
Pradita mengerahkan tenaganya sekuat mungkin untuk menghantam golok panjang milik Hilman, dan berhasil. Keduanya terpental diakibatkan benturan dari kedua bilah senjata tajam tersebut.
Saat terpental inilah Pradita mengeluarkan sarung tangan kejut, dan sudah diisi dengan amunisi jarum pelemah saraf. Pradita langsung menembakan jarum-jarum yang sangat kecil tersebut ke arah Hilman.
“Mati kau pemuda lugu!” seru Pradita dengan tersenyum licik.
Hilman bukan pendekar pedang biasa, setiap jarum kecil yang tak kasat mata tersebut berhasil ditangkis olehnya dengan mudah.
Akan tetapi, Pradita bukan seorang seniman bela diri yang hanya mempunyai akal sependek sumbu petasan.
Ia sudah menembakan jarum ganda di setiap tembakannya. Alhasil kedua paha, dan dan kedua lengan Hilman terkena jarum yang tak masat mata tersebut.
Oleh karena itu Pradita tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan melesat ke arah Hilman, dan melepaskan tebasan bertubi-tubi dengan berbagai gerakan tebasan yang dilakukan secara acak.
“Teknik Naga Besukih! Teknik Naga Wanabaya! Teknik Naga Suryadaksa!” serunya.
Awalnya Hilman masih seimbang melayani setiap tebasan yang dilancarkan oleh Pradita. Namun, lama-kelamaan gerakannya melambat, dan semakin melambat, akibat efek racun pelemah saraf tersebut sudah bekerja.
Suara hantaman terdengar keras, hingga membuat tubuh Hilman terlempar ke udara, dan bekas hantamannya membuat permukaan retak.
Setelah itu Pradita membuat bilah katana miliknya menjadi warna jingga, dan memiliki suhu yang cukup tinggi, yakni 150 derajat celcius.
Kemudian Pradita melompat setinggi mungkin mengejar tubuh Hilman yang terlempar ke udara cukup tinggi, dan berhasil melewati tubuhnya. Saat itu pula Pradita melakukan tebasan vertikal dari atas ke bawah, dan membuat tubuh Hilman terbelah dua.
Siluet garis putih berbentuk vertikal tercetak jelas dari ujung kepala hingga ke ujung cacing premium milik Hilman. Perlahan tapi pasti, tubuh Hilman terbelah dua, dan menyemburkan cairan kental merah di udara, dan membasahi permukaan tanah di sekitarnya.
__ADS_1
Rekan-rekannya yang semula memiliki nyali sebesar banteng yang siap mengamuk, kini tidak lebih nyali mereka hanya tersisa seperti seekor ayam. Raut wajah mereka pucat pasi, dan lari tunggang langgang, setelah melihat bos mereka Hilman telah tewas ditangan Pradita.
“Tidak semudah itu kalian bisa kabur! Teknik Naga Taksaka!” seru Pradita dengan sorot mata yang tajam seperti manik mata Elang yang telah membidik mangsanya.
Katana yang dipegang oleh tangan Pradita melesat cepat ke arah para perampok gunung tersebut yang lari ke berbagai arah. Namun, kecepatan lari mereka tidak secepat katana yang melesat dengan teknik naga Taksaka.
"Aaaakh! Aaaakh!"
Suara pekikan saling bersahutan di dalam hutan. Setelah kepala mereka satu persatu hanya dalam tempo beberapa detik dipenggal oleh katana milik Pradita.
Pepohonan, bebatuan, dan permukaan tanah di sekitar tempat Pradita berdiri berderaian cairan merah kental, dan pria berambut merah tersebut sangat menikmati pembantaian kelompok perampok gunung yang telah menjegal jalannya.
“Aku akan menghabisi siapapun yang berani menjegal langkahku, cih!” decih Pradita dengan tersenyum menyeringai.
Pradia pun melanjutkan perjalanannya kembali ke sebuah desa tak bernama yang sudah ditentukan oleh Mardono melewati jalan tersebut. Semakin ke atas jalannya semakin terjal, dan juga licin.
Pria berambut merah tersebut cukup terkejut saat sampai di wilayah desa tersebut. Tiba-tiba hujan turun, dan petir saling bersahutan, juga kabut tebal menghalangi pandangan.
"Kemari, Mas!" panggil Mardono dari jauh.
Anehnya kabut tebal itu terbelah, dan menampakan sosok pria tua beruban sedang memanggilnya setelah Mardono menyuarakan suara panggilan pada Pradita. Dengan langkah yang mantap Pradita berjalan ke arah Mardono yang sedang mengacungkan kedua ujung jari kanannya ke atas.
Kilatan cahaya disertai suara petir yang sangat besar mengejutkan Pradita, hingga ia menutup kedua telinganya dengan ujung telunjuknya.
“Sompret, tempat latihan ini membuat jantungku serasa mau copot saja,” keluh Pradita sambil mengelus-elus dada bagian jantung berkali-kali dengan gerakan yang cepat.
__ADS_1
Mardono tersenyum licik, dan menggerakan jarinya untuk mengeluarkan siluet tali yang terbuat dari energi listrik, dan keluar dari sepuluh jarinya. Siluet tali berwarna biru tersebut langsung mengikat kedua kaki, dan tangan Pradita.
"Pak, apa yang kamu lakukan?" tanya Pradita panik, karena petir-petir mulai menyambar di sekitar tubuhnya dengan suara yang sangat menggelegar.
Mardono melayang pelan ke arah Pradita sambil mengumpulkan tenaga dalam di kelima ujung jari kanannya. Setelah dekat dengan tubuh Pradita, kelima jari itu ditusukan tepat di titik kundalini Pradita yang berada di tiga jari di bawah pusar.
“Miaaaaaw!” Pradita mengerang kesakitan sampai-sampai suara erangannya bisa didengar dalam radius 500 meter, dan menggema di wilayah desa tak bernama tersebut.
Aliran petir itu menjalar ke seluruh tubuh dengan sangat cepat, dan kembali lagi ke titik kundalini tersebut. Putaran aliran listrik tersebut membentuk medan magnet dua kutub, yang satu menyerap petir, dan yang satu mengeluarkan petir, hingga membentuk siluet kumparan berbentuk tanda tak terhingga.
Sedikit demi sedikit tubuh Mardono rapuh, dan berjatuhan ke permukaan tanah menjadi debu. Itu adalah tanda kalau Mardono telah memindahkan teknik Kirin Emas ke tubuh Pradita dengan kekuatan maksimal.
“Aku sudah menganggapmu sebagai cucuku.” Mardono melayang dan mencium kening Pradita, dan melanjutkan dengan mundur perlahan, “Mulai sekarang kau adalah pewaris dua teknik empat gerbang dunia.”
Petir yang sangat besar menyambar tubuh Pradita. Disertai suara ledakan seperti dentuman suara bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, dan Nagasaki.
Bersamaan itu pula kabut yang menyelimuti desa tersebut hilang. Hingga menampakan sebuah desa tanpa penghuni dengan bangunan-bangunan sunda tradisional.
Pradita bernafas dengan tersengal-sengal, dan berlutut satu kaki dalam kondisi tubuh lemas, serta bulir-bulir keringat bercucuran sangat deras membasahi seluruh tubuhnya.
"Terima kasih, Kakek. Budi baikmu akan selalu aku kenang, dan semua warisanmu akan segera lanjutkan. terakhir, aku akan membalas dendam pada semua orang yang telah menyakitimu," tutur Pradita dengan tangan mengepal setelah mendapatkan ingatan kakek Mardono.
Pradita duduk bersila untuk bermeditasi guna mengembalikan stamina, dan energinya yang telah terkuras habis. Namun, setelah membuka mata, ia berada di atas tebing jurang, dan pemukiman yang dilihat sebelumnya oleh Pradita telah hilang.
Bulu kuduknya langsung berdiri, karena ia merasa telah masuk ke dalam pemukiman ghoib. Padahal sedari tadi itu memang tidak ada, ia terjebak fatamorgana yang dibuat oleh Mardono menggunakan teknik formasi pagoda emas.
__ADS_1
Mardono sendiri telah mati setelah mentransfer teknik Kirin emas ke tubuh Pradita, dan tubuhnya jatuh ke dalam jurang tersebut.