
Prisilia akhirnya menceritakan semua hal yang telah dialaminya pada Pradita setelah ia tenang. Ia mengalami hal yang buruk, 85% saham group perusahaannya telah diambil paksa dan licik oleh paman dari pihak ayah.
Sang paman melakukan hal tersebut demi memenuhi ambisinya menguasai seluruh harta yang telah sah diwariskan pada Prisilia sepenuhnya.
Prisilia ke Bali guna bernegosiasi dengan teman lamanya yang cukup ahli di bidang IT untuk membantunya menyelesaikan satu perusahaan yang belum diambil sang Paman.
“Tenang, aku akan membantumu. Pertama temukan aku dengan temanmu yang ahli dalam bidang IT. Aku paham betapa pentingnya kita bisa merekrut atau bekerja sama dengan orang yang ahli di bidangnya ….” Pradita melanjutkan perkataannya dalam hatinya, “Seperti aku mendapatkan dua wanita ganas dalam segala hal, hehehe ….”
“Terima kasih, Dit. Kamu memang selalu menjadi dewa penolongku.”
Mereka berdua pun pergi menuju Tabanan menggunakan sepeda motor sewa untuk menemui Dicky. Prisilia sudah membuat janji satu minggu yang lalu, untuk bertemu dengannya di salah satu restoran di Tabanan.
......................
1 jam kemudian restoran Tabanan.
Prisilia, dan Pradita sudah duduk menunggu kedatangan Dicky yang sedang terjebak macet. Dia mengabarkan bahwa 5 menit lagi sampai, dan sekarang sedang hujan besar.
Setelah menunggu beberapa saat, seorang pria yang memakai kaos berwarna putih membawa tas jinjing berisikan laptop datang dengan tubuh basah kuyup.
Prisilia berdiri dan memanggilnya, “Dicky!”
Dicky pun menoleh ke arah Prislia dan segera melangkahkan kakinya agak cepat. Dia sangat menyesal karena datang terlambat, “Sil, aku minta maaf aku telat 3 menit sesuai waktu yang telah ditentukan. Sebagai hukumannya aku yang traktir makanannya, kalian berdua pesan saja.”
Pradita juga ikut berdiri sambil menyodorkan tangan ke arah Dicky untuk berjabat tangan, “Salam kenal, aku Pradita Mahendra, sahabat Prisilia sejak kecil.”
“Aku Dicky Jona. Aku teman juga sahabatnya sewaktu Prisilia sering berkunjung ke Bali sewaktu dia berumur 15 tahun. Rumahku dan rumahnya di Bali berdampingan,” balas Dicky sambil menjabat tangan Pradita. “Silahkan duduk!”
Mereka pun bertiga duduk, dan Dicky mengeluarkan laptopnya yang basah kuyup, lalu menaruhnya di atas meja. Karena dia akan mempresentasikan sebuah aplikasi yang akan digunakan oleh perusahaan Prisilia.
Namun saat dinyalakan laptopnya tetap tidak menyala karena sudah kemasukan bulir-bulir air.
“Kenapa ****?” tanya Pradita kasihan yang melihat Dikcy begitu panik.
Padahal ia juga telah tahu kalau Prisilia sedang mengalami masa sulit. Maka dari itu dia ingin bekerja sama dengan Prisilia untuk membebaskan Prisilia dari masa sulitnya saat ini.
“Goblok aku ini! Kenapa aku tidak buat cadangan ke flashdisk?” umpat Dicky pada dirinya sendiri, karena laptop-nya tidak dapat dinyalakan, dan semua data-nya ada di dalam aplikasi tersebut.
“Tenang, jangan panik. Coba aku lihat!”
Dicky memindahkan laptop miliknya ke depan Pradita, dan dilihat serta diotak-atik olehnya cukup lama.
“Laptop ini memang kemasukan air. Biar aku coba.” Pradita memegang laptop tersebut dan tiba-tiba ada kilatan petir yang sangat besar, tidak sampai satu detik suara petir itu menggelegar. “Aaaakh! Teknik Naga Suryadaksa!”
Pradita tubuhnya tersambar petir, tapi dia langsung bisa melawannya dengan mengalirkan tenaga dalam dan tenaga metafisika secara bersamaan ke seluruh tubuh untuk membalikan energi petir yang masuk ke dalam tubuhnya.
Bulir-bulir air yang berada di dalam perangkat laptop menguap, dan laptop milik Dicky menyala.
Dicky dan Prisilia sudah sangat panik karena melihat tubuh Pradita tersambar kilatan petir.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Bug sistem telah diperbaiki, dan memproses update sistem versi 4.0 dalam 3 … 2 … 1]...
...[0% … 5% … 10% … 15% … 20% … 25% … 30% … 35% … 40% … 45% … 50% … 55% … 60% … 65% … 70% … 75% … 80% … 85% … 90% … 95% … 100%]...
...[Proses update selesai]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Sebagai kompensasi, sistem memberikan beberapa bonus]...
__ADS_1
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host telah naik level sistem ke level Raja. Setiap mengupil dihargai Rp,10.000]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan kompensasi uang Rp,10.000.000.000.000]...
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Kompensasi sistem. Misi sampingan dinyatakan selesai]...
...<>.................<>...............<>...
...[Misi sampingan: Hasilkan panen padi musim hujan ini minimal 1000 ton]...
...[Batas waktu:-]...
...[Hukuman: lahan tanah tidak bisa digarap saat tanam di musim panas]...
...[Hadiah: 50 set perlengkapan drone khusus pengelolaan sawah, terdiri dari Combhand Drone bajak sawah, Combhand Drone tanam bibir, Aero Drone khusus pupuk, dan Combhand Drone khusus panen, serta satu helm Empress versi Combhand Drone]...
...<>.................<>................<>...
...[Semua hadiah telah ditransfer ke inventaris sistem]...
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Status]...
...<>...........<>...........<>...
...[Umur: 25 tahun]...
...[Stamina: 61]...
...[Kecerdasan: 67]...
...[Massa otot: 22]...
...[Pesona:75]...
...--------------------------...
...[Kepemilikan aset: Saham BSD City 10%, 100% saham Aeon Mall, 100% saham Unilever, 100% saham Bugatti, 85% Fetucini Motors, 50% saham PT.MMK, 100% saham Union Group]...
...[Saldo: .30.047.925.000.000]...
...[Level sistem: High Premium (0/2.000.000) (1 kali mengupil dihargai Rp,10.000)]...
...[Inventaris: 7 pedang Naga terbang versi tumpul, 50 set Farm Drone]...
...[Skill: ...
...[Pedang 9 Naga Terbang tingkat (Naga Besukih, Naga Wanabaya, Naga Danindra, Naga Suryadaksa, Naga Anubra, Naga Taksaka) (Syarat naik level 7, yaitu uang Rp,70.000.000, dan 70 poin stamina sudah mencapai 30 poin)]...
...[Otot super level 2 (level skill ini mengikuti jumlah poin massa otot. 10 poin masa otot sama dengan 1 level)]...
...[Mengemudi level 2: 0/1000]...
...[Detektif level 6 (level skill ini mengikuti jumlah poin massa otot. 10 poin kecerdasan sama dengan 1 level)]...
__ADS_1
...[Raja gombal level maksimal]...
...<>..........<>...........<>...
Sambil melihat panel hologram, Pradita merapikan rambutnya yang berdiri tegak seperti singkong premium milik orang Arab, setelah tersambar petir.
“Dit, kamu tidak apa-apa? tanya Prisilia panik sambil mennggoyang-goyang badan Pradita, lalu memeluknya.
“Tenang, aman!” jawab Pradita sambil tersenyum lebar, dan mengacungkan jempol ke arah Dicky. “Laptopnya sudah nyala. Silahkan dipergunakan. Jangan bengong atuh!
Dicky yang sedari tadi terkejut setengah mati melihat Pradita, akhirnya sadar setelah Pradita ternyata tidak apa-apa, “Bocah gendeng ini,” gumamnya.
Prislia juga tenang dan melepaskan pelukannya pada tubuh Pradita. Dia mulai memperhatikan presentasi yang sedang diutarakan oleh Dicky mengenai aplikasi bernama Jetbus.
Aplikasinya akan diinstalkan ke komputer pusat perusahaan milik Prisilia bernama PT.Setia Cinta yang bergerak di bidang jasa transportasi bus.
Jadi penumpang yang ingin memesan hanya cukup memesan tiket via online, dan jika ingin masuk ke dalam bus, cukup menunjukan kode QR tiket yang sudah dipesan ke mesin pemindai yang terpasang di depan pintu bus. Maka mereka bisa masuk secara otomatis ke dalam bus.
“Berat, ****. Sepertinya aku tidak mampu membeli bus tipe jetbus. Satu unit saja nilainya bisa puluhan milyar dengan segudang fasilitas. Misal pun 100 armada milikku dimodifikasi menjadi jetbus, biaya modifikasinya bisa melebihi 10 milyar per unit,” tolak Prisilia dengan wajah sendu.
Pradita yang melihat Prisilia kena mental menjadi sangat kasihan, dan tidak tega. Padahal dia juga sudah mengkalkulasi keuntungannya sangat besar jika perusahaannya bisa membeli lisensi aplikasi tersebut dari Dicky dan menerapkannya pada semua armada miliknya.
Disamping harga tiket yang selalu normal untuk pelanggan, juga efisiensi. Karena bus akan berhenti di beberapa titik terminal yang sudah ditentukan, dan pelanggan tidak perlu bersusah payah mencari-cari keberadaan armada bus yang akan mereka tumpangi. Aplikasinya yang akan melaporkan secara real time keberadaan bus yang akan ditumpangi pelanggan tersebut.
“Sil, aku ada saran. Bagaimana kalau kamu mengajukan proposal kerjasama dengan PT.MMK yang sekarang sedang naik daun? Bukankah mereka tidak ada pasar di bidang jasa transportasi, hanya di bidang jasa logistik?”
“Menurutku, jika ada jetbus milikmu, mereka bisa melakukan pengiriman dan menempatkan pool pusat mereka di terminal-terminal yang akan sudah masuk dalam jalur jetbus milikmu,” usul Pradita.
Prisliia yang mendengar ide tersebut langsung sumringah, dan mencium pipi kiri dan pipi kanan Pradita bolak-balik.
“Terima kasih, Dit. Otak kamu memang seperti tahi ayam yang encer, hehehe ….”
“Sue kamu Sil!”
“Hehehe ….
Mereka bertiga pun tertawa riang bersama, dan tak terasa pembicaraan mereka sudah larut malam. Prisilia dan Dicky malam ini juga akan pulang ke Cirebon, karena esok harinya mereka akan menemui Nikita, juga Yurike untuk mengajukan proposal kerjasama dengan PT.MMK.
Pradita dan Prisilia berpisah. Pria berambut dengan gaya harajuku tersebut pulang kembali ke hotel Kuta untuk beristirahat.
****
1 jam kemudian, Hotel Kuta
Pradita sedang membuka kunci pintu kamarnya. Baru saja pintu kunci itu terbuka, ia melihat Nabila menarik koper yang memiliki roda dengan mata merah, dan kelopak mata bengkak.
Nabila menekuk mukanya saat melewati Pradita, karena masih sangat sakit hati dengannya, dan perasaanya sangat kecewa.
Pradita menghadang tepat di depan Nabila, “Loh-loh! Kenapa Nabila pulang tiba-tiba? Apakah ada pekerjaan mendadak?”
“Tidak usah ikut campur. Lebih baik bersenang-senang dengan wanita itu, hmph!” Nabila menyingkir dari jalurnya sambil membuang muka.
Pradita menghadang lagi dan melepaskan pegangan tangan Nabila dari pegangan kopernya. Dengan mata berkedip-kedip manja Pradita mengatakan, “Maaf-maaf, aku lupa. Aku janji tidak akan begitu lagi, plis … maafkan aku ya!”
“Bodo amat, hmph!” Nabila menggembungkan pipinya dan membuang muka. Ia masih sangat kesal dengan sikap Pradita yang selalu saja seenaknya.
“Yakin?” Pradita mengungkung tubuh Nabila di tembok dengan kedua tangannya dipegang kuat oleh tangan Pradita, dan tangan kirinya melepas baju yang dipakainya, “Yakin masih kesal denganku?”
Nabila tak bisa menahan hasratnya pada tubuh Pradita yang memiliki dada yang bidang dan perut seperti roti sobek. apalagi badan Pradita sangat wangi, dan kulitnya putih mulus seperti giok kaca.
Nabila beberapa kali meneguk salivanya dalam-dalam dengan menundukan wajah, dan kedua pipi yang sudah merah merona seperti merahnya kepiting rebus.
__ADS_1