SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 88


__ADS_3

Pradita tiba di Maldive bersama kesepuluh istrinya. Namun ia menuju salah satu resort salah satu santai di Maldive dengan mobil yang berbeda dengan para istri-istrinya.


Ia duduk di kursi belakang sambil menatap dengan tatapan kosong ke arah jendela, dan memikirkan apakah dirinya menikahi sepuluh wanita itu sudah benar apa belum.


Semalam pun ia tertidur di sofa, dan belum bercocok tanam dengan salah satu istrinya. Padahal kesepuluh istrinya sudah membujuk, dan merayunya.


“Bro, kenapa kamu dingin sekali sih?” ledek Rivan yang ikut dalam bulan madu Pradita beserta kesepuluh bidadarinya.


“Tidak usah ditanya. Aku hanya belum menerima kenyataan saja. Aku sekarang punya istri sepuluh, dan kalau aku tidak menikahi semuanya yang ada aku pasti babak belur,” jawab Pradita dengan mengerucutkan bibir.


“Kamu itu harus bersyukur coy! Kamu super tampan, kaya, baik, dan ramah. Siapa wanita yang tidak suka dengan orang sepertimu. Jangankan wanita cantik nenek-nenek yang berumur 72 tahun pun pasti sangat menyukaimu,” ledek lagi Riva, dan mulutnya digenggam erat oleh Pradita, “Mmmm ….”


“Sue, berisik banget sih kau, Van!” Pradita sangat kesal, dan langsung keluar dari mobil begitu mobil tour khusus yang membawanya sampai di depan resort yang khusus disewa oleh Pradita selama 7 hari.


Kesepuluh bidadari keluar dari dalam mobil yang berbeda dengan perasaan sumringah. Mereka juga terlihat sangat akur, dan saling menyayangi satu sama lain. Sungguh pemandangan yang indah bagi seorang Pradita melihat kesepuluh istrinya akur, dan rukun satu sama lain.


Rivan yang sudah naik pangkat menjadi asisten pribadi Pradita yang mengurusi segala macam yang berhubungan tuan mudanya itu juga sudah membereskan semua hal di Maldive.


Pradita, dan kesepuluh istrinya beserta rombongan yang menjaga mereka disambut langsung oleh CEO Maldive Resort juga tim penyambut dengan sangat meriah.


Untuk menghormati mereka, Pradita melempar senyum ramah. Karena Pradita juga akan mengakuisisi 80% resort, dan hotel yang berada di Maldive.


Nabila mendekati Pradita, dan memeluk lengannya untuk mencairkan suasana. Ia juga segera ingin memiliki momongan dari Pradita, dan sudah mengorbankan semua aset miliknya di Tangerang Selatan, juga karirnya. Semua demi fokus menjadi istri Pradita.


Ada rasa cemburu di hati kesembilan istri Pradita saat Nabila melakukan hal tersebut. Namun mereka sadar, karena mereka semua dinikahi Pradita secara terpaksa, dan ketulusan Nabila membagi Pradita pada mereka bersembilan.


Pradita menggendong tubuh Nabila ala bridal style, dan membawanya ke kamar yang memang disewa untuknya. Lalu menoleh dengan tatapan tajam pada kesembilan istrinya untuk tidak mengganggu waktunya dengan Nabila.

__ADS_1


Nira berjalan cepat, dan membukakan pintu kamar tersebut. Lalu berbisik pada Nabila, “Nyi Mas, kalau lelah aku siap gantiin Nyi Mas.”


Nabila hanya mengangguk dengan kedua pipi merona, karena baru pertama kali ia akan melakukan perhelatan akbar dengan Pradita.


Pria berambut merah tersebut masuk ke dalam kamar presidensial, dan langsung membawa Nabila ke kamar mandi yang cukup luas. Kamar mandi yang memang digunakan untuk bulan madu bagi sepasang suami istri.


Pradita menaruh tubuh Nabila pada sebuah bathtub yang cukup besar, hampir seperti kolam dan ditaburi bunga mawar memenuhi kolam tersebut.


“Kamu sangat cantik hari ini, sampai matku ini tidak bisa mengalihkan pandangannya padamu, sayang,” puji Pradita lalu mencium kening Nabila.


Jantung gadis berambut perak itu berdegup kencang. Baru pertama kali merasa sangat senang, tapi malu karena dipuji oleh suami yang paling dicintainya itu.


Keduanya masuk ke dalam kolam hanya memakai handuk kimono putih, dan di luar kamar milik presidensial Pradita, kesembilan istrinya sedang menguping.


“Sister, kok belum ada suara gaduh ya?” celetuk Helly, dan kepalanya dipukul oleh Zevalia. "Aw …!"


Di dalam kamar mandi, Pradita, dan Nabila saling melepas rindu dengan berciuman cukup lama di dalam bathtub besar berisikan kelopak-kelopak bunga mawar.


Mereka tidak ingin cepat-cepat ke menu utama untuk melakukan perhelatan akbar. Namun Nabila yang memiliki sifat hiperaktif dalam hasrat, tanpa basa-basi mendorong Pradita, dan melakukan perhelatan akbar tanpa malu-malu lagi.


Tanpa disadari mereka berdua yang sangat semangat, hingga tak sadar mereka berdua melakukan perhelatan akbar sampai 4 jam di dalam kamar mandi.


“Huff … huff ….” Pradita, dan Nabila bernafas dengan tersengal-sengal.


Walaupun sudah melakukan perhelatan akbar selama 4 jam, dan membuat Nabila lemas tak berdaya, singkong premium Pradita masih saja tetap perkasa.


Pradita kasihan melihat Nabila, dan menggendongnya. Lalu mengganti handuk kimononya dengan handuk kimono yang lain, dan membawanya ke tempat tidur berukuran king size. Nabila terkulai lemas, dan tertidur, lalu Pradita menyelimutinya.

__ADS_1


Pradita yang masih memakai handuk kimono yang lain keluar dengan senyuman sumringah, dan bergumam, “Rupanya aku menikahi sepuluh wanita itu tepat. Tampaknya singkong premium ini masih ingin berkelana, hehehe ….”


Saat keluar dari kamarnya, Pradita melihat Nira keluar dari kamarnya, dan sudah memakai pakaian yang kurang bahan. Tanpa basa-basi lagi Pradita melesat dengan kecepatan dewa super ke arah Nira untuk segera melahap gadis berambut coklat tersebut.


Pradita menggendong tubuh Nira, dan segera dilempar lembut ke tempat tidur berukuran king size. Gerakan ganas Pradita justru membuat Nira berhasrat, dan melenguh nikmat.


“Ayo sayang! Are you ready to rock?” teriaknya ganas.


Pradita dengan kecepatan tangannya membabak belurkan pakain kurang bahan yang dipakai oleh Nira, dan pada akhirnya.


“Goaal!” teriak Pradita girang, dan membuat Nira melenguh nikmat.


Baru saja satu jam perhelatan akbar itu berakhir, karena Nira sudah babak belur oleh singkong premium milik Pradita yang terlalu ganas.


Dua wanita sudah babak belur, dan lemas tak berdaya. Untuk itu Pradita keluar dari kamar Nira, dan mencari sasaran lain.


"Ah, sompret! Baru ditoel saja sudah babak belur, payah!" gumam Pradita kesal.


Saat ia sedang kesal, kebetulan Rivan yang berada di kamar paling ujung sedang berjalan-jalan di lorong lantai presidensial yang sudah dibooking oleh Pradita.


"Bos, kenapa kamu disini? Bukannya harusnya nganoe-ngitoe? —"


Lagi-lagi mulut Rivan yang seperti petasan itu digenggam erat oleh Pradita, untuk memotong perkataannya, "Sompret! Makanya jangan bicara kalau kau belum tempe, kampret! Ini si jalu on fire terus bro. Padahal sudah membabak belurkan dua istriku noh!"


"Ssst!" Rivan gantian membekap mulut Pradita, da melanjutkan, "Bagi donk bos rahasianya!"


Pradita melepas paksa tangan Rivan, dan mengumpatnya, "Matamu picek, kampret! Nikah dulu bos, senggol dong! Minimal-maksimal punya satu istri bos!"

__ADS_1


__ADS_2