
“I-ini adalah formulasi dari ramuan dewa abadi? A-aku pernah melihatnya sekilas, dan bisa menyembuhkan segala penyakit,” ucap Dokter Wong gemetar.
Di dunia bawah tanah ada sebuah organisasi rahasia yang bergerak di bidang kesehatan yang menyimpan kitab manuskrip kuno. Paviliun naga emas adalah salah satunya, tapi itu hanya di tingkat dasar dari sekian ribuan anggota organisasi rahasia alkemis atau dunia meramu obat.
Otak Nabila yang sudah ditingkatkan dengan Quantum Brainwave mampu memecahkan solusi manuskrip kuno ramuan dewa abadi. Bahkan para alkemis dunia saja tidak mampu melakukannya.
“Kamu hebat sayang.”
Pradita tak sungan mencium pipi kiri, dan pipi kanan Nabila secara bergantian. Setelah Nira masuk pun, Pradita juga langsug mencium pipi Nira bergantian.
Sebab mereka berdua melakukan kombinasi yang sangat epik, dan mampu menemukan kejanggalan di dalam formula rumus serum dewa, dan serum dewi.
Bayangkan saja kalau sampai serum dewa, dan serum dewi itu diusulkan pada pemerintah Indonesia. Kemudian pemerintah Indonesia mensahkan kedua serum tersebut, bukannya warga Indoensia kebal terhadap virus venom, justru akan mempercepat kematian mereka.
“Sayang, geli, ih!” tolak Nabila, dan Nira erentak, karena Pradita terus mencium pipi mereka berdua secara bergantian.
“Maaf-maaf, aku terlalu senang, hehehe ….” Pradita terkekeh, lalu berubah raut mukanya menjadi menyeringai tajam ke arah Bianca, “Nona, bisakah warga desa mengumpulkan logam Stantium sebanyak-banyaknya. Aku akan membawa logam ini ke Indonesia, waktu kita tidak banyak lagi. Yang aku takutkan satu, kita kekurangan dana membangun kota ini.”
“Ashiyaaap!”
James, dan Bianca segera bangkit berdiri, lalu keluar rumah. Mereka langsung memanggil para warga untuk segera menambang, karena sistem penambang material logam yang sedang dibangun timpembangunan masih 15% lagi untuk selesai.
Parawarga yang berjumlah 100 orang termasuk James, Bianca, dan Dokter Wong segera menuju bagian luar gua. Karena batu Stantium kebanyakan ada di luar gua, dan berserakan seperti sampah.
Pradita pun ikut membantu juga mengeluarkan bongkahan-bongakahn batu tersbeut dari permukaan tanah, dan dinding gua. Ia harus membawa batu-batu tersebut sebanyak-banyaknya, supaya bisa diproses oleh Master Wong di pabrik D3.
Namun sedang asyik-asyiknya para warga dan Pradita sedang menambang batu, terdengar suara desisan yang sangat banyak, dan mengejutkan para warga.
"Ular raksasa!"
Semua warga beralri masuk ke dalam gua, dan membuat takut juga tim penambang. Pradita tetap tak bergeming, dan malah memandang tajam 20 ular raksasa yang tiba-tiba muncul itu.
__ADS_1
“Darimana datangnya ular-ular raksasa ini? Dasar pengganggu!”
Raut muka Pradita merah padam, dan bersiap menyerang kawanan ular tersebut dengan mengeluarkan pedang saber, juga pedang katana.
“Teknik naga Dhanindra! Teknik naga Besukih!” seru Pradita sambil melesat dengan kecepatan kilat.
Kedua pedang tersbeut diayunkan sevcepat kilat ke tubuh 20 ekor ular rkasasa secara bergantian, dan memunculkan siluet-siluet garis putih acak tercetak jelas di sekujur 20 ekor ular raksasa.
Pradita melompat mundur sambil salto ke belakan. Ia melakukan hal tersbeut setelah berhasil menumbangkan 20 ekor ular raksasa.
Akan tetapi kedua puluh ekor ular rkasasa tersebut kembali berdiri, dan seperti tidak terjadi apa-apa.
Tampak sosok pria berdiri di atas satu kepala ular sambil tertawa sinis, “Hahaha … tak sia-sia aku mencari keberadaan Dokter Wong. Pucuk dicinta ulam pun tiba, hahahaha ….”
“Siapa kau?” tanya Pradita dengan tatapan tajam ke arah Komandan Yinlong.
“Aku adalah malaikat pencabut nyawa. Tapi sebelum itu aku beritahukan, percuma saja kau melawan ular-ular ini.
Kedua aura membunuh menyeruak, dan berbenturan. Kedua aura mmebunuh tersebut sama-sama kuat, dan mampu bertahan satu sama lain, bukan melahap satu sama lain.
“Itu katamu, tolol! Penghisap energi diaktifkan!”
Pradita menutup wajahnya dengan topeng cyboirg enerzone, lalu mengambil salah satu bongkahan batu berwarna perak berkilau, dan itu adalah bongkahan logam adamantium yang tergeletak di depannya.
Bilah pedang saber yang semula berwarna merah berubah menjadi waran perak. Kemudian ia melesat secepat kilat ke arah Komandan Yinlong yang masih berdiri di atas kepala salah satu ularnya.
Namun sebelum Pradita berhasil menjangkau Komandan Yinlong, tubuhnya sudah terhempas oleh sabetan salah satu ekor ular raksasa.
Suara hantaman tubuh Pradita terengar sangat keras saat tubuhnya mengenai dinding luar gua, hingga batu-batu yang berada di dinding tersebut hampir saja menimpa tubuh Pradita yang sudah terkapar.
“Pukulan gelombang harimau putih!” seru Komandan Yinlong sambil mengumpulkan tenaga dalam di kepalan tangan kanannya.
__ADS_1
Lalu kepalan tangan kanan tersebut secepat kilat diarah ke arah Pradita, dan badai angin yang sangat kencang merobek apapun yang dilewatinya melesat ke arah Pradita.
“Petir Kirin!”
Pradita mengalirkan energi petir ke katana yang ia pegang di tangan kiri, dan bilah katana itu berubah warna menjadi warna biru. Lalu diayunkan secara vertikal dari bawah ke atas bersamaan dengan pedang saber berbilah saber perak.
Badai angin yang sangat kuat itu terbelah, dan mampu dihempaskan oleh Pradita ke udara. Sampai-sampai di ketinggian 100 meter adri permukaan tanah terjadi ledakan dahsyat yang mengguncangkan gua.
“Apa yang terjadi?”
“Semuanya berlindung!”
“... ….”
Semua orang panik dan mulai tengkurap di dalam gua, karena gua bergetar cukup hebat, akibat dua serangan pamungkas itu berada di udara.
“Apa? bagaimana bisa?” kata komandna Yinlong dengan mata membulat.
Pasalnya tidak mungkin serangan pamungkasnya mampu dimentahkan oleh orang lain, karena belum ada satu pun pendekar atau seorang yang mampu menghalau serangan pamungkasnya.
“Kenapa kau terkejut? Kau pikir aku hanya bisa menggunakan satu empat teknik gerbang surgawi saja, hah?” ejek Pradita sambil mencebikan bibir.
Tentu saja ejekan Pradita membuat Komandan Yinlong kesal, dan langsung mengarahkan kedua puluh satu ularnya untuk membunuh Pradita, dan juga semua orang yang berada di dalam gua.
"Tidak akan aku biarkan! Teknik Naga Wanabaya!"
Pradita melompat sambil mengayunkan kedua pedangnya ke permukaan tanah. Muncul siluet energi berbentuk sirip hiu setinggi 20 meter, dan melesat ke arah kawanan ular raksasa.
Kedua sileut sirip hiu yang membelah apapun yang dilewatinya itu berhasil menghantam kawanan ular raksasa, dan memotong-motong tubuh ular-ular raksasa yang memiliki kekeraan seperti berlian tersebut menjadi debu.
Komandan Yinlong juga ikut tewas oleh serangan pamungkas Pradita, dan tubuhnya lenyap menjadi debu, karena serangan pamungkas Pradita terlalu kuat.
__ADS_1
Pradita lemas setelah mengeluarkan semua energinya untuk memusnahkan kawanan ular raksasa yang dikendalikan oleh Komandan Yinlong. Saat itu juga pandangan matanya sudah buram, dan akhirnya Pradita pingsan.