut.


“Mas, Tuan Gian, sudah. Masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi —”


“Sontoloyo!” Gian menampar keras pipi Mardono, hingga tersungkur di permukaan lantai, dan melanjutkan dengan geram, “Justru aku tidak terima, gara-gara kakimu yang menginjak kakiku, sepatuku jadi kotor, goblok!”


Mardono berlutut dengan raut wajah mengiba, “Maaf, Tuan Gian. Aku … aku akan menggantinya!”


“Mengganti? Cuih!” Gian meludah ke depan Mardono dengan tatapan sinis, dan melanjutkan dengan menendang mukanya, “Tolol, hutangmu saja belum dibayar beserta bunganya! Mana mungkin kamu bisa mengganti?”


Pradita naik pitam, ia sudah mengepalkan tangan dengan leher mengeras, lalu berteriak, “Hei binatang kampret dari kumpulan orang terbuang! Tidak ada yang boleh satu orang pun memperlihatkan tindakan kekerasan di depan Pradita Mahendra!”


Pria berambut merah itu membuka maskernya, dan tetap saja Gian tidak takut, walaupun ia tahu kalau Pradita itu adalah raja mafia legal di Cirebon.


“Oh, sang raja yang lemah turun kasta ya rupanya, cih!” cibir Gian dengan tatapan sinis, dan melanjutkan cibirannya dengan menunjuk ke arah Pradita, “Macan yang kehilangan taringnya itu lebih lemah dari seekor semut. Kau pikir aku takut denganmu? Setelah ini Cirebon ini pasti akan menjadi milik Tuanku, hahahaha ….”


Amarah Pradita sudah sampai di ubun-ubun, tetapi sebelum Pradita mengeluarkan katana dari inventaris sistem, suara rentetan letupan terdengar sangat keras dari arah belakang tubuhnya.


Saat itu juga semua orang yang berjalan di depan kedai bakso Mardono langsung tiarap, termasuk anak buah Gian, dan pak Mardono itu sendiri.


Ternyata yang menembak itu adalah Nabila yang menembakan senapan magnum berpeluru karat bertubi-tubi tepat di dahi Gian.


“Tidak ada yang boleh mengancam suamiku, atau siapapun yang berada di sekelilingku saat ini. Kalau kau melakukannya, maka itu adalah tindakanku!” berang Nabila, dan menembakan kembali bertubi-tubi senapan magnum itu sampai peluru karetnya habis ke tubuh Gian.


Pria jangkung tersebut sudah terkapar pingsan, karena tak mampu menahan rasa sakit, setelah tubuhnya diberondong puluhan peluru oleh Nabila.


Pradita hanya bisa menjatuhkan rahangnya dengan mata membulat. Ia tidak menyangka Nabila bisa sebar-bar itu dalam mengambil tindakan.


Nabila memapah pak Mardono untuk bangkit, dan bertanya dengan nada khawatir, karena muka Pradono lebam, serta sudut bibirnya mengeluarkan darah, "Bapak tidak apa-apa?"


"Ti-tidak apa-apa, Non. Terima kasih telah menolong Bapak," jawab Mardono dengan raut muka meringis


Nabila mendudukan pria tua renta tersebut ke salah satu kursi, sambil melihat luka-luka di mukanya yang cukup memar.


Pradita mendekati Mardono dengan perasan khawatir, dan bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi pak?"


Mardono pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Kalau dirinya punya hutang pada Gian yang merupakan seorang lintah darat. Pria tua itu hanya hutang 10 juta, tetapi ia harus membayar sebanyak 200 juta karena bunga yang diberikan Gian sangat tinggi. Karena Mardono sudah 3 bulan tidak membayar, maka Gian membebankan hutang Mardono 200 juta.


“Mereka aku harus habisi! Apapun yang terjadi,” lirih Pradita dengan menggertakan giginya.

__ADS_1


"Bapak, tenang saja. Mas Pradita pasti akan membantu bapak. Aku juga pasti akan membantu —"


"Tetapi kami akan membantu dengan cara yang lain. Bapak ajari aku bikin bakso, bila perlu aku akan memberi bapak 500 juta untuk biaya pembelajaran meracik bakso, plus kedai ini? Bagaimana pak? tawar Pradita dengan senyuman licik.


__ADS_2