
Syahrul melesat sangat cepat, hingga tubuhnya tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Hanya terdengar derap langkah kakinya, dan hembusan angin bekas dirinya melesat secara zig-zag.
Tiba-tiba Syahrul muncul di samping kiri Pradita, dan melepaskan tebasan bertubi-tubi. Sebelum Syahrul melakukan serang, Pradita yang sudah bisa membaca pergerakan Syahrul mengayunkan pedang nodachinya secara vertikal dari atas ke bawah sambil memutar badannya ke arah Syahrul.
Untuk kedua kalinya Pradita berhasil mementalkan tubuh Syahrul dengan teknik naga Wanabaya, yakni sebuah gerakan tebasan ayunan pedang yang dilakukan secara vertikal dari atas ke bawah.
Kali ini Syahrul tergores sedikit dada kanannya oleh ujung pedang nodachi, sebelum bilah pedang panjang itu menghantam permukaan arena.
“Uugh! Sial! Dia sangat kuat dan cepat disaat bersamaan. Padahal aku sudah meningkatkan kecepatan ku sampai maksimal,” ringis Syahrul sambil kedua kakinya yang berjongkok terpundur bergesekan dengan permukaan tanah.
Pradita tidak mengejar Syahrul, dan masih berdiri di tempat ia berdiri sebelumnya. ia mengulum senyuman simpul pada Syahrul yang tak bisa mendekati tubuhnya.
Abu Hossef semakin kesal, karena wakil kepala sekolah Hosfu dibuat tak berkutik oleh Pradita yang dianggapnya hanya seonggok tahi lalat.
Abu Hossef yang sedang duduk di dalam ruangannya bersama Komandan Aramain melihat sebuah tablet yang menunjuk data statistik dari tubuh Visky Alpha atau Pradita yang sudah menyatu dengan topeng Enerzone.
“Kapten Abu. Sudahi saja ujiannya, bawa Visky Alpha padaku sekarang! Aku butuh pembunuh yang kuat, cepat, dan juga tak berperasaan seperti dia!” titah Komandan Aramain dengan senyuman puas setelah melihat semua kinerja Pradita dalam ujian tersebut.
Suara alarm darurat pun berbunyi, dan leher Pradita yang dipasang kalung kejut langsung tersetrum. Tubuhnya langsung ambruk di permukaan arena, akibat kalung leher tersebut dinyalakan, dan mengeluarkan listrik kejut yang mampu melumpuhkan tubuhnya.
Pradita diseret oleh Syahrul dengan senyuman menyeringai, dan pria tersebut mengejeknya, “Sehebat apapun kau. Selamanya kau akan menjadi budak kami, hahaha …. Karena kalung itu adalah tanda kalau kau adalah budak kami, hahahaha ….”
Pradita diam seribu bahasa, hanya bisa menggertakan giginya, karena begitu geram pada semua orang yang berada di sekolah Hosfu yang memperlakukan dirinya seperti binatang ****** dari kumpulan orang terbuang.
****
Sore harinya.
__ADS_1
Pradita dimasukan ke dalam sebuah jet pribadi milik Komandan Aramain. Pesawat jet tersebut akan bertolak langsung menuju Libya untuk mengirim Pradita sebagai tentara bayaran yang harus membunuh sang pemimpin negara disana.
Sebab pihak oposisi telah membayar Sevenfall untuk membunuh koordinator tertinggi di negara tersebut.
Pradita diikat di kursi yang berhadapan dengan kursi milik Komandan Aramain, dan hanya dipisahkan meja kecil.
Di balik topeng Enerzone, wajah Pradita merah padam, dan dipenuhi urat otot yang menonjol. Ia benar-benar sangat marah pada Komandan Aramain, dan saat ini juga ingin membunuhnya. Karena telah membuat Nira sekarat, dan Nabila, serta Zevalia hampir mati.
“Aku sudah mengirimkan semua data mengenai target yang harus kamu habisi. Ingat, kalau kamu melawan, maka kami takkan segan untuk membunuhmu dengan kalung di leher kau itu,” ancam Komandan Aramain.
Setelah mendengar ancaman Komandan Aramain, amarah Pradita ditekan, dan harus menekan sekecil semua emosinya di depan Komandan Aramain.
“Baik, Komandan,” sahut Pradita dingin.
Ikatan yang mengikat tangan, dan tubuh Pradita dilepas oleh kedua anak buah Aramain. Lalu tubuh Pradita dipakaikan ransel parasut, dan digiring ke pintu pesawat yang sudah dibuka.
Tubuh Pradita terjun keluar dari pesawat, tetapi ia tetap tenang. Ternyata enerzone bisa memprediksi, dan juga menjaga tubuh Pradita tetap stabil dalam kondisi apapun, termasuk saat ini.
"Untung saja topeng ini berada di tanganku. Coba kalau berada ditangan mereka. Alhasil dunia ini akan berat sebelah," gumam Pradita dingin.
Pradita terus terjun dan sudah masuk wilayah udara negara Libya, serta sudah berada di kota Tripolis.
Untuk mengelabui sistem keamanan kota Tripolis, Pradita menekan tombol headset humagear di telinga sebelah kanan untuk membuat dirinya masuk dalam mode stealth. Biar ketika Pradita turun di pelabuhan Tripolis tidak dicurigai oleh pihak keamanan setempat.
Setelah sampai di ketinggian 700 meter, Pradita menarik tuas pembuka untuk mengembangkan parasutnya. Enerzone memberikan petunjuk pada Pradita, supaya bisa mendarat dengan baik menggunakan parasut.
Akan tetapi sedang terjadi baku tembak antara tentara oposisi, dan tentara Libya di pelabuhan yang memperebutkan wilayah pelabuhan Tripolis.
__ADS_1
Saat parasut Pradita sampai di ketinggian 20 meter, talinya putus, dan parasutnya berlubang, karena terkena rentetan peluru yang mengarah ke arah Pradita.
Alhasil Pradita mau tidak mau mendarat terpaksa dan tubuhnya menghantam salah satu kontainer kosong, hingga berbunyi keras.
Bunyinya ini mengagetkan kedua belah pihak yang sedang berseteru. Mengetahui tugas Pradita berada di pihak tentara oposisi, matanya berkeliling mencari informasi mana diantara dari sekian puluhan tentara yang memakai seragam tentara oposisi.
Ternyata tentara oposisi berada di sebelah selatan. Maka dari itu Pradita mengeluarkan gagang pedang saber, dan berlari cepat ke arah tentara Libya untuk memenangkan perseteruan ini atas nama tentara oposisi.
Berkat tubuh Pradita masuk dalam mode stealth yang mempunyai efek tubuh tidak dapat dilihat oleh mata biasa alias transparan. Maka dari itu Pradita dengan mudah memenggal satu persatu kepala tentara Libya, hingga lepas dari lehernya, dan menggelinding ke permukaan lantai.
“Apa?”
Melihat hal tersebut, semua tentara oposisi melebarkan mata, dan menjatuhkan rahangnya. Pikiran mereka dipenuhi tanda tanya besar, karena tiba-tiba semua tentara Libya mati berkalang tanah dengan cairan kental merah membanjiri permukaan tanah.
Komandan Aramain tersenyum puas melihat kerja Pradita, saat dirinya sedang mengirimkan pesan ke Kapten Lahm selaku pemimpin dalam operasi perebutan wilayah pelabuhan Tripolis.
Kapten Lahm yang sedang sangat bingung, akhirnya tersenyum lebar setelah mendapat pesan rahasia Komandan Aramain. Bahwa paket yang mereka pesan telah sampai, yakni Visky Alpha yang diberi julukan oleh Komandan Aramian sebagai si kilat merah.
Enerzone langsung menghubungkan jalur komunikasi Pradita pada Kapten Lahm, dan menjelaskan, "Kapten, aku Visky Alpha. Tidak perlu takut, katakan pada semua anak buah anda untuk terus maju menguasai wilayah pelabuhan Tripolis. Aku akan membantu mereka diam-diam."
Mendengar penjelasan dari Pradita, Kapten Lahm segera mengirimkan penjelasannya pada semua anak buahnya yang masih hidup, bahwa mereka tidak perlu takut, karena pembantaian tentara libya di depan mata mereka merupakan bantuan dari tentara bayaran Sevenfall.
Hal ini membuat tentara oposisi moralnya meningkat, karena mendapatkan bantuan yang sangat luar biasa hebatnya.
Apalagi setelah mereka menyebar ke seluruh wilayah pelabuhan, semua tentara Libya ditemukan tak bernyawa dalam kondisi leher tanpa kepala.
Pradita benar-benar telah berubah menjadikan dirinya sebagai pembunuh bayaran yang sangat dingin. Akibat hidupnya selalu dipenuhi dendam, dan dendam.
__ADS_1